Nico dituntut harus membuat keputusan dengan cepat. Dia melihat bayangan dua orang penjaga yang sudah tidak jauh dari sana.
‘Hanya ada pohon itu di seberang kebun sayur? Itu berarti kami harus merayap dengan cepat agar segera sampai di pohon itu untuk bersembunyi! Setelah itu akan aku pikirkan lagi bagaimana seharusnya untuk mencapai dermaga,' ucap Nico dalam hatinya.
Tanpa basa-basi, Nico meminta Arion untuk segera merayap di antara kebun sayur.
“Arion! Apa kau bisa merayap? Di atas tanah?” Nico kembali menatap Arion yang tingginya sedikit lebih pendek dari Nico.
“Aku bisa!” Arion menjawab dengan tegas dan cepat. Maklum dia sudah terbiasa mengambil keputusan dengan cepat, karena dituntut untuk dapat berpikir dengan cepat.
“Sekarang kita merayap melalui kebun sayur itu, ke sana!” Nico menunjukkan pohon rindang di seberang kebun sayur. Posisi mereka saat ini sedang berjongkok di antara kebun sayur. Sebelum lampu sorot mercusuar menyapu mereka, Nico dan Arion bergegas tengkurap di atas tanah itu. Mereka bersiap untuk merayap sebelum tersapu sorot lampu dari atas mercusuar.
“Tidak ada waktu lagi! Kita harus segera sampai di balik pohon itu sebelum penjaga melewati kebun ini! Hindari sorot lampu dari mercusuar!” perintah Nico kepada Arion. Mereka merayap berurutan, mengambil jarak yang tidak terlalu jauh.
‘Astaga! Aku lupa! Perutku ... jahitan ini! Hah! Persetan dengan sakitnya!’ Nico berusaha memantapkan hatinya. Ia rela tersayat kembali asalkan berhasil membawa Arion menyeberangi lautan.
Mereka mulai merayap. Arion berada di depan, sedangkan Nico berada di belakangnya. Nico tampak terkejut dengan keterampilan Arion dalam merayap. Dia merayap dengan sangat cepat sampai di seberang dan langsung bersembunyi di balik pohon.
Arion memberi kode kepada Nico untuk terus merayap karena jarak antara kebun tempat dia merayap dengan petugas jaga masih ada jarak yang cukup sampai Nico sampai ke seberang. Nico terus merayap di antara luka sayatan yang kembali basah karena tergores tanah. Perih dan sakit sudah Nico abaikan demi misi membebaskan Arion dari sana. Dengan cepat Nico merayap dan sampai di seberang kebun sayur. Ia langsung bergerak ke belakang pohon itu.
Arion tidak mengetahui kalai Nico sedang terluka. Nico juga tidak menampakkan ekspresi kesakitan saat itu. Karena yang ada dalam pikirannya adalah segera sampai ke dermaga, lalu menyusup ke dalam kapal logistik yang ada di sana.
Mereka masih jongkong bersembunyi di balik pohon. Semangat Nico yang berkobar, membuatnya mengabaikan rasa sakit dari luka sayatan yang belum mengering sempurna.
“Arion! Apa kau sanggup untuk terus berjalan? Kita harus segera sampai ke dermaga! Setidaknya kita sampai dulu di hutan Mangrove itu. Lalu kita lihat keberadaan kapal logistik, kita harus cepat bergerak ke sana sebelum penjaga itu menyadari kalau kita sudah pergi meninggalkan bungker terkutuk itu!” tegas Nico di sela-sela kesakitannya.
“Aku sanggup! Tapi ... apa kau baik-baik saja?” Arion menatap wajah Nico yang terkena sorot sinar rembulan malam itu. Wajah Nico terlihat menyimpan sesuatu yang tidak Arion ketahui.
“Aku?” Nico terkekeh lirih menatap Arion dengan wajah polosnya.
“Kenapa ketawa? Memangnya ada yang lucu?” Arion merasa kalau Nico sedang menggodanya.
“Tentu, aku baik-baik saja! Ayo kita lanjutkan!” Nico menyembunyikan fakta terkait luka sayatan di perutnya.
“Ayo!” Arion sangat bersemangat kali ini. Dia yakin dan sangat percaya pada Nico, walau baru saja dia kenal.
Nico dan Arion kembali bergerak dan mengendap-endap di antara pepohonan yang ada di sana. Terdapat hutan kecil menuju pantai. Terdapat pula Mangrove sebelum ke dermaga. Mereka berlari di antara pepohonan disinari cahaya rembulan. Malam ini adalah malam bulan purnama. Air laut sedang pasang. Desiran ombak bersama embusan sang bayu menerpa tubuh mereka di antara celah pepohonan. Hawa dingin semakin menusuk karena malam semakin larut bahkan melewati dini hari. Mereka masih berlari menerjang angin dan menghindari pengawasan. Tidak jauh lagi dari sana, terlihat hutan Mangrove sebelum menuju ke dermaga.
Nico dan Arion sempat terkejut ketika dirinya hendak menyeberang dari daratan ke arah hutan Mangrove. Mereka harus naik ke sebuah jalan yang terbuat dari papan kayu. Seperti jembatan panjang menuju dermaga. Namun sebelum mereka memanjat, tiba-tiba Nico menghentikan langkahnya dan m membentangkan tangan guna melindungi Arion. Nico memberhentikan langkah Arion. Dengan sigap, Nico berbalik arah, lalu menarik tangan Arion untuk segera bersembunyi di balik pohon. Nico mendekap Arion yang tingginya tepat selehernya. Nico menahan rasa sakit di perutnya sembari mendekap Arion, karena pohon tempat mereka bersembunyi tidak terlalu besar.
Arion mampu mendengar degup jantung. Nico yang kian memburu. Dekapan hangat di antara dinginnya angin malam.
‘I—ini sangat dekat! Aku tidak pernah berada sedekat ini dengan pria selain Ayah!’ Arion merasa kikuk dengan perlakuan Nico yang begitu hangat, bagai di film-film romance action.
‘Bahkan aku dapat mendengar gemuruh degup jantungnya ... ap—apa Nick merasa biasa saja? Tap—tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda! Aku wanita normal! Ja—jadi ini? Rasanya menjadi wanita yang dilindungi seorang pria?’ jika lampu bersinar terang, maka rona merah di pipi Arion terlihat sangat jelas. Untung saja saat itu mereka ada di luar gedung, gelap, cahaya rembulan mengiringi melalui celah pepohonan.
Arion merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Karena selama ini, dia selalu mengatasi permasalahan hidupnya sendiri, memimpin sebuah organisasi, mengatur strategi, mencari solusi, dan beraksi tanpa ada bodyguard, tanpa ada pendamping yang melindunginya. Arion memiliki banyak anak buah, dia pun sama sekali tidak pernah memikirkan keinginan untuk memiliki kekasih atau pendamping. Namun ketika pertama ia melihat Nico dan sekarang berada dalam dekapan Nico yang melindungi, rasanya hati Arion berada dalam situasi hujan meteor yang membawanya bermimpi dan berharap jika Nico akan menjadi pelindungnya selalu.
Nico masih mengawasi situasi yang bisa membahayakan mereka. Nico selalu fokus dalam tujuannya. Mata Nico awas melihat sekelilingnya. Napasnya mulai tersengal karena menahan sakit luka sayatan yang sedari tadi tergores tanah berpasir yang membuat luka itu kembali berdarah. Sesekali Nico mengernyitkan dahinya dengan kelopak mata yang terpejam untuk menahan perih, panas, dan pegal yang teramat nyeri. Jangankan untuk berjalan, sebenarnya untuk berbicara saja, Nico menahan sakitnya. Namun semangat untuk menjalankan misi dengan baik, membuatnya mengabaikan semua rasa sakit dan perih itu.
Nico baru menyadari Arion sedang menatapnya ketika Nico tidak sengaja melihat ke arah depan. Wanita yang saat ini didekap di dalam dadanya, sedang menatapnya lekat.
“Eh? Kau kenapa menatapku seperti itu?” Nico merasa berdebar untuk beberapa saat.
“Harusnya aku yang bertanya!” Arion masih menatapnya.
“Ya! Aku hanya ingin melindungimu! Aku tidak ingin misi ini gagal!” Nico berbicara apa adanya.
“Misi?” Arion menyimpan tanda tanya besar.
“Nanti akan aku jelaskan! Yang terpenting saat ini, kita harus sampai ke dermaga! Kita harus menyusup ke dalam kapal logistik yang membawa bahan makanan untuk Armage! Apa kau mengerti?” Nico berlaga jual mahal, saat menatap wajah polos Arion.
“He em!” Arion mengangguk dengan polosnya.
‘Astaga! Apa selugu ini? Seorang calon pemimpin komplotan mafia yang katanya digadang-gadang akan mewarisi takhta Mafia Bonzoi?’ Nico merasa heran. Dia takut kalau salah sasaran.
‘’Tidak mungkin aku salah sasaran! Tapi sungguh! Wajah gadis ini sangat polos! Jika aku tidak mengetahui seluk-beluknya, pasti aku tidak akan mengira, kalau Arion adalah calon pemimpin komplotan Mafia Bonzoi,' ujar Nico dalam hatinya.
Mereka terlanjur saling menatap. Dua pasang mata indah itu saling menatap satu sama lain di bawah cahaya bulan purnama. Desir angin membawa hawa dingin yang tidak mampu lagi menerobos tubuh mereka karena dekapan yang begitu hangat.
‘Aku tidak tahu mengapa jantungku berdebar, tapi ... hati ini merasa sangat nyaman ... bahkan saat aku pertama kali mendekap Jane, rasanya tidak seperti saat ini ... rasanya, nyaman di antara deru waktu yang terus berpacu.’ Nico berbicara dalam hatinya ketika tatapan mata elang yang biasanya menusuk saat ini berbinar bagai gairah yang menggelora.
‘Entah apa yang aku rasakan saat ini ... aku ... aku merasa ... nyaman dan tidak ingin lepas dari dekapan pria yang baru saja aku kenal di tempat terkutuk ini!’ ujar Arion dalam hatinya. Pelukannya semakin erat dan tatapan gadis itu menghangat. Bahkan dia merasa menjadi gadis biasa yang sangat membutuhkan perlindungan. Bukan seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Dekapan hangat Nico mengubah segalanya malam itu.
Nico mengerjapkan matanya. Ia menyadari adanya kilatan lampu senter yang mengarah ke hutan kecil itu. Nico langsung mengajak Arion berjongkok guna menghindari sorot lampu senter itu. Nico tersadar dari lamunannya. Ia kembali mengajak Arion untuk berlari hingga menuju dermaga.
“Arion! Ini saatnya kita berlari! Ayo!” Nico kembali menggenggam tangan Arion dan mengajaknya berlari bersama di antara gelap dan desir angin yang menerbangkan angan-angan mereka.
Mereka terus berlari, tak peduli ranting dan duri menyentuh tubuh mereka. Karena satu hal yang pasti, mereka harus tiba tepat pada waktunya. Mereka berlari hingga sampai pada jembatan kayu menuju hutan Mangrove. Dengan sigap, Nico membantu Arion untuk naik ke jembatan itu. Nico rela punggung kokohnya menjadi pijakan untuk Arion, sang putri Bonzoi.
Arion semakin tersipu dan merasa benar-benar bagai ratu yang selalu dilindungi oleh sang Raja. Arion sudah sampai di atas jembatan. Ia kembali dalam posisi tiarap agar tidak disadari oleh para penjaga. Kemudian Nico berusaha memanjat dengan sisa tenaganya. Peluh kian membanjiri tubuh Nico. Namun dia terus berjuang membawa Arion ke dermaga.
Mereka berlari dengan sedikit membungkuk untuk menghindari cahaya senter dari petugas yang berjaga. Tidak jauh dari sana, mereka melihat kapal logistik yang dimaksud. Mereka bergegas turun menelusuri hutan Mangrove yang ada di bawah jembatan. Karena mereka kembali melihat petugas jaga yang sedang berjalan ke arah mereka. Jembatan itu melandai ke arah tepi pantai. Sehingga mereka dapat melihat siapa yang sedang berjalan di bawah.
Tanpa basa-basi, Nico mengajak Arion untuk turun ke hutan Mangrove itu, sebelum mereka sampai ke dermaga.
“Kau siap?” Nico menatap Arion.
“Ya! Ayo kita beraksi!” Arion mulai menuruni jembatan kayu itu. Disusul Nico. Mereka kembali berpegangan tangan ketika menyusuri hutan Mangrove tanpa alas kaki. Rasa sakit ketika tidak sengaja menginjak akar yang tajam, melukai kaki mereka. Namun mereka terus berjalan hingga sampai ke tepian. Mereka mengintip situasi di bawah jembatan kayu. Nico melihat kapal itu bersandar di sana.
“Arion! Apa kau siap untuk kembali beraksi? Kita harus berlari dengan cepat! Menuju kapal itu! Kapal itu yang akan membawa kita ke pelabuhan Namosi! Setelah sampai di sana, aku akan membawamu ke rumah yang aku sewa sebelum kita pergi jauh!” Nico semakin lemah menahan sakit dari luka sayatan itu.
“Aku bisa diandalkan, Nick!” Arion berusaha meyakinkan Nico.
Merek berlari sambil membungkukkan badan mereka di antara perahu-perahu yang ada di sana. Mereka pun harus bisa menghindari lampu sorot dari mercusuar yang ada di Armage. Kemudian mereka mengintip situasi. Semua sibuk memindahkan barang-barang yang dibawa kapal itu. Karena kapal itu datang terlambat, maka malam itu juga awak kapal akan langsung meninggalkan dermaga.
Ketika petugas sibuk dengan urusan mereka yang memindahkan barang-barang yang dibawa oleh kapal, Nico dan Arion tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka berhasil menyelinap ke dalam kapal. Bersembunyi di ruang bawah kapal. Mereka melihat ruang kosong yang biasanya diisi dengan barang-barang bawaan atau ikan. Saat ini Nico dan Arion sudah berada di ruang bagian bawah kapal. Tidak lama kemudian kapal kembali berlayar menuju pelabuhan Namosi. Bersamaan dengan suara alarm seperti sirene yang menggema di Armage.
Nico sudah duduk bersandar di dalam kapal logistik itu bersama dengan Arion.
“Apa suara itu?” Arion menghentikan perkataannya.
“Suara sirene yang menandakan mereka menyadari sesuatu.” Nico menatap Arion sambil terkekeh dengan wajah pucatnya.
“Nick? Hei?” Arion duduk mendekat ke arah Nick yang bersandar. Saat ini mereka duduk berhadapan. Ruangan tempat mereka berada saat ini memiliki pencahayaan yang tidak begitu terang. Namun sudah cukup terang dibandingkan di dalam bungker terkutuk itu.
“Kau? Berkeringat dingin?” Arion masih menatap nanar wajah Nico yang sangat pucat.
“Nick?” Arion memegang tangan Nico yang sedang memegangi perutnya.
“Aargh!” Nico memekik kesakitan. Arion membelalakkan matanya. Lantaran Nico memekik dan meringis kesakitan. Dengan perlahan Arion mengangkat tangan Nico. Arion terperangah melihat darah menembus baju yang dikenakan Nico.
“Astaga? Nick? Kau?” Arion menatap sendu ke arah Nico yang juga sedang menatapnya dan bingung harus menjelaskan apa.
Arion menyingkap pakaian Nico. Sungguh terperangah ketika Arion melihat darah segar yang mengucur menembus perban bercampur tanah.
“Astaga? Nick? Kau kenapa? Kau tidak mengatakan kepadaku kalau ... Kau terluka?” Arion menatap Nico dengan perasaan terluka. Matanya tiba-tiba memanas, bulir bening mulai menggenang di sana. Untuk kedua kalinya, Arion menangis tiba-tiba.
“Tunggu di sini, Nick! Tekan lukamu! Aku akan segera kembali!” Arion berpamitan untuk pergi mencari sesuatu.
“Ke mana? Jangan menghilang dariku! Aku mohon kembali ke sini!” Nico takut kalau Arion akan kembali tertangkap. Jika hal itu terjadi maka tamatlah sudah riwayat Nico. Pupus sudah harapan dan luka yang dideritanya akan menjadi luka sia-sia. Kira-kira Arion akan pergi ke mana? Mencari apa?