30. Melarikan Diri Bersamamu

2143 Words
Nico melarang Arion pergi. Ia takut kalau Arion akan tertangkap kembali. Nico merasa sangat payah karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berlari mengejar Arion. Sudah sedari tadi Nico menahan rasa sakit di perutnya. Namun kali ini, Nico butuh istirahat dan luka sayatan itu harus dibersihkan. Nico mengerang kesakitan. Peluh membanjiri tubuhnya. Ia terus meringis kesakitan menahan perih, panas, dan pegal yang teramat menyayat. Dalam benak Nico saat ini hanya terngiang wajah Ibunya yang selalu mengkhawatirkannya. ‘Aku tidak akan menyerah! Aku harus bisa melewati ini semua! Akan aku bersihkan nama baik keluargaku! Akan aku selidiki siapa orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu!’ Nico bergumam dalam hati sembari terus meringis menahan luka sayatan yang kembali menganga yang teramat menyiksa. *** Arion pergi keluar dari ruang itu. Ia naik ke atas mencari pantri yang ada di dalam kapal. Tubuhnya yang ramping dan gesit, memudahkannya untuk melancarkan aksi. Arion tetap berhati-hati dan mengendap-endap mencari ruang pantri di antara banyak ruangan. ‘Perjalanan ke daratan hanya sebentar, setidaknya aku harus cepat membersihkan luka di perut Nick!’ Arion berbicara dalam hatinya sambil berjalan hingga sampai di sebuah ruangan yang dia tuju. Arion mengintip ke ruangan itu. Semua dirasa aman. Arion menyelinap masuk ke sana. Dia mencari air mineral, garam, dan menemukan sesuatu di sana. “Taraaa ... Vodka!” Arion mengamankan satu botol Vodka. Lalu mengambil satu botol air mineral, dia membuka tutupnya. Air minarel itu kemudian diberi garam. Arion kembali menutup botol air mineral yang tadi sudah dibubuhi garam, tidak lupa Arion mengocoknya agar semua garam terlarut di dalam air mineral itu. Sedangkan satu botol air mineral lainnya ia biarkan segelnya tertutup. Kemudian mata Arion menatap semua sudut ruangan. Ia melihat kotak P3K yang tergantung di dinding ruangan itu. Ia membukanya dan mengambil kain kasa, antiseptik, dan perekat. Setelah itu Arion mencari gunting di laci, beberapa kali ia membuka laci, tapi nihil. Dia pantang menyerah, hingga akhirnya dia menemukan gunting di laci nomor lima yang ia buka. Dengan segera Arion mengambil sebuah wadah cekung seperti mangkuk besar yang terbuat dari bahan stainless di rak patri itu. Ia memasukkan semua yang dia butuhkan ke dalamnya, tak lupa dia membawa satu botol Vodka untuk melengkapi malamnya. Arion merasa ada yang kurang, ia kembali membuka lemari guna mencari kain lap bersih untuk membersihkan luka yang diderita Nico. “Aha! Ulala! Kain lap bersih!” dengan cepat Arion mengambilnya. Tanpa menunggu lama, ia segera kembali ke ruangan di mana Nico berada. Setelah Arion memasuki ruangan dan menutup pintunya kembali, dia segera menemui Nico yang masih bersandar pada dinding. Ekspresinya meringis kesakitan. Namun setelah menyadari Arion berada di hadapannya, Nico berpura-pura tidak merasa kesakitan. “Arion? Eh ... sejak kapan kau kembali?” Nico penasaran. Saking gagal fokus karena menahan sakit, dia sampai tidak menyadari keberadaan Arion di hadapannya. “Sudah! Tidak perlu banyak bicara! Sekarang kau lihat ini!” Arion tersenyum memperlihatkan dua botol air mineral dan satu botol Vodka. “I—itu? Untuk apa?” Nico menganga sambil menatap Arion. “Ya untuk membersihkan lukamu!” Arion menatap serius. “Ap—apa? Nggak! Nggak! Kau tidak akan setega itu, kan?” Nico terlihat sangat ketakutan. “Apa maksudmu? Aku hanya ingin membersihkan lukamu! Sudah cepat buka bajumu!” Arion mengernyitkan dahinya. Melihat ekspresi Nico yang sangat ketakutan. “Nggak! Nggak! Aku mohon!” Nico menatap Arion yang sedang menatapnya dengan heran. Lalu pandangan mata Nico melirik ke arah Vodka. “Astaga! Kamu pikir aku akan setega itu menyiramkan Vodka ke atas luka menganga diperutmu? Bukan itu! Tapi ini!” Arion mengambil sebotol air mineral. “Huft! Aku bisa bernapas lega! Aku pikir kau akan menyiramkan Vodka pada lukaku.” Nico tersenyum manis. ‘Sekarang kamu masih bisa tersenyum manis, Nick! Sangat manis! Tapi apa setelah aku tuang air garam ini ... kamu masih bisa tersenyum manis? Aku rasa tidak!’ Arion menatap Nico sembari menaikkan satu alisnya. “Pakai ini!” Arion memberikan satu kain lap bersih kepada Nico. “Untuk apa?” Nico merasa bingung. “Untuk menyumpal mulutmu, Nick! Biar teriakanmu tidak terdengar membahana di kapal ini! Ayo! Cepat sumpal!” Arion memaksa. “Ap—apa?” “Hmmm.” Belum selesai Nico berbicara, Arion menyumpal mulut Nico. Arion menyingkapkan baju yang dikenakan Nico. Ia membuka perban yang sudah basah bercampur darah dan berusaha mencopotnya dari sana. Hal itu membuat sensasi perih luar biasa karena ada sebagian darah Nico yang mulai mengering. Sehingga kain perban itu agak menempel pada luka Nico. “Aaarrrgggh.” Benar saja Nico berteriak. Untungnya Arion sudah menyumpal mulut Nico. Setelah perban diambil dari atas luka, Arion membuka botol berisi air garam itu. Ia tuang ke dalam wadah dan langsung membersihkannya menggunakan kain lap bersih itu. Lagi-lagi Nico merasakan sensasi perih teramat luar biasa, hingga menitikkan air mata. Ketika Arion mulai membersihkan luka Nico dengan ari garam. “Aaarrrgggh.” Nico hanya bisa pasrah dengan tindakan Arion. “Tahan sedikit saja!” Arion masih serius membersihkan luka Nico. Hingga akhirnya luka bersih, dan Arion mengucurkan cairan obat antiseptik sebelum menutupnya dengan kain kasa yang baru. “Aha! Sudah selesai!” Arion menyimpan semua peralatan tadi ke dalam wadah itu dan menyingkirkannya. Ia ambil kain yang menyumpal di mulut Nico. Arion melihat Nico sangat lemas, sehingga ia memberikan sebotol air mineral utuh yang belum dibuka segelnya. “Minumlah! Semoga akan merasa lebih baik!” Arion mengulurkan tangan kanan untuk memberikan air mineral itu. “Kau sungguh tega!” Nico masih cemberut akibat perlakuan Arion yang seakan tidak memiliki perasaan. “Hei! Ini salah satu perhatian yang bisa aku berikan padamu! Tenang saja! Stelah kita bebas dan aku bisa kembali kepada Ayahku, Kau akan aku beri hadiah besar!” Arion masih cerewet. “Astaga! Lalu ... Vodka itu untuk apa?” Nico masih menatap ke arah Arion. Wajah Nico masih pucat. Namun terlihat lebih baik dari sebelumnya. “Untuk apa lagi? Pasti akan aku minum!” Gadis itu menyeringai. “Astaga! Jangan mabuk-mabukan! Kita belum aman sebelum kita pergi jauh dari kota Namos!” Nico merasa resah karena berada dengan gadis yang liar dan amat meresahkan. “Hei! Hei! Siapa yang bilang aku akan mabuk? Hah? Laut sangat dingin, Bung! Aku butuh kehangatan! Tidak mungkin juga, kan? Kalau aku minta kehangatan padamu?” Arion melirik tajam ke arah Nico. “Hah? Ap—apa?” Nico terperangah dengan kelakuan Arion. Dia sampai kehabisan kata-kata melihat tingkah gadis mafia itu. ‘Astaga! Gadis mafia ini benar-benar membuatku kehabisan kata-kata! Siiiaaalll! Kutukan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku pikir bangun dari koma berharap menjadi manusia yang lebih baik, menjalani hidup lebih baik, tapi apa? Justru hidupku sangat semrawut! Terlebih ketika aku harus berhadapan dengan gadis mafia ini! Aku pikir dia gadis lugu yang manis! Ternyata rubah betina yang berbahaya!’ ujar Nico dalam hatinya sambil melihat Arion yang sedang meneguk Vodka. “Aaahhh!!! Hangatnya ....” Arion tersenyum setelah meneguk Vodka. “Hei! Jangan banyak meminum minuman beralkohol! Itu tidak baik!” Nico merebut Vodka yang baru saja ditenggak Arion. “Haissshh!!! Kenapa harus direbut?” Gadis mafia itu menatap ke arah Nico. Mereka saling menatap dengan jarak yang dekat karena saat ini mereka masih merebutkan botol Vodka yang masih sama-sama mereka genggam. “Jangan mabuk! Jangan menyusahkanku! Terima kasih sudah membalut lukaku!” Nico mengambil botol itu dan menyimpannya jauh dari Arion. “Baiklah! Aku tidak akan menyusahkanmu!” Arion kembali melihat luka di perut Nico. Ia melihat ketulusan hati Nico yang rela berjuang demi membawanya pergi menyeberangi lautan. Bahkan Arion tidak menyangka Nico yang sedang terluka di perutnya, rela merayap di tanah dan membiarkan luka itu semakin menganga demi membawa Arion pergi dari Armage. “Nick! Maafkan aku!” Arion menatap Nico dengan ekspresi penyesalan. “Sudahlah! Tidak masalah! Sekarang kita fokus untuk keluar dari kapal ini! Apa kau siap?” Nico mengajak Arion untuk bersiap. “Hemm! Aku siap!” Arion menganggukkan kepalanya. Nico mencoba bangkit dan melihat keadaan sekitar. Dia melihat daratan sudah di depan mata. Di sana pun masih aman tanpa ada penjagaan ekstra. Tampaknya semua petugas masih mencari Arion dan Nico di daratan Armage. Mereka tidak akan mengira sebelumnya. Kalau Nico dan Arion melarikan diri dengan menunggangi kapal logistik yang baru saja lepas dari dermaga Armage. *** Tidak lama kemudian, kapal logistik itu bersandar di pelabuhan Namosi. Mereka tetap mengendap-endap dan berusaha keluar dari sana. Setelah dirasa sepi, mereka berusaha keluar dari dalam kapal dan bersembunyi di luar. Setelah semua aman, mereka berusaha turun dari kapal. Nico yang terluka masih tetap menjaga Arion. Sebagai seorang pria, Nico memiliki sikap pelindung, yang selalu ingin melindungi wanita. Namun, mereka tidak menyangka sesaat setelah mereka turun dari kapal, beberapa petugas memergoki mereka. Hingga akhirnya kejar-kejaran tidak bisa dihindari. Dengan spontan, Nico menggenggam tangan Arion dan mengajaknya berlari bersama. “Lari!” Nico berteriak di antara luka sayatan yang semakin perih serta pegal karena berlari, ditambah terpaan angin malam yang begitu dingin menusuk tulang. Kebersamaan Arion dan Nico tidak bisa mereka lupakan begitu saja. Malam semakin dingin ditambah desir angin yang begitu santer menerpa mereka. Nico sudah hafal jalan tikus dari pelabuhan menuju ke rumah sewaan yang tidak jauh dari sana. Napas yang kian tercekat membuat Nico semakin merasa tidak berdaya. Namun Arion justru memberikan semangat. Mereka bersembunyi di antara sela-sela bangunan rumah penduduk. Saat ini mereka berada di taman belakang salah satu rumah penduduk. Mereka bersembunyi di balik pagar rumah yang terbuat dari tanaman Boxwood. Napas keduanya tersengal. Nico merasa sangat haus, begitu juga Arion. “Kau?” Nico terperangah di sela lelah dan haus yang melanda. Rasa sakit yang dirasakan pada perutnya semakin menjadi. Terlebih ketika melihat Arion yang sedang meneguk Vodka yang tadi sudah Nico sembunyikan. “Apa? Aku bukan mau mabuk-mabukan! Aku haus dan kedinginan!” Arion menatap sinis ke arah Nico. Dia merasa Nico terlalu mengaturnya. Namun ia kembali luluh ketika mengingat perjuangan Nico. Arion sangat terkejut ketika Nico kembali merebut minuman itu. “Hei!” Arion berbisik dengan nada sedikit meninggi. Sungguh pemandangan langka, Nico yang tidak pernah meneguk alkohol, malam ini dia meneguknya. “Aahh! Uhuk ... uhuk ....” Nico merasa tenggorokannya terbakar hingga Nico tersedak. Terlebih lambungnya seakan sensasi panas tengah menggerogotinya. “Hei? Kau?” Arion terkekeh melihat ekspresi Nico. “Aku paham! Kau baru pertama kali meminumnya! Astaga! Awas! Mabuk!” Arion menertawakan Nico. “Pppsssttt!! Jangan menertawakanku! Ayo kita kembali melanjutkan perjalanan!” Nico kembali meneguk minuman itu. Lalu ia membuang botol di dalam tempat sampah di dekat pohon di taman itu. Ia kembali menarik tangan Arion untuk terus berlari bersamanya. Mereka melewati jalur tikus. Hal itu Nico ketahui selama dirinya menyamar menjadi petugas kebersihan. Setelah bertualang di malam itu. Nico dan Arion sampai di kediaman Nyonya Clara. Rumah yang disewa oleh Nico. Setelah semua aman, mereka masuk ke dalam rumah itu. Semua lampu dibiarkan mati seperti saat mereka pertama kali memasuki rumah itu. Nico yang kelelahan langsung membaringkan tubuhnya di atas kursi Sofa di ruang tamu. “Ahh! Rasanya tubuhku remuk!” Nico merasa sangat kacau malam itu. “Ini? Rumah siapa, Nick?” Arion juga membaringkan tubuhnya di atas Sofa di sudut yang berbeda dengan Nico. “Rumah Nenekku!” Nico berbohong kepada Arion. Seperti misinya. Dia harus merahasiakan identitasnya. Arion mendekat kepada Nick yang setengah mabuk karena Vodka yang ia teguk. Namun Arion tidak mengetahuinya. Arion hanya ingin menanyakan asal-usul Nico yang dengan tiba-tiba datang bagai Dewa penyelamatnya. “Nick! Siapa kamu sebenarnya? Mengapa Kau membawaku pergi dari Armage?” Arion duduk di Sofa yang sama. Tepatnya di sebelah Nico. “Aku tidak ingat siapa diriku! Aku merasa tubuhku sangat ... sangat ringan! Astaga! Aku kenapa? Apa aku akan mati?” Nico mulai terpengaruh alkohol yang dia minum. “Hah? Kau bicara apa, Nick?” Arion mulai mengernyitkan dahinya. “Nick? Siapa, Nick? Apa itu namaku? Aku merasa ringan seperti terbang! Astaga? Apa aku sudah mati?” Nico mulai meracau. Arion merasa ada sesuatu yang aneh dengan Nico. Ia mendekat kepada Nico. Semakin mendekat untuk melihat dan memastikan keadaannya. “Nick?” Arion menatap Nico dari jarak yang sangat dekat. Nico yang sedang merasa sensasi berbeda di tubuhnya. Mencoba membuka mata. Ia melihat gadis mafia itu di hadapannya. Nico merasa kesal sekaligus gemas kepadanya. “Nick? Kau baik-baik saja?” sekali lagi Arion memastikan keadaan Nico. “Hmmmpphh!” bibir Arion tertutup rapat. Ketika Nico menciumnya tanpa permisi. Tangan kanan Nico memegangi tengkuk kepala Arion agar wajah lugu gadis mafia itu tidak pergi darinya. Nico terus mencium dengan panas. Karena itu adalah ciuman pertama Nico. Arion yang semula menutup bibirnya dengan rapat, kini mulai menutup matanya. Membuka bibirnya menyambut ciuman panas seorang pemuda yang sudah membawanya kabur dari bungker terkutuk itu. Arion yang sudah luluh dengan sikap Nico sejak awal, merasa nyaman ketika berada di dekat Nico, sang pemuda misterius yang nekat. Ciuman mereka semakin panas. Nico meminta lebih dengan melumat bibir manis Arion. Mencoba masuk lebih dalam dan Arion tidak bisa menolaknya. Lalu ke mana mereka akan pergi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD