13. Pengintaian

2142 Words
Di penghujung malam, Nico masih memarkirkan mobilnya di tepi jalan itu. Ia masih mengintai pria misterius yang mengenakan hoody berwarna hitam yang gerak-geriknya sangat mencurigakan. Nico memiliki keyakinan kalau sosok itu adalah Hansen. Sehingga ia memantau gerak-gerik pria misterius ber-hoody itu agar tidak kehilangan jejak. Malam yang kian larut sebentar lagi akan tergantikan oleh pagi. Namun penampakan sosok misterius itu tidak lagi muncul di sana. Akhirnya Nico memutuskan untuk kembali ke rumah sewaannya. Badan yang terasa lelah kembali segar setelah di guyur air hangat di bawah shower. Tubuh proporsional nan bidang itu kini kembali relaks. Nico adalah manusia biasa yang membutuhkan waktu untuk beristirahat sebelum dirinya kembali beraktivitas bersama Tuan Niel menjadi petugas kebersihan. Pagi mulai menyingsing. Deburan ombak seakan membangunkan Nico yang masih terlelap dalam mimpinya. Pagi ini langit kurang bersahabat, karena tertutup awan mendung, dengan angin yang terasa dingin berembus menusuk ke relung jiwa, membuat suasana terasa malas untuk beranjak dari pulau kapuk. Namun apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya, tetap harus ia kerjakan. “Tidak ada kata mundur! Aku harus menemukan Hansen!” Tekad yang kuat sudah menyatu dalam diri Nico. Ia sudah bersiap berangkat ke kantor bersama Tuan Niel. Seperti biasanya, hari ini Nico dan tim kebersihan akan berkeliling sesuai dengan jadwal tempat yang akan dibersihkan. Setelah Nico melihat jadwalnya, sangat kebetulan sekali tim mereka akan membersihkan semua jalan-jalan di distrik lima. Hal itu berarti sangat bertepatan dengan lokasi kemunculan pria misterius malam tadi. ‘Jadwal kebersihan hari ini amat sangat kebetulan ... distrik lima di jalan Amber, tempat tinggal Jane dan tempat yang bertepatan dengan kemunculan pria misterius itu,’ ujar Nico dalam hatinya. Ia sangat berharap sosok pria misterius itu muncul kembali saat siang hari, agar Nico dapat dengan leluasa mengamati ciri-ciri serta gerak-gerik pria yang di duga sebagai Hansen. Walau rintik gerimis mulai turun. *** Ingatan Nico begitu tajam. Bahkan Nico dapat mengingat semua yang ia lihat secara detail tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Pagi ini Nico kembali mengantar tim kebersihan yang dijadwalkan untuk membersihkan jalanan distrik lima. Setelah Nico memarkirkan truk yang dia kendarai, dengan sigap Nico mengambil sapu untuk ikut membantu sekaligus mengawasi setiap pergerakan di sana. Penyamaran Nico sangat halus. Bahkan wajahnya sama sekali tidak terlihat. Jika ada seseorang yang mengenalnya pun, dijamin tidak akan menyadari bahwa dia adalah Nico. Seperti pagi ini. Nico sedang menyapu sampah plastik yang tercecer di depan jalan Amber nomor tiga, tempat tinggal Jane yang merupakan rumah susun. Dengan santai, Nico menyapu dan membantu mengumpulkan sampah-sampah itu untuk dimasukkan ke kantong sampah berukuran besar. Tidak sengaja, Jane berjalan keluar untuk pergi ke minimarket yang tidak jauh dari sana. Nico yang melihat Jane memasuki minimarket, akhirnya berpindah tempat untuk menyapu di sekitar minimarket itu. Ketika Jane keluar dari minimarket dengan tas belanjaan yang terisi penuh dan berjalan, Nico sengaja menabraknya, walau berusaha tidak menampakkan kesengajaan. Hal itu membuat tas belanja Jane memuntahkan semua isinya. Barang belanjaan Jane berserakan. “Oh ... maaf! Aku tidak sengaja, Nona!” Nico meminta maaf dan membantunya memungut barang belanjaan itu. “Tidak apa-apa, Pak! Mungkin saya yang ceroboh karena sedang terburu-buru!” Jane menjawab dengan ramah dan rendah hati. “Apa ada yang harus aku ganti? Ma—maaf sekali lagi!” Nico berakting seperti apa yang dia inginkan, agar orang lain tidak mencurigainya. “Tidak perlu, Pak! Semua aman dan baik! Sekali lagi terima kasih sudah membantu mengambilkan semua barang belanjaan yang berserakan ini.” Jane menundukkan kepala dan langsung melangkah menuju rumah susun tempat tinggalnya. “Hati-hati!” Nico melambaikan tangan sembari berteriak. ‘Sempurna! Penyamaran ini sangat sempurna, bahkan Jane yang beberapa kali berada di dekatku, tidak menyadari kalau aku adalah Nick ... hmmm ... teman kencannya! Astaga! Semua ini membuatku hampir tidak waras!’ ujar Nico dalam hatinya. Ia terkekeh dan melanjutkan untuk menyapu jalanan. Sesuatu yang tidak terduga muncul di sana. Sosok pria yang diduga Hansen melintas melewati Nico. Kali ini, pria itu melepas hoody yang ia kenakan. karena pria misterius itu memasuki minimarket. ‘Astaga! Dia ... mirip sekali dengan Hansen? Hoody yang dikenakan sama persis dengan yang dikenakan pria misterius itu semalam, bahkan celana dan sepatu yang dikenakan ... sama persis walau aku melihatnya dari seberang jalan,' ujar Nico dalam hatinya. Nico mengamati pria misterius yang mirip dengan Hansen. Cara berjalannya sangat ia perhatikan. Karena salah satu kakinya sedikit pincang. Sama persis seperti yang dikatakan oleh Thomas. Hanya saja, Nico merasa bahwa pria itu memiliki sedikit perbedaan dengan foto yang diberikan oleh Thomas. Tidak mau kehilangan jejak, Nico berusaha mengambil ponselnya untuk merekam pria itu. Ponselnya diletakkan bersandar pada tempat sampah. Posisinya berada di bawah, dengan kamera yang diarahkan ke pintu minimarket itu. Dengan tenang Nico tetap menyapu. Sesekali ia melirik ke arah pintu minimarket. Pria itu keluar dari sana. Kemudian mengenakan hoody berwarna hitam itu lagi. Dia berjalan ke arah jalan kecil yang berada di antara minimarket dengan gedung di sebelahnya. Nico terus mengamatinya hingga pria misterius itu menghilang di antara kabut yang menyeruak di ujung jalan, sehingga pria itu hilang dari pandangan Nico. Suasana basah setelah pagi ini diguyur hujan, membuat suasana menjadi lebih misterius lagi. Ketika Nico kehilangan jejak pria misterius itu. *** Sore ini, setelah Nico selesai dengan tugasnya sebagai petugas kebersihan, lantas ia pun membersihkan badannya agar terasa semakin relaks. Setelah selesai dengan rutinitasnya, Nico duduk di sebuah ruangan dengan jendela yang langsung menghadap ke pantai, memperlihatkan keindahan pantai dengan Sunset eksotis yang menyejukkan jiwa. Aroma kopi menguar memenuhi segala sudut ruangan. Tatapan jeli seorang Nicolaas Hans yang sedang mengamati video dan beberapa foto Hansen asli dan yang sudah diedit oleh Nico. ‘Dia orang yang sama! Hanya saja kelopak mata antara Hansen yang dulu dan yang sekarang berbeda ... yang dahulu bermata lebar dan yang sekarang bermata sipit ... apa benar dia melakukan operasi plastik? Siapa sebenarnya Hansen ini?’ Nico masih penasaran dengan sosok Hansen. Thomas memberikan misi untuk mencari buronan bernama Hansen yang telah menggelapkan uang salah satu perusahaan kontraktor yang sedang bekerja sama dengan pemerintah. Namun setelah Nico melakukan penelusuran, Hansen yang menjadi buronan dengan penampilan seperti pria misterius yang diduga adalah Hansen pada kenyataannya tidak seperti mafia. Justru terlihat seperti preman biasa pada umumnya. Hingga Nico beranggapan bahwa Hansen pun menutupi jati dirinya demi penyamaran yang tidak akan diketahui pihak berwajib. Namun, bayangan Hansen tidak akan lepas dari pengintaian Nico. ‘Aku harus memulai rencana! Akan aku tanyakan pada Jane tentang klinik kecantikan yang melayani operasi plastik atau tanam benang di kota Namos ini.’ Nico menyeringai dengan kilatan mata elang yang sangat awas. *** Malam ini Nico kembali memainkan perannya menjadi seorang Nick. Dia datang ke klub tempat di mana Jane bekerja. Kali ini Nico semakin percaya diri setelah berhasil mengalahkan Marco sang Raja jalanan. Bukan adu jotos, melainkan balapan mobil yang sangat menguji adrenalinnya. Walau berakhir dengan lecet dan penyok di beberapa bagian bodi mobil itu. Namun kemenangan membuat Nico merasa lega. Nico melenggang dengan santai. Malam ini Nico mengenakan pakaian yang lebih kasual. Setelan jas yang dipadukan dengan sepatu sneakers menambah kesan bad boy yang ia perankan. Tak perlu menunggu lama, beberapa kali dirinya datang ke sana. Rupa-rupa penjaga klub malam itu sudah hafal dengan Nick si bad boy. Nico memasuki ruangan gemerlap lampu sorot diiringi irama musik yang membuat jantung seakan ikut berdegup. Pemandangan sensual, liar, dan nakal menghiasi ruangan itu. Nico duduk di bar dan memesan soda seperti hari-hari sebelumnya. Dia menunggu Jane terlihat di sana. Karena menurut Bar tender yang berjaga, Jane sedang mengantarkan beberapa gelas minuman kepada para pengunjung. Tidak kama berselang, Jane berjalan dari kejauhan di antara padatnya klub itu. “Hai, Nick!” sapa Jane sembari mengecup pipi Nico. “Jane? Kau ... menciumku?” Nico terkejut dengan tingkah Jane malam ini. “Aku pikir, Kau tidak akan datang ke sini, Nick!” Jane berdiri tepat di hadapan Nico dan tangan kirinya memegangi bahu Nico. “Jane? Kau tampak berbeda?” Nico merasa kali ini Jane sangat agresif. “Aku seperti ini karenamu, Nick!” Jane kembali berbisik di samping telinga Nico. Aroma alkohol tercium dari mulut Jane. “Astaga! Kau mabuk rupanya!” Nico menggelengkan kepalanya. “Bagaimana aku bisa berbincang denganmu, Jane? Keadaanmu sedang mabuk!” Nico merasa bingung dibuatnya. Jane menarik kerah jas Nico hingga mengikis jarak antara mereka. “Bawa aku ke ruang VIP! Aku akan menemanimu malam ini!” Jane menarik lengan Nico untuk menemui kasir dan meminta kunci salah satu ruangan VIP. ‘Astaga! Apa yang dilakukan Jane terhadapku? Aku benar-benar bingung dibuatnya! Atau dia akan memperkosaku? Astaga itu tidak mungkin, kan?’ Nico mempertanyakan apa yang terjadi dengan Jane. Setelah mereka sampai di salah satu ruangan VIP itu, Jane langsung menutup pintu. Nico masih bingung dengan apa yang akan Jane lakukan. Ternyata Jane duduk di Sofa dengan pose sensual. Tubuh indahnya yang dibalut pakaian serba minim, menampakkan lekuk yang sangat menarik perhatian Nico. “Jane? Apa yang kau lakukan?” Nico masih berdiri terpaku di hadapan Jane. Tak sabar dengan sikap Nico yang acuh, Jane mendekat padanya. Ia memeluk Nico dan mengarahkan kedua tangan Nico untuk menjamahnya. Jane yang sedang mabuk menuntun tangan kekar Nico menyentuh setiap jengkal tubuh halus Jane. Namun Nico menolaknya. Ia melepas pelukan Jane dan kedua tangan Nico kini memegangi lengan Jane. “Jane? Stop! What’s wrong with you? Why? Jawab Jane!” Nico justru tidak mau menjamah tubuh Jane. Nico benar-benar menghormati Jane dan menganggapnya sebagai teman yang harus dilindungi. “Nick! Maafakan aku!” Jane menitikkan air matanya. “Ada apa dengan tingkahmu hari ini? Kamu bukan jalang! Janganlah bersikap seperti jalang!” Nico berusaha menegaskan hal itu pada Jane. “Maafkan aku, Nick! A—aku hanya ingin membalas budi padamu karena sudah menolongku kemarin. Hanya tubuh ini yang aku miliki, Nick!” Jane tidak dapat membendung air matanya lagi. “Astaga! Jane! Hei ... dengarkan aku baik-baik! Aku tulus berteman denganmu! Aku tulus menolongmu kemarin! Aku tidak suka jika ada pria yang berani berbuat kasar pada wanita. Jane, aku mohon! Ini yang terakhir kamu bersikap seperti ini! Okay?” Nico masih menatap dan berusaha memberikan pengertian pada Jane. Air mata Jane mengalir bersama dengan suara tangis yang tertahan. Ia merintih menyesali tingkahnya dan merasa sangat malu pada Nick. Jane pun malu pada diri sendiri yang dengan jelas bertingkah tidak baik. Nico yang tidak tega melihat Jane menangis, akhirnya mendekap Jane agar dia merasa berharga. “Jane! Aku memiliki adik seusia denganmu! Aku tidak pernah berpikir sedikit pun untuk menyakiti bahkan melecehkan perempuan! Memang tampangku seperti ini, tapi jangan salah! Aku bukan p****************g! Yang meminta imbalan ketika menolong seorang wanita! Aku hanya ingin berbincang denganmu, seperti biasanya, Jane!” Nico memberikan pengertian pada Jane. “Maafkan aku, Nick!” Sekali lagi Jane meminta maaf pada Nico. “Baikkah! Ayo tersenyum, Jane! Kita duduk di sana!” Nico memberikan senyuman yang mampu membuat Jane tenang dan tersenyum kembali. Mereka duduk bersama di Sofa yang ada dalam ruangan itu. Perbincangan ringan mereka disisipi pertanyaan yang memang sudah Nico siapkan, demi penyelidikan selanjutnya. “Jane! Apa kamu mengetahui klinik kecantikan yang melayani jasa operasi plastik di kota ini?” Nico sedikit mengernyitkan dahi dan menggaruk kepalanya ketika menanyakan hal ini. “Eh?” Ekspresi Jane yang setengah mabuk itu, langsung melongo. “Kamu? Mau operasi plastik?” Jane masih menduga. “Eh ... bukan aku, Jane! Tapi temanku, dia ingin mengubah bentuk hidungnya!” Nico berbisik pada Jane. “Astaga! Aku pikir ketampananmu ini hasil dari operasi plastik!” Jane terkekeh memikirkan hal itu. “Haiiisshhh! Bukan! Masa iya, ketampanan hakiki seperti ini hasil oplas?” Nico meninggikan kerah bajunya. “Aku percaya, Nick! Setahu aku ada tiga klinik kecantikan yang menawarkan jasa operasi plastik, mau tahu alamatnya? Baiklah akan aku berikan!” Jane tersenyum dan mengambil memo serta bolpoin di dalam sakunya. “Eh ... iya.” Nico malu-malu menanyakannya. Namun demi berhasilnya misi, ia rela seperti ini. Jane menulis tiga alamat klinik kecantikan tersebut. 1. Klinik Bellena ( distrik lima jalan Moon nomor 10), 2. Klinik Bautycall (distrik tujuh Jalan Maza nomor 7), 3. Klinik Aselly Beauty ( distrik satu jalan Lion nomor 6). “Nah ini alamatnya.” Jane memberikan secarik kertas berisi alamat klinik kecantikan yang menawarkan jasa operasi plastik. Jane tersenyum pada Nico yang juga tersenyum padanya. Perbincangan mereka yang hangat berlanjut hingga sangat larut. Kemudian Nico menunggu Jane sampai dia selesai bekerja. Nico kembali mengantar Jane, sekalian mengawasi wilayah itu. Tidak bisa dipungkiri, kalau Nico berharap agar pria misterius itu kembali muncul. Nico sengaja menepikan mobilnya di seberang jalan. Lalu dia mengintai pergerakan seseorang yang sudah diincarnya semenjak pertama Nico menduga bahwa pria yang misterius itu menyimpan rahasia atas organisasi Mafia Bonzoi. Malam yang kian larut membuat mata Nicolaas Hans mengantuk. Ia memutuskan untuk pulang ketika waktu menjelang pagi. Lalu ia memutuskan untuk mendatangi satu-persatu lokasi klinik kecantikan yang alamatnya sudah diberikan pada Nico. Bagaimana aksi Nicolaas Hans selanjutnya? Apakah pria misterius itu benar-benar Hansen atau hanya kebetulan mirip?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD