Nico masih terpaku ketika Marco berjalan meninggalkan mereka. Rasanya ingin sekali Nico menghajar mereka. Namun bukan saatnya. Karena Marco mengajak Nico bertanding balap mobil, lusa malam di distrik tujuh wilayah ujung barat kota Namos.
‘Apa yang harus aku lakukan? Berlatih? Haasshh! Mana mungkin! Kalau aku kalah ... apa yang harus aku lakukan? Baiklah! Mungkin aku akan coba untuk berlatih ... tapi di mana?’ ujar Nico dalam hatinya.
Lamunannya seketika buyar karena Jane memanggil sambil menepuk bahunya.
“Nick?” Jane terlihat memiliki perasaan tidak enak pada Nico. Ia merasa telah membawa Nico jauh ke dalam urusan keluarganya. Jane dan Kakaknya hidup berdua karena sudah yatim piatu. Jane tidak mengira Nico akan sejauh itu untuk membela dirinya.
“Ya, Jane! Maaf aku ....”
“Aku paham, sangat paham! Lebih baik kau urungkan saja niatmu! Urungkan pertandingan itu dan aku akan menemui Marco untuk meminta waktu dalam melunasi hutang Kakakku! Aku pun belum berbicara dengan Kakakku! Aku tidak paham dia berhutang apa pada Marco.” Jane terlihat sedih. Air matanya tak dapat ia bendung lagi.
Dengan sigap, Nico mengusap air mata yang menetes di pipi Jane. Bagaimana pun juga, hati seorang wanita sangat rapuh walau banyak dari wanita menyembunyikan kerapuhan hatinya agar tetap terlihat tegar. Seperti Jane yang selalu mengulas senyum untuk menyembunyikan permasalahannya.
“Jane ... jangan menangis! Bersandarlah jika itu membuatmu nyaman! Aku akan membantumu! Lusa aku tetap akan bertanding dengan Marco, jika kau ingin mempertanyakan hal ini pada Kakakmu, silakan saja Jane.” Nico memeluk Jane dan menyandarkan kepalanya pada bahu Nico yang sandarable sekali.
“Kau begitu baik padaku, Nick! Walau aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya.” Jane berbisik di samping telinga Nico.
“Anggap saja aku temanmu! Aku tidak akan membiarkan seorang pria memperlakukan wanita dengan kasar! Itu prinsipku!” Nico membelai rambut Jane untuk membuatnya merasa lebih nyaman.
“Terima kasih Nick! Aku merasa lebih baik dan dihargai, walau aku hanya seorang pelayan di bar!” Jane kembali tersenyum dan melepas pelukannya.
“Hmmm ... Jane, apa kau mengetahui tempat sepi untuk berlatih drive?” Nico merasa kurang percaya diri kalau dirinya tidak berlatih.
“Sepertinya kau harus melihat jalanan di perbukitan Cinamon ... jalanan di sana sepi tapi aku sarankan kau tidak perlu bertanding, Nick!” Jane masih melarang Nico untuk bertanding.
“Tidak, Jane! Sudah aku putuskan untuk tetap bertanding!” Nico tersenyum
“Ini urusan nama baik seorang pria!” Nico kembali berbisik pada Jane.
***
Setelah Nico keluar dari klub itu, dia mengendarai mobilnya membelah jalanan kota Namos menuju distrik tujuh. Ia ingin melihat kondisi tempat pertandingan balap itu. Nico mengamati dari kejauhan. Di sana terlihat kerumunan orang-orang dengan mobil-mobil sport modifikasi mereka. Ia pun melihat Marco. Nico memarkirkan mobilnya agak jauh dari kerumunan itu. Lalu ia menunggu sampai mereka benar-benar siap bertanding. Nico berjalan menggunakan hoody yang ia sediakan di dalam mobil untuk bisa membaur bersama mereka.
‘Sambil menyelam minum air ... ya baiklah! Aku akan membaur bersama mereka.’ Nico berjalan-jalan di antara mereka. Sekaligus mencari informasi yang mengarah pada Hansen.
Nico berjalan mendekat ke arah mobil milik Marco. Tentu saja mereka mempersiapkan segalanya secara matang. Tak sengaja Nico mendengar perbincangan mereka mengenai dirinya yang menantang Marco untuk bertanding.
‘Sial! Mereka membicarakanku!’ Sebelum Nico memutuskan untuk pergi, Ia mendengar salah satu dari mereka membicarakan tentang seseorang yang berhutang pada Marco untuk biaya operasi plastik menggubah bentuk kelopak matanya. Secara samar, Nico mendengar mereka menyebut nama orang itu.
‘Apa? Hansen? Atau Hans? Seperti nama keluargaku saja? Atau memang itu Hansen orang yang sama dengan yang aku cari?’ Nico mulai mencurigai sesuatu. Tanpa basa-basi Nico pergi dari sana dan kembali ke rumah yang ia sewa.
***
Di dalam sebuah ruangan tertutup di rumah sewaan itu, Nico membuka laptop pemberian Thomas. Ia melihat semua foto-foto Hansen. Ia mengamati dengan teliti dan mencoba meng-copy beberapa foto Hansen yang ada dalam laptop itu. Lalu Nico membuat simulasi menggunakan salah satu aplikasi edit foto. Dia mencoba mengubah gaya rambut Hansen yang semula gondrong menjadi pendek, cepak, gundul, kribo, semua dicoba untuk mendapatkan gambaran wajah Hansen saat dia mencoba mengubah gaya rambutnya. Setelah itu dia menyimpan file dan membuat simulasi foto dengan mengubah bentuk kelopak mata dan jambang, semua dilakukan dengan teliti. Setelah semua selesai, Nico menyimpan file tersebut dalam ponsel pintarnya. Kemudian Nico mengamati secara detail perubahan-perubahan itu, untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi. Berbekal itu semua, Nico siap memulai hari esok.
***
Pagi ini, Nico bersama Pak Niel sudah berangkat ke kantor pusat kebersihan kota. Karena mulai hari ini, Nico bertugas mengantar tim kebersihan ke tempat yang sudah dijadwalkan untuk tim yang bekerja bersama Pak Niel. Nico mengenakan pakaian yang sama dengan petugas kebersihan lainnya. Mereka mengenakan wearpack berwarna biru tua. Mengenakan masker, dan Nico mengenakan topi berwarna senada miliknya. Dengan penuh leluasa, Nico bisa mengamati wilayah yang sedang mendapat jadwal kebersihan. Namun semua nihil. Tidak ada informasi atau menemukan sosok seperti Hansen. Hingga pekerjaan hari itu selesai.
Nico pulang dan membersihkan tubuhnya di bawah shower. Sembari mengguyur tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, Nico berpikir keras tiada henti. Sore ini ia berencana untuk menjajal mobil yang dipinjamkan oleh Thomas. Nico yakin kalau mobil yang dipinjamkan oleh Thomas sudah dimodifikasi speed dan di up-grade spesifikasinya. Sehingga Nico memutuskan untuk mendatangi jalur perbukitan Cinamon seperti yang diceritakan Jane. Sayangnya, Nico tidak mengetahui kediaman Jane, sehingga dirinya tidak bisa mengajak Jane untuk ikut bersamanya.
Dengan segera Nico mengenakan pakaian kasual, membawa serta ponsel, dan sebuah tas kecil yang berisi dompet beserta kunci. Nico bergegas membawa the devil car untuk melaju bersamanya. Nico mencoba mengemudi di jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Namun ia ingat, kalau nanti dia berbuat seperti itu, akan banyak memakan korban. Karena jalanan kota cenderung ramai lancar, banyak traffic light, dan kebanyakan pengemudi menggunakan mode santai. Kalau Nico mengemudi dengan kecepatan tinggi, ditakutkan pengguna jalan lain yang tidak siap dan terkejut melihat mobil berkecepatan tinggi melintas. Maka, Nico memutuskan untuk tidak melajukan mobilnya di jalanan kota.
‘Sangat berisiko kalau aku bermain-main ri jalanan kota ... aku harus lebih bersabar, dsri pada status hukumanku bertambah! Hah! Memang sudah takdirku harus begini!’ Nico menggerutu dalam hatinya. Status tahanan membuat Nico berpikir keras untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Ia pun kembali fokus untuk mencari keberadaan Hansen.
Seperti yang dikatakan Jane. Nico telah sampai di bukit Cinamon. Pemandangan perbukitan yang indah, membuat siapa saja akan betah memandangnya. Jalanan di sana sangat sepi, bahkan sedari tadi Nico berhenti di tepi jalan, belum melihat ada kendaraan melintas.
“Perbukitan, berkelok-kelok ... baiklah! Akan aku coba kecepatan mobil ini!” Nico berbicara sendiri dan langsung kembali mengemudikan mobilnya.
Semakin melaju, semakin dalam Nico menginjak gas mobilnya. Ternyata benar kecepatan mobil itu sungguh di luar rata-rata. Ketika berbelok pun, Nico menggunakan teknik drifting yang pernah dia pelajari dari temannya.
“Ternyata berguna juga! Menggunakan teknik drifting, dengan begitu aku tidak perlu mengurangi kecepatan mobilku ketika aku menghadapi tikungan tajam seperti tadi.” Nico menggerutu sambil tertawa lirih. Bagaimana tidak? Dahulu, secara diam-diam Nico sering menggunakan mobil milik ayah Nico untuk berlatih teknik drifting bersama salah satu teman Nico yang memang hobi balap liar. Sehingga Nico pernah mempelajari teknik itu, walau Nico belum pernah menjajal balapan itu.
“Ini sangat luar biasa! Astaga ... tuntutan peran menjadi Nick membuatku menemukan jati diri yang sebenarnya.” Nico tersenyum semringah dengan tetap fokus mengendarai mobilnya.
“Wuuuhuuuuu ... ini sangat luar biasa! Thomas memang bagi dewa penyelamatku!” Nico merasa kalau kehadiran Thomas Christian dalam kesulitannya, memberikan secercah harapan yang hampir sirna.
Semenjak berlatih di jalanan bukit Cinamon, Nico merasa percaya diri. Lantaran jalanan kota di pinggiran distrik tujuh itu tidak terlalu berliku seperti latihannya di jalanan bukit Cinamon.
Nico memarkirkan mobil biru itu di tepian jalan. Dari ketinggian Nico melihat mata hari yang hampir terbenam dan ketenangan kota Namos. Tatapannya mengedar bersama dengan meredupnya cahaya jingga di senja itu.
‘Aku tidak pernah menyangka bahwa takdirku akan serumit ini ... dituduh menjadi pembunuh seseorang yang sangat aku hormati ... aku yakin Tuhan sedang memberikan aku kesempatan untuk membersihkan nama baik keluargaku yang sudah tercoreng atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan ... aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengumpulkan bukti-bukti bahwa aku tidak bersalah! Misi pertama ini harus berhasil!’ Nico menghirup napas panjang serta bertekad kuat untuk menyelesaikan misi pertamanya.
***
Misi pertama sudah berjalan empat hari. Malam yang ditunggu sudah tiba. Nico bersiap untuk adu balap mobil melawan Marco sang raja jalanan. Tentunya Nico sudah mempersiapkan mobil dengan sebaik mungkin. Semua mesin dan modifikasi speed pendukung sudah siap. Untuk menambah performa speed, Nico menambahkan NOS (Nitrous Oxide System), agar mobil itu bisa melaju dengan tenaga tambahan. Sehari sebelum pertandingan, Nico yang memang memiliki passion dalam memodifikasi mesin mobil, dengan terampil membuat mobil pinjaman dari Thomas memiliki performa baru. Semua didukung pula oleh tipe mobil yang memang dijuluki sebagai the devil car dan dengan mudah Nico memperoleh tabung NOS di salah satu toko yang menjual perlengkapan otomotif di kota Namos. Sehingga malam ini dia sudah siap bertanding dengan Marco.
Sebelum berangkat ke distrik tujuh. Nico mengunjungi klub untuk mengajak Jane menyemangati pertandingan itu. Namun ternyata Jane sudah lebih dahulu berangkat ke sana. Dia sangat mendukung Nico yang sudah berbaik hati untuk membantunya.
***
Di malam itu, Nico melawan sunyi membelah jalanan menuju distrik tujuh di kota Namos. Nico melakukan itu semua semata untuk membela Jane dan mencari informasi yang sebelumnya ia dengar di sana. Nico mencurigai sesuatu kalau salah satu dari mereka mengetahui keberadaan Hansen. Orang yang diduga membawa kabur dana salah satu perusahaan kontraktor yang sedang bekerja sama dengan pemerintah Vromme.
Hanya butuh beberapa menit saja, Nico sampai di lokasi balapan itu. Nico melihat banyak penonton yang antusias melihat mobil biru itu terparkir di sana. Saat Nico baru turun dari mobilnya, Jane menyapa Nico dengan senyuman hangat. Jane berharap Nico akan memenangkan pertandingan itu.
Marco dan semua anak buahnya memicingkan mata melihat mobil yang Nico bawa. Tidak ada syarat khusus bagaimana mesin mobil mereka atau tipe mobil apa. Satu hal yang pasti, siapa yang cepat dan menyelesaikan dengan baik sampai ke finish, Dialah pemenangnya. Apakah Nico akan memenangkan pertandingan? Atau justru kalah dan harus membayar sejumlah uang pada Marco?