Nico masih melihat Arion berjalan. Ia menatap gadis itu dengan perasaan khawatir. Nico melajukan kendaraannya perlahan. Matanya awas mengamati pergerakan Arion. Nico masih memperhatikan Arion yang berjalan di antara kerumunan. Ia memakai mantel panjang beserta tudungnya untuk menutupi identitas dan wajahnya.
Mobil yang Nico kendarai mulai diberhentikan oleh polisi yang sedang bersiaga mencari buronan yang kabur dari Armage. Sambil menunggu dan memperhatikan Arion, Nico melihat sebuah Televisi raksasa di persimpangan jalan yang ada di hadapannya. Di dalam televisi itu, sebuah stasiun televisi memberitakan tentang dua tawanan yang kabur dari Armage. Mereka mengekspos dua wajah buronan itu. Nico merasa terkejut ketika wajahnya terpampang di layar kaca raksasa itu, diikuti wajah Arion.
“Sial! Apa-apaan ini? Aku buronan? Astaga! Aku tidak menyangka akan seperti ini! b******k! Kenapa harus seperti ini? Mana janji Thomas yang akan menjamin semuanya? Kalau wajahku terlihat di sana, bagaimana dengan kedua orang tuaku?” Nico merasa sangat marah dengan apa yang baru saja dia saksikan di layar kaca raksasa itu. Saking marahnya Nico menggertakkan giginya dan rahangnya menegang. Ia melihat wajah Arion pun terpampang di sana.
Nico mulai panik ketika ia lengah mengawasi Arion, saat fokusnya lengah melihat layar kaca besar di sana.
“Astaga? Arion? Di mana dia?” Nico merasa sangat khawatir pada gadis mafia itu. Nico lupa kalau Arion adalah gadis mafia yang cerdik. Namun yang Nico rasakan saat itu hanya khawatir jika Arion kembali tertangkap. Tidak lama berselang terjadi keributan di antara kerumunan di antara orang-orang yang sedang diperiksa. Terlihat Arion berlari berada di jarak sekitar dua puluh meter dari posisi Nico saat ini.
Arion berkelahi dengan beberapa anggota kepolisian. Gadis Mafia itu pun sangat lihai dalam merebut senjata milik polisi yang sedang duel dengannya. Arion terlihat menembakkan pistol ke udara. Semua orang panik, menunduk, berjongkok, tiarap, dan berlarian ke sana ke mari. Nico merasa takjub sekaligus panik melihat Arion di sana. Nico melihat suatu celah kosong pada jalan di hadapannya, karena situasinya terlihat sangat kacau. Nico juga melihat Arion terus berlari menghindari kejaran polisi. Saat ini jarak mereka semakin jauh. Nico merasa harus segera menolong Arion.
“Persetan dengan kerumunan itu! Persetan dengan status buronan!” Nico yang sedang kesetanan karena amarah yang membuncah, menginjak kopling mobil yang ia kendarai sembari menekan pedal gas begitu dalam. Suara the devil car sangat kencang sampai membuat semua orang menyingkir.
Tanpa basa-basi, Nico melepas injakan koplingnya. Mobil itu melesat dengan cepat, secepat Nico mengoper gigi the devil car.
Polisi yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres bergegas untuk mengejar mobil Nico menggunakan mobil polisi jalan raya. Suara sirene berkejaran dengan kecepatan mobil yang saling mengejar. Nico menekan klakson mobilnya hingga membuat Arion menyadari kedatangan Nico.
“Naiklah! Cepat!” Nico membukakan pintu untuk Arion. Dengan cepat Arion berlari dan melompat masuk ke dalam mobil. Belum sempat menutup pintu mobil, Nico langsung menancap gas. Arion yang terkejut berusaha dengan susah payah untuk menutup mobil yang melaju dengan sangat kencangnya.
“Gila, Kamu!” Arion yang masih lemas dengan kelakuan Nico, hanya bisa melirik tajam ke arah Nico.
“Sudahlah! Bukan saatnya untuk berdebat! Sekarang kita sudah menjadi buronan! Jika kita terus menggunakan mobil ini, aku yakin kita tidak akan sampai di kota Athan karena kehabisan bensin. Bahkan saat kita mampir untuk mengisi bensin, wajah kita pasti akan dipindai oleh kamera CCTV,” jelas Nico kepada Arion dengan wajah yang sangat serius.
“Baiklah! Aku mencoba memahami situasi ini!” Arion menatap dalam ke arah Nico.
“Ke mana kita akan pergi? Ayo segera pikirkan!” Nico kembali memerintah Arion untuk berpikir dan menentukan. Lantaran Nico tidak bisa fokus mengemudi jika dirinya banyak berpikir.
Mereka tidak lepas begitu saja dari kejaran polisi. Dua mobil patroli polisi mengejar mereka. Sirene yang berbunyi lantang membuat Nico semakin berdebar. Nico tidak mau kalah, ia mempraktikkan kepiawaiannya dalam berkemudi.
“Arion! Pasang sabuk pengamanmu! Bersiaplah terbang bersama mobilku!” Nico memberikan perintah yang membuat Arion terbelalak.
“Ap—apa?” Arion segera memasang sabuk pengamannya. Mobil di depan Nico berjalan pelan karena di jalan perkotaan. Namun, Nico tidak memedulikan peraturan lalu lintas. Mobilnya menerobos dan melesat di antar mobil-mobil di jalanan. Ketika dirinya sebentar lagi dihadapkan pada persimpangan, Arion mengatakan kalau Nico harus berbelok ke kiri. Dia menyuruh Nico untuk mengemudi menuju stasiun kereta barang yang ada di ujung kota Namos yang langsung berbatasan dengan kota Michi.
Perintah Arion yang mendadak membuat Nico berbelok dan hampir terguling. Beberapa kendaraan yang melintas di persimpangan itu ada yang mengerem mendadak dan terjadi tabrakan beruntun. Ada pula yang menyerempet mobil lainnya. Sehingga pemandangan di jalan itu sangat kacau. Jeritan orang-orang yang ada di sekitar membuat suasana semakin tegang.
***
Pada waktu yang bersamaan, di kediaman Edward Hans, terjadi keributan karena berita yang muncul pagi ini. Edward sangat tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Bahkan dia mengutus pengacaranya untuk segera meminta penjelasan kepada pihak yang berwenang atas kasus yang sedang putranya jalani.
Sarah kembali murung setelah mendengar berita pagi ini. Beliau sama sekali tidak mau makan. Monita berusaha membujuknya. Namun Sarah tetap bersikeras untuk mogok makan, sebelum kejelasan dan keadilan datang untuk putranya yang jelas-jelas difitnah.
“Bu! Makanlah sedikit saja!” Pinta Monita dengan lembut kepada Sarah.
“Nak! Bagaimana Ibu bisa tenang? Saat Kakakmu dalam bahaya, dalam lingkaran fitnah yang tidak ada hentinya!” ucap Sarah kepada putrinya.
Ucapan Sarah terdengar oleh Edward yang juga masuk ke dalam kamar mereka untuk membujuk istrinya.
“Tenanglah, Sayang! Aku sedang mengutus Tuan Jack dan timnya untuk mengurus kasus Nico.” Edward berlutut di hadapan istrinya yang sedang duduk pada Sofa yang ada di dalam kamar itu.
Monita menoleh kepada Ayahnya. Lalu anak bungsunya itu menghela napas sembari memangku nampan berisi bubur untuk Ibunya. Monita hanya terdiam dengan raut wajah lesu dan penuh iba kepada Ibunya.
“Sarah, Istriku! Maka lah sedikit,” pinta Edward kepada istrinya.
“Bagaimana aku bisa makan? Sedangkan salah satu anakku sedang kelaparan dan berjuang di luar sana! Mengapa mereka mengatakan bahwa Nico dalam pengasingan? Di mana? Armage? Itu maksud mereka? Bahkan Nico belum memasuki persidangan! Kenapa harus dibawa ke sana? Lalu aku tidak habis pikir, mengapa Nico melarikan diri bersama gadis Mafia itu?” Pertanyaan berkecamuk dalam benak Sarah, atas berita yang mereka dengar pagi ini.
“Sudahlah! Kita tunggu perkembangan dari Tuan Jack dan timnya! Kalau Kau tidak ingin makan, istirahatlah! Mood kamu sangat labil! Monita, temani Ibumu! Aku akan segera menghubungi Tuan Jack.” Edward pergi meninggalkan mereka.
***
Nico dan Arion berteriak karena perasaan campur aduk yang membuncah dalam diri mereka. Setelah mereka melintasi persimpangan jalan tadi, beberapa mobil yang mengalami tabrakan beruntun menghalangi jalanan. Sehingga dua mobil polisi yang mengejar Nico, tidak dapat melintas. Mereka menelepon semua unit yang ada di arah sana untuk mencegat mereka. Namun mobil mereka melesat dengan begitu cepat.