“Kalau lo berdua mau berantem silahkan, deh. Gue mau cabut!” kata Willy sambil berdiri dan berjalan mendahului kami. Willy memang lebih memilih tempat tenang. Dia tidak suka keramaian.
“Ayo! Hari ini gue yang traktir!” kata Gibran yang sudah mulai berjalan dengan merangkul Marko. Mereka berjalan meninggalkanku yang sedang tersenyum di tempat. Seandainya ada yang mau memotret kami berempat sedang berjalan bersama, pasti indah. Aku akan mencetaknya dan meletakkan foto itu di bingkai istimewa untuk dijadikan pajangan di ruang tamu.
Tidak ada hari yang indah tanpa mereka di sampingku.
Bagaimana dengan tagline itu? Bagus, kan? Jelas saja!
Warung es Mpo Rodiyah adalah tempat nongkrong anak-anak SMA Angkasa yang paling pas. Harganya murah, tempatnya nyaman, dan tidak jauh dari sekolah. Dari awal masuk sekolah, kami selalu menyempatkan diri untuk minum es di sana. Tempat yang ramai dengan siswa yang sederhana seperti kami memudahkan kami semua bergaul. Aku bisa mengenal beberapa siswa yang lain juga.
Tidak seperti hari biasanya. Hari ini warungnya sepi, lagi-lagi kemungkinan yang aku pikirkan hanyalah siswa pada takut untuk berlama-lama di sekolah. Tidak masalah, yang penting kami bisa bersantai. Kalau banyak orang, pasti kami tidak bisa duduk.
Ketika sampai, aku terkejut melihat tiga orang cewek yang duduk di pojokan. Hebat sekali mereka sampai berani jajan saat kondisi sekolah sedang mencekam, pasti mereka siswi yang pemberani.
Saat aku melihat salah satu siswi yang sedang duduk di sana, sepertinya aku mengenal mereka. Astaga, aku salah sangka, mereka bukan sisw-siswi pemberani. Mereka hanyalah siswi biasa yang bahkan jarang menunjukkan diri di sekolah. Salah satunya sangat aku kenal, namanya Jesika, dan satu lagi aku mengenalnya karena tragedi di kantin, dan yang terakhir aku kenal sebagai sekretaris OSIS.
“Gib! Ada Berly!” bisik Marko yang terdengar olehku.
Cewek itu, cewek yang tadi siang ribut dengan Siska di kantin. Aku melihat betul bagaimana ekspresi wajahnya yang ketakutan setelah kejadian mengerikan itu. Kami semua saja sampai tidak bisa berkata apa-apa, apa lagi dia yang merasakannya? Sekarang dia terlihat sedikit pucat, dengan kulit yang semakin memutih dan rona bibir yang ikut memutih pula.
Aku melihat Gibran yang menengok ke arah pojok. Gawat, cewek manis itu menatapku. Aku langsung melihat barisan kemasan bubuk minuman yang hendak aku beli, berpura-pura mengalihkan perhatian ceritanya. Malu sekali ketika melihat wajahnya tadi, aku takut penampilanku dekil dan bau. Nanti cewek manis jadi tidak suka melihatku.
Terlalu asik memalingkan wajah, Willy yang menyampaikan pesanan sudah menarik lenganku agar duduk di meja yang lumayan jauh dari cewek-cewek itu. Untunglah, tidak berdekatan dengan mereka. Habisnya aku tidak sanggup menatap wajah cewek manis itu terlalu lama. Cewek itu terlalu sempurna, sampai-sampai aku tidak berani berdekatan dengannya.
Tidak lama kemudian minuman kami datang. Aku langsung meminum setengah dari minumannya. Tidak tahu kenapa, aku merasa sangat haus, padahal aku tidak habis berlari atau berkelahi. Marko saja sampai heran melihatku meminum sampai habis. Tatapannya seperti orang yang baru pertama kali melihatku kehausan.
“Gibran pasti ...!”
Seketika kami semua menoleh ke arah sumber suara. Ternyata cewek manis itu, suaranya besar juga. Maksudku, dia tidak seperti dugaanku. Aku kira cewek seperti dia jarang sekali berbicara, apalagi dengan intonasi yang keras seperti tadi.
Gibran berdiri sambil membawa minuman ke arah cewek-cewek itu. Sebenarnya aku harus senang karena momen untuk berdekatan dengan cewek manis semakin besar. Kalau tidak, kan, aku harus menunggu waktu yang lebih lama untuk mendapatkan momen yang pas. Bisa jadi kesempatan itu tidak akan pernah ada.
Tidak lama kemudian Marko mengikuti Gibran dan kemudian duduk di bangku sebelah cewek manis.
Sial! Mengapa aku keduluan Marko, sih? Bisa gawat kalau cowok playboy itu mendekati cewek manis. Bisa-bisa dia merayu kemudian memacari lalu memutuskan secara sepihak. Tidak akan aku biarkan! Aku langsung berdiri dan mengambil posisi menyempil di antara Marko dan cewek manis.
Mereka semua menatapku dengan bingung. Mungkin karena melihat aku yang baru datang kemudian membuat ulah dengan menyempil. Tidak peduli, yang penting cewek manis aman di sampingku. Omong-omong, cewek manis terus menundukkan kepalanya. Jangan-jangan dia benar tidak suka kalau aku duduk di sampingnya dan menghalangi Marko. Ya Tuhan! Mengapa jadi Marko yang disukai bukannya aku?
“Kalian sering ke sini pulang sekolah?” tanya Marko. Seperti biasa, playboy yang satu ini, kan, memang rajanya berbasa-basi. Bahkan dia bisa berbasa-basi dengan Pak Gani yang terkenal tidak suka berbicara dengan muridnya, dan hebatnya guru itu sampai tertawa dan tersenyum kalau sudah berbicara dengan Marko.
Makanya sampai sekarang, walaupun Marko nakal—lebih nakal dari pada kami bertiga dijadikan satu—dia tidak pernah mendapat hukuman berat dari Pak Gani. Paling-paling guru itu hanya mengelus punggung Marko, kemudian tersenyum dan berkata, “Tidak baik seperti itu. Lain kali jangan diulang, ya!” Senangnya jadi Marko.
“Kayaknya kami jarang ketemu kalian kalau di sini,” tambahnya.
Benar juga, kami jarang melihat mereka di sini. Ketika kami sedang jajan, mereka tidak pernah terlihat. Mungkin mereka adalah orang yang jajan setelah warung sepi, dan saat itu kami sudah pulang.
“Kami sering ke sini kalau pulang sekolah, tetapi nunggu sekolah sepi dan warung ini sepi juga,” sahut Vina si Sekretaris OSIS dengan semangat. Aku sampai kaget. “Soalnya kami nggak punya tempat nongkrong pribadi seperti kalian.”
Aku melihat ke arah temanku yang lain. Kami tidak pernah membeberkan tempat tongkrongan pribadi kami, dan mereka semua juga seharusnya tidak tahu, karena kami ke tempat itu hanya di waktu-waktu tertentu saat sekolah sudah sepi. Apakah cewek itu tukang intip?
“Maksudnya tempat ganti baju klub basket?” tanya Gibran. Gibran hanya beralibi. Mana mungkin kami membeberkan rahasia kami, bisa gawat nasib Marko dan Willy.
“Bukan! Ruang ekskul klub basket.”
Nice shot!
Mengapa cewek itu tahu tempat berkumpul kami yang rahasia? Bagaimana dia bisa mengetahui itu? Astaga, gawat sekali ini. Siapa cewek ini sebenarnya?
“Kok lo tahu kami sering nongkrong di situ?” tanya Willy dengan suara yang dingin dan terkesan kejam. Sepertinya Willy sudah mulai paham kondisinya yang tidak menguntungkan, kalau mulut cewek itu tidak ditutup, bisa-bisa Willy dan Marko akan dikenakan sanksi karena memasuki ruangan yang bukan ekskulnya. “Lo nggak mantau kami dari CCTV, kan?”
“Tahu, dong! Apa sih yang Vina nggak tahu dari sekolah ini?! Kalian sering nongkrong di toilet gedung basket juga gue tahu,” sahut Vina yang pongah.
Aku baru ingat kalau cewek itu selalu punya akses kamera pengintai di ruang kepala sekolah. Aku sudah berpikiran yang tidak-tidak saja padanya.
“Makanya jangan pernah rahasia-rahasiaan sama gue. Kalau kalian ada masalah, bisa gue aduin ke guru kalau kalian nyembunyiin banyak rahasia!”
“Lho, kenapa jadi ngancam kami? Perasaan tadi nggak ada masalah. Kami ngobrol santai aja, kan?” tanya Marko yang sepertinya mulai tersinggung.
“Ya, lagian, si Willy nanya ke gue kayak orang mau bunuh aja. Suara rendah sambil natap gue dengan matanya yang menyipit begitu!” sahut Vina.
“Ber!” panggil Marko. Perempuan yang dipanggil langsung menoleh menatapnya. “Jangan gerogi gitu deket Gibran, bukannya lo naksir berat sama Gibran?”
Gibran langsung menoyor kepala Marko yang berbicara sembarangan. Kami hanya tertawa melihatnya. Dasar Marko, hal itu kan justru membuat Berly semakin salah tingkah. Biasanya mereka yang memendam rasa, tidak akan mau menyatakan cintanya secara tiba-tiba. Apa lagi mereka belum pernah berkenalan resmi sebelumnya. Paling-paling Berly hanya melihatnya dari jauh.
“Makanya deketin dong temen lo sama temen gue!” sahut Vina dengan wajah cerianya. Aku heran dengan perempuan yang satu ini, kenapa dia selalu ceria? Padahal temannya sedang ketakutan akibat kutukan tadi siang. Seharusnya dia bilang ke Marko untuk tidak menggoda Berly. Namun, bisa jadi juga dia berpikir untuk mencairkan suasana agar Berly tenang. Bisa jadi.
“Buat apa dideketin? Mereka aja udah samping-sampingan sekarang,” sahutku. Tidak seru kalau aku tidak menjahili mereka. Sekarang Gibran semakin mengerucutkan bibirnya. Pasti dia sedang menahan rasa malu. Jelas saja, Gibran belum pernah berdekatan dengan perempuan.
“Permisi, aku ingin pulang.” Berly menyampirkan tas ke bahunya.
“Yah, kok pulang, Ber? Baru sebentar kita ngobrol,” sahut Marko dengan wajah memelas. Dia menyodorkan gelas yang masih utuh miliknya. “Kalau minuman lo udah abis, minum punya gue aja. Masih banyak, nih! Nanti aja baliknya.”
“Boleh gue antar?” tanya Gibran dengan wajah khawatir. Aku tahu kalau temanku juga takut kejadian itu benar-benar terjadi. Habisnya siapa yang tidak takut dengan kematian? Apalagi kematian ini kan akibat perdebatan tentang dirinya. Makanya aku paham, dia pasti ingin memastikan kalau Berly selamat sampai tujuan, sehingga dia tidak perlu ketakutan di rumah nanti.
“Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri. Aku juga harus ke tempat kerja,” jawabnya pelan dengan muka yang sedikit ditundukkan. Aku semakin kasihan dengan dia. Kalau saja aku yang menjadi kakaknya, aku akan melindungi dia selama 7×24 jam sampai situasi benar-benar sudah aman. Sayangnya, aku hanya seorang cowok yang baru saja mengenal dia. Itu pun gara-gara insiden di kantin tadi siang.
“Lo kerja di mana? Biar gue antar aja. Sudah sore, nanti telat kerja, loh,” kata Gibran dengan tangan yang sudah memegang lengan cewek itu. Dasar Gibran, bias-bisanya dia memegang tangan Berly saat di depan kami. Kalau mau mendekati, seharusnya bisa di tempat lain, jangan di depan kami juga. Aku jadi iri. Andai Saja cewek manis mau kupegang juga.
“Ayo! Kita harus buru-buru!” Gibran berjalan sambil menarik tangan cewek itu. Aku dapat melihat wajah dia yang malu.
Sekarang aku jadi bingung mau berbicara bagaimana. Habisnya pokok pembahasan kami saat ini adalah menenangkan cewek yang bermasalah tadi siang, sekarang cewek itu sudah pergi bersama Gibran. Yah, jadinya sekarang aku, atau mungkin kami bingung mau bagaimana lagi.
“Dasar Berly, gitu aja dia ketakutan. Pasti dia lagi malu banget sama Gibran,” kata Vina. “Ngomong-ngomong, si Gibran udah pergi. Kalian nggak ikutan pergi juga?”
Jadi, dia mengusir kami dari sini? Mengapa dia terlalu berterus terang? Aneh sekali cewek yang satu ini. Padahal, banyak cewek lain yang mau duduk bareng kami. Mungkin hanya dia satu-satunya cewek yang mengusir kami dari tempatnya.
“Kita semua juga mau pamit, kalian jaga diri, ya!” kata Marko.
Yah, aku jadi tidak semangat ketika Marko mengucapkan kata pamit. Karena kesempatan untuk berdekatan dengan cewek manis tinggal sebentar lagi dan mungkin tidak memiliki kesempatan lagi di lain waktu.
Marko menarik tanganku untuk pergi dari warung. Semangatku tiba-tiba habis ketika langkah demi langkah menjauhi cewek manis. Sehebat itu kekuatan cewek manis, membuatku jadi salah tingkah.
Sepertinya aku memang sudah gila.
Aku menoleh sebentar ke arahnya, tetapi aku ragu untuk mengucap. Akhirnya, Marko terus menarik lenganku hingga kami sudah pergi dari warung tadi. Astaga, Samuel! Seharusnya aku tadi berpura-pura kenalan dengannya, atau mengajaknya pulang bersama bisa. Aku jadi bisa berdekatan dengannya. Kalau sudah begini, pasti sulit untuk mendapatkan momen untuk berdekatan lagi.
Langkah kami bertiga berhenti setelah sampai di depan mobil Marko. Hari ini dia yang kebagian antar jemput. Kami memang memiliki tradisi, setiap hari harus ada salah satu yang membawa mobil untuk dijadikan alat transportasi kami. Biasanya orang itu harus rela menjemput kami semua, walaupun rumahnya sangat jauh, omong-omong memang Marko yang selalu rela membawa dan menjemput kami.
“Jadi alibi Gibran waktu istirahat itu ngambil motor?” tanya Willy sambil membuka pintu mobil, diikuti oleh aku dan Marko. Benar juga, pagi ini Gibran masih bersama kami di mobil Marko. Apakah anak itu ketakutan dengan kejadian siang ini?
“Mungkin nggak kalau Gibran takut kejadian itu terjadi?” tanyaku kepada Marko dan Willy.
“Ya, bisa jadi. Bagaimanapun dia pasti merasa bersalah, pertengkaran mereka berdua, kan, karena ngerebutin Gibran.” Benar juga kata Willy. Aku juga pasti merasa bersalah kalau kutukan itu terjadi, habisnya aku hanya asik menonton mereka, tidak melerainya.
“Payah lo, Sam! Bukannya ajak ngobrol Jesika, malah diem aja.” Marko meninju bahuku pelan. Benar juga, aku seakan-akan cowok paling bodoh di dunia sekarang. “Takut. Ko”
Willy dan Marko langsung tertawa kencang, mungkin akan terdengar sampai keluar gedung parkir. Aku jadi kesal melihat mereka yang menertawakanku. “Badan gede, buat ngobrol sama cewek aja takut!” tukas Willy sambil menoyor kepalaku.
Apanya yang besar, orang badanku biasa saja. Lebih besar juga badan Gibran. “Jangan bawa-bawa fisik, dong!”
Marko menunjukkan layar ponselnya padaku. Aku dapat melihat IG seseorang di hadapanku sekarang. Aku baru sadar kalau itu adalah cewek manis. “Kok, lo bisa tahu IG-nya?”
“Gue udah follow dari lama, lo aja yang kudet!”
“Terus, gue harus apa sekarang?”
Willy langsung merebut ponselku, kemudian menyerahkannya dengan posisi membuka laman IG Jessika yang sudah dia tekan tombol follow. “Kenapa di-follow?”
“Karena lo mau deketin dia, tapi lo nggak berani! Dasar payah! Itu udah gue bantu untuk deketin, sisanya lo yang ngatur! Awas aja sampai besok lo cerita kalau gagal deketin dia dari IG, gue tendang b****g lo dari mobil!”