12. Pria Misterius Di Antara Rintik Hujan

1695 Words
Nico tidak peduli tim Marco dan pendukungnya memicingkan mata terhadapnya. Bagi Nico, sosok Nick yang sedang ia perankan cukup membuatnya cuek walau dalam tekanan. Seperti malam ini semuanya dipertaruhkan. Mulai dari keselamatan Nico, keamanan mobil yang dipinjami oleh Thomas, hingga hadiah pertandingan balap liar itu. 5000 US Dollar menanti di depan mata. Antara menang atau kalah, antara bisa melunasi hutang untuk membebaskan Jane dari jerat mereka karena hutang Kakaknya, atau kalah bertanding dan akan mengganti uang dengan jumlah yang tidak sedikit itu? Jika dirinya kalah Nico berniat meminjam uang pada Thomas, lalu setelah Nico bebas dari tuntutan atas tuduhan kasus itu, dirinya akan mencari pekerjaan dan melunasi hutangnya. Nico juga harus berpacu dengan waktu untuk menjalankan misi serta mengumpulkan barang bukti untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Karena persidangan untuknya akan segera diadakan tidak lama lagi. Sedangkan ia sudah empat hari berada di kota Namos. Namun belum ada informasi yang benar-benar menjurus pada sosok Hansen yang menjadi buronan. Hari semakin malam, keramaian di sana sungguh membuat jantung Nico berdebar dan gugup. Pasalnya baru kali ini Nico akan menjajal kemampuannya bertanding dalam balap mobil jalanan. Berbekal pengalaman yang secuil dan bermodal nekat, membuat Nico berusaha untuk yakin dan percaya diri. Terlebih lagi, Jane memberikannya dukungan karena Ia merasa Nico adalah Dewa penolongnya. Seorang pria yang baru dikenal oleh Jane, tetapi memperlakukan Jane dengan hormat , serta mau membelanya di hadapan orang-orang brutal seperti Marco. Situasi semakin memanas ketika mobil biru milik Nico bersanding dengan mobil hitam milik Marco. Hal itu berarti mereka siap memperebutkan hadiah yang sudah disepakati. 5000 US Dollar. Pilihannya hanya ada dua. Menang dan bebas atau kalah dan membayar uang taruhan. Nico mulai memasuki mobilnya. Begitu juga dengan Marco. Setelah tim pengintai memastikan semua jalur balapan aman dari kendaraan lain. Mereka mulai menyalakan mesin mobil masing-masing. Suara gas yang saling beradu, membuat suasana semakin memanas. Jendela mobil yang belum ditutup, membuat mereka saling melirik untuk mengintimidasi. Namun Nico tetap tersenyum yakin kalau dia mampu. Berbeda dengan Marco yang sempat menatap tajam sambil mengancam, dengan memperagakan gaya yang seolah akan menghabisi Nico dengan menggesekkan tangan ke lehernya. Nico yang melihat hanya bisa mencoba menenangkan pikiran dan menghirup napas panjang yang membuatnya relaks. Ketika seorang wanita bertubuh sensual, dengan pakaian serba minim. Ditambah cara berjalannya yang menggoda, melangkah ke depan mobil mereka dengan membawa sebuah bendera. Pakaian yang berwarna serba merah dengan warna lipstik senada membuat wanita itu bak ratu malam. Dia terus berjalan sampai berada di garis start, tak butuh waktu lama. Aba-aba mulai terdengar. Nico dan Marco sama-sama sudah menginjak gas dan kopling mobil mereka. Saat aba-aba berikutnya terdengar, mereka menutup jendela mobil dan pandangan lurus ke depan. Lalu wanita sexy itu mulai mengibarkan bendera, maka ... Wuzzz ... balapan sudah dimulai. Angin yang berembus dari dua mobil balap itu mengibaskan rambut wanita sexy yang sedari tadi berdiri di antara dua mobil yang baru saja memulai pertandingan. Ketika aba-aba dimulai, Nico segera melepas kopling mobil yang sedari tadi ia injak. Dengan cepat Nico mengoper gigi dan melesat bagai kilat. Tak mau kalah dari Nico, Marco pun mengontrol kemudinya dengan sangat terampil. Balapan malam itu begitu sengit. Kecepatan laju mobil mereka mampu membelah desir angin yang menyapu jalanan. Ada yang berjaga di setiap pos sudah mereka atur. Nico melihat tikungan pertama yang harus dilalui. Mobil Nico dan Marco berbelok bersama dengan sangat apik. Menggunakan teknik drifting sehingga bisa dengan sempurna mereka berbelok dalam kecepatan tinggi. Jika adegan itu dibuat slow motion, maka akan sangat mendebarkan. Beberapa kali Nico berteriak untuk meluapkan keseruannya. Adrenalin terpacu dengan begitu kuat. Malam yang panas bagi dua pria yang sedang bertanding memperebutkan hadiah yang cukup besar. Beberapa kali Nico melewati tikungan demi tikungan, semua aman dan lancar. Namun ketika mereka sampai pada tikungan terakhir sebelum trek lurus menuju garis finish, mobil Marco menyerempet mobil yang dikendarai Nico. Hal itu membuat Nico terkejut dan mendadak panik saat dirinya bersiap berbelok. Marco berhasil menggeser mobil Nico dan kini mobil Marco berada paling depan dalam trek lurus. Nico yang sempat kehilangan kendali, memulai kembali pengejaran terhadap mobil hitam milik Marco. Dalam trek lurus itu, Marco menyalakan NOS miliknya. Sehingga melesat dengan begitu cepat. Tak mau kalah, Nico pun menyalakan NOS yang sudah ia pasang untuk memberikan tenaga ekstra pada tenaga mobil yang ia kendarai. “Baiklah, Marco akan aku tunjukkan siapa Nicolaas Hans ... upss Nick si bad boy.” Nico menekan tombol NOS. Mobil mereka melaju sangat cepat bagai kilatan cahaya. Mereka pun membuka jendela mobil masing-masing untuk mengintimidasi satu sama lain. Bahkan kala itu, mereka saling menyerempet. Percikan api yang dihasilkan dari gesekan dua mobil itu mengenai kap mobil Marco. Walhasil mesin mobil yang panas membuat percikan api itu menyambar mesin mobil Marco. Menyadari hal itu, Nico membanting setir dan menghindar dari mobil Marco. Nico berhasil melesat melewati garis finish terlebih dahulu. Sedangkan mobil Marco menepi lalu dia keluar dengan segera dan mesin mobil itu meledak. Ledakan itu seakan menjadi tanda perayaan bahwa Nico memenangkan pertandingan malam itu. Niat Marco yang ingin mencelakai Nico, justru malah mencelakai dan merugikan dirinya sendiri, setelah ia menyadari bahwa mobil kesayangannya kini telah terbakar hangus. Tak hanya sampai di situ saja, dengan kekalahan Marco, artinya dia harus membayarkan sejumlah uang yang telah disepakati. Artinya, Nico berhasil untuk menolong Jane atas hutang kakaknya pada Marco. Tak butuh waktu lama, Nico menghentikan dan keluar dari mobilnya. Lalu berjalan ke arah Marco beserta timnya. Pria berambut gondrong itu beberapa kali teriak dan memegangi kepalanya. Marco tidak percaya telah ditumbangkan oleh Nico yang kini berjalan ke arahnya. “Well! Semua urusan kita selesai! Jangan lagi ganggu Jane! Kalau memang kamu punya urusan dengan Kakaknya Jane, urus saja pada yang bersangkutan! Bye!” Nico berlagak senggak dan berjalan penuh percaya diri dengan menggandeng Jane. Marco dan timnya tidak bisa berbuat banyak. Jika mereka menyerang, sudah pasti Nico akan melaporkan mereka pada pihak berwajib. Jadi, yang bisa mereka lakukan adalah berlapang d**a menerima kekalahan secara sportif. *** Nico mengajak Jane untuk berjalan-jalan setelah melalui balapan menegangkan yang membuat mobil biru itu tergores di beberapa sisinya. Namun semua terasa ringan dalam pikiran Nico, melihat Jane tersenyum lepas. Wanita cantik itu sangat kagum pada keberanian Nico yang menantang Marco, tanpa mengetahui siapa Marco yang sebenarnya. Kemenangan Nico adalah suatu prestasi yang membanggakan bagi Nico dan juga Jane. Karena hal itu berarti membuat Jane bisa terlepas bebas dari jerat Marco. Setelah mereka berkeliling kota Namos. Tiba saatnya Nico harus mengantar Jane pulang ke rumahnya. Jane dan Kakaknya tinggal di sebuah rumah susun yang terletak beberapa blok dari tempat tinggal yang Nico sewa. Nico mengantar Jane sampai di depan rumah susun itu. “Apa kau tinggal di sini?” Nico menatap rumah susun yang tinggi menjulang itu sambil melajukan mobilnya pelan. “Iya, Nick! Aku dan Kakakku tinggal di sini di lantai tujuh, nomor lima belas B.” Jane tersenyum hangat. “Apa aku perlu mengantarmu? Memastikanmu sampai dengan selamat.” Nico menawarkan bantuan. “Tidak usah, aku tidak ingin merepotkanmu! Terima kasih sudah membantu kami, Nick. Aku beruntung bertemu dengan orang sebaik kamu, walau aku pikir awalnya Kau hanya seorang playboy yang mengumbar pesona. Tapi ternyata, di balik itu semua, Kau berhati mulia.” Jane mengulas senyuman manis. “Jane! Kita dipertemukan oleh takdir ... aku pun tidak tahu menahu tentang kota ini, karena sudah lama sekali tidak mengunjungi kota ini ... beruntung bertemu denganmu! Jadi ... aku merasa memiliki teman.” Nico menebar senyuman penuh semangat. ‘Nick? Aku tahu ini memang salah ... aku berharap kau memiliki perasaan lebih ... tapi ... jika kau menganggapku hanya teman ... aku tidak apa-apa,' ujar Jane dalam hatinya. Mata yang mulai memanas untuk membendung air matanya, membuat Jane segera berpamitan. “Nick, aku pulang ... terima kasih, ingat selalu pertemanan kita!” Jane keluar dari mobilnya di antara gerimis yang mulai melanda. Nico hanya bisa membalas senyuman Jane. Tanpa mengetahui perasaan lebih yang ada dalam hati Jane. Lantaran tujuan utama Nico adalah berpacu dengan waktu untuk menjalankan misi berbahaya demi memperoleh bukti. Tidak lama berselang, Nico kembali melajukan mobil yang ia kendarai secara perlahan karena gerimis yang mulai rapat. Setelah melaju sekitar dua gedung dari rumah susun yang ditempati oleh Jane, Nico melihat ada seseorang yang sedang berdiri di balik kotak surat yang berada di depan sebuah rumah. Pria misterius itu membelakangi jalan. Dia memakai hoody untuk menutupi wajahnya. Nico masih melajukan mobilnya perlahan. Saking penasarannya, Nico memarkirkan mobilnya di seberang jalan yang tidak jauh dari tempat berdirinya orang misterius itu. Di antara rinai hujan yang mulai menapaki Bumi, Nico mematikan mesin mobilnya dan berusaha bersembunyi di antara rintik hujan yang kian beradu dengan deru aspal jalanan di kota Namos. Dari gerak-gerik orang tersebut terlihat sangat mencurigakan. Terlebih ketika sang Pria menutup wajahnya dengan hoody. Jika dilihat dari belakang, postur tubuh orang itu mirip dengan ciri-ciri postur tubuh Hansen. Di sana segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jadi Nico masih mengamati gerakan orang tersebut. Selang beberapa waktu, datanglah dua orang yang menunggang taksi turun dan menemuinya. Tidak butuh waktu lama, dua orang yang turun dari taksi seperti memberikan sesuatu pada pria misterius itu. Lalu pria misterius itu langsung memasukkannya ke dalam saku hoody yang dikenakan pria misterius itu. Nico berusaha melihat tipe mobil taksi yang disewa dua orang yang tadi datang menghampiri si pria misterius, warna, serta pelat nomor kendaraan yang tertera. Namun sayang beribu sayang, hujan yang turun membuat Nico tidak bisa melihat dengan jelas nomor kendaraan itu. Setelah dua orang itu memberikan sesuatu pada pria yang mengenakan hoody, mereka pergi dan taksi melesat dengan sangat cepat. Pria misterius yang memakai hoody seketika menghilang di antara rintik hujan. “Ap—apa? Hilang? Astaga! Lalu siapa dia? Ada transaksi apa di antara mereka?” banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak Nico. Ia hanya bisa meremas kepalanya karena menyesal telah kehilangan jejak. “Pria itu bagai bayangan, menghilang begitu cepat? Aku yakin dia ada hubungannya dengan Hansen, atau Gangster, atau ... justru dia adalah Hansen yang selama ini aku cari?” Nico termenung memikirkan cara yang tepat untuk menemukan dan menangkap Hansen. Nico terus menyelidiki pria misterius yang hilang di antara rintik hujan malam itu. apakah pria misterius itu benar-benar orang yang dicari selama ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD