28. Terpikat Penjahat Cantik

2091 Words
Arion sudah mempersiapkan rencana untuk mengelabui petugas penjaga yang akan bertugas menjaga bungker malam ini. Dia sudah mengerti kalau malam ini Nico akan menunggunya di dekat kamar mandi wanita. Rencana melarikan diri memang menjadi sebuah dilema. Namun Arion merasa tidak ada yang tidak mungkin, sehingga Arion memberanikan diri untuk mengikuti rencana Nico yang dia kenal sebagai Nick. Seseorang yang baru saja dia kenal, tetapi Arion merasa jika Nico adalah orang yang berhati tulus. Nico berhasil membuat Arion percaya kepadanya. Dua orang Penjaga tiba di dalam bungker tengah malam. Salah satu dari mereka meletakkan tabung oksigen di sana, lalu pergi lagi ke atas menuju ruang kontrol yang tidak jauh dari klinik Armage. Satu petugas yang lain memeriksa Arion dengan lampu senter yang diarahkan ke dalam bungker tempat Arion dikurung. Arion yang menyadari hal itu bersiap untuk meminta izin ke kamar mandi tahanan wanita. Matanya menatap tajam ke arah pintu besi. Kecerdikannya sengaja ia tutupi dengan wajah polos dan sikap yang lembut. Padahal di balik keanggunan Arion, tersimpan keberanian dan kekuatan yang tidak terduga. Ya! Sebagai anak dari seorang pemimpin komplotan Mafia, Arion dididik dengan sangat spesial. Gadis 21 tahun itu, tumbuh di lingkungan penuh kegelapan, keras, dan kerap berpindah-pindah tempat. Arion mengetahui ibunya telah lama meninggal. Sehingga Draco sangat menyayangi dan melindungi Arion. Sesuatu hal yang sangat menyakiti hati Draco yaitu saat Arion tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Armage. Gencatan senjata antara Mafia Bonzoi dan pemerintah Vromme menjadi momok menakutkan untuk penduduk Endora. Teror dari Bonzoi terjadi di mana-mana. Draco tidak mengetahui di mana pemerintah menyembunyikan Arion. Jika dirinya mengetahui putri kesayangannya dijebloskan di dalam bungker, maka kudeta akan terjadi di negeri Endora. Untung saja Draco tidak mengetahuinya. Kaum mafia Bonzoi pun sedang mencari cara untuk menemukan Arion di dalam Armage. Namun kenyataannya semua terlalu sulit dan sangat berisiko, kalau Bonzoi nekat mendatangi Armage. Mafia Bonzoi tidak ingin tempat persembunyian mereka diketahui orang lain, kecuali oleh mereka yang memang termasuk anggotanya. *** Lampu senter mulai menerobos celah melalui pintu bungker itu. Arion sudah bersiap dengan rencananya. “Hei! Apa kau mau ke kamar kecil?” Petugas penjaga malam di bungker itu selalu menanyakan hal demikian kepada Arion. Kebetulan suara petugas yang menjaga malam itu dikenali Arion. Dia adalah petugas baru yang belum lama ditugaskan menjaga bungker. Arion tidak pernah melawan mereka, karena aman percuma, jika dia hendak melarikan diri seorang diri tanpa ada yang membantu. Itu alasan mengapa Arion semangat untuk merencanakan melarikan diri bersama Nico. ‘Aku harus menjalankan misi dengan baik, berdua jauh lebih baik dari pada sendiri!’ ujar Arion dalam hatinya. “Hei! Apa kau dengar!” Petugas itu kembali menyorot wajah Arion dengan lampu senter itu. Arion hanya bisa menutup wajah dari silaunya lampu senter itu. “Ya ... iya aku mau ke kamar mandi! Rasanya udara di sini sangat panas! Jadi aku mau mandi sebentar saja!” Arion memohon seolah dirinya memang berencana untuk mandi karena suhu di sana sangat pengap. “Ya sudah! Ayo! Jangan lama-lama!” Petugas itu mengizinkan. Arion mengetahui celah di mana dirinya bisa memperdaya petugas jaga yang otaknya selalu m***m ketika mengantar Arion ke kamar mandi. Oknum petugas baru itu yang Arion ceritakan kepada Nico tempo hari. Oknum petugas jaga yang memiliki kebiasaan mengintip Arion saat Arion ke kamar kecil. Greeekk!! Pintu besi itu sudah terbuka. Suasana pengap mulai menghilang bersama sedikit udara yang masuk ke dalam sana. Petugas jaga itu membuka borgol yang ada di kaki Arion seperti biasanya. Arion mengambil handuk yang ada di atas nakas kecil di dalam bungker itu. Ia segera menyampirkan handuk putih itu ke atas bahunya yang kokoh. Bagaimanapun Arion seorang wanita yang jago bela diri, rajin berolah raga, walau tetap kesan pertama melihat Arion adalah wanita anggun nan lembut. Padahal di balik sikapnya yang lugu, lembut, dan anggun, menyimpan sesuatu kekuatan dan keberanian yang besar. “Ayo! Cepat, jalan!” Petugas itu mendorong Arion yang terlihat lebih kurus setelah hampir dua bulan mendekam di dalam bungker. “I—iya, baik!” Arion bersikap lemah lembut. Padahal di dalam hatinya sangat ingin mencekik petugas itu karena sikapnya yang semena-mena. ’Andai saja tidak di sini! Andai saja bertemu di luar penjara ini, sudah aku bumi hanguskan petugas ini! Semena-mena dan m***m! Awas saja akan aku buat kau terpikat oleh kemolekanku! Setelah itu akan aku bantai! Awas saja, Kau!’ Arion merasa sangat benci dengan sikap petugas baru yang sangat arogan dan tidak sopan itu. Perlahan, langkah Arion mulai menapak menaiki tangga menuju pintu besi di atas sana. Hatinya sudah tidak sabar lagi ingin terbebas dari Armage. “Malam ini aku akan berusaha maksimal agar bisa melarikan diri dari sini!’ Arion sangat berharap banyak agar bisa pergi bersama Nico. Di depan pintu besi sudah ada penjaga lainnya yang memang sedang bertugas jaga malam di pintu bungker. Petugas itu sudah bersiap mengantar Arion ke kamar mandi. Namun, oknum petugas m***m yang sedang berjalan di belakang Arion, dengan cepat menarik baju temannya yang hendak mengantar Arion. “Huusss! Giliranku!” bisik petugas m***m itu. Temannya hanya menggelengkan kepalanya. “Ada-ada saja, Kau! Ya sudah aku tetap berjaga di sini!” pria itu berdiri di depan pintu bungker. Sedangkan oknum petugas m***m itu segera mengekor di belakang Arion. Tidak dipungkiri, petugas baru itu masih muda dan gagah. Namun tabiatnya yang suka gaya hidup bebas membuatnya tertarik kepada Arion yang hendak mandi di kamar mandi tahanan wanita yang tertutup tembok setengah badan. ‘Dasar pria m***m! Akan aku buat dia jera! Lihat saja!’ Arion sangat kesal dengan petugas m***m itu. Arion berjalan di depan petugas jaga itu di antara lorong remang-remang yang menghubungkan bungker dengan kamar mandi tahanan wanita yang ada di lorong sebelah kanan dari arah bungker. Arion berjalan dengan santai masuk ke dalam kamar mandi besar yang biasa digunakan bersama dengan tahanan wanita lainnya. Namun Arion spesial. Dia tidak pernah diizinkan masuk bersama dengan tahanan wanita lainnya. Tidak pula bertemu dengan tahanan lain. Hanya petugas sipir dan petugas kesehatan yang ditunjuk untuk menjaga Arion lah yang mengetahui keberadaan Arion di dalam bungker. Sehingga Arion sangat istimewa. Dia diperbolehkan ke kamar mandi ketika semua tahanan sudah masuk ke dalam sel masing-masing. Keberadaan Arion di dalam bungker adalah suatu yang bersifat rahasia. Saat ini Arion sudah masuk ke dalam kamar mandi terbuka dengan tembok setengah badan itu. Satu hal yang membuat Arion kesal, ketika si penjaga m***m itu mengintip dari balik tembok di lorong itu. Arion sengaja akan mempermainkan emosi si penjaga m***m. Sebagai salah satu taktik yang sudah Arion pikirkan secara matang, sembari menunggu Nico datang untuk menjemputnya. Arion harus memastikan si penjaga m***m itu memang sedang mengintip dirinya. Sesekali Arion menatap ke arah tembok di ujung lorong koridor. Ia melihat si penjaga m***m mulai mengintipnya. Arion mulai menyisir rambut panjangnya dengan jemari tangannya. Setelah dirasa tidak kusut, Ia mengikat kembali rambut panjangnya meninggi sampai atas kepala. Terlihat leher jenjang yang putih dan mulus walau Arion sudah dikurung di dalam bungker. Sesekali Arion melirik ke arah petugas itu. Benar saja sedang mengintip Arion lebih intens. ‘Dasar b*****h! Awas saja Kau! Akan aku permainkan hingga hasratmu hanya sampai ke ubun-ubun! Dasar manusia m***m!’ ujar Arion dalam hatinya sambil melihat oknum penjaga uang m***m itu. Perlahan Arion membuka kancing bajunya satu-persatu membelakangi arah dari petugas itu. Lalu Arion mulai menanggalkan bajunya memperlihatkan punggungnya yang mulus dengan leher jenjang yang sangat menggoda. Mata si penjaga m***m itu terpaku seperti harimau yang lapar melihat mangsanya. Semakin lama melihat Arion di sana. Si penjaga m***m hanya bisa menelan saliva yang terasa sulit untuk masuk ke dalam kerongkongan karena hasrat si penjaga amat membara. Kedua matanya membulat menatap Arion yang kini tanpa mengenakan sehelai kain. Pemandangan tampak belakang saja sangat menggoda. Terlebih ketika Arion mulai menghidupkan shower yang ada di sana. Tubuh mulus putih dan sintal tersiram air dari shower. Si petugas m***m hanya bisa menahan hasrat yang membuncah ke ubun-ubun. Nico sudah keluar dari klinik Armage yang berada di koridor sebelah koridor yang menuju kamar mandi tahanan wanita. Nico mengendap-endap menghindari CCTV yang memang tidak bisa dia hindari, tetapi Nico berjalan seperti biasa agar petugas jaga di ruang kontrol tidak mencurigai Nico. Sesampainya di ujung koridor di pintu pembatas, Nico kembali memeriksa situasinya. Sekiranya dirasa aman, Nico membuka pintu dan perlahan melihat sekelilingnya. Nico melihat seorang penjaga sedang berdiri di depan pintu bungker. Karena lampu yang remang-remang membuat siluet penjaga itu terlihat jelas. Nico menunggu penjaga itu tidak fokus ke arah Nico. Hingga saatnya tiba, si penjaga itu sedang berdiri menatap pintu bungker. Dengan cepat dan senyap, Nico berjalan dengan tubuh mepet ke tembok, hingga sampai di lorong sebelahnya menuju kamar mandi tahanan wanita. Nico sempat terkejut melihat seorang oknum petugas jaga yang sedang mengintip Arion di sana. Nico merasa kesal dengan oknum yang seperti itu. ‘Astaga! Bukannya menjaga, malah mengintip, memang semua kembali kepada sifat masing-masing orang! Buktinya petugas yang lain tidak m***m seperti dia!’ ucap Nico kesal dalam hatinya. Nico yang penasaran berjalan mendekat. Dengan senyap, Nico berdiri tepat di belakang oknum petugas yang sedang terpesona melihat Arion. Tanpa sengaja Nico melihat punggung Arion. Lantaran tembok penutup hanya setengah. Jantungnya berdegup kencang, pertama kali melihat Arion yang tidak lain seorang gadis muda sedang asyik menggosok punggungnya. ‘Astaga! I—itu Arion? Rasanya mataku ternodai!’ Nico menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Namun ia masih bisa melihat dari celah-celah jemarinya. ‘Haiishh! Aku pria normal! Ada sesuatu yang mendesak di sana! Ini tidak akan aku biarkan! Dari pada aku tidak tahan! Lebih baik alu sudahi saja drama malam ini! Eksekusi dimulai!’ Nico berencana menikam petugas jaga dan memukul tengkuk punggungnya hingga pingsan. Senyap tanpa bersuara, Nico berhasil membuat petugas itu pingsan, lalu menyeretnya ke dinding di balik pembatas kamar mandi itu “Ppssstt! Hei! Cepat pakai handuk dan pakai bajumu! Aku Nick! Aku tidak akan melihatmu tanpa sehelai kain! Cepat! Kita harus keluar dari sini!” Nico berbicara lirih kepada Arion, dengan posisi membelakangi Arion. Karena Nico tidak ingin matanya ternodai oleh kemolekan Arion. “Syukurlah! Itu, Kau!” Arion bergegas memakai handuk dan kembali mengenakan bajunya. “Aku sudah siap!” Arion menepuk bahu Nico. Seketika Nico menoleh dan saling menatap dengan Arion. Momen itu adalah hal pertama untuk mereka. Pertama bertemu, melihat secara dekat, berakhir mematung saling menatap. Arion pun tidak menduga kalau Nick yang akan menolongnya adalah seorang pemuda tampan. Begitu pula dengan Nico yang sangat terkejut melihat Arion. ‘Ternyata ... A—Arion adalah gadis muda yang sangat cantik ... matanya lentik memancarkan aura positif, terlihat anggun, lugu, dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang penjahat,' ujar Nico dalam hatinya saat mereka saling menatap. ‘Ternyata ... Nick adalah seorang pemuda tampan ... tatapan matanya sangat hangat, siapa dia sebenarnya?’ Arion terpaku menatap Nico. Mereka terpaku saling menatap. Tidak bisa dipungkiri kalau mereka saling tidak menyangka, terkejut, dan penasaran satu sama lain. Namun bagi Nico saat ini bukan saat yang tepat untuk berbincang. Karena saat ini mereka hanya memiliki waktu yang terbatas untuk segera sampai pada kapal logistik yang bersandar di dermaga. “Ayo kita lari dari sini!” Nico menggandeng tangan Arion untuk segera pergi dari sana. Arion yang sang calon pewaris takhta Mafia Bonzoi merasa menjadi perempuan seutuhnya yang mendapatkan perlindungan dari seorang pria. ‘Baru kali ini aku merasa butuh perlindungan seorang pria selain Ayahku,' ucapnya dalam hati sembari berlari mengikuti arahan Nick. Mereka berlari dengan cepat sembari mengendap-endap untuk bisa keluar dari sana melalui jalur yang aman. Mereka kembali berjalan ke koridor klinik Armage. Karena Nico tahu kalau di ujung klinik terdapat sebuah pintu menuju basemen tempat penyimpanan ambulance dan beberapa kendaraan lain. Dari sana mereka bisa keluar dari gedung penjara Armage menuju sebuah pintu darurat evakuasi menuju jalan yang akan mengantarkan mereka menuju hutan Mangrove dan menuju dermaga. Namun mereka memilih jalur sebaliknya. Melewati kebun yang nantinya akan mengantarkan mereka ke hutan Mangrove di sebelah barat pulau Armage. Nico dan Arion berjalan dengan cepat dan senyap. Mereka berhasil keluar dari pintu di ujung koridor klinik Armage. Lagi-lagi Nico menggunakan kunci andalannya untuk membuka kuncinya. Di antara gelap, mereka terus bergerak sampai berhasil keluar dari pintu darurat yang berada di basemen. Mereka terus bergerak hingga hendak melewati kebun sayur yang tidak jauh dari sana. Namun mereka melihat siluet penjaga yang keliling untuk memeriksa keamanan di setiap sudut Armage. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Sedangkan di sana hanya kebun yang tidak rimbun. Baju tahanan yang mencolok membuat mereka sulit untuk berkamuflase. Nico dituntut untuk cepat mengambil keputusan. Nico melihat suatu celah untuk bersembunyi. Ada pohon besar di seberang kebun. Nico berpikir kalau mereka bisa bersembunyi di sana. Kemudian Nico meminta Arion untuk merayap di antara kebun sayuran itu. Arion menyanggupi. Terus ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD