22. Berlayar Menuju Pulau Armage

2115 Words
Nico menghubungi Alex, sebelum anggota EIA menjemputnya. Saat itu hanya Alex dan Tuan Niel yang bisa Nico percaya. “Sebelum mereka datang menjemputku, aku harus bergegas menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Penjara Armage pasti memiliki sistem keamanan yang sangat canggih, penjagaan yang super ketat, dan aku harus menghafal denah serta jadwal penjagaan di sana.” Nico berbicara sendiri sembari berpikir agar dirinya bisa menjalankan misi dengan lancar. Nico melihat jam dinding yang ada di dalam ruangan itu. Ruang di mana Nico selalu menghabiskan waktunya untuk menyusun strategi. Nico menatap jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan sigap, Nico meraih ponsel pemberian Alex. Ia menghubungi Alex untuk meminta detail denah dan segala informasi mengenai sistem keamanan di dalam penjara Armage. Nico rela menunggu beberapa menit, karena Alex belum juga mengangkat teleponnya. “Alex! Please! Angkat teleponnya!” Nico merasa gelisah sampai jemarinya mengetuk-ngetuk meja di tempat dia menyandarkan tubuhnya. Nico mencoba sekali lagi untuk menghubungi Alex. Kali ini Alex mengangkat telepon dari Nico dengan suara parau seperti sedang tertidur. “Halo, Alex?” Nico yang gelisah berharap Alex untuk segera membantunya. “Ya, Nick!” jawab Alex sembari memejamkan mata. “Alex! Megalodon! Bangun! Bantu aku!” Nico berteriak untuk membangunkan Alex yang sedang tertidur. “Eh ... iya! Itu ... siap! Bagaimana? Megalodon siap membantu Dark Tiger!” jawab Alex yang sudah terkesiap dari tidurnya, setelah menyadari bahwa panggilan telepon dari Nico bukanlah mimpi atau khayalan. “Aku akan segera menjalankan misi kedua! Apa kau tahu? Mereka akan mengirimku ke mana?” Nico bertanya pada Alex dan dia ingin sahabatnya mengetahui betapa perjuangan panjang harus dia jalani demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. “Nerve? Namos? Zanac? Athan? Michi?” kota mana?” Alex mengira Nico akan dipindahkan ke salah satu kota yang ia sebutkan. “Armage! Penjara Ar-ma-ge!” jawab Nico dengan sangat jelas. “Ap—apa? Ar—Armage? Astaga!!! Nico! I—itu mustahil? Kau akan diasingkan atau dijebloskan ke dalam sana? Hah?” Alex yang terkejut membuatnya terbata-bata. “Armage! Apa kau tahu? Apa yang harus aku jalani di sana?” Nico kembali menjelaskan pada sahabatnya. “Ap—apa? Kau dipenjara? Dijadikan pekerja paksa? Ap—apa?” Alex masih tidak habis pikir, bahwa sahabatnya akan ditempatkan di dalam sebuah penjara kelas kakap, yang berisi orang-orang berdarah dingin. “Aku diperintahkan untuk membebaskan seorang penjahat kelas kakap yang bernama Arion dari dalam sana, dan ... aku ingin meminta bantuanmu untuk memberikan beberapa informasi yang sangat penting, yang berhubungan dengan misi kedua ini!” Nico merasa kurang percaya diri dengan misi keduanya. “Ap—apa? Arion? Astaga!” Alex menganga merasa tidak percaya. Dia mencubit lengannya. ‘Aw!’ ujarnya dalam hati. “Memangnya siapa Arion?” Nico merasa sangat penasaran. “Dari kabar yang beredar, dia adalah seorang Mafia ... calon pewaris takhta Mafia Bonzoi ... dia ditangkap setelah dituduh menembak mati seorang anggota dewan di sebuah ruang pertemuan di salah satu hotel bintang lima di kota Nerve ... polisi berhasil menangkapnya setelah kejar-kejaran sengit ... nah! Kalau tidak salah Arion ditangkap di kota Namos,” jelas Alex kepada Nico yang sedari tadi menyimak untuk mendapatkan informasi. “Di kota Namos? Atau ada kaitannya dengan Hansen? Semua semakin mengerucut! Aku merasa jika Arion dan Hansen memiliki hubungan, soalnya pada misi ke tiga setelah aku berhasil membawa kabur Arion dari Armage, Thomas memerintahkanku untuk mengaku sebagai tangan kanan Hansen, jika Kau menjadi aku! Pasti akan memikirkan hal yang sama, iya, kan?” Nico ingin mengetahui tanggapan Alex. “Ya ... ya ... ya! Kau benar! Arion dan Hansen ... aku berpikir kalau mereka satu komplotan, Hansen pasti memberikan informasi kepada polisi dan Thomas saat introgasi, sehingga Thomas kembali memberikanmu misi untuk membawa kabur Arion dari dalam penjara Armage! Aku merasa ... itu pasti ....” “Markas Mafia Bonzoi! Ya! Itu dia! Hansen memilih bungkam untuk masalah informasi terkait dengan Mafia Bonzoi ... masih ada sedikit waktu! Cepat beri aku detail denah dan ceritakan apa saja sistem keamanan di dalam penjara Armage, ada berapa ruangan dan berapa lantai! Lalu tetap selidiki Hansen, Arion, Vromme, Thomas, mafia Bonzoi, semua yang berhubungan itu! Sekarang yang terpenting, beri aku informasi detail denah Armage! Segera!” Nico merasa sudah tidak ada waktu lagi. “Lex! Lex! Satu lagi ... sebelum aku mengakhiri telepon ini, ada satu hal yang harus kamu tahu! Hansen memiliki seorang adik perempuan bernama Jane yang bekerja sebagai pramusaji di sebuah klub malam di kota Namos, Hipnotic Klub. Jika kau ingin menggali informasi lebih lanjut, cari saja dia! Awas jangan macam-macam! Dia tinggal di sebuah rumah susun di Distrik lima, jalan Amber, nomor lima belas B. Lalu aku bertempat tinggal di Distrik tiga, ujung pantai nomor lima, aku akan menitipkan ponsel ini kepada tetanggaku bernama Tuan Niel, rumah tua yang berjarak dua rumah dari rumah sewaanku, rumah Tuan Niel sangat unik, terdapat sebuah rumah pohon di depan rumahnya. Alex! Terima kasih atas bantuanmu! Aku tunggu informasi detail denah penjara Armage!” Nico menutup teleponnya dan menunggu beberapa saat sampai Alex mengirimkan detail denah penjara Armage. Nico merasa resah dan sedikit gugup, lantaran dirinya harus menjalankan misi yang sangat berisiko. Sekali meleset, pasti akan lebih menjerumuskannya ke salam jurang nestapa. Namun tidak ada pilihan lain, selain menjalankannya. Lamunan Nico buyar seketika ponsel pemberian Alex berdering. Alex mengirim tata letak denah penjara Armage secara detail, lengkap dengan informasi sistem keamanannya. Nico segera menyambar Ponsel itu dan melihat detail semua informasi yang diberikan oleh Alex. Nico memiliki kemampuan daya ingat dan ketelitian yang super dalam mengingat sesuatu informasi atau pun suatu peristiwa. Dengan teliti Nico mengingat semua denah yang ada di salam gambar itu. *** Armage adalah sebuah pulau yang kecil. Ukurannya hanya 1 kilometer persegi. Di sana terdapat sebuah pelabuhan kecil yang difungsikan untuk bersandar kapal Feri dan kapal logistik yang diperuntukkan kepentingan Armage. Di sana juga terdapat Helipad sebagai sarana pelengkap untuk pengiriman narapidana yang menggunakan jalur udara, atau pun sebagai sarana transportasi udara yang digunakan bagi mereka yang memiliki kepentingan. Pelabuhan Armage yang berukuran kecil adalah pelabuhan khusus yang digunakan untuk kepentingan logistik berupa bahan makanan dan keperluan lainnya yang dikirim setiap satu minggu sekali melalui jalur laut. Pemindahan narapidana ke sana bisa melalui dua jalur, melalui pelabuhan atau melalui jalur udara. Nahkoda dan ABK kapal Feri pun semua adalah pegawai penjaga Armage. Pelabuhan Namosi yang berada di Distrik satu di tepi kota Namos pun khusus dijaga oleh pegawai penjaga Armage. Sehingga penjagaan di kedua pelabuhan itu sangat ketat. Terdapat satu bangunan besar yang merupakan Lapas narapidana. Bangunan besar yang tertutup dengan penjagaan super ketat dan sistem keamanan mumpuni. Terdiri dari dua lantai. Lantai pertama pada bangunan sebelah kanan, terdiri dari ruang kantor pegawai, aula, dapur umum, ruang makan narapidana. Pada bagian sebelah kiri terdapat beberapa kamar narapidana dengan kasus tindak pidana korupsi dan politik. Terdapat pula beberapa koridor yang membentuk sebuah labirin yang di samping kanan dan kirinya adalah kamar-kamar para tahanan. Lantai dua gedung itu, terdiri dari kamar-kamar narapidana gembong narkotika, teroris, dan pelaku kejahatan berat lainnya. Pintu keluar satu-satunya dari sana adalah lobi depan gedung itu. Di antara kamar-kamar para tahanan, terdapat pula ruang penjagaan masing-masing blok. Sehingga bagi mereka yang sudah masuk ke dalam Armage, kemungkinannya sangat kecil untuk bisa keluar dari sana. Penjagaan di luar lebih ketat. Petugas patroli yang di bagi menjadi sepuluh kelompok bergantian untuk berjaga dan berkeliling wilayah Armage. Di dekat pelabuhan Armage terdapat satu mercusuar yang juga dijadikan sebagai salah satu pusat penjagaan. Dilengkapi dengan lampu sorot yang begitu terang, membuat siapa saja yang berjalan di luar gedung akan dengan mudah terlihat saat lampu itu menyinari. Penjagaan di tepi pulau pun tidak kalah ketat. Mereka menyebar posko penjagaan berlapis pada setiap pos. Pulau Armage terletak sekitar lima mil dari daratan kota Namos. Sehingga akan sangat sulit untuk bisa melarikan diri dari sana. Paling tidak jarak tempuh menggunakan kapal sekitar delapan sampai sepuluh menit. *** Nico sudah merekam baik dalam ingatannya. Ia hanya butuh waktu untuk melihat situasi dan kondisi penjara Armage pada kenyataannya. Nico mengernyitkan dahinya saat membaca denah dan informasi mengenai penjara Armage. ‘Akan sangat mustahil untuk keluar dari sana! Tapi ... akan aku lihat bagaimana situasinya,' ujar Nico dalam hatinya. “Astaga ... ujian apa lagi ini? Demi masa depanku! Akan aku perjuangkan!” Nico memberi semangat kepada dirinya sendiri. Kemudian dia bergegas menyimpan ponselnya di dalam sebuah kotak penyimpanan seperti kotak kado ulang tahun yang tidak sengaja Nico temukan di dalam rumah itu. Nico melihat situasi dan kondisi di sekitar rumahnya. Setelah dirasa aman, ia bergegas untuk berjalan menuju rumah Tuan Niel yang tidak jauh dari rumah sewaan Nico. Selalu saja Nico berpacu dengan waktu agar semua rencananya berjalan dengan mulus. Udara yang semakin dingin hingga menusuk tulang, tidak membuat semangat Nico menghilang bersama dengan embusan angin malam. Justru semangatnya sedang berkobar, karena dia dipercaya oleh Vromme dan Thomas untuk menjalankan rangkaian misi berbahaya. *** Nico mengetuk pintu rumah Tuan Niel. Sesekali Nico menoleh untuk melihat situasi dan kondisi di sekitar Distrik tiga yang merupakan tempat tinggal Nico saat ini. Nico kembali mengetuk pintu rumah Tuan Niel, tetapi tidak ada jawaban. Sehingga Nico berinisiatif untuk menaruh kotak berisi ponsel miliknya, ke dalam rumah kayu buatan Tuan sana, dengan menyelipkan sepucuk surat di dalamnya. Lantas, Nico melihat jam tangannya, melihat situasi di sekitar sambil berlari ke dalam rumah sewaannya. Lalu Nico bergegas menulis sepucuk surat untuk Tuan Niel. Teruntuk Tuan Niel Maaf, Tuan! Jika datangnya surat ini membuat Tuan Niel bertanya-tanya. Saya Nick Voyage yang tinggal di rumah sewaan milik Nyonya Clara. Saya meminta tolong kepada Anda untuk menyimpan dan menjaga benda yang ada di dalam kotak ini. Jika Anda sudah membaca surat ini, itu berarti saya sudah pergi ke tempat yang jauh. Namun tenang saja, Tuan! Aku akan segera kembali dan mengambil kotak ini lagi. Sekal lagi maaf dan terima kasih. Nick Voyage Setelah Nico menulis sepucuk surat untuk Tuan Niel. Dia menyimpannya di dalam kotak kado berisi ponsel tersebut. Lantas Nico kembali melihat situasi di luar rumah sewaan itu. Ia bergegas untuk berlari menuju rumah Tuan Niel. Ya! Lagi-lagi, Nico berpacu dengan waktu. Ia berlari sekencang mungkin untuk menyimpan kotak kado itu di dalam rumah pohon yang berada di depan rumah Tuan Niel. Walau agak sedikit memanjat, Nico lakukan karena memang ini sangat penting baginya. Setelah Nico selesai meletakkan kotak kado di dalam rumah pohon itu, ia langsung berlari menuju rumah sewaan Nyonya Clara. Napas yang masih tersengal-sengal menjadi pemandangan yang disuguhkan Nico kepada sang Dewi Malam. “Huft! Astaga ... apa yang aku lakukan? Olah raga malam? Ya ampun!” Nico merasa sangat tidak waras malam itu. Ia kembali ke dalam rumah. Tepat sekali! Ketika Nico baru saja menutup pintu rumah sewaan itu, David dan tiga anggotanya datang ke rumah itu. Nico masih menghela napas panjang ketika David mengetuk pintu. “Baiklah!” bisik Nico untuk dirinya sendiri. Nico membukakan pintu untuk David. Kemudian ia menyapa David dan tiga anggota lainnya. “Hai! David!” Nico berusaha mengatur napasnya yang masih memburu. Ia tersenyum menyapa mereka. “Hai, Nick! Apa Kau sudah siap?” David menanyakan hal itu kepada Nico. “Ya! Sesuai dengan perintah Komandan!” Nico tersenyum lega karena drama yang ia perankan tadi benar-benar tidak diketahui oleh siapa pun. Mungkin hanya Nico dan Tuhan yang tahu. “Kalian! Amankan semua barang-barang! Amankan rumah ini selama Nico pergi! Nick! Pakailah ini!” David memberikan satu setel pakaian narapidana pembunuhan yang berwarna orange kepada Nico. Dengan segera Nico mengganti pakaiannya itu. Setelah Nico siap, mereka membawa Nico dengan memborgolnya. “Nick! Maaf! Kali ini Kau harus tampak seperti narapidana sungguhan!” David memborgolnya. “Baiklah, Dav! Demi menjalankan misi yang sudah aku sanggupi.” Nico tersenyum menatap David yang terlihat sangat cekatan dalam bekerja. Pemuda itu pun terlihat jujur dan rajin. Tidak salah kalau Thomas mengangkatnya sebagai orang kepercayaan. Setelah mereka siap, Nico dibawa oleh mereka menuju pelabuhan kecil Namosi. Nico dibawa menggunakan kapal menuju dermaga Armage yang ditempuh dalam waktu sekitar delapan menit dari pelabuhan Namosi. Jantung Nico berdebar semakin cepat. Ia tidak menyangka bahwa jalan hidupnya membawanya ke tempat yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Penjara kelas kakap yang dibangun di atas sebuah pulau kecil. Ya! Itulah penjara Armage. Angin laut yang berembus benar-benar menusuk tulang-belulang Nico malam itu. Wajah pucat dan perut yang kembung seolah menjadi identitas seorang narapidana yang harus kuat hidup dalam kedinginan di balik jeruji besi. Tatapan Nico tidak lengah sejak awal dia berangkat dari rumah sewaan itu. Ia memperhatikan setiap detail situasi di sekitarnya. Lantaran Nico harus memiliki celah agar bisa melarikan diri dari Armage bersama Arion. Lampu sorot mercusuar seolah menyambut Nico yang sebentar lagi akan tinggal di sana. Tatapan para penjaga seolah mengintimidasi Nico yang baru saja tiba di dermaga Armage.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD