Seperti itulah kejadian di kantin siang tadi. Aduh, seluruh pikiranku tidak bisa terlepas dari kata-katanya yang menjijikkan. Apa kata dia? Aku akan mampus sebentar lagi? Terdengar menjijikkan sekaligus menyeramkan. Bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi? Apa aku sudah siap masuk ke surga?
Astaga, Berly! Sadar, dong! Aku tidak boleh mati sebelum mendapatkan Gibran. Besok, aku akan membalas semua perbuatan Siska.
Sejak pulang sekolah aku tidak bisa tenang. Pikiranku selalu saja waspada terhadap apa saja yang berada di sekitar. Bahkan kecoa yang lewat di dekat kaki saja langsung kutendang agar tidak menimbulkan hal buruk lain. Bisa saja aku ketakutan, terus berlari sementara ada mobil besar yang melaju kencang. Membayangkannya saja tidak mungkin, apalagi merasakannya. Aduh, ini semua salah Siska si cewek resek yang memiliki mulut ember.
Di tempat kerja, aku juga jadi tidak konsen. Pemilik apotek bahkan menegurku yang terlalu sering melamun padahal pelanggan sudah menunggu. Rasanya aku ingin menyewa bodyguard saja. Namun, mana mungkin, biayanya pasti mahal. Tidak mungkin orang sepertiku yang sekolah saja karena beasiswa bisa menyewa bodyguard. Mulai dari detik ini, aku langsung menggunakan sistem senggol-bacok kalau ada yang berani macam-macam.
"Lu serius mau nunggu lebih lama lagi? Kelihatannya di luar makin sepi, tuh! Gue udah mau pulang, nih."
Yang berbicara itu temanku yang bekerja di apotek juga, namanya Luna.
"Duluan aja, Kak. Gue masih nunggu temen, nih."
Akhirnya, aku hanya bisa diam sambil mengamati sekitar. Malam ini benar-benar aneh, tidak ada satu kendaraan yang lewat di depan apotek. Apakah mereka semua sudah pulang ke rumah masing-masing? Sepertinya tidak mungkin, karena ini jalan utama untuk akses ke jalan kecil lainnya.
Tidak mau pusing untuk memikirkannya, aku langsung merapikan apotek untuk segera pulang. Pintu apotek kurapatkan, kemudian kuncinya kubawa pulang.
Astaga, sepi sekali malam ini. Aku langsung buru-buru berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Rumahku dekat dengan sekolah, tetapi jauh dari tempat kerja, sekitar tiga kilo meter. Aku tidak memiliki sepeda motor atau sepeda untuk berkendara, jadi harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Harapan malam ini tidak perlu muluk-muluk, lindungi aku sampai rumah atau pertemukanlah aku dengan Gibran, dia pasti akan melindungi cewek yang lemah jika ada bahaya, sepertiku.
Aku berjalan dengan langkah yang lumayan besar. Rasanya taku sekali kalau ada orang yang akan berniat jahat. s**l, perkataan Siska benar-benar menghancurkan hari ini. Kalau hari ini aman, besok aku benar-benar akan membuat perhitungan dengannya.
Kalau sudah seperti ini, rasanya kepengin menelpon Jesika agar menjemputku dari apotek. Langsung saja aku ambil ponsel dari kantong celana dan langsung menelpon Jesika.
“Halo, Jes! Bisa jemput gue di apotek? Gue ngerasa ada yang aneh malam ini, takut banget.” Harapanku hanya Jesika, kalau Vina terlalu jauh.
“Sebentar, Ber. Gue mau cek dulu, tadi sih Bokap sama Nyokap pergi bawa motor.” Terdengar suara gaduh dari telepon, aku yakin Jesika sedang berjalan ke arah garasi. Mudah-mudahan saja ada motor, agar aku tidak ketakutan seperti ini. “Yah, Ber, maaf. Bokap sama Nyokap belum pulang, kayaknya nggak bisa jemput lo malam ini, deh.”
Gawat! Aku bisa habis malam ini kalau harus pulang ke rumah sendirian. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! “Serius lo nggak ada motor?” tanyaku sekali lagi. “Coba pinjem tetangga gitu gimana? Sumpah gue takut banget, Jes!”
Aku sudah seperti teman pemaksa sekarang. Tidak seharusnya aku memaksa Jesika untuk menjemputku, pasti dia tidak nyaman aku paksa begitu.
“Iya serius, kalau nggak percaya nanti gue kirimin foto garasi rumah. Lagian nggak mungkin gue pinjem tetangga, udah malem begini, Ber.”
Berly! Kau tega sekali berkata seperti itu kepada temanmu! Astaga, aku ingin memutuskan panggilan ini saja lantaran malu. “Iya percaya, tapi bener-bener nggak bisa bantuin gue?”
Astaga! Mulut ini sepertinya tidak bisa aku ajak untuk berdamai. Seharusnya aku meminta maaf tadi, bukan malah bertanya kembali.
“Paling-paling nanti kalau motor udah di rumah, Nyokap kabarin jam dua belas malam pulang, sih,” sahut Jesika.
Tidak mungkin aku harus menunggu selama itu, bisa-bisa tubuhku sudah jadi santapan para lelaki buaya yang sering lewat di sekitar sini. Lagi pula, tidak ada tempat untuk menunggu selama itu, mini market juga terlalu jauh untuk aku singgahi. “Jam dua belas terlalu malem, nanti malah gua keburu mampus di apotek.”
“Hei! Jangan ngomong yang aneh-aneh!” pekik Jesika, telingaku sampai berdengung.
“Iya kelepasan, habisnya gue bener-bener ngerasa nggak enak sekarang. Ya udah gue jalan sendiri aja. Terima kasih, Jes.”
Harapan satu-satuku telah sirna, entah apa yang akan mengancam di depan, sepertinya aku harus mulai siap siaga. Mudah-mudahan saja tidak ada lelaki hidung belang yang menggodaku di tempat sepi, atau kemungkinan tidak ada hal yang terjadi akibat kutukan itu.
Dengan ragu-ragu, aku melangkah dengan terburu-buru. Malam ini sangat sepi, padahal baru jam sebelas malam. Biasanya masih banyak cowok yang nongkrong di warteg pinggir jalan, atau satu bahkan dua pengendara yang lewat, tetapi malam ini benar-benar seperti aku sendirian yang hidup. Semua itu membuat bulu kudukku berdiri. Kalau seperti ini kan bahaya bisa datang kapan saja.
Aduh, kenapa aku kepikiran dengan bahaya? Orang bilang kalau dipikirkan justru kejadian. Tenang, Berly! Mulai detik ini, aku akan mengalihkan pikiran dari kutukan s**l itu.
Aku mengisi pikiran dengan bersenandung. Entah apa yang aku senandungkan, nadanya tidak ada yang pantas dengan lagu apa pun. Yang penting aku tidak terlalu takut, itu saja. Sampai aku tidak sadar kalau aku sudah berjalan melewati warung Mpo Rodiyah.
Ketika berjalan depan sekolah, aku merasa ada seseorang yang mengikuti. Aku tahu dari derap langkahnya yang persis sama. Ketika aku mencoba mempercepat langkah, dia ikut mempercepat juga. Ketika aku menengok ke belakang, dia menyembunyikan diri.
Sungguh orang yang misterius. Semoga saja dia hanya orang yang kebetulan sama arah pulangnya, bukan orang yang ingin mencelakakanku. Setelah dirasa aman, aku mulai berjalan dengan langkah yang makin cepat. Tidak peduli apa yang ada di depan, aku harus berjalan sampai rumah dengan selamat.
Sesekali aku menengok ke belakang, kini jarak kami hanya sekitar empat meter. Aku sempat memastikan penampilannya. Dia memakai jaket kulit hitam dan celana hitam dengan sarung tangan dan topeng wajah yang hanya menampikan mata, hidung, dan mulutnya saja. Gawat, ini pasti orang yang akan mencelakakanku.
Aku berlari sekuat tenaga agar tidak tertangkap oleh orang itu. Semua hal yang bisa aku jadikan sebagai halangan baginya aku jatuhkan ke tanah, pot bunga yang besar, tiang dari bambu yang gampang roboh, batu besar yang bisa aku angkat, bahkan aku sempat melemparnya dengan sepatu yang aku pakai.
Aku masih berada di belakang sekolah. Langkahku semakin lebar dan keringat dingin sudah mulai menyelimuti kulit. Apakah malam ini kutukan akan menimpaku?
Aku lelah sekali. Tenagaku terkuras karena berlari kencang. Tetapi aku tidak mungkin berhenti, bisa-bisa aku dijadikan pepes manusia olehnya. Aku terus berlari pontang-panting, kunciran rambutku sampai terlepas saja aku tidak perduli. Tujuan utamaku adalah memasuki rumah dengan selamat.
Aduh ... aku tersandung akar pohon yang timbul dan akhirnya aku jatuh. Aku menengok ke arah belakang dan orang itu semakin mendekat ke arahku. Kemudian semakin dekat sampai aku dapat melihat jelas bola matanya yang berwarna hitam pekat.
"Tolong, jangan bunuh aku!"
Dia menertawakanku dengan pelan. Itu tidak terdengar lucu, melainkan menyeramkan. Astaga, mengapa pria ini terlihat menyeramkan.
Sekarang dia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku. Apa yang harus aku lakukan?
"Siapa Anda? Tolong biarkan saya hidup, jangan bunuh saya!"
Dia mulai mengeluarkan sebuah benda pipih yang pendek dari sakunya. Itu pisau!
"Tolong, jangan bunuh saya ...."
Pria itu mulai mengarahkan pisau itu ke arah mataku dengan cepat.
Segera mungkin aku menahan napas agar tidak bergerak.
Dia membuka masker yang menutupi wajahnya. “Halo, Berly!”