Samuel Lazuardi

2046 Words
*POV SAMUEL* Hari ini aku kembali bertemu dengan si Cewek manis. Iya, si Cewek manis, aku menyebutnya dengan panggilan manis itu. Kalian pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pada orang lain? Seperti itu yang sedang aku rasakan sekarang. Bukan hanya sekarang lebih tepatnya, tetapi dari awal-awal masuk sekolah di sini. Kalian tahu dengan siapa aku jatuh cinta? Tenang saja, bukan pada cewek yang digadang menjadi cewek paling cantin di sekolah ini, dia bahkan bisa disebut sebagai cewek paling tidak banyak dikenal di sekolah ini. Lantas, mengapa aku jatuh cinta pada cewek yang seperti itu? Entah, aku juga tidak mengerti. Aku hanya merasakan perasaan yang aneh jika berdekatan dengannya. Jantungku berdegup lebih cepat, keringat yang keluar lebih banyak, dan perasaan menggelitik di bagian perut. Bukannya itu semua gejala-gejala dari orang yang sedang merasakan jatuh cinta? Lagi pula, cinta itu buta, siapa pun bisa cinta pada orang lain. Cantik, tampan, tidak cantin, tidak tampan, kaya, miskin, dan segalanya itu bukan hal yang menjadi urusanku. Setelah berkutat dengan berbagai reaksi kimia yang jelimet, akhirnya aku bisa menghirup oksigen dengan bebas. Ketika keluar dari laboratorium yang terdapat banyak larutan asam dan basa, langsung aku lepas jas laboratorium dari tubuh dan meninggalkan area itu secepat mungkin. Aku bahkan sampai meninggalkan Marko di kelas. Habisnya dia lelet, aku tidak ingin berada di ruangan itu lebih lama lagi. Bisa-bisa aku semakin pusing, karena menghirup udara yang sudah bercampur dengan aroma asam pekat atau basa kuat di dalam sana. Belum lagi omelan Pak Jono, guru kimia kami yang terkenal paling ribet. Lagi pula, Marko pasti sedang merayu perempuan-perempuan di kelas kami. Aku tidak mungkin mau menemaninya di sana, pasti menyebalkan. Seperti hari-hari biasa sebelumnya, kondisi sekolah ramai ketika pulang. Siapa yang tidak ingin cepat-cepat pulang setelah otak kita pusing dengan materi yang jelimet? Hanya siswa-siswi yang berotak encer saja yang berani seperti itu, rata-rata dari kami menginginkan kelas bebas atau bahkan rapat para guru. Coba saja kalau ada pengumuman rapat guru diadakan pada saat kelas berlangsung, pasti sorak sorai gembiranya lebih keras dari pada pengumuman ujian akan dilaksanakan dua hari lagi. Hal itu bukan satu-satunya alasan mengapa sekolah ramai ketika pulang, ada lagi alasan lain yang begitu konyol. Siswa dan siswi di sini sedang antre untuk keluar dari pintu gerbang yang dibuka kurang lebih cukup untuk dua orang yang berjalan bersamaan. Tidak mungkin siswa yang begitu banyak bisa keluar dengan cepat jika celahnya hanya sekecil itu, pastinya mereka akan mengantre untuk waktu yang lama. Akhirnya, antrean siswa memanjang, dan memakan waktu lama untuk melewati pintu gerbangnya. Hal itu adalah ulah satpam pemalas yang menjaga sekolah kami. Bukan tanpa sebab aku berbicara seperti itu. Aku tahu tabiat satpam yang hobinya menggoda siswi bahenol, dia tidak pernah berkeliling ketika malam hari, kerjanya selalu tidur jika sudah bertemu dengan bantal kecilnya, dan dia tidak peduli jika sekolah sedang terancam oleh kejahatan. Satpam macam apa dia itu? Bukannya satpam itu menjadi orang yang menjaga keamanan? Tentu tidak bagi satpam yang satu itu, dia berbeda dari yang lain. Kemudian yang paling parah ketika kami semua pulang sekolah, gerbangnya dilarang digeser terlalu lebar. Coba tebak alasan mengapa dia melarang siswa lain menggeser gerbang! Alasannya karena sudah cukup untuk semua siswa. Memang cukup, sih, tetapi kami harus mengantre dahulu jika ingin keluar, padahal aku tahu kalau itu semua hanya alasannya yang malas menggeser gerbang yang berat. Badan saja besar, kerja segitu saja sudah mengeluh. Lalu, bagaimana kalau kami menggeserya secara paksa. Hukuman yang lebih berat akan terjadi esok hari dan bahkan sampai sekarang. Satpam itu menggembok roda gerbang dengan kaitan di bawahnya, sehingga tidak bisa digeser, kecuali dia membuka gemboknya. Sungguh hal yang tidak masuk akal! Selama ini, aku jarang sekali langsung pulang setelah bel pulang berbunyi. Pasti ada kegiatan yang setidaknya bisa dilakukan. Tidak mungkin berdempetan untuk keluar, bukan? Lebih baik mencari kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti bermain basket. Selain menambah kebugaran, aku tidak mungkin mencium aroma siswa yang bau keringat yang sedang mengantre untuk pulang. Mohon maaf, walaupun aku pria yang senang berolahraga, aku benci dengan orang yang memiliki bau badan. Oleh karena itu, badanku selalu wangi kapan pun dan di mana pun aku berada. Sekolah ini memiliki fasilitas yang tergolong lengkap, termasuk gedung lapangan basket. Tidak hanya itu, sekolah ini juga memiliki fasilitas gym tersendiri. Semua siswa bebas menggunakannya, bahkan di malam hari. Wajar saja, sekolah terkenal. Aku sedang berjalan melewati beberapa ruang kelas untuk sampai ke gedung basket yang terletak di dekat gedung ekstrakurikuler. Banyak ruang kelas yang sudah sepi, tidak ada satu pun orang yang masih duduk atau bahkan melakukan tugas piket. Sepertinya hari ini semuanya langsung pulang lantaran kejadian siang tadi. Aku sampai lupa menceritakan. Hari ini ada pertengkaran hebat antara dua perempuan cantik yang merebuti sahabatku. Mereka saling melempar hujatan di kantin, sampai seorang perempuan bernama Siska melakukan sumpah kalau Berly akan tewas sebentar lagi. Itu merupakan adegan terkonyol pada hari ini. Siapa yang sangka kalau adegan air ke lawan bisa terjadi di dunia nyata? Aku pikir itu hanya terjadi di dunia sinetron saja. Sial, aku jadi iri dengan Gibran. Bisa-bisanya dia yang kalah ganteng dariku mendapatkan penggemar fanatik seperti mereka. Namun, tidak masalah, kalau aku di posisi Gibran, pasti sekarang sudah dalam keadaan dilema besar. Dia pasti kepikiran tentang kasus siang ini, kalau sampai kutukan itu benar-benar terjadi, bisa semakin gawat jantungnya. Kasihan Gibran, aku akan turut berbela sungkawa padanya nanti. Ketika sampai di gedung lapangan basket, aku sudah menebak kalau Gibran sudah ada di sana. Dia sedang bermain basket bersama teman-teman sekelasnya. Manusia yang satu itu memang suka malu-malu kucing. Awalnya saja tidak peduli dengan basket, bahkan dia pernah bilang kalau tidak suka dengan basket. Sekarang justru dia yang masuk tim inti basket dan bahkan menggeser posisi Marko yang akan menjadi tim inti juga. Aku langsung meletakkan tas di dekat kursi penonton, lalu melakukan aksi pura-pura kenal, sehingga dapat bergabung dengan kawan-kawan Gibran yang kebanyakan anak IPS. Beruntung aku bisa bermain basket, kalau tidak pasti mereka semua akan mengucilkanku lalu menendangku keluar dari lapangan bahkan gedung ini. Omong-omong, amaku Samuel Lazuardi, banyak yang memanggilku dengan sebutan, Sam, Lez, atau Abang gans. Bukan bermaksud sombong atau bagaimana, aku adalah cowok terganteng di SMA Angkasa. Walaupun klub mading sekolah menominasikan Riko sebagai cowok terganteng di sekolah ini, aku tetap menganggap diriku sebagai cowok paling ganteng di sekolah. Percaya diri itu penting, kalau kita tidak percaya pada diri kita sendiri, mau percaya sama siapa? Seperti itulah prinsip hidupku. Orang yang sedang mendribel bola basket sekarang adalah sobatku dari SD, namanya Gibran Prakoso. Karena terlalu lama berteman, aku sampai menganggapnya sebagai saudara. Yah, aku memang anak tunggal, jadi wajar saja kalau kesepian dan harus mencari saudara di luar sana. Sedang temanku yang lain adalah Marko dan Willy. Sama seperti Gibran, kami bertemu di SD kemudian dilanjutkan satu SMP lalu sepakat untuk masuk SMA yang sama. Bisa dibilang beruntung dan s**l juga, sih. Sialnya aku harus lebih lama menghadapi sikap mereka yang konyol. Beruntungnya aku memiliki teman yang sangat peduli. Ketika aku mendapatkan masalah, pasti mereka yang menghiburku. Begitu pula ketika salah satu dari mereka sedih, aku turut andil menghiburnya. Orang tua kami juga ikut-ikut dekat, karena kami juga. Orang tuaku dan Marko bahkan pernah mengadakan rapat dadakan untuk menjodohkan aku dengan adiknya Marko. Hell, aku pernah mendengar hal itu dari Marko, dan saat itu juga aku marah pada Ayah. Memangnya ini masih zaman Siti Nurbaya yang bisa dijodohkan? Aku menolaknya mentah-mentah. Untungnya, Ayah tidak memaksaku untuk terus melanjutkan perjodohan. Kalau sampai berlanjut, aku tidak bisa membayangkan Marko sebagai kakak iparku nanti. Pasti menggelikan sekaligus menyebalkan. Permasalahan pertemanan kami tidak seperti itu lagi. Jika lulus SMA, mereka katanya akan mengikuti aku untuk kuliah di universitas yang sama. Walaupun senang memiliki teman yang setia, tetapi aku tidak ingin mereka pupus cita-cita hanya karena terlalu setia kawan. Mereka punya masa depan sendiri, tidak perlu mengikuti ke mana pun aku pergi. “Tumben lama, Pak Jono ngoceh lagi?” tanya Gibran sambil melempar bola basket. Aku menangkap bola itu dan langsung mendribelnya. Kini hanya tersisa kami berdua, teman-teman Gibran langsung pergi setelah aku datang. Bukan karena aku jagoan dan mereka ketakutan, melainkan mereka paham kalau sebentar lagi anak klub basket akan berlatih, padahal hari ini tidak ada latihan. Banyak anggota yang ketakutan juga. “Biasa, Marko buat onar lagi.” Aku melempar basket ke arah Gibran. Dia menerimanya dengan sigap, kemudian mencoba melakukan lay up ke ring. “Kali ini dia nuker basa lemah dengan air mineral. Akhirnya kami semua harus mengulang dari awal.” Di antara ketiga temanku, hanya Marko yang paling jahil, dan memang dia satu-satunya yang jahil dan petakilan. Aku bisa mendengar dengkusan Gibran. Pasti anak itu sedang tertawa mendengar cerita hari ini. Kalau sudah membahas Marko, kami semua memang jengkel, tapi kami tetap sayang. Tidak tahu mengapa kami begitu sayang padanya, sampai-sampai kami rela melawan sepuluh preman yang mengejarnya lantaran dibilang preman cupu dengan mulut embernya. Untung kami semua bisa bela diri, walaupun tidak terlalu mahir. “Temen lo!” pekik Gibran keras. “Temen lo juga!” sahutku. Aku segera menerima lemparan bola darinya dan langsung diletakkan di pinggir lapangan. Aku sudah mulai bosan bermain sekarang. Gibran juga setuju kalau kami sekarang menemui Marko dan Willy lalu minum es Mpok Rodiyah. Suasana luar gedung sudah mulai sepi. Kami langsung berjalan ke arah gerbang lalu melihat Marko dan Willy yang sedang duduk di bangku sambil menebar pesonanya. Bukan mereka, lebih tepatnya Marko. Willy mana mungkin mau menebar pesona, aku yakin dia lebih memilih menebar dirinya di perpustakaan agar dapat membaca banyak buku dalam satu waktu. Aneh saja, kalau di dunia ini benar-benar ada bunshin seperti Naruto, pasti Willy akan mempelajarinya. Gibran berlari ke arah Marko lalu menjepit kepala anak itu di ketiaknya. Aku dapat melihat tangan Gibran yang menjitak kepala Marko, sedangkan Marko hanya meronta-ronta ingin dilepaskan. Yah, kalau sudah begitu, Gibran akan semakin jadi menjahili Marko. Aku hanya bisa tersenyum dan tertawa melihat tingkah mereka. “Lo habis putus sama Wendi! Masa mau cari pacar lagi, Ko?” tanya Gibran. “Lo nggak bosen ganti-ganti pacar tiap hari? Cewek itu jangan dimainin, Marko!” Marko melepaskan dirinya dengan paksa. Kemudian dia memasang wajah cemberut yang siap menyerang Gibran kapan saja. Kulitnya yang kelewat putih juga mendukung rona merah di wajah Marko. Aku yang baru datang langsung duduk dan menatap Willy yang tampaknya tidak peduli dengan perdebatan dua orang di depannya. “Biarin! Emangnya kenapa kalau gue mau cari pacar lagi? Lo kalau iri bilang aja!” sahut Marko pongah. Dia tersenyum lebar. “Mending lo cari pacar sana! Takut aja gitu kelamaan jomlo jadi belok! Gue mau undur diri dari temen kalau lo beneran belok!” Gibran kembali menjepit kepala Marko dengan tangannya. Tubuhnya yang kecil memudahkan Gibran untuk bersikap jahil. Kalau saja Gibran mau, dia bisa membanting Marko dengan mudah. Eh, tidak mungkin, Marko pasti melawannya. Dia hanya rela diperlakukan begini oleh kami, teman-temannya. Mana mungkin dia diam ketika dijepit di ketiak oleh orang lain. Kalau bukan kami, dia pasti sudah melawan orang itu. “Gue juga cari-cari yang lebih ganteng dari pada lo yang buluk kalau emang gue belok, Marko!” sahut Gibran. Sepertinya Willy mulai bosan duduk di sini, wajahnya begitu masam dari tadi. Aku harus memisahkan mereka berdua. “Eh, Mar—“ “Marko! Bukan Mar! Kayak cewek aja dipanggil begitu.” Marko berusaha lepas dari tangan Gibran. Hal yang harus kita hindari adalah memanggilnya dengan suku kata pertama namanya saja, yaitu “Mar”. Maksudku kita, bukan hanya aku, Gibran, dan Willy, melainkan seluruh dunia tidak boleh memanggilnya Mar. Karena dia akan marah dan berubah menjadi Marko yang pendiam dan menyeramkan. Waktu itu pernah aku memanggilnya Mar berkali-kali dan aku bisa melihat bagaimana Marko yang menyeramkan. “Lo mau pilih rumah sakit atau kuburan, Sam? Gue nggak takut kalau badan lo lebih besar dari gue!” Seperti itu kata-katanya saat itu. Kalian terbayang kalau ada cowok yang berbicara dengan mata yang menyipit tajam dan tangan yang mengepal? Begitu mungkin ekspresi Marko saat itu. Sejujurnya aku sedikit ngeri jika berhadapan dengan Marko, cowok yang ahli karate. Walaupun tubuhnya lebih kecil, tenaganya lebih besar dari pada aku dan Willy dijadikan satu. Biar begitu dia tidak akan pernah menyakitiku, kok. Paling-paling hanya memiting kepala lalu menggelitiki badan saja. “Setiap hari tontonan gue beginian melulu, nggak ada gantinya. Lama-lama bosen! Kalau lo berdua mau berantem silakan, deh. Gue mau cabut!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD