25. Di Dalam Bungker

1850 Words
Nico merasa sangat antusias ketika Roki datang memberi kabar mengenai tempat dikurungnya Arion. “Katakan! Di mana Arion dikurung!” ujarnya karena saking penasarannya. “Sssttt!!! Diam! Kita harus berpura-pura tidak sedang berbicara serius! Kerjakan lagi tugasmu! Akan aku beri tahu di mana Arion berada!” perintah Roki kepada Nico. “Baiklah! Maaf! Aku hanya sangat senang mendengarnya!” Nico kembali mencabuti rumput yang masih terlihat di sana. Roki dan Nico mencabuti rumput dengan posisi saling berhadapan. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya terhalang oleh sebuah pohon di tepi pagar sebelah barat. “Arion ditempatkan di gedung dua, di ujung lorong sebelah selatan. Di sana terdapat sebuah ruang bawah tanah, yang dahulunya digunakan sebagai bungker, di sanalah Arion berada. Informasi ini aku dapatkan dari seorang petugas sipir yang sedang mabuk! Di blok dua, lantai satu sebelah selatan. Info ini akurat dari temanku!” jelas Roki kepada Nico. “Gedung dua? Memangnya ada lagi? Gedung lain selain gedung utama ini?” Nico merasa bingung, lantaran denah bangunan yang diberikan Alex tidak ada bangunan lain selain bangunan utama tempat di mana Nico dikurung. “Ada, bangunan baru yang belum lama dibangun. Bangunan itu hanya satu lantai. Tidak besar, di sana terdapat penjara khusus wanita, juga klinik, dan ada penjara khusus bagi mereka yang sedang sakit. Namun selebihnya tetap penjara umum berbagai macam tindak pidana seperti kita, Nick!” Roki menceritakan dengan gamblang. “Lalu ... bagaimana kita bisa masuk ke gedung dua itu?” Nico mengernyitkan dahinya. “Aku punya ide, Nick! Tapi ....” ucapan Roki tercekat. “Ide apa? Tapi? Apa?” Nico semakin penasaran. “Kau harus masuk ke dalam sebuah keributan, lalu berkorban untuk terluka, pasti kau akan dimasukkan ke dalam klinik dan ruang penjara perawatan. Penjagaan di sana ketat. Tapi bagi mereka yang sakit tidaklah seketat para tahanan yang sehat. Di sana, kau lebih bebas untuk menyelinap!” Roki memberikan saran yang sangat ekstrem. “Apa? Tapi ... keributan apa?” Nico merasa sangat bingung. “Di dalam Armage ada dua kubu yang selalu berselisih dan bentrok. Dialah kubu Dragon dan Shark!” jelas Roki kepada Nico. “Hah? Siapa mereka? Seperti nama hewan saja!” Nico mengernyitkan dahinya. “Mereka yang berkuasa! Dragon orang yang tadi pagi mencegatmu! Sedangkan Shark dia ada di blok lantai satu. Dua kubu ini sering tawuran. Jika mereka terlibat tawuran dan kau ada di sana, lalu kau terluka, otomatis kau akan dibawa ke klinik Armage di gedung dua. Kau bisa mengintai! Terlebih jika petugas sipir yang jaga adalah orang yang sama yang sering mabuk-mabukan, kau pasti bisa mengelabui mereka!” Roki menatap Nico. “Tapi? Kapan mereka tawuran?” Nico rela berkorban asalkan bisa menjalankan misi. “Di akhir pekan, mereka biasa pesta tawuran, ikutlah di dalamnya! Seolah kau korban mereka, yang tidak sengaja melintas.” Roki yang ingin masuk menjadi anggota mafia Bonzoi, menceritakan hal yang tidak Nico ketahui sebelumnya. “Baiklah! Di mana biasanya mereka tawuran?” Nico bersiap dan mengatur strateginya. “Di ruang makan saat makan malam.” Roki kembali memberikan petunjuk. “Astaga! Baiklah akan aku pelajari dan memikirkan strateginya!” Nico merasa harus memikirkan secara matang agar tidak meleset. “Aku siap membantumu! Asalkan kau berjanji! Akan merekomendasikan aku kepada Arion dan ayahnya Draco.” Roki masih berharap bisa bergabung bersama mereka. Nico mengangguk. Bukan karena menjanjikan tapi karena harus meyakinkan. Namun Nico tidak akan pernah melupakan kebaikan yang pernah Roki berikan padanya. *** Makan malam di akhir pekan pun tiba. Nico dan Roki sudah mempersiapkan strategi. Roki meminta Nico berada di antara mereka. Lalu mendekat kepada mereka yang membawa belati. Ketika Nico mendekat otomatis salah satu dari mereka akan melukai Nico. Setelah Nico terluka, Roki akan langsung menarik Nico dari sana dan langsung meminta bantuan tim medis untuk memberikan pertolongan kepada Nico. Rencana mereka berdua sudah disusun dengan matang. Setelah mereka duduk untuk makan malam, Roki dan Nico menunggu saat tawuran tiba. Namun tidak ada tanda apa pun yang akan terjadi di sana. Nico memberikan kode berupa kedipan mata kepada Roki. Kemudian Roki melihat sekitarnya. Tidak ada tanda apa pun. Hingga mereka selesai makan malam. “Roki! Mana tawuran yang Kau ceritakan?” Nico berbisik kepada pria paruh baya itu. “Aku pun tidak mengerti! Kenapa akhir pekan ini tidak ada tawuran di antara mereka ... maafkan aku, Nick!” Roki merasa sangat tidak enak hati. Ia merasa gagal untuk menolong Nico yang dia kira sebagai anak buah Arion. “Ya sudah! Tidak apa-apa ... aku akan mencari jalan lain sambil mengamati situasi di setiap kesempatan yang ada.” Nico menghela napasnya. *** Malam ini di balik jeruji besi yang sudah lusuh termakan usia, Nico merenung dan memikirkan cara untuk tetap melanjutkan misinya. Tidak ada pilihan lain untuk dirinya, selain menjalankan misi itu. Merasa terjebak? Ya, tentu saja! Karena Nico benar-benar bagai makan buah simalakama. Tetap menunggu di rumah tahanan kota Nerve sembari menunggu hasil pembelaan tim pengacara keluarga Hans, atau menerima tawaran Thomas untuk menjalankan misi berbahaya yang memberikan peluang bagi Nico untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menguatkan alibinya di dalam persidangan, serta menemukan siapa dalang dan pelaku penembakan terhadap Profesor Nazer. Dari kasus yang dia hadapi saat ini, Nico banyak belajar. Kehidupan di luaran sana jauh lebih terjal ketimbang dalam ruang lingkup keluarganya yang memiliki dasar sebagai keluarga terpandang dan dihormati khalayak umum. Kehidupan di luar apa lagi mengenal dunia malam dan organisasi mafia, amat sangat terjal dan menantang. Sampai saat ini, Nico masih tidak mempercayai keadaan yang menyeret dirinya sampai sejauh ini. Tidak pernah ter bayangkan kalau dirinya saat ini mendekam di penjara Armage yang berada di sebuah pulau di selatan kota Namos. Penjara tertutup, tempat dikurungnya gembong-gembong pelaku kejahatan kelas kakap. Tidak pula ter bayangkan sebelumnya, mengenal, dan bergaul dengan mereka di dalam tahanan. Setelah Nico mengingat kembali kilas balik kejadian dan perjalanan hidupnya yang sangat tidak terduga itu, Nico kembali fokus pada misi keduanya. Ia harus mampu melarikan diri bersama Arion dari penjara Armage. Selama satu minggu ini, Nico berusaha mengenal denah, sistem keamanan, dan kebiasaan para petugas sipir di gedung satu tempatnya dikurung. Sudah ada gambaran bagaimana dia bisa dengan bebas berlalu-lalang di dalam Armage. Saat jam istirahat kerja paksa. Kebetulan para tahanan selalu kebagian giliran berpindah-pindah untuk membersihkan dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Itulah salah satu kesempatan Nico yang tidak ia sia-siakan. *** Hari ke delapan di dalam penjara Armage. Blok tahanan tempat Nico dikurung kebagian membersihkan semua ruangan yang ada di gedung dua. Hal ini tidak akan Nico sia-siakan. Walau penjagaan ketat, tetapi petugas sipir pun terkadang lengah. Itulah salah satu kelemahan dasar manusia. Roki dan Nico saling memberikan kode. Mereka sedang membersihkan kaca di klinik Armage. Ada pula yang sedang membersihkan kamar mandi khusus petugas. Sebagian lagi membersihkan kamar mandi yang dikhususkan untuk tahanan wanita. Kebetulan semua tahanan wanita sedang mendapat bimbingan di kebun Armage. Tanah yang lumayan luas itu digunakan untuk berkebun juga, walau tidak banyak, sebagai sarana pelatihan agar mereka yang keluar dari sana bisa berbekal keterampilan dan diharapkan tidak akan melakukan kejahatan lagi. Nico yang sedang mengelap kaca, memperhatikan gerak-gerik petugas sipir yang sedang mengawasi mereka. Mereka mengawasi sembari bercerita. Nico mengamati situasi sekitar. Perlahan, Nico berjalan seperti biasanya ke arah lorong sebelah selatan dekat kamar mandi wanita. Kamar mandi mereka sama saja terbuka dan hanya ada tembok setengah untuk menutupi. Untung saja pagi itu semua tahanan wanita tidak ada di gedung dua. Jadi gedung itu benar-benar sedang dibersihkan. Petugas sipir tidak menyadari kalau Nico sudah mengendap-endap berjalan ke lorong sebelah selatan menuju pintu bungker. Tidak ada yang menyadari hal itu. Kecuali mereka melihat CCTV di ruangan besar itu. Namun saking banyaknya tahanan pria yang sedang membersihkan ruangan, maka jejak Nico tidak terekam dengan jelas kalau dia berjalan menuju bungker. Karena awalnya Nico berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air. Setelah situasi dirasa aman, maka Nico mengendap-endap berjalan menuju lotong di ujung selatan. Ruangan menuju ke sana remang-remang. Nico melihat di sekitarnya tidak ada CCTV karena dekat dengan kamar mandi wanita. Jika melihat kondisi menuju bungker, tidak akan ada yang mengira bahwa pintu itu menuju bungker. Karena memang terlihat seperti pintu keluar biasa saja. Dinding lorong pun belum rapi karena masih bangunan baru. Pihak Lapas sengaja tidak menempatkan banyak petugas di sana, karena mereka tidak ingin terlihat mencolok. Tujuannya agar semua orang tidak menyadari kalau di dalam bungker terdapat sebuah ruangan tertutup yang merupakan tempat dikurungnya Arion. Nico terus berjalan dan sampai di depan pintu diujung lorong sebelah selatan. Pintu itu terkunci. Nico sangat membutuhkan kunci untuk bisa melihat situasi di sana. Nico berusaha membuka kunci itu menggunakan paper klip yang terbuat dari kawat yang lumayan kaku. Ia menemukan benda itu ketika membersihkan tempat sampah di dekat kantor administrasi. Nico menyimpannya, tidak ada yang mengetahui kalau Nico memiliki benda itu. Lalu benda itu di lurus kan ujungnya. Nico mulai memasukkan benda itu ke dalam lubang kunci. Sambil berjaga-jaga kalau ada petugas yang datang. Peluh Nico membanjiri tubuhnya karena gembok itu tidak juga terbuka. Nico menatap ke arah langit-langit yang terlihat remang-remang. Lalu ia menghela napasnya. Nico kembali fokus dan merasakan kaitan besi di dalam gembok yang harus ia tekan. Klek! Akhirnya gembok itu terbuka. Nico bergegas membukanya. Ia yakin di dalam sana tidak ada petugas penjaga, karena pintu itu digembok dari luar. Nico sudah tidak memiliki banyak waktu, seketika Nico terkejut ketika ia membuka pintu itu. Terlihat tangga yang mengarah ke bawah. Ia menoleh sekelilingnya untuk memastikan situasi aman. Lalu Nico menutup kembali pintu itu dengan membawa gemboknya. Lantaran ia takut akan digembok dari luar. Tidak ada jalan keluar lagi dari sana, kecuali pintu itu. Pemandangan di dalam sana remang-remang. Lantaran lampu yang digunakan hanya lampu yang tidak terang. Itu disengaja agar siapa saja yang masuk ke sana tidak akan ada yang mengira bungker itu adalah salah satu tempat kurungan bagi penjahat kelas kakap seperti Arion. Tangga itu diapit oleh dinding kokoh yang tidak tinggi. Suasana pengap mulai terasa. Nico terus berjalan menuju ujung bungker. Langkahnya terhenti di ujung tangga. Nico melihat sebuah pintu ter tutup. Hanya ada celah sekotak kecil berukuran 20x20 sentimeter. Nico membuka penutup celah itu. Ternyata di dalam sana sama saja. Menggunakan penerangan yang cukup remang dan malah cenderung gelap. Untung saja di dalam terdapat lima tabung oksigen yang cukup untuk menyuplai kebutuhan oksigen satu narapidana. “Hai! Ada orang?” tanya Nico dengan suara yang menenangkan. Napas Nico mulai sesak, tapi dia masih bisa bertahan. “Hai ... jawab aku!” sekali lagi Nico mencoba memanggil seseorang yang ada di dalam sana. Nico ingin memastikan kalau dia yang di dalam sana benar-benar Arion. Suasana menghening beberapa saat. “Baiklah! Aku akan kembali ke atas sana. Napasku mulai sesak.” Nico menunduk dan berniat kembali. Ia merasa kalau misinya kali ini akan gagal. Bagaimana tidak? Tantangan misi kali ini benar-benar sangat sulit. Nico tidak memiliki waktu lama. Ia memutuskan untuk kembali saja ke atas. Mengingat napasnya mulai terasa sesak. Nico menutup kembali celah itu. Dia membalikkan badan dan siap untuk kembali. “Hai!” Tiba-tiba suara itu terdengar dari dalam bungker. Nico yang sedang menunduk dan hendak melangkahkan kaki, langsung berhenti. Matanya terbelalak sesaat setelah mendengar suara itu. Suara seorang wanita yang terdengar dari dalam bungker.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD