23. Menyelami Kondisi Armage

2187 Words
Setelah menempuh sekitar delapan menit perjalanan menggunakan kapal, Nico beserta David dan beberapa anggota kepolisian tiba di dermaga pulau Armage. Pemandangan malam itu tidak Nico sia-siakan. Lantaran dirinya harus benar-benar memahami detail aktivitas di pulau jeruji besi itu. Tatapan Nico mengedar melihat situasi di sekitarnya. Ia melihat ada dua kapal yang sedang bersandar di dermaga Armage. Kapal logistik yang mengangkut kebutuhan di sana, dan yang paling utama adalah bahan makanan. Kapal itu bisa seharian bersandar di dermaga, karena jumlah bahan makanan yang diturunkan pun lumayan banyak untuk mencukupi kebutuhan satu minggu. Nico melihat mercusuar yang berada tidak jauh dari bibir pantai. Lampu sorot berotasi searah jarum jam. Nico terus mengamatinya. Pergerakannya lumayan lambat. Butuh waktu beberapa menit untuk kembali ke titik awal putaran. Nico melihat pos penjagaan di pintu masuk dermaga. Semua yang berkepentingan diminta untuk melewati pemeriksaan, sebagai salah satu protokol keamanan wajib. Sebelum diizinkan memasuki wilayah Lapas. Termasuk David dan tiga anggota kepolisian yang ikut bersamanya. Tidak lupa, Nico pun dimintai keterangan dan salah satu dari anggota kepolisian itu memberikan sebuah dokumen kepada mereka. Setelah mereka membaca dokumen itu, mereka mengizinkan masuk. Rombongan David dikawal oleh salah satu petugas Sipir. Mereka dibawa dengan menggunakan mobil tahanan menuju gedung utama penjara Armage. Kemudian petugas sipir itu mengantar rombongan David ke suatu ruangan di dalam gedung utama. Nico menunggu di sana dengan tangan masih diborgol. Dua polisi masih mengawal Nico yang sedang duduk di sebuah kursi di salah satu sudut ruangan. Sedangkan David dan seorang polisi lain sedang menghadap salah satu bagian administrasi Lapas untuk mengurus pemindahan Nico ke Armage. Bukan tidak mungkin Nico dimasukkan ke sana. Alasan yang Nico dengar adalah pengasingan. ‘Aku tidak mengerti bagaimana mereka membuatku bisa masuk ke dalam Armage, yang jelas aku mendengar kata-kata pengasingan, ingin rasanya mengetahui alasan mereka, tapi ... sudahlah! Tugasku hanya tinggal mempelajari seluk-beluk denah Armage dan sistem keamanan mereka. Mencari Arion dan pergi dari sini dengan selamat!' Nico berbicara dalam hatinya sembari menatap David yang sedang mengurus administrasi Nico. Tidak lama kemudian David berjalan ke arah Nico dan berbicara empat mata padanya. “Nick! Aku sudah mengurus semua administrasi pemindahanmu ke sini, jadi ... kau harus menjalankan misimu dengan mulus!” bisik David kepada Nico. “Tapi aku ingin mengetahui alasan kalian pada staf administrasi itu!” Nico masih penasaran. “Kami membuat sebuah dokumen yang menyatakan bahwa Kau sedang dalam proses penyidikan kasus pembunuhan terhadap salah satu orang terpandang di negeri ini ... jika kami tetap menahanmu di rumah tahanan kota Nerve, maka kami tidak bisa menjamin keamanannya, kami membuat seolah Kau adalah salah satu anggota dari komplotan organisasi terlarang ... sebelumnya Thomas telah memberikan informasi kepada kepala staf dan kepala Lapas ini ... jadi yang tadi aku lakukan adalah memberikan berkas-berkas yang berhubungan denganmu. Kami menahanmu di Armage demi keamanan negara ... lantas mereka menerima dan yang mereka ketahui, selama proses penyidikan, sebelum persidangan, kau ditahan di dalam Armage ... padahal Kau tahu, kan? Apa tugasmu selama di sini?” jelas David pada Nico. “Astaga ... se-mengerikan itukah momok tentang komplotan organisasi terlarang itu? Ya, baiklah! Aku tidak peduli bagaimana alasan kalian, yang pasti aku akan melaksanakan misi dengan baik, aku akan membuktikan bahwa aku bukan pembunuhnya! Beri aku waktu untuk membawa serta Arion pergi dari sini!” Nico menatap David dengan tatapan tajam. “Lakukan sebaik mungkin! Ingat! Ini misi rahasia! Jangan sampai gagal atau pun terbongkar! Lakukan dengan cantik! Buat semua sealami mungkin! Jangan membuat Arion atau pihak Lapas curiga padamu! Kami menjamin keamanan keluargamu!” David membalas tatapan Nico dengan sorot mata serius. “Akan aku lakukan dengan mulus!” Nico menyanggupi untuk menjalankan misi kedua ini. David mengangguk dan menyerahkan Nico kepada petugas sipir yang akan menempatkan Nico di lantai dua penjara Armage. Nico ditempatkan pada blok kejahatan kasus pembunuhan. Walau dia belum benar-benar ditetapkan sebagai narapidana, tetapi dengan alasan keamanan menjelang persidangan, Nico ditempatkan di penjara Armage. *** Nico berjalan menuju tempat dia ditahan. Selama dalam perjalanan, Nico dikawal oleh dua orang petugas Sipir. Sorot mata Nico tajam mengintai semua penjuru gedung sejauh mata memandang. Nico melihat bagaimana penjara itu. Bagai ruangan isolasi yang tertutup. Hanya ada pintu kerangkeng yang sudah mulai lusuh. Cat di tembok-tembok itu ada yang mulai mengelupas. Pencahayaan yang seadanya, dan pemandangan di sana sangat memprihatinkan. Nico merasa bergidik melihatnya. Sepanjang perjalanan menaiki tangga, beberapa kali terlihat tikus-tikus gembul yang berlarian. Nico benar-benar merasa dalam pengasingan. Benar-benar asing dan jauh dari bayangan Nico. Sesampainya di lantai dua, mereka berbelok ke arah sebelah kiri dari ujung tangga itu. Dia kembali berjalan mengikuti ke mana kedua petugas sipir itu membawanya. Nico kembali dibawa berbelok ke arah kanan di persimpangan pertama. Nico melihat di sisi kanan dan kirinya. Para narapidana sedang menikmati masa tahanan mereka. Ada yang sedang tidur di atas sebuah dipan kecil tanpa kasur. Ada pula yang sedang duduk di lantai dan ada yang bersandar di balik jeruji besi itu. Sesampainya di ujung koridor, Nico melihat sebuah ruangan penjara yang kosong. Dia sudah merasa kalau dirinya akan ditempatkan di sana. Benar saja! Salah satu petugas sipir itu mengambil sebuah kunci untuk membuka gembok yang menggantung pada gerendel jeruji besi. Setelah berhasil membukanya, Nico langsung dipersilakan masuk, setelah petugas sipir membuka borgol Nico. Karena Nico melongo melihat kamar penjara itu, maka petugas sipir yang sedang memeganginya langsung mendorong Nico masuk ke dalam sana. Nico yang tersentak dengan hal itu, langsung menoleh ke arah salah satu petugas sipir sudah kembali mengunci gemboknya. Nico masih terperangah dengan keadaan ruangan itu. Ruangan yang sempit dengan satu tempat tidur. Di kelilingi dinding tembok yang menjulang, dengan cat yang mulai mengelupas serta lusuh. Jeruji besi yang menjadi pintu satu-satunya di ruangan itu pun terlihat lusuh. Cat putih yang sudah tidak berwarna putih lagi, karena mengelupas dan ada beberapa bagian yang berkarat. Lantainya pun sudah tidak mengkilap, karena lembap dan jarang dibersihkan. Tampaknya kamar itu sudah agak lama kosong. Sehingga ketika Nico masuk ke sana, langsung merasakan sesuatu yang membuatnya benar-benar menggelengkan kepala. Di sana juga terdapat perlengkapan mandi yang sebelumnya memang sudah disiapkan oleh penjaga. ‘Astaga ... Menyedihkan sekali! Ini benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat! Tinggal di rumah sewaan Nyonya Clara, bersenang-senang di bar, lalu ... in—ini benar-benar siksaan yang nyata! Ruangan ini sangat sempit, hanya ada sebuah dipan tanpa kasur, dingin, kotor, beberapa kali aku melihat tikus-tikus gembul itu berlarian ... seolah memang Armage adalah rumah bagi tikus-tikus itu ... aku belum melihat di mana kamar mandinya? Astaga apakah seperti ini? Di ruangan ini hanya ada wastafel. Atau mungkin saat aku buang air kecil? Menggunakan wastafel itu? Dinding di ruangan ini membuat suasana semakin seram ... terlebih lagi pencahayaan yang seadanya ... rasanya aku ingin menangis! Miris sekali melihat pemandangan ini ... tapi ... lebih baik susah sekarang dari pada pasrah sambil menunggu Hakim mengetuk palu! Aku tidak mau kembali masuk ke sini lagi! Gila sih ini! Benar-benar membuatku gila! Nico ... Nico ... Come on! Fokus dan lanjutkan misimu!’ ujarnya dalam hati sembari berdoa agar semuanya diberikan kemudahan. “Hei! Kau!” suara bariton seorang pria paruh baya itu mengejutkan Nico yang sedari tadi berdiri, mematung, menoleh ke segala sudut ruangan sempit itu. “Oh? Aku?” Nico menoleh ke arah sumber suara sembari menampakkan wajah polosnya. “Ya! Kau! Penghuni baru!” Pria paruh baya itu menatap Nico dengan tatapan tajam. “I—iya.” Nico bingung harus memanggil dengan sapaan apa kepada pria itu. “Kasus apa yang menjeratmu?” Pria itu langsung bertanya tanpa basa-basi. ‘Apa yang harus aku katakan?’ Nico berbicara dalam hatinya. “Pembunuhan!” Nico menjawab singkat. “Siapa yang Kau bunuh sampai Kau masuk ke Armage?” Pria itu penasaran. ‘Baiklah! Aku akan berakting seolah aku memang pembunuh kelas kakap ... Ya Tuhan! Bantu aku menjalani semua ujian ini?’ ujar Nico dalam hatinya. “Itu tidak perlu aku jawab!” Nico menatap pria paruh baya itu dengan tatapan mata bak kilatan elang. Braaakkk!!! (Suara kerangkeng yang ditendang oleh pria paruh baya itu). Hal itu membuat gaduh. Sehingga membangunkan banyak narapidana yang bertempat tinggal satu blok dengan mereka. “Lancang, Kau! Semua penghuni blok ini tunduk kepadaku! Roki is the king of the street!” jelasnya sembari berteriak. ‘Bagaimana kalau aku mengaku ini pada mereka?’ Nick berbicara dalam hatinya sembari berpikir untuk menggali informasi penting. “Apa peduliku! Aku hanya kan tunduk pada Arion!” Nico berpura-pura mengaku sebagai anak buah Arion. ‘Bagaimana? Aku menunggu ekspresi kalian! Sudah tidak sabar dengan wajah kalian yang pasti akan menganga!’ ujarnya dalam hati sembari menampakkan wajah sinis, dengan bibir menyeringai dan sorot mata yang seakan mampu menguliti mereka. “A—Arion?” Pria paruh baya yang mengaku sebagai raja jalanan itu menganga. Persis seperti prediksi Nico. ‘Ahay! Tepat sekali dugaanku! Rasanya kepekaanku semakin bertambah, ha ha ha ... aku akan menunggu bagaimana pertanyaan kalian yang selanjutnya.’ Nico menertawakan ekspresi mereka. Nico membayangkan sosok Arion yang dapat membuat Pria paruh baya yang berbadan tegap dan kekar itu mematung bagai tersambar petir. “Ya! Aku hanya akan tunduk pada Arion! Apa masih kurang jelas? Atau perlu aku perjelas lagi besok, Tuan?” Nico berakting seolah-olah dia adalah benar-benar anggota komplotan Mafia yang paling disegani. “Ma—maafkan aku, Anak muda! Aku tidak tahu kalau Kau adalah anak buah Arion! Saya mohon! Lupakan saja obrolan kita dan selamat datang di Armage!” Pria paruh baya itu tersenyum kepada Nico. Nico merasa aktingnya membuahkan hasil. Hingga dia menyimpulkan bahwa Arion benar-benar disegani di kalangan para Mafia. Nico semakin penasaran dengan sosok Arion yang disegani banyak orang di mana pun. ‘Siapa sebenarnya Arion? Mengapa setiap kali menyebut namanya di kalangan orang-orang ini, mereka seakan tunduk dan takut? Sayang sekali Thomas dan David tidak menceritakannya padaku secara detail! Aku benar-benar sedang menjalani ujian dalam kehidupan! Tidak disangka aku akan mendekam di balik jeruji besi yang seperti ini keadaannya.’ Nico masih berdiri di balik kerangkeng itu. *** Setelah semalaman tidak bisa beristirahat. Pagi ini, Nico langsung mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan setiap pagi. Sebelum mereka sarapan pagi, semua penghuni Armage dibebaskan dari selnya untuk mandi. Saat itu Nico bertanya kepada penghuni sel sebelah yang bernama Roki itu. “Hai, Pak! Di mana kamar mandinya?” Nico bingung harus bagaimana? Mengingat begitu banyak tahanan penghuni Armage. “Maaf! Siapa nama Anda?” Roki belum mengetahui nama samaran Nico. “Ah hampir lupa! Panggil saja Nick?” Nico berusaha bersikap baik. “Ikutlah denganku! Bawalah peralatan mandimu!” Roki menunjuk pada sebuah perlengkapan mandi yang sudah disiapkan oleh petugas di dalam kamar itu. “Oke!” Nico segera mengambil peralatan mandinya dan ikut berjalan bersama Roki. Pemandangan yang tidak biasa terlihat di sana. Nico melihat ada sekat jeruji besi di setiap dua blok. Karena memang satu kamar mandi besar itu diperuntukkan dua blok. Sehingga di jalur yang tadinya tidak terdapat kerangkeng, pagi ini ketika jadwal mandi, tidak heran melihat sekat-sekat di sepanjang perjalanan dari lantai bawah menuju lantai dua. Perjalanan Nico mengikuti Roki sampailah pada sebuah ruangan terbuka di ujung koridor di blok sebelah kamar penjara Nico. “Mandilah di sana!” ujar Roki kepada Nico yang terlihat mematung menatap pemandangan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. ‘Ap—apa ini? Astaga! Semua penghuni kamar tahanan sebanyak dua blok, mandi bersama di kamar mandi terbuka ini? Bagaimana bisa seperti ini? Astaga! Aku masih perjaka!’ ujar Nico dalam hatinya melihat pemandangan itu. Kamar mandi terbuka dengan tembok setengah badan itu memiliki satu bak mandi yang besar. Biasanya para tahanan bergantian untuk mandi. Namun sekali masuk ke sana bisa sepuluh orang sekaligus. Ini yang membuat Nico merasa risi karena tidak terbiasa. “Ayo! Giliran kita!” Roki mengajak Nico untuk mandi. “Ki—kita? I—iya!” Nico merasa sangat miris berada di sana. Sepanjang perjalanan, mereka menatap Nico dengan penasaran. Tatapan mereka seakan menguliti masa lalu Nico. Mencoba mencari informasi mengenai tahanan baru. Untung saja Nico berjalan dengan Roki si raja jalanan yang disegani para penghuni di lantai dua. Namun, Roki justru merasa takut kepada Nico karena dia mengaku sebagai anak buah Arion. Sosok yang disegani di kalangan Mafia dan komplotannya. *** Nico mulai berjalan ke kamar mandi itu. Ia melihat pemandangan yang membuatnya ingin menutup mata. Bagaimana tidak? Mereka yang mandi di sana beramai-ramai tidak memakai sehelai kain pun. Berkali-kali Roki mengingatkan Nico untuk segera mandi karena waktu yang diberikan sangat singkat. Perlahan Nico menanggalkan bajunya memperlihatkan tubuhnya yang sixpack. Semua mata tertuju padanya, lantaran baru ada penjahat yang sebersih tubuh Nico. Sekarang Nico tidak memakai sehelai kain pun. Ia langsung mandi dan menutup mata. Bersikap masa bodoh dengan mereka ‘Astaga! Rasanya sangat tidak nyaman! Biasa mandi dengan shower yang terasa segar dan privasi, kali ini aku merasa benar-benar tidak nyaman, tapi ... demi menjalankan misi, aku akan bersikap biasa saja. Anggap saja aku bagai penjahat yang berkali-kali bertelanjang bersama wanita-wanita cantik. Walau aku sama sekali bukan pria macam itu. Halah! Sudahlah! Aku pun sudah selesai membersihkan badanku ini!’ Nico menggerutu dalam hatinya sepanjang mandi hingga menyelesaikan kegiatan itu. ‘Akhirnya! Kegiatan ini selesai! Adaptasi paling sulit yang pernah aku alami! Syukurlah terlewati, kini hanya tinggal fokus pada misi utama!’ ucapnya dalam hati sembari menampilkan wajah misterius Nico.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD