26. Tersayat Belati

2092 Words
Nico masih mematung setelah mendengar suara dari dalam bungker. Mata Nico terbelalak menatap ke depan. Napasnya sempat tercekat. Ia takut kalau informasi mengenai Arion yang ia dapatkan salah. Nico masih berdiri di sana. “Hei! Siapa di sana?” suara lembut kembali terdengar dari dalam bungker. ‘Astaga! Apa aku salah informasi? Tapi mengapa ada wanita yang dikurung di dalam bungker seperti ini? Sangat miris sekali! Bahkan tempat ini lebih menyeramkan dari pada ruangan kurunganku!’ ucap Nico dalam hatinya. “Hai! Siapa di sana?” suara seorang wanita kembali terdengar dengan jelas. Nico mulai menoleh perlahan dan membalikkan badannya. Ia mulai melangkah mendekat ke arah pintu yang terbuat dari besi itu. Napas Nico semakin sesak. Namun rasa penasaran yang membuncah membuatnya menahan pengap di dalam bungker. Nico melihat ke dalam bungker melalui celah kecil yang ada di sisi pintu itu. “Aku, Nick.” Nico kembali berbicara pada seseorang di dalam bungker yang diduga sebagai Arion. “Hai, Nick! Kenapa kamu ada di sini? Apa di depan tidak ada petugas penjaga?” suara lembut itu kembali terdengar. “Ap—apa ... kau Arion?” Nico penasaran. Ia mendekatkan wajahnya ke lubang kecil di sisi pintu besi. “Ya! Aku Arion ... lalu ... bagaimana Kau tahu aku di sini? Mereka mengurungku di sini sejak pertama kali aku ditangkap!” Arion mengatakan yang sejujurnya. “Ja—jadi benar? Kau adalah Arion? Kau seorang perempuan?” Nico masih tidak percaya dengan semua yang ia lihat. “Ya! Aku seorang perempuan, lalu kenapa kau ada di sini?” Arion semakin penasaran. “Aku akan membebaskanmu! Rahasiakan pertemuan kita! Aku akan segera kembali untuk membawamu pergi! Kapan petugas sipir biasanya datang ke sini?” Nico menanyakan hal itu karena untuk mengatur strategi berikutnya. “Bahkan aku tidak bisa membedakan kapan siang dan malam. Aku ada di bungker dan ini membuatku tidak mengingat kapan siang dan malam,” jelas Arion kepada Nico. “Astaga! Benar juga! Aku akan ke sini lagi, kau ingat-ingat, saat ini masih pagi, sekitar pukul sepuluh pagi, kau ingat saja! Hitung saja kira-kira, aku akan kembali beberapa hari lagi!” Nico berpamitan kepada Arion. “Baiklah! Tapi ... siapa kamu sebenarnya?” Arion menunggu jawaban Nico. “Hai! Nick?” Arion menundukkan kepalanya. Ia tahu kalau Nico sudah meninggalkan bungker. Arion tidak bisa mendekat ke arah pintu karena kakinya di rantai di dalam ruangan gelap itu. Rantai itu hanya bisa menjangkau sepanjang tabung oksigen yang ada di sana. Bagi pemerintahan Vromme, Arion adalah kunci untuk mengetahui di mana Markas Mafia Bonzoi. Sehingga mereka masih mengurung Arion di sana, dengan tetap menjaga agar Arion tetap hidup. Arion yang merasa senang dengan kedatangan Nico, saat ini kembali duduk bersandar pada tembok. Dengan kaki yang dirantai dan memakai baju tahanan. Bukan hanya tikus yang menemani Arion di dalam sana. Bahkan kelabang pun biasa merembet di tubuh mulus Arion. Semua itu tidak membuat Arion takut. Arion terlahir sebagai putri seorang ketua mafia Bonzoi bernama Draco. Sejak kecil Arion sudah dididik menjadi pribadi yang mandiri dan pemberani. Sehingga dikurungnya Arion di dalam sana, bukan masalah besar bagi Arion. Hanya saja, Arion benar-benar tidak bisa keluar dari sana, tanpa pertolongan dari luar. Arion pun tidak bisa mengingat siang dan malam. Karena hanya gelap yang dia rasakan di sana. Nico berjalan dengan cepat berusaha keluar dari dalam bungker. Ia takut kalau ada petugas yang menyadari bahwa gembok pintu bungker terbuka. Dengan napas yang terus menyesak dan mulai tersengal, Nico meraih pintu keluar di sana. Namun, belum sempat Nico membukanya, terdengar ada langkah sepatu yang mendekat ke arahnya. Jantung Nico berasa mau copot. Napas yang tersengal di d**a yang terus menyesak, ditambah lagi rasa takut kalau dia akan ketahuan oleh petugas sipir. ‘Astaga! Suara langkah sepatu mendekat ke sini ... gawat kalau sampai aku ketahuan olehnya! Aku harus bagaimana? Sedangkan lorong menuju ke sini hanya satu arah, tidak ada jalan lain, lalu bagaimana kalau petugas itu menyadari gemboknya tidak ada di tempat yang semestinya?’ Nico merasa sangat berdebar. Takut dan mulai lemas karena saturasi oksigen di dalam tubuhnya menurun. Tak lama kemudian, Nico mendengar seseorang memanggil petugas yang sedang berjalan menuju pintu bungker. Dewi Fortuna berpihak kepada Nico. Petugas yang sedang berjalan menuju pintu bungker dipanggil oleh temannya, lantaran ada keributan di luar gedung. Keributan yang terjadi karena ada kesalahpahaman di antara kelompok narapidana. Nico mulai bernapas lega karena petugas itu tidak jadi memasuki bungker. Suara langkah kakinya menjauh dari bungker. Tanpa berpikir panjang, Nico membuka pintu bungker. Namun saat dia belum menarik pintu itu, seseorang mendorongnya dari arah depan. Nico yang terkejut hanya bisa mematung dan menatap ke arah di hadapannya. ‘Celaka! Pintu itu terbuka? Jika petugas itu melihatku, lalu apa yang akan mereka lakukan? Bisa gagal misi ini! Jika aku gagal, maka Thomas tidak akan memberikanku kesempatan lagi untuk mencari bukti atas kasus penembakan terhadap Profesor Nazer,' ujar Nico dalam hatinya. Sekali lagi napas Nico tercekat ketika menebak seseorang yang ada di balik pintu itu. “Roki?” Mata Nico terbelalak kaget, di antara peluh yang mulai bercucuran. “Ayo, pergi!” Roki mengajak serta Nico untuk pergi dari sana. Karena saat ini suasana sedang kisruh. Akibatnya semua petugas berusaha melerai mereka. “Ayo, Nick! Ini kesempatan kita!” Roki kembali mengingatkan Nico. “Baik!” Nico mengangguk. Ia berusaha keluar dari tangga menuju bungker dan kembali menutup pintu besi, sekaligus memasang kembali gembok di tempat yang seharusnya. Lalu melengkungkan paper clip ke bentuk semula dan ia pasang di ujung celananya. Mereka berlari di antara suasana yang remang. Berusaha keluar dari sana dan melihat apa yang terjadi. Roki mengajak Nico untuk keluar melihat tawuran yang te jadi di antara kelompok narapidana. “Nick! Ini kesempatanmu! Mereka sedang tawuran, tapi ingat! Jangan biarkan mereka melukaimu terlalu dalam! Kau ingat pesanku!” Roki mengajak Nico untuk terjun di antara keributan yang terjadi. Mereka saling menatap dan mengangguk, seolah saling memberikan kode untuk terjun ke area tawuran. Mereka masih berlari keluar gedung. Nico melihat tawuran berbekal senjata tajam yang entah didapat dari mana. Roki memberikan isyarat melalui tatapan matanya ke pada Nico. Roki akan mengawal Nico berada di antara tawuran itu. Mereka ikut berlari dan masuk ke dalam area kerusuhan. Roki dan Nico berkelahi dengan mereka yang tidak dikenal sama sekali. Roki melihat salah satu dari kelompok itu membawa belati. Roki memberikan isyarat kembali kepada Nico untuk berkelahi dengannya ‘Ya, Tuhan ... maafkan aku, lindungi aku!’ ucapnya dalam hati. Nico berlari dan nekat mendekat ke arah pria itu. Perutnya terkena sabetan belati milik pria itu. Kemudian Nico langsung diseret menepi oleh Roki. Pria paruh baya dengan suara bariton itu berteriak meminta tolong dan memapah Nico yang terluka. Petugas sipir langsung menolong Nico, membawanya ke dalam klinik Armage. Roki kembali mengangguk kepada Nico, ketika Nico memberikan isyarat kepadanya. Roki kembali ke dalam gedung dan menghindari tawuran, setelah misinya berhasil. Kini Nico dibawa ke klinik untuk mendapatkan pertolongan karena perut Nico terkena sabetan belati milik tahanan lain. Untung saja semua sesuai rencana. Luka yang dialami Nico tidak terlalu dalam. Melukai tubuh bagian luar, tanpa mengenai organ dalam. Sehingga Nico mendapatkan jahitan. Lalu dia dikurung di dalam ruang perawatan. Untuk beberapa hari ini, dia akan dirawat tinggal di klinik. Penjagaan di sana pun ketat. Namun Nico tidak akan kehabisan akal untuk mengelabui mereka, jika dirasa luka jahitannya sudah tidak begitu terasa sakit. Malam ini, Nico bermalam di ruang perawatan. Ruang yang lumayan luas berisi tiga tempat tidur di sana. Namun dua tempat tidur itu kosong. Hanya ada Nico di sana. Ruangan itu terasa sangat sunyi. Nico kembali berkonsentrasi untuk memikirkan bagaimana melarikan diri dari Armage. Menyeberangi lautan dengan berenang sejauh itu adalah mustahil. Nico kembali mengingat apa saja yang pernah ia lihat saat pertama kali tiba di dermaga Armage. ‘Nah! Itu dia! Kapal logistik yang datang setiap satu minggu sekali. Kapal itu akan bersandar seharian di dermaga. Jika aku berhasil melarikan diri dari gedung ini bersama Arion, aku harus memastikan kalau kita bisa menaiki kapal itu tanpa diketahui oleh siapa pun. Aku harus memastikan kalau kapal itu datang tepat waktu. Jika kapal itu sampai telat untuk datang dan berangkat menyeberang ke pelabuhan Namosi, maka harus ada alternatif lain agar kita bisa bertahan. Tapi ... di mana?’ Nico masih berpikir planning B. Mata Nico fokus menatap langit-langit di ruang perawatan. Pikirannya berjalan guna menemukan solusi dari planning B. ‘Nah! Aku ingat! Kami bisa tinggal di hutan Mangrove. Tapi ... apa petugas tidak mencari keberadaan kami? Astaga ... perkiraanku harus tepat! Baiklah masih ada beberapa hari untuk memulihkan lukaku. Sekaligus menunggu kapal logistik itu datang!’ Nico masih terjaga karena merasakan perih pada lukanya. *** Setelah semalaman Nico berada di dalam ruang perawatan klinik Armage di gedung dua. Hari ini lukanya mendapatkan perawatan. Luka sayatan benda tajam itu mulai mengering. Dokter pun merasa kalau Nico benar-benar memiliki daya tahan tubuh yang baik. Dokter pria itu sampai heran melihat Nico. “Kau tampak seperti bad boy, tapi aku rasa ... kau pria baik-baik?” Dokter merasa ada yang salah dengan semua yang menimpa Nico. Nico hanya menyeringai mendengar pendapat sang Dokter tentang tebakannya. “Bagaimana mungkin aku seorang pria baik-baik? Kalau sampai tinggal di Armage ini, Dok?” Nico tetap berakting menjadi seorang bad boy yang pernah berbuat kriminal. Demi penyamarannya untuk menjalankan misi. “Oh, ya? Memangnya Kau terjerat kasus apa? Aku lihat hasil pemeriksaan urine, tidak menunjukkan kalau Kau seorang pecandu obat-obatan terlarang atau Kau menjadi pengedar?” Dokter penasaran dengan kasus kejahatan yang Nico perbuat, hingga mengantarkannya di penjara Armage. “Kasus pembunuhan!” Nico menyeringai sembari merapikan bajunya setelah Dokter selesai memeriksa luka dan jahitannya. “Pembunuhan?” Dokter mengernyitkan dahinya. “Pasti tidak akan mempercayainya?” Nico tertawa kecil, bukan menertawakan sang dokter. Melainkan menertawakan jalan hidupnya yang berliku. “Wajahmu terlalu baik, Nak! Putraku seumuran denganmu! Jika memang kau pernah terjerumus dalam sebuah kasus yang akhirnya menjeratku masuk ke dalam Armage, jangan ulangi lagi! Semoga lukamu lekas sembuh! Kembalilah menjadi anak yang baik!” Dokter pria itu tersenyum dan kembali memeriksa pasien lain di ruangan yang berbeda. Nico bernapas lega. ‘Hampir saja! Penyamaranku terbongkar! Masa? Gara-gara wajah polosku ini? Astaga!’ Nico merasa beruntung karena dokter pria itu tidak bertanya lebih dalam padaku. Nico kembali melihat kalender yang ada di dalam ruang perawatan. Dia melihat kalau jadwal kapal logistik akan datang dalam tiga hari lagi. Sehingga Nico akan memulai aksinya untuk menemui Arion kembali, sebelum tiga hari lagi dia menjemput Arion dari dalam bungker. Nico sudah hafal jadwal penjagaan di gedung dua. Pada jam pagi, mereka semua biasa pergi mengawasi para narapidana yang diberi tugas untuk kerja bakti dan mengawasi narapidana wanita untuk mengikuti pelatihan. Sehingga ruang di gedung dua hanya memiliki beberapa petugas sipir yang memang sedang piket di ruangan jaga dan yang mengawasi para tahanan yang berada di dalam klinik. Nico melihat melalui jendela kaca berukuran kecil yang ada di sisi pintu ruangan perawatannya. Nico melihat keadaan di sekitarnya. Semua aman dari petugas pengawasan. Ketika Nico hendak membuka pintu, ternyata pintu dikunci. Nico merasa kesal dengan keadaan itu. 'Hah! Sial! Akses keluar dari ruangan ini hanya dari pintu itu, aku berharap pintu ini tidak dikunci menggunakan gembok, aku berharap pintu ini dikunci biasa, dan aku berharap kuncinya tidak dibiarkan menggantung, baiklah! Akan aku coba untuk membukanya.’ Nico berbicara dalam hatinya. Ia memulai aksi untuk membuka kunci pintu itu. Nico menyimpan paper clip, pada bagian bawah celananya, sehingga tidak diketahui dan tanpa petugas sadari kalau Nico menyelipkan paper clip itu di sana. Nico mengembalikan ke bentuk semula setelah dia menggunakannya untuk membuka gembok. Sehingga kini Nico kembali mencoba membuka kunci pintu ruang perawatan Nico. Nico mengambil paper clip yang ia selipkan di celananya. Kemudian Nico kembali mencoba membuka kunci pintu itu. Klek! Kunci terbuka, Nico merasa sangat lega. Namun ia belum mencoba membuka pintu. Ia berharap pintu itu tidak digembok oleh petugas yang menjaga. ‘Ya, Tuhan! Mengapa aku berdebar seperti ini?’ Wajah Nico menghadap ke atas, sembari menghela napas yang sedari tadi ia tahan. “Huft! Baiklah! Akan aku coba!” Nico mulai membuka pintu. Ternyata mereka tidak menambah gembok pada pintu itu, karena pintunya terbuka. Nico kembali memasang paper clip pada ujung celananya. Nico bergegas berjalan melewati koridor demi sampai ke bungker, untuk memberitahu kapan dia akan menjemput dan Nico ingin mengetahui keadaan Arion. Nico berjalan menyusuri koridor sepanjang ruangan yang berjajar di klinik Armage. Di ujung lorong, Nico melihat sebuah pintu keluar di sana. Nico mengendap-endap menuju ke sana. Perlahan tapi pasti, Nico berhasil keluar dari klinik. Ia sedang berjalan menuju bungker yang berada di ujung koridor sebelah kiri klinik. Demi misinya, Nico rela melakukan apa saja. Asalkan semua tepat seperti perhitungannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD