Nico menatap Arion ketika dia menanyakan tentang keberadaan Hansen kepada Nico.
‘Ini kesempatanku untuk menelusuri hubungan antara Arion dengan Hansen, aku juga ingin mengetahui kebenaran yang terjadi di dalam gedung kosong itu.’ Nico berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Arion.
“Nick? Kenapa kamu terdiam?” Arion melirik dan meninggikan sebelah alisnya.
“Hansen ... ditangkap saat dia berada di dalam sebuah gedung kosong di Distrik lima kota Namos.” Nico sangat menunggu reaksi dan tanggapan Arion.
“Apa? Sedang ada dia di sana?” dengan spontan, Arion mempertanyakan hal yang seharusnya diketahui Arion, jika dia memang pemimpin komplotan pabrik obat-obatan terlarang dan obat bius ilegal itu.
‘Hah? Apa? Arion tidak mengetahuinya? Bagaimana mungkin? Atau memang bukan Hansen pelakunya? Atau Arion tidak mengetahui bisnis sampingan Hansen?’ Nico mengernyitkan dahinya. Ia duduk dan bersandar di atas Sofa sembari memijat pangkal hidung dan dahinya.
Arion tampak berpikir keras untuk memikirkan hal fatal yang dilakukan Hansen, hingga dia ditangkap.
“Apa yang dilakukan Hansen, Nick? Ceritakan padaku!” Arion merasa sangat kehilangan Hansen.
“Hansen dituduh menggelapkan uang suatu perusahaan kontraktor, lalu dia dituduh menjadi pemimpin sebuah usaha ilegal obat bius dan pengedar obat-obatan terlarang! Aku pun tidak mengetahui hal ini.” Nico mencoba mengorek segalanya dari Arion.
“Hah? Ap—apa? Itu tidak mungkin! Sejak kapan dia menjalankan bisnis haram? Dua bulan? Rasanya itu tidak mungkin! Dia tidak mungkin mengkhianatiku!” Arion menunjukkan ekspresi polos tanpa berpura-pura.
‘Ap—apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang harus aku percaya? Rasanya ini semakin rumit dan aku terjebak di dalamnya!’ Nico mencoba memahami keadaan yang sedang dia jalani. Namun kenyataannya semua semakin rumit, hingga Nico benar-benar tidak mengerti harus percaya kepada siapa.
“Apa maksudmu? Lalu kau sendiri kenapa sampai masuk ke dalam Armage?” Nico merasa sangat dilema dengan misi yang sedang dia jalani.
“Nick! Aku tidak bisa menjawab hal ini di sini! Aku harus kembali ke rumahku! Kembali kepada Ayah! Jika kau ingin mengetahui apa yang terjadi denganku? Ikutlah aku! Aku mempercayaimu! Karena Kau orang kepercayaan Hansen. Lantas? Apa kau akan ikut bersamaku?” Arion merasa jika Nico adalah orang yang baik dan bisa dipercaya.
‘Di—dia mempercayaiku? Ini tidak mungkin! Lalu siapa Hansen? Mengapa dia sangat dipercaya oleh Arion? Ada apa dengan semua ini?’ Nico tercengang dengan sesuatu yang dirasa cukup ganjil.
“Nick? Kau akan ikut denganku atau cukup sampai di sini? Sudah tidak ada waktu lagi! Aku harus kembali! Kita tidak mungkin selamanya bersembunyi di sini!” Arion menatap Nico dengan serius. Wajah lugu nan polos Arion, berubah menjadi serius dengan tatapan tajam penuh taktik.
“Aku akan ikut bersamamu! Tunggulah di sini! Aku akan segera kembali!” Nico meminta Arion untuk tetap di sana. Karena Nico akan mengambil ponsel pemberian Alex.
Nico mengendap-endap, melihat situasi temaram menjelang pagi. Nico sangat paham jadwal aktivitas Tuan Niel, sehingga ia berniat mengunjungi rumah Tuan Niel. Jalanan yang masih sepi, hanya meninggalkan jejak daun berguguran. Embusan angin yang dingin membuat Nico merapatkan jaket yang ia kenakan. Langkah kaki Nico yang panjang membuatnya cepat sampai di rumah Tuan Niel. Ia mengetuk pintu rumah klasik itu.
Suara Tuan Niel menyahut dari dalam. Tak lama kemudian, Tuan Niel membukakan pintu dan wajahnya sangat terkejut dengan kedatangan Nico.
“Anak muda? Kapan kau sampai di sini?” Tuan Niel merasa kalu kehadiran Nico bagai makhluk tak kasat mata yang tiba-tiba datang dan pergi.
“Semalam, tapi ... Aku membutuhkan ponsel itu. Jadi ... maaf, kalau aku mengganggumu, Tuan.” Nico tersenyum.
“Aku mengerti, Anak muda! Tunggulah di sini! Atau kau akan ikut bersamaku meminum secangkir kopi?” Tuan Niel adalah orang yang sangat ramah.
“Oh ... terima kasih, Tuan! Tapi ... aku bersama temanku!” Nico berlaga seolah dia sedang bersama teman wanitanya yang menunggunya di rumah.
“Ah ... aku sangat mengerti! Baiklah! Tunggu sebentar!” Tuan Niel berjalan menuju rumahnya. Nico mengenakan hoody yang biasa dia kenakan.
“Nak! Ini ponselmu!” Tuan Niel menyerahkan kotak berisi ponsel itu.
“Terima kasih, Tuan! Apa aku bisa menumpang mengisi daya ponsel ini? Hmm ... sebentar saja?” Nico berusaha menghafalkan nomor ponsel Alex.
“Tentu saja, Nak! Masuklah!” Tuan Niel mempersilakan Nico untuk masuk ke rumahnya.
Nico mengisi daya ponsel pemberian Alex sembari ia nyalakan. Setelah ponsel menyala, Nico langsung melihat nomor ponsel Alex agar Nico bisa menghubunginya, di mana pun dia berada.
‘Aku sudah mengingatnya!’ ujarnya dalam hati. Lantas Nico mencabut kabel daya ponselnya dan kembali menyimpan ponselnya di dalam kotak itu. Nico menghadap Tuan Niel untuk kembali menitipkan ponsel itu.
Tidak menunggu waktu lama, Nico menelepon Thomas. Menggunakan ponsel yang Thomas berikan padanya. Sebelum Nico pergi ke rumah Tuan Niel, dia sempat mengambil ponsel pemberian Thomas. Sehingga Nico menghubungi Thomas sembari berjalan menuju rumah Nyonya Clara.
“Halo, Pak!” Nico menelepon Thomas.
“Bagaimana perkembangannya?” Thomas kembali memantau.
“Misi ketiga akan segera dijalankan! Target mengajakku menuju tempat tinggalnya! Aku akan menggunakan mobil pinjamanmu itu, Pak! Kami akan segera berangkat!” Nico merasa sangat gugup karena akan menjalankan misi ketiganya yang paling menantang. Karena dia akan masuk ke dalam sarang Mafia Bonzoi.
“Jalankan dengan rapi! Pasti kau akan menemukan pelaku pembunuhan itu di sana!” ucapan Thomas membuat Nico ingin segera pergi ke markas mereka.
“Baik, Pak!” Nico sudah yakin dengan apa yang akan dia kerjakan.
“Aku tetap bisa melacak keberadaanmu melalui mikro cip yang sudah ditanamkan di dalam tubuhmu! Tenang saja! Jika ada hal penting segera hubungi nomorku!” Thomas akan memantau ke mana pun pergerakan Nico.
“Laksanakan!” Nico menutup telepon itu setelah Thomas menutup teleponnya.
***
Nico segera kembali ke rumah Nyonya Clara. Dia tetap menyelinap agar tidak dicurigai oleh petugas polisi yang berpatroli.
Arion masih duduk di ruang tamu rumah itu. Ia mendengar seseorang membuka garasi dan memanaskan mesin mobil. Arion beranjang dari Sofa. Ia mengintip dari balik jendela.
“Nick? Ternyata dia mempunyai mobil?” Arion semakin semangat karena Nico akan ikut bersamanya ke kota Athan.
Tak lama berselang Nico memasuki rumah dan mencari Arion. Dia melihat Arion sedang berdiri di dekat jendela rumah Nyonya Clara. Mereka saling menatap sejenak di antara gelap dengan pencahayaan dari jendela itu, karena langit semakin terang.
“Ayo kita harus segera pergi dari sini!” Nico mengajak Arion untuk segera keluar dari rumah itu.
“Oke!” Arion mengangguk.
“Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkan jaket untukmu!”
Nico berjalan menuju kamar yang dijadikan tempat menyimpan barang-barang pemberian Thomas. Nico yakin ketika dia sampai di markas Arion, maka semua alat komunikasi tidak diperbolehkan untuk aktif. Sehingga Nico memilih untuk menyimpannya kembali di laci itu. Dia menyimpan semua dengan baik. Kemudian Nico mengambilkan jaket mantel panjang miliknya. Nico tidak ingin Arion sampai kedinginan.
Nico kembali menyapa Arion di ruang tamu itu.
“Pakailah ini! Aku tidak ingin sampai kau kedinginan!” Nico menatap Arion sembari tersenyum. Wajah yang rupawan itu tersenyum hangat kepada gadis mafia yang sedang berdiri mematung di hadapan Nico.
“Baiklah! Terima kasih!” Arion menerima jaket itu walau sedikit kebesaran. Ia masih mematung menatap Nico di hadapannya.
“Ayo kita harus segera pergi dari sini!” Nico meyakin Arion.
“Ayo! Jangan buang-buang waktu! Antarkan aku ke kota Athan!” Arion menatap Nico.
Mereka bergegas pergi menggunakan the devil car menuju kota Athan.
Kota Athan adalah sebuah kota kecil yang ada di ujung timur kota Nerve. Sehingga perjalanan mereka akan melewati kota Nerve. Kota kecil bernama Athan adalah salah satu kota tertinggal. Karena pembangunan dan perekonomian di sana tidak semaju kota lainnya. Mata pencaharian sebagian besar penduduk kota Athan adalah petani. Sebelum mencapai kota Athan, mereka akan melewati sebuah jalanan lurus sangat panjang, seperti jalanan road trip di negara Amerika. Mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan hamparan tanah tandus yang sangat luas berhias tebing-tebing cadas yang berundak-undak. Bahkan Nico belum pernah pergi ke kota Athan. Namun Nico mengetahui apa saja yang akan dilewati oleh mereka selama perjalanan menuju kota Athan. Untung saja, Nico memiliki beberapa uang cash sisa-sisa upah saat dia bekerja menjadi petugas kebersihan. Sehingga Nico tidak akan takut kalau akan kehabisan bensin.
***
Nico dan Arion mengendarai mobil itu dengan kecepatan biasa, agar tidak dicurigai. Mereka mengawasi situasi sekitar. Ketika mereka sampai di distrik lima menuju perbatasan kota Namos dengan Michi. Arion melihat kalau di depan sana ada pemeriksaan.
“Nick! Perlambat laju mobilmu! Aku melihat ada pemeriksaan di depan sana!” Arion takut kalau mereka dikenali.
“Keluar dari mobilku!” ucap Nico membuat Arion terperangah.
“Hah? Kau mengusirku? Benar-benar di luar dugaanku! Aku pikir kau orang baik!” Arion melirik kesal dan syok.
“Hei! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab! Kalau polisi-polisi itu memeriksa setiap pengendara yang lewat, mereka pasti mencari aku dan kau! Jika kita bersama, semua akan berantakan! Jadi kau jalan kaki dan tunggu aku di gedung itu!” Nico menunjuk sebuah swalayan.
“Aku akan menjemputmu di sana!” Nico mengatakan hal itu karena ia takut Arion akan tertangkap kembali.
“Baiklah aku mengerti! Jika aku tertangkap, aku akan melawan mereka! Aku mohon jemput aku dan tolong aku!” Arion berharap banyak kepada Nico.
“Baiklah!” Nico mengangguk.
***
Bersambung ...