31. Tipu Daya

1686 Words
Ciuman itu membuat mereka terbuai karena itu ciuman pertama mereka. “Augh!” Nico memekik kesakitan sembari mendorong Arion secara spontan. Lantaran Arion tidak sengaja menyentuh luka di perut Nico. “Hei! Hei! Dasar, Kau!” Arion merasa seperti seorang jalang yang ditinggalkan teman kencannya, setelah Nico mendorongnya. “Eh? Astaga! Ma—maafkan aku! Ap—apa yang baru saja aku lakukan padamu?” Nico setengah menyadari apa yang baru saja dia lakukan dengan Arion. “Hah! Apa katamu? Dasar, Kau! Hah! Lupakan saja!” Arion kesal meninggalkan Nico yang masih terbaring di Sofa. Arion mencari kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Nico merasa bersalah karena dia tidak begitu menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Namun satu hal yang pasti, Nico merasakan ciuman manis itu bersama Arion. *** Arion masih kesal dengan sikap Nico. Ia setengah menyesali perbuatannya. Setengahnya menikmati ciuman panasnya bersama Nico. “Hah! Kesal sekali rasanya! Aku menyesal sudah membiarkan bibirnya menyentuh bibirku! Aku kesaaal!!!” Arion mengguyur tubuh sintalnya di bawah shower. Arion mandi di tengah kegelapan. Karena mereka tidak ingin dicurigai oleh para petugas yang kini sedang mengejar mereka, karena menjadi buronan negara. Arion memejamkan matanya sembari terus mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dalam pikirannya terlintas bayangan rasa saat ia berciuman dengan Nico. ‘Rasanya sangat hangat!’ “Tidaaak! Astaga! Apa-apaan aku ini?” “Harusnya tidak memikirkan hal itu! Hhaaahhh! Aku sangat kesal.” Arion masih menggerutu di sela kegiatan mandinya. “Harusnya tidak aku berikan ciuman pertamaku kepada Nick! Aku harus tahu siapa dia sebenarnya! Berani-beraninya! Dia tiba-tiba muncul dalam kehidupanku! Astaga! Dia merasa tidak bersalah? Bahkan dia lupa dengan apa yang tadi dia lakukan bersamaku?” “Awas Kau, Nick!” Arion masih kesal kepada Nico. Arion kesal karena Nico menciumnya atas dasar tidak sengaja, bukan karena perasaan lebih padanya. Sedikit banyak, Arion memang mulai jatuh hati kepada Nico. Pria misterius yang tiba-tiba hadir ke dalam hidupnya. *** Nico berusaha mencarikan pakaian ganti untuk Arion. Ia melihat ada beberapa baju di lemari Nyonya Clara. Ukuran tubuh mereka hampir sama. Sehingga Nico berinisiatif memberikan pakaian itu kepada Arion. Dengan penuh rasa bersalah. Nico berusaha meletakan pakaian itu di dalam kamar yang kamar mandinya sedang dipakai oleh Arion. Namun, sesuatu hal yang tidak diduga terjadi di sana. Nico memasuki kamar itu bertepatan dengan Arion yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan handuk yang ia lingkarkan ke tubuhnya. Arion tidak akan mengetahui kalau Nico akan masuk ke kamar itu. “Hwaaaa!” Arion berteriak. Ia merasa terkejut dan kesal, melihat Nico yang tiba-tiba muncul di sana. Untung saja situasinya sedang gelap. Mereka hanya melihat siluet masing-masing yang terkena terpaan cahaya rembulan. “Maaf! Aku tidak akan mengintipmu! Aku hanya berniat mengantarkan ini! Bye!” Nico langsung keluar dari kamar itu. Kedua matanya ia tutup dengan telapak tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang gagang pintu, lalu menutupnya. Arion merasa sangat terkejut. Untung saja Arion tidak mengeluarkan jurus untuk memukul Nico. “Astaga! Kenapa hariku sial sekali? Haruskan aku bersamanya setiap waktu? Oh ... No!” Arion tidak bisa membayangkan jika dirinya terus bersama Nico sepanjang hari. “Tapi dia sudah berjasa padaku.” Arion merasa berhutang budi kepada Nico. *** Pada waktu yang sama, Nico pun mencoba untuk membersihkan tubuhnya, di kamar mandi lain yang ada di rumah Nyonya Clara. Tak lupa ia mengisi baterai ponsel pemberian Thomas. Kemudian Nico membersihkan lukanya sembari mandi. Rasa perih kembali Nico rasakan ketika air hangat dari shower itu mengucur membasahi tubuh bidang Nico. Pemuda tampan penuh pesona dengan wajah oriental yang terkesan dingin, membuat banyak gadis penasaran kepadanya. Namun, bukan Nicolaas Hans namanya kalau dia memikirkan persoalan cinta. Mungkin saat ini Nico mulai mengenal dekat dengan wanita. Jane dan Arion Nico pun tidak habis pikir harus bertemu dengan dua gadis itu dalam hidupnya. ‘Nico! Kau sudah dewasa rupanya. Sudah melakukan ... ah! Sudahlah! Aku tidak menyangka hari-hariku yang menegangkan penuh dengan strategi, hari ini aku berikan ciuman pertamaku kepada gadis mafia itu! Ckckck ... sudahlah! Lebih baik aku lupakan saja!’ ujar Nico sembari berdecap dalam. *** Nico yang sudah membersihkan tubuhnya, memberikan obat pada lukanya, tak lupa ia bergegas membuka ponsel pemberian Thomas. Ia langsung menghubungi Thomas. Tentunya tanpa sepengetahuan Arion. “Halo, Pak!” Nico menyapa seseorang yang ia telepon. “Nico? Bagaimana keadaanmu?” tanya Thomas terdengar khawatir, sekaligus senang karena jika Nico berhasil kembali menghubungi Thomas menggunakan ponsel itu, artinya Nico sudah berhasil melarikan diri dari Armage. “Misi kedua aman!” Nico hanya melaporkan seperti itu, tanpa basa-basi panjang lebar. “Bagus! Lanjutkan misi ketiga! Misi terkhirmu!! Hati-hati dengannya!” titah sang Komandan. “Siap!” Nico menutup telepon, karena Thomas langsung menutup telepon setelah mendengar kesanggupan Nico. Tatapan Nico mengedar sesaat setelah dirinya memberikan laporan kepada Thomas. Sebelum pagi, Nico memiliki target untuk segera pergi dari kota Namos. Ia berpikir sejenak untuk berbincang dengan Arion tentang tempat tinggal Arion. ‘Aku harus menjalankan misi ketiga! Tapi ... bagaimana aku harus memulai semuanya? Yang jelas aku harus mengambil ponsel pemberian Alex di rumah Tuan Niel.’ Nico sedang mengatur strateginya. Ia berjalan keluar dari kamar. Strategi jitu tampaknya sedang berkeliling memenuhi pikiran Nico. Pemuda tampan dengan tatapan mata elang itu berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Arion. Ruangan masih dibiarkan gelap agar orang-orang yang melewati rumah itu akan mengira rumah milik Nyonya Clara tidak berpenghuni. *** Gadis berwajah lugu dengan kecerdikan luar biasa bernama Arion sedang duduk di kursi Sofa. Ia mengenakan gaun milik Nyonya Clara. Awalnya, Arion enggan menggunakannya. Namun tidak ada pilihan lain selain menggunakan gaun pemberian Nico, dari pada menggunakan baju tahanan. Gaun itu sebenarnya milik anak bungsu Nyonya Clara, yang sekarang tinggal di luar kota. Dia memang meninggalkan beberapa baju untuk ia kenakan ketika singgah di kota Namos. Namun karena rumah itu saat ini disewakan, putri bungsu Nyonya Clara tidak lagi singgah di sana. Bahkan sudah jarang mengunjungi kota Namos. Gaun berwarna merah muda selutut. Dengan motif garis-garis dan potongan klasik. Gaun itu agak terbuka di bagian d**a dan punggung. Arion tampak berbeda setelah ia mengenakan gaun merah muda itu. Wajahnya yang lugu terlihat semakin polos dengan gaun yang dikenakan. Ditambah lagi rambut panjang yang tergerai menambah kesan predikat gadis lugu. Padahal Arion adalah calon pewaris takhta mafia Bonzoi. Kecerdikannya terkamuflase dalam penampilannya yang lugu. Di balik wajah polosnya, Arion menyimpan banyak taktik untuk membela kaumnya, dalam melancarkan aksi teror kepada pemerintahan Vromme. *** Nico baru saja sampai di ruang tamu rumah Nyonya Clara. Dia melihat gadis mafia itu sedang duduk di Sofa. Tercium aroma kopi yang menguar memenuhi segala sudut ruangan. “Hai! Apa kau sudah merasa lebih baik?” Nico menyapa Arion, tanpa rasa bersalah sejak peristiwa yang baru saja dia lewati bersama Arion di atas Sofa. “Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja!” Arion menyeruput kopi buatannya untuk menghangatkan tubuhnya, lantaran dingin mulai menusuk tulang-belulangnya menjelang pagi. “Duduklah! Aku juga membuatkan satu cangkir untukmu!” Arion menatap Nico di antara siluet gelap. “Oh ... baiklah!” Nico duduk berhadapan dengan Arion. “Nick! Sebenarnya kau ini siapa? Mengapa tiba-tiba kamu datang, menolongku melarikan diri dari Armage? Perhitungan dan pengamatanmu sungguh luar biasa.” Nada bicara Arion tampak berbeda. Ia seakan memperlihatkan jati diri yang sebenarnya. Tatapan yang tajam, nada bicara yang tegas, dan sikap yang tenang, seakan memberi gambaran siapa dia sebenarnya. Nico tidak kalah cerdik. Ia akan menyembunyikan identitasnya seperti apa yang Thomas perintahkan demi mencari bukti-bukti keterlibatan Mafia Bonzoi dalam kasus penembakan terhadap Profesor Nazer. “Hansen memintaku untuk membawamu pergi dari Armage, sebelum dia ....” Nico memancing pembicaraan mengenai keterlibatan Hansen. Jika Arion mengenal Hansen maka selama ini Nico membuntuti orang yang benar seperti yang Thomas katakan kepadanya. Jika Arion tidak mengenal Hansen, maka Nico harus lebih berhati-hati lagi menghadapi Arion. ‘Thomas tidak pernah mengatakan kalau Arion adalah seorang gadis muda! Mungkin seumuran dengan Monita,' ujar Nick dalam hatinya. Ia sedang berusaha menelusuri sejauh apa Arion memimpin Bonzoi. Arion menatap Nico di antara kegelapan. Tatapannya seakan menyiratkan tanda tanya sekaligus berbinar karena mendengar nama orang yang ia kenal. “Sebelum dia apa? Lalu ... Apa hubunganmu dengan Hansen?” ucap Arion sembari meletakkan cangkir di atas meja. Nico terbelalak mendengar ucapan Arion. Pikirannya dipenuhi tanda tanya yang sangat besar. Mengenai hubungan antara Arion dengan Hansen. “Aku berhutang budi padanya, menganggapnya sebagai seorang Kakak, tapi aku tidak tahu dia menganggapku sebagai apa? Yang jelas, dia memintaku untuk mencarimu, dan membebaskanmu dari Armage ... Sesuatu yang teramat mustahil bagiku, membayangkan saja tidak pernah ....” Nico berpura-pura mengenal Hansen. Padahal dia mengenal sosok Hansen dari Jane dan Thomas. “Lalu bagaimana bisa Kau dijebloskan ke dalam Armage? Bukankah itu sangat sulit?” Arion tidak begitu saja mempercayai Nico, walau pada kenyataannya, Nico telah membebaskan Arion. “Apa Kau mengenal Marco? Si raja jalanan?” Nico mencoba berpikir cerdik. “Ya?” Arion menampakkan wajahnya yang datar. “Aku membuat mobil kesayangan Marco terbakar dan meledak, dia melaporkanku atas dasar tuduhan pembunuhan berencana terhadap dirinya, hingga mengakibatkan mobil kesayangan Marco rusak parah. Perbuatanku membuahkan hasil, dia melaporkanku dan menuntutku! Bahkan aku masih saja membuatnya kesal, hingga dia menyuap beberapa oknum untuk menjebloskanku ke dalam Armage, siasatku berbuah manis. Akhirnya aku bisa masuk ke dalam Armage,' jelas Nico meyakinkan. “Oh, ya? Waw ... kau ternyata cerdik juga! Lalu bagaimana bisa? Kau menyelinap masuk ke dalam bungker terkutuk itu?” Arion masih penasaran. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya terhadap orang lain. “Seseorang bernama Roki yang awalnya sering mengancamku, kemudian berbalik luluh membantuku karena aku mengatakan kepadanya bahwa aku adalah tangan kanan Arion. Semenjak itu dia ikut andil dalam rencana pembebasanmu. Dia mencari informasi di mana keberadaanmu, sampai dia ikut merancang kecelakaan yang berhasil menyayat perutku agar aku bisa masuk ke klinik Armage di gedung dua. Di situ aku leluasa untuk memeriksa kebenaran tentang Arion yang dikurung di dalam bungker.” Nico menyeringai ketika kembali mengingat semua kenekatan yang sudah dia lakukan. “Aku akan mengingat tahanan bernama Roki dan sebaiknya kita pergi dari sini! Lalu di mana Hansen berada?” Arion penasaran. Bagaimana jika Arion mengetahui bahwa Hansen ditangkap? Apakah Arion akan mengajak Nico untuk pergi ke markas Bonzoi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD