Nico merasa lega karena pada akhirnya dia selesai juga untuk membersihkan badannya. Semua benar-benar sangat mengejutkan. Adaptasi yang teramat berat harus Nico jalani demi menjalankan sebuah misi. Setelah selesai memakai baju tahanan sama dengan yang lainnya, Nico berjalan sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Semua mata para tahanan yang satu blok dengannya tertuju pada Nico.
Lagi-lagi, Nico berjalan dengan penuh percaya diri dan wajah datar tanpa ekspresi. Hingga menarik perhatian salah satu orang berpengaruh di sana, selain Roki.
“Hei! Kau!” Suara bariton yang mirip dengan suara Roki memanggil Nico. Namun, Nico diam saja dan terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan itu.
“Hei! Berhenti, Kau!” Pria matang itu menyuruh anak buahnya untuk menjegal perjalanan Nico. Seketika Nico terbelalak karena dua orang berambut gondrong, berbadan kekar, mencegatnya.
“Ada apa? Kenapa menghalangi jalanku? Permisi! Mau lewat!” Tanpa rasa takut Nico menatap mereka dengan tatapan bak kilatan elang.
“Hei! Sombong sekali!”
Brukk!!!
Mereka mendorong Nico hingga jatuh tersungkur ke lantai. Nico merasa heran dengan penghuni di Armage. Berusaha diam dan tidak ingin mencari masalah pun, ujung-ujungnya terkena masalah juga. Seperti pagi ini, Nico mendapat masalah karena dianggap orang baru. Bagi mereka orang baru adalah santapan empuk. Namun mereka salah sasaran, Nico bukan pemuda polos seperti yang mereka bayangkan. Melainkan atlet MMA dan cerdik.
“Astaga! Nick!” Roki berbalik melihat keadaan Nico yang masih duduk di lantai.
“Hei! Dragon! Apa yang kau lakukan?” Roki menatap pria yang dia sebut sebagai Dragon.
“Lihatlah! Pemuda ini sangat tidak sopan!” Dragon yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya menatap Nico yang terlihat meringis melihat kelakuan mereka.
“Astaga! Dragon! Apa kau tahu siapa dia?” Roki berbisik di telinga Dragon.
“Dia? Siapa?” Dragon merasa bingung dan ekspresi wajahnya berubah drastis.
“Dia! Anak buah Arion! Arion anak dari Draco sang penguasa Bonzoi!” Roki kembali berbisik kepada Dragon.
Dragon yang tanpa ekspresi, tiba-tiba langsung terlihat menahan napas dan menoleh perlahan ke arah Roki.
“Ba—bagaimana nasibku?” Dragon mengatakan hal itu kepada Roki, sambil berbisik.
“Bukan hanya kau saja yang mengalaminya! Aku pun iya semalam, cepat minta maaf! Aku merasa dia ke sini membawa sebuah misi untuk Arion.” Roki kembali berbisik kepada Dragon.
Tepat sekali, ketika Dragon kembali menghadapkan wajahnya ke depan, tatapan matanya mengedar melihat Nico yang tersungkur di lantai. Nico mulai beranjak dari posisinya. Napas Dragon tercekat seketika melihat Nico yang menatapnya sembari berjalan dengan santai. Wajah Nico dingin tanpa ekspresi, lengkap dengan tatapan elang yang khas tajam menghunjam jantung, terfokus menatap Dragon.
“Boleh lewat, Bung?” Nico masih menatap Dragon, pria bertubuh kekar itu.
“Si—silakan!” Dragon beserta antek-anteknya langsung menyingkir memberi jalan kepada Nico.
Nico hanya mengulas senyum manis kepada mereka. Ia tidak ingin mencari masalah atau menambah masalah lainnya karena saat ini yang diperlukan adalah fokus menjalankan misi. Nico berjalan kembali menuju ruang tahanannya. Sedangkan Roki berjalan di belakangnya.
Nico mulai penasaran seperti apa organisasi mafia Bonzoi itu, sampai membuat orang-orang merasa takut setiap kali mendengar nama Arion atau Bonzoi. Baru saja Nico akan masuk ke dalam selnya, tiba-tiba Bel berbunyi. Suaranya yang keras terdengar hingga penjuru Armage.
“Nick! Ayo waktunya kita sarapan sebelum kita menjalani kerja paksa!” Roki mengajak Nico untuk ikut bersamanya ke ruang makan para tahanan.
“Jadi ini tanda bel untuk sarapan?” Nico rampak bingung.
“Ya, benar! Ayo kita ke sana!” Roki tersenyum sembari mengayunkan tangannya sebagai tanda ajakan kepada Nico.
“Baiklah!” Nico berjalan mengikuti Riko. Menurut Nico ini adalah awal kesempatan Nico untuk mempelajari seluk beluk penjara Armage.
“Hei, Roki!” panggil Nico pada pria paruh baya itu.
“Jangan berbincang selagi petugas sipir mengawasi kita! Mereka tidak ingin kita berbincang! Mereka takut kalau kita melakukan pemberontakan atau menyusun strategi untuk pergi dari sini. Tapi ... selama ini belum pernah ada yang bisa melarikan diri dari Armage,” ucapnya lirih.
“Lalu apa bisa kau tunjukkan padaku ruang apa saja yang kita lewati?” Nico menoleh ke ruang-ruang yang ia lewati.
“Jangan pernah menoleh ke mana pun, ketika petugas sipir mengawasi kita! Lebih baik kita berbicara ketika sedang bekerja di kebun!” Roki kembali mengingatkan Nico.
“Eh? Baiklah!” Nico langsung terdiam dan jeruji besi penyekatan sudah kembali dibuka.
Sepanjang perjalanan, Nico mengamati situasi dan kondisi di dalam gedung itu dengan teliti.
‘Penjara ini sangat luas, bahkan aku belum mengamati semua ruangan yang ada di dalam gedung ini. Lalu ... apa aku akan bertemu dengan Arion? Saat kita sarapan?’ Nico masih mengira bahwa Arion adalah seorang pemuda gagah sang calon penerus takhta mafia Bonzoi.
Langkah demi langkah Nico lalui. Ia melihat keadaan di sekitarnya sembari berjalan. Sesekali ia mencuri pandang dari pengawasan petugas sipir, memperhatikan wilayah sekitar. Hingga dirinya berjalan menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang makan narapidana.
Nico masuk ke dalam sana, sambil berbaris bersama tahanan lainnya. Semua tahanan bercampur menjadi satu. Ruangan itu sangat besar, mampu menampung semua tahanan yang ada di dalam Armage. Penjagaan di sana juga ketat. Hampir di setiap sudut ruangan dan pilar-pilar penyangga, terdapat petugas sipir yang berjaga. Makanan di sana dilayani oleh pelayan, sehingga para narapidana hanya tinggal menerima jatah makan mereka.
Nico berada dalam antrean. Setelah makanan sudah didapatkan, Nico berjalan mengikuti Roki. Semua mata menatap Nico dengan tatapan mengintimidasi. Mereka semua penasaran dengan sosok tahanan baru tersebut. Karena tahanan itu terlihat bersih dan tampan. Walau nyatanya wajah Nico dingin dan tatapan matanya sadis. Tetap saja dia benar-benar sosok baru di mata mereka. Roki yang berjalan seperti biasanya tetap mengajak Nico duduk di sebelahnya. Setiap meja memuat sebanyak satu blok tempat mereka di tahan.
“Nick! Duduklah! Ini meja kita! Ada sebelas orang di blok kita, termasuk Kau! Jangan balas tatapan mereka! Biarkan saja! Makanlah! Sebelum waktunya habis!” Roki memberikan petunjuk pada Nico.
“Terima kasih! Tapi ... mengapa Kau mendadak baik padaku?” Nico ingin memastikan maksud dan tujuan Roki. Dengan tatapan mengintimidasi, Nico berhasil meyakinkan Roki kalau Nico benar-benar anak buah Arion. Padahal kenyataannya, Nico pun tidak mengetahui seperti apa rupa Arion.
“Sudah lama aku ingin menjadi bagian dari Bonzoi, tapi ... hal itu sangat sulit aku lakukan! Ehem ... mungkin Kau bisa merekomendasikanku jika nanti aku sudah keluar dari sini?” Roki amat berharap. Ia berbisik pada Nico.
‘Astaga ... ternyata ini bakat terpendamku? Berakting, memainkan peran, ya seperti saat aku berada di Namos, apa kabar Jane? Mungkin Kau akan mencari keberadaanku! Maafkan aku Jane!’ ucap Nico dalam hatinya.
“Ada penawaran bagus untukmu, Bung!” Nico berbisik kepada Roki, sambil melihat situasi di sana. Ia menghindari pengawasan petugas sipir.
“Tawaran?” Roki tersenyum lebar dengan mata berbinar. Ia berharap Nico akan mengajaknya bergabung dengan Bonzoi.
“Ini misi rahasia! Carikan aku informasi tempat dikurungnya Arion! Aku pasti akan mengingatmu!” Nico menatap Roki dengan meyakinkan.
‘Aku akan mengingatmu, Roki! Bukan merekomendasikanmu! Jangankan merekomendasikan, kenal saja tidak aku dengan Arion! Astaga!’ Nico berbicara dalam hatinya sembari menahan tawa di antara peran meyakinkan yang dimainkannya.
“Arion? Ada di sini?” Roki menganga. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka.
“Iya, itu alasan aku ke sini! Ssstt!” Nico kembali berbisik, menegaskan seolah-olah Nico adalah orang penting, kepercayaan Arion yang akan membawanya pergi dari Armage, guna melaksanakan kembali organisasi mafia Bonzoi.
“Akan aku dapatkan informasi secepatnya!” Roki kembali berbisik. Dia sangat antusias untuk membantu Nico. Padahal Nico sama sekali tidak mengenal Arion.
***
Seorang wanita duduk di sebuah bar sendirian. Dia menunggu seseorang yang belakangan ini mengisi hari-harinya. Seorang pemuda tampan yang berhasil memikat hatinya. Ia berharap sang pemuda tampan akan kembali datang malam ini. Namun sampai larut malam saat jam kerja si wanita sudah selesai, sang pria idamannya tidak menampakkan diri di sana.
Ya! Dialah Jane yang murung karena menunggu Nick si bad boy. Awalnya Jane berharap kalau malam ini Nico akan datang ke klub malam. Dia akan menemani Nico kencan malam ini. Namun apa yang terjadi? Nico tidak datang. Sedangkan Jane tidak mengetahui alasannya.
Kehilangan?
Tentu saja, Jane merasa kehilangan. Hanya Nico pria baik yang pernah Jane temui di klub malam dirinya bekerja. Nico sangat perhatian, peduli, juga bersikap sopan pada Jane. Tidak seperti pelanggan lain yang terkadang colak-colek bahkan hampir melecehkan Jane. Namun Jane merasa Nico berbeda dari yang lainnya.
Saking penasarannya, Jane memutuskan untuk mengunjungi rumah Nico di distrik tiga. Jane menunggang taksi menuju rumah Nico. Gerimis mulai turun malam itu. Jane tidak memedulikannya. Karena saat ini yang ada dalam benaknya adalah bertemu dengan Nico. Setidaknya Jane merasa nyaman dan tenang berada di dekat Nico, pasca Hansen diciduk oleh pihak berwajib.
Sesampainya di jalan utama menuju ujung pantai, Jane memberhentikan taksi yang mengantarnya. Kemudian Jane membayar dan turun dari taksi. Ia berjalan perlahan menuju rumah Nico. Jane berkonsentrasi melihat nomor rumah di sana. Hingga Jane sampai di rumah Nico alias rumah sewaan milik Nyonya Clara.
Jane tersenyum melihat rumah yang menjadi tempat tinggal Nico. Perlahan Jane membuka pintu gerbang rumah itu. Lalu dia berjalan perlahan. Suasana yang agak remang membuat Jane tidak begitu jelas melihat keadaan di sekelilingnya.
Ketika Jane mulai melangkah dekat dengan rumah Nico, ponselnya bergetar, sehingga Jane melihat isi tasnya. Ternyata alarm ponsel milik Jane bergetar. Kemudian Jane mematikan alarm ponselnya dan ....
Braakkk!!!
Jane bertabrakan dengan seseorang yang sepertinya barus saja keluar dari rumah itu, hingga jatuh terpental.
“Hei? Siapa kamu?” Jane beranjak dan menatap pria itu dengan tatapan tajam.
“A—aku ....” belum sempat pria itu menjelaskan, Jane sudah meneriakinya sebagai maling.
“Kamu? Maling? Maling, ya? Ayo mengaku!” Jane mencengkeram kerah baju pria itu.
“Maling ... Maling ....” teriakkan Jane membangunkan Tuan Niel yang sudah beristirahat.
Jane terus berusaha meringkus pria itu.
“Eeehh! Aku bu—bukan maling!” pria muda itu terus mengelak.
“Kalau bukan maling lalu apa? Hah? Tidak bis menjawab, kan? Sudah mengaku saja!” Jane marah besar pada pria itu. Sampai mengeplak pipi pria yang kini masih dia pegangi kerah bajunya.
“Hei! Jangan pukuli aku! Aku teman Nick!” teriak si pemuda karena Jane sangat galak memukul terus pria itu.
“Nah sekarang kau mengaku-ngaku? Iya, benar begitu?” Jane masih kurang puas meringkusnya.
“Aku memang temannya Nick! Namaku Alex! Aku mencarinya seharian ini!” Mendengar penjelasan Alex, perlahan Jane melepas cengkeramannya yang sangat kencang pada kerah baju Alex.
“Ma—maaf!” Jane merasa bersalah. Ia langsung meminta maaf kepada Alex.
“Iya, sudah aku maafkan!” Alex tersenyum pada Jane.
“Lalu ... siapa namamu?” Alex penasaran dengan sosok wanita cantik nan horor di hadapannya.
“Sekali lagi maaf! Aku Jane ... teman Nick, ya sama sepertimu, aku mencari keberadaan Nick ... apa dia ada di rumah?” Jane penasaran.
“Dia tidak ada, Jane ... aku pun tidak mengetahui ke mana dia pergi,” jelas Alex meyakinkan. Padahal Alex mengetahui ke mana Nico pergi. Namun seperti perintah Nico, Alex juga harus merahasiakan identitasnya, selama menyelidiki Jane dan yang lainnya.
Perbincangan mereka terhenti ketika Tuan Niel datang menghampiri mereka.
“Hei!” panggil Tuan Niel pada mereka.
Mereka menoleh ke arah di depan pintu gerbang rumah sewaan itu. Seorang pria paruh baya yang mengulas senyum ramah nan hangat menyapa mereka. Kemudian Tuan Niel menghampiri mereka.
“Siapa kalian? Rumah ini sudah ada penghuninya!” Tuan Niel berpikir bahwa mereka akan menyewa rumah Nyonya Clara.
“Oh tidak, Pak! Saya ke sini hanya ingin bertemu Nick! Tapi tampaknya tidak ada orang,” ujar Alex meyakinkan.
“Aku pun sama, Pak! Mencari Nick ... tapi kelihatannya tidak ada di rumah.” Jane merasa kehilangan Nico.
“Apa Nick tidak memberitahu kalian? Dia pergi ke luar kota, tampaknya dia mendapat pekerjaan.” Setelah menerima kotak dan membaca surat di dalamnya. Tuan Niel menyimpulkan kalau Nico mendapatkan pekerjaan di luar kota.
Mendengar penjelasan Tuan Niel, Jane merasa sedih karena kehilangan sosok Nick. Namun ia mau mengerti karena Nico juga butuh pekerjaan, hingga nekat ke luar kota. Padah Nico sedang menjalankan misi keduanya di pulau Armage.
Sedangkan Alex datang ke rumah itu untuk memastikan semuanya aman. Namun tanpa disengaja, Alex justru mengenal Jane yang sempat Nico ceritakan padanya. Kesempatan itu, tidak akan Alex sia-siakan, dia akan membantu Nico untuk mengorek lebih jauh lagi informasi tentang hubungan antara Hansen dan Arion, seperti permintaan Nico.
***
Keadaan di dalam Armage sangat kondusif. Sudah tiga hari Nico berada di sana. Ia mulai mempelajari kebiasaan penghuni Armage. masih mengamati sistem keamanan di sana. Memikirkan cara melarikan diri dari sana setelah nanti berhasil keluar dari gedung utama.
Saat ini Nico sedang mengamati dari halaman sebelah barat gedung utama, karena memang dia dan beberapa tahanan lain sedang diperintahkan untuk membersihkan rumput-rumput liar di sekitar halaman itu. Nico mengamati seluruh penjuru Armage yang terlihat dari sana. Mengamati kebiasaan para petugas sipir. Sehingga strategi yang akan Nico ambil, tidak akan meleset.
Tatapan Nico yang tajam menelisik ke segala penjuru, seketika buyar karena dikejutkan oleh suara Roki.
“Nick! Aku sudah mendapatkan informasi keberadaan Arion.” Bisik Roki kepadanya. Mata Nico membulat, mendengar informasi itu.
“Di sebelah mana, dia dikurung?” Nico merasa sangat berdebar mendengar berita itu. Bagaimana Arion sebenarnya? apakah Nico akan menemukannya dengan mudah?