Nico berjalan dengan tertatih-tatih menuju bungker. Ia kembali berjalan menuju pintu bungker yang ada di ujung lorong. Sambil menahan perih pada perutnya yang tersayat, Nico terus berjalan menuju pintu bungker itu. Seperti dugaan Nico, di sana sepi tanpa ada seorang penjaga. Mereka memang sengaja tidak menempatkan penjaga yang mencolok, agar siapa pun tidak mencurigai tempat itu. Namun informasi yang diperoleh oleh Roki sangat akurat. Karena anak buah Roki memperoleh informasi langsung dari seorang petugas sipir yang sedang mabuk. Mungkin, jika petugas itu dalam keadaan normal tidak berada di bawah pengaruh alkohol, bisa jadi dia tidak akan mengatakan hal itu.
Nico mulai melewati lorong gelap dengan penerangan minim. Perasaan yang takut kena pergok, membuat Nico menoleh ke sekitarnya. Situasi di sana dirasa aman oleh Nico. Ia mulai membuka gembok yang ada di pintu bungker, menggunakan dua paper clip.
Klek!
Suara gembok terbuka. Nico bernapas dengan lega. Lantaran Nico sempat menahan napas dan peluh bercucuran karena gembok tidak kunjung terbuka. Ia takut kalau waktunya akan habis terbuang. Dengan cepat Nico membuka pintu itu dan masuk menuruni tangga. Suasana pengap dan gelap masih menjadi identitas bungker itu. Nico berharap selama dia berada di sana, tidak ada petugas yang memeriksa.
Nico mulai melangkah menuruni tangga menuju sebuah ruangan sempit dengan pintu besi di ujungnya. Pintu besi itu yang menjadi sekat di antara mereka. Nico memegangi perutnya yang terasa pegal dan sedikit perih. Namun tekadnya untuk menyelesaikan misi membuatnya kuat dalam menahan derita yang harus dia nikmati.
Nico meraih lubang yang ada di pintu besi. Ia kembali memanggil Arion yang ada di dalam sana. Napas Nico mulai sesak ditambah lagi menahan luka jahitan di perutnya. Peluh mulai bercucuran, wajah Nico mulai pucat pasi, tetapi semua itu tidak ia hiraukan. Karena misi untuk membawa pergi Arion dari dalam bungker, harus berjalan mulus seperti rencananya.
Nico mulai mendekatkan wajahnya ke lubang kecil yang ada di sisi pintu.
“Hai! Arion! Kau ada di sana?” bisik Nico perlahan.
“Nick? Benarkah itu kamu?” Arion yang sedang duduk bersandar segera beranjak begitu mendengar suara Nico.
“Ya! Ini ....” Nico menghentikan ucapannya karena perutnya semakin terasa nyeri.
“Nick? Apa kau baik-baik saja?” Arion sudah berjalan mendekat semaksimal rantai yang menjerat kakinya.
“Ya ... a—aku baik-baik saja! Bagaimana denganmu?” Nico mulai terbata-bata menahan sakit di perutnya setiap kali dia berbicara.
“Ya, aku merasa tidak baik ... tapi aku masih sehat, ya ... aku merasa tertekan berada di dalam sini, Nick!” Arion merasa putus asa jika dirinya terus dikurung di dalam bungker.
“Ya! Aku memahami ... aku yang dikurung di sel tahanan kumuh berkarat itu pun sudah membuat nyaliku menciut ... apa lagi kau seorang perempuan yang dikurung di tempat seperti ini ... baiklah! Aku tidak memiliki banyak waktu! Kau ingat saat ini siang atau malam?” Nico berusaha mengetes Arion dengan ingatan dan perkiraan waktu, agar dia bisa mengingat jadwal petugas sipir memeriksa ke dalam bungker.
“Ini sekitar pukul sepuluh pagi? Benar?” Arion menjawab dengan apa yang sudah ia perhitungkan, semenjak Nico memberitahu dirinya untuk mengingat siang dan malam.
“Ya! Tepat! Sekarang sekitar pukul sepuluh pagi ... lalu? Kapan petugas datang ke sini?” Nico merasa sangat antusias karena Arion adalah wanita cerdas. Nico belum mengetahuinya seperti apa dan berusia berapa sosok Arion yang tidak terlihat dalam gelap. Nico hanya bisa melihat siluet Arion dari lampu yang remang di dalam sana.
“Petugas memberiku makan dua kali. Tadi pagi sebelum kau datang dan malam hari ... mungkin mereka menjadwalkan yang sama dengan tahanan lainnya. Lalu ....” Arion menghentikan ucapannya.
“Lalu apa?” Nico penasaran dengan kelanjutan informasi yang akan Arion sampaikan.
“Mereka datang kembali sekitar tengah malam. Mereka memeriksaku menggunakan lampu senter, biasanya mereka menanyakan padaku, apakah aku ingin buang air atau tidak.” Arion mengatakan hal yang sebenarnya.
“Lalu? Apa kau pernah keluar dari dalam sana? Misal ke kamar mandi?” Nico merasa memiliki celah untuk membawa Arion pergi dari sana.
“Pernah beberapa kali, petugas yang berjaga malam selalu pria, tapi ... aku kesal! Karena tidak jarang oknum petugas itu mengintipku! Kau tahu? Ingin rasanya aku maki dan aku bunuh mereka! Walau tidak semua seperti itu, hanya beberapa oknum, mereka petugas baru.” Arion merasa marah dengan sikap oknum yang seperti itu.
“Astaga! Sikapmu menyeramkan sekali! Tapi ... aku punya ide, lusa malam aku akan membawamu pergi dari sini! Pastikan kau pergi ke kamar mandi wanita! Alihkan perhatian petugas jaga itu! Tunggu aku datang! Karena hanya di malam itu, kita bisa melarikan diri dari sini! Jangan sampai gagal atau kita akan selamanya di sini! Kau mengerti?” napas Nico sudah mulai tercekat karena rasa sesak dalam d**a, ditambah lagi dengan sakit menahan luka.
“Aku mengerti, Nick! Lalu kenapa kau ingin membebaskanku?” Arion penasaran.
“Saat ini bukan waktunya untuk menjelaskan. Aku akan kembali lusa malam! Ingat! Kita bertemu di wilayah kamar mandi wanita! Jerat dan alihkan perhatian petugas jaga itu!” Nico menjelaskan sekali lagi dan dia bergegas pergi.
“Baik, Nick! Tap—tapi ... aku ingin mengetahui, siapa dirimu?” Arion kembali bertanya. Suasana hening seketika.
“Nick?” Arion memanggil Nico yang jelas-jelas sudah tidak ada di sana.
‘Lagi-lagi ... Aku ditinggal pergi! Tapi ... siapa dirimu, Nick?’ Arion berbicara dalam hatinya yang semakin penasaran dengan sosok Nick yang tiba-tiba muncul bagai Dewa penyelamat untuk Arion.
***
Nico berjalan dengan cepat untuk mengejar waktu, agar dia bisa kembali ke dalam ruang perawatan dengan tepat waktu. Sedikit saja telat, semua rencananya bisa gagal total. Nico berjalan agak membungkuk karena menahan perutnya yang pegal, perih, dan sedikit terasa sensasi panas. Nico meringis menahan sakit di sela-sela wajah pucatnya.
Nico terus berjalan, hingga dirinya berhasil keluar dari bungker, lalu menguncinya kembali. Hanya saja, ketika dirinya berjalan di lorong remang-remang itu. Dia mendengar ada dua petugas yang sedang berjalan ke arahnya. Tidak ada jalan lain, selain bersembunyi di kamar mandi tahanan wanita. Nico berusaha dengan cepat berjalan menuju kamar mandi wanita sebelum kedua petugas yang sedang berbincang itu menyadari kehadiran Nico.
Tanpa memedulikan rasa sakit di perutnya, Nico terus berjalan cepat dan melangkah bersembunyi di balik tembok kamar mandi yang hanya setengah tembok. Nico berjongkok di sana. Jahitan diperutnya semakin terasa nyeri. Ia menahannya sembari meringis lemas. Peluh bercucuran di sekejur tubuhnya. Ia mengamati kedua petugas itu, hingga lewat begitu saja melewati kamar mandi tahanan wanita.
‘Hampir saja! Lenyap segalanya!’ Nico menghela napas. Lalu dia mengintip di balik tembok itu. Setelah dirasa aman, dirinya langsung beranjak berjalan menuju ruang perawatan di klinik Armage.
Nico menahan sakit di perutnya. Ia tetap berjalan menuju kamar rawatnya. Nico memegangi perutnya, setelah ia membalikkan telapak tangannya, terlihat darah segar yang menetes di atas telapak tangannya.
‘Astaga! Berdarah lagi? Apa yang harus aku katakan kepada dokter yang akan memeriksa lukaku?’ Nico bingung mencari alasan. Namun bukan Nicolaas Hans namanya kalau tidak cerdik. Nico terburu-buru berjalan ke dalam ruang rawat inapnya. Dia tidak mau meninggalkan jejak tetesan darah dari luka sayatan di perutnya.
Nico sudah masuk ke dalam kamar rawat inapnya. Lalu berjalan ke arah tempat tidurnya.
‘Astaga! Aku lupa mengunci pintu itu lagi! Hassh!’ Nico kembali berjalan ke arah pintu untuk kembali menguncinya. Benar saja! Selesai Nico mengunci pintu itu, suara langkah petugas menghampiri ruangan Nico. Dengan cepat Nico berbaring kembali di atas tempat tidurnya. Lalu ia meraba perutnya. Jika dirinya berbaring di atas tempat tidur itu, maka tidak ada alasan kalau lukanya kembali berdarah. Sehingga, Nico memutuskan untuk pura-pura terjatuh di atas lantai di dekat nakas, dengan menumpahkan segelas air putih yang ada di sana ke atas lantai.
Nico duduk di sana, tepat ketika dua perawat masuk ke sana.
“Hei! Kau terluka?” Salah seorang perawat menanyakan hal itu kepada Nico. Perawat yang satu langsung memapah Nico.
“Aku hendak mengambil minum, tapi ternyata tumpah, dan aku terpeleset.” Nico membuat alibi seakan luka berdarah pada luka sayatan itu kembali terjadi karena benturan saat Nico terpeleset.
“Ayo! Berbaringlah! Walau kau seorang tahanan, kau tetaplah manusia! Itu prinsip kami, menolong tanpa pandang bulu!” Salah seorang perawat menjelaskan.
“Terima kasih.” Nico mencoba tersenyum di antara wajahnya yang meringis kesakitan. Perawat yang menolongnya siang itu satu orang pria dan satu orang wanita. Mereka memeriksa luka Nico. Kemudian memberitahu Nico untuk beristirahat.
“Jika kau membutuhkan bantuan, pencet saja bel itu!” perawat pria itu memberitahu Nico. Walau sebenarnya Nico sudah mengetahuinya. Namun Nico berpura-pura tidak mengetahuinya.
Setelah mereka selesai memeriksa Nico, mereka kembali meninggalkan Nico. Di ruangan itu hanya ada Nico yang sedang berbaring sembari menikmati gurihnya luka yang sedang ia rasakan.
‘Hidupku begitu berwarna ... bahkan gelap seperti ini ... tidak pernah terlintas sama sekali dalam benakku kalau akhirnya aku mencicipi pahitnya hukuman atas sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku lakukan. Tidak sama sekali terlintas dalam benakku untuk merasakan perihnya sayatan di atas perutku ini, mengendap-endap bagai penjahat! Astaga ... hah! Awas saja kalau sampai dalang dari deritaku ini terbongkar, tidak akan aku biarkan dia hidup tenang! Aku memang senang bergulat di atas ring! Tapi bukan berarti aku suka berkelahi di kehidupan sehari-hari ... tidak sama sekali! Aku yakin, dalang dari semua ini tidak lain sedang memanfaatkan aku demi meraih tujuannya, atau ... saingan dari Ayah? Tapi ... siapa?’ Nico mulai mengaitkan kasus yang sedang menimpanya dengan niatan Edward mencalonkan diri sebagai calon Presiden di Negeri Endora.
‘Tapi ... apa hubungannya dengan Profesor Nazer? Astaga ... teka-teki ini membuatku bingung!’ Nico berdecap karena belum juga menemukan benang merahnya.
***
Hari yang ditunggu oleh Nico dan Arion sudah tiba. Nico ingin memastikan bahwa kapal logistik yang membawa bahan makanan ke Armage sudah bersandar di dermaga. Ia memikirkan cara untuk bisa mendapatkan informasi itu. Namun sangat tidak mungkin baginya melihat ke dalam dapur Armage.
Ketika dua orang perawat mengantarkan makanan, Nico memanfaatkan waktu untuk berbincang dengan mereka. Ya! Bagaimanapun juga, ketampanan Nico bisa memikat wanita yang dia ajak berbincang.
‘Aku harus memanfaatkan situasi dengan maksimal.’ Nico berencana mengorek lebih banyak informasi dari dua perawat wanita itu. Nico sudah tersenyum ramah, ketika dua perawat itu masih berjalan sembari mendorong troli saji yang berisi makanan untuk para tahanan yang sedang dalam perawatan.
“Hai!” Nico berlaga sok kenal. Kedua perawat itu saling menatap dan menyimpan tanda tanya besar.
“Silakan!” salah satu perawat itu memberikan makanan kepada Nico pagi ini.
“Apa semua tahanan yang sakit mendapat keistimewaan seperti ini?” Nico memulai percakapan.
“Selama mereka sedang dalam perawatan, maka tugas kami memastikan mereka sembuh, lalu mengembalikan mereka ke sel seperti semula,” jelas salah satu perawat itu.
“Lalu apa yang sakit selalu mendapatkan buah?” Nico mulai menjalankan misinya untuk menelusuri informasi yang dia inginkan. Pasalnya selama tiga hari dia dirawat di dalam ruangan itu, selalu mendapat makanan sehat beserta tambahan buah. Berbeda seperti pada saat Nico berada di dalam sel. Namun pagi ini Nico tidak melihat buah di dalam menu makannya.
“Oh ... itu karena kapal logistik yang seharusnya datang pagi ini, kemungkinan datang terlambat ... jadi tidak ada tambahan buah untuk menu pagi ini,” jelasnya lagi.
“Lalu? Tidak akan ada makan malam?” Nico berlaga seperti orang panik. Padahal dia ingin memastikan kedatangan kapal logistik itu.
“Kalau terlambat, bisa datang sore atau malam, tapi yang jelas tidak sampai besok pagi.” Perawat itu tersenyum kepada Nico.
“Baiklah kalau begitu ... aku berharap kapal logistik segera datang, agar aku bisa merasakan buah-buahan lagi!” Nico mengedipkan salah satu matanya hingga membuat perawat itu tersipu karena ketampanan Nico, walau mereka menyadari bahwa Nico salah satu tahanan kasus pembunuhan. Namun aura ketampanan bagai bintang idola terpancar nyata.
Setelah dua perawat itu keluar dan kembali mengunci ruangan, Nico mulai berpikir kalau sampai malam kapal itu belum bersandar di dermaga, maka dirinya dan Arion dalam bahaya. Walau Nico mengetahui Arion adalah wanita berbahaya. Namun akan sangat membahayakan misinya jika sampai rencana Nico gagal.
‘Astaga! Aku sangat resah memikirkan ini! Bagaimana kalau gagal? Bisa hancur masa depanku! Thomas tidak akan lagi mempercayaiku! Aku sulit membuktikan bahwa aku tidak bersalah dan Thomas tidak akan memberikan kesempatan kedua.’ Nico menatap langit-langit kamar itu. Ia harus mengambil sebuah keputusan. Sedangkan Nico berjanji kepada Arion untuk melarikan diri malam ini.
Nico mengambil keputusan seperti yang sudah ia rencanakan sejak awal. Apa pun hasilnya, dia akan tetap memenuhi janjinya kepada Arion. Nico sudah berusaha maksimal dan memantapkan hatinya. Apakah rencana Nico dan Arion untuk melarikan diri dari Armage akan berhasil? Atau menemui kendala yang justru akan mengurung mereka berdua di dalam bungker?