14. Masih Teka-teki

1820 Words
Sepulang menjalankan tugas terakhirnya sebagai pengganti sopir truk kebersihan, Nico membersihkan badannya dan bersantai di ruang tengah rumah sewaan itu. Pemandangan Sunset yang memanjakan mata dan menenteramkan jiwa membuat Nico dapat berpikir secara jernih. Jendela raksasa yang menyuguhkan pemandangan laut lepas membuat Nico semakin betah dan bisa berkonsentrasi untuk menjalankan misi ini. Secangkir kopi dengan sedikit gula menemani sore ini. Nico berdiri di balik jendela itu, sembari mengedarkan matanya ke arah pantai. Pikirannya berjalan demi menyusun strategi selanjutnya. Lalu ia melangkah ke arah kursi yang berada di sana. Berhadapan dengan meja berisi laptop, ponsel, dan secangkir kopi. Sesekali Nico menyeruput kopi buatannya, walau tatapan matanya masih terfokus pada layar monitor. Ia merasa ada kesamaan antara ciri-ciri Hansen dengan pria misterius itu. Nico memutuskan untuk mengunjungi salah satu klinik itu malam ini. Sedangkan dua yang lainnya akan dikunjungi besok siang. Ia menutup laptopnya dan bersiap mengunjungi klinik Bellena yang beralamat di distrik lima jalan Moon nomor 10. *** Dengan penampilan yang sangat kasual. Mengenakan kaos berwarna putih dengan jaket Bomber berbahan Denim berwarna cerah dengan aksen berwarna merah, menggunakan celana Denim ripped yang senada ditambah sepatu sneakers berwarna putih membuat Nico terlihat sangat modis. Nico melajukan mobilnya menuju distrik lima Jalan Moon nomor 10. Sesampainya di sana, Nico memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil biru itu dengan langkah yang penuh percaya diri. Nico berjalan memasuki klinik kecantikan Bellena. Ia disambut dengan hangat oleh karyawan klinik tersebut. Nico diarahkan ke Customer Service untuk berkonsultasi keluhan dan tujuannya. “Selamat malam dan selamat datang, Tuan!” sapa Customer Service dengan ramah. “Selamat malam, apa di sini melayani pijat dan Spa?” Nico bingung apa yang harus ia katakan, karena ini pertama kalinya Nico masuk ke dalam klinik kecantikan untuk perawatan tubuhnya sendiri. Namun, dirinya pernah mengantar Sarah ke tempat klinik kecantikan. Ia hanya mengetahui kalau Ibunya pernah pijat dan Spa di tempat itu. Sehingga ia dengan penuh keyakinan menanyakan hal yang sama pada seorang Customer Service di klinik Bellena. “Tentu saja kami melayani pijat dan Spa, silakan ikuti karyawan kami, dia akan mengantar Anda untuk mendapatkan pelayanan yang Anda inginkan.” Customer Service itu melayani dengan baik. “Terima kasih.” Nico tersenyum dan berjalan mengikuti salah satu karyawan perempuan yang akan mengantarnya ke salah satu kamar untuk mendapatkan pelayanan pijat dan Spa. *** Nico sudah mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya untuk menutupi area terlarangnya. Ia sedang tengkurap untuk menikmati pijatan demi pijatan yang membuat tubuhnya relaks. Sembari menyelam meminum air, mungkin itu yang sedang Nico lakukan. Di sela-sela menikmati pijatan, dirinya mengajak karyawati itu bercerita. “Anda sudah lama bekerja di sini?” Nico memulai perbincangan dengan karyawati itu. “Hampir dua tahun ini saya bekerja, kelihatannya ... Tuan baru pertama datang ke sini?” Karyawati itu dengan ramah menjawab dan mengumpan pertanyaan. “Benar sekali, aku pun diberitahu oleh salah satu teman yang pernah ke sini ... ternyata banyak juga pria yang datang ke sini?” Pertanyaan Nico mulai mengarah pada penyelidikannya secara halus. “Lumayan juga, Tuan! Mungkin sekitar tiga puluh persen pelanggan kami adalah pria, karena banyak pria juga ingin tampil maksimal dan terkadang butuh relaksasi setelah lelah dengan pekerjaan mereka,” jelas karyawati itu. “Apa di sini menerima tanam benang atau bahkan operasi plastik misal?” Nico mulai menyelidiki. “Kalau filler dan tanam benang, kami melayani tapi kalau operasi plastik untuk wajah dan kelopak mata, belum ada spesialis jadi kami belum bisa melayani,” jawab karyawati itu dengan ramah. “Terima kasih atas jawabannya.” Nico menyeringai. Mendengar jawaban karyawati tersebut berarti bukan klinik Bellena tempat Hansen mengubah kelopak matanya. Berbekal jawaban itu, Nico semakin yakin kalau esok dirinya akan mendapatkan jawaban. ‘Klinik Beautycall atau Aselly? Di antara dua tempat itu disinyalir adalah tempat Hansen mengubah bentuk kelopak matanya.’ Nico masih menyeringai sembari berbicara dalam hatinya. *** Setelah selesai menikmati pijat dan Spa, Nico kembali ke rumah sewaan itu dengan pikiran yang dipenuhi strategi untuk menuntaskan misi pertamanya. Selang beberapa waktu, ponselnya berdering. Seperti biasa Komandan Thomas meneleponnya. “Halo, selamat malam, Pak!” Nico menjawab dengan penuh semangat. “Selamat malam, Nick! Bagaimana perkembangan hari ini?” “Aku menemukan orang yang mirip dengan Hansen ... besok aku akan melakukan penelusuran kembali, Pak!” “Sudah hampir satu minggu, Kau harus segera menyelesaikan misimu! Ingat waktu terus berjalan! Begitu pula dengan persidanganmu! Temukan bukti untuk menguatkan alibimu! Selesaikan misi ini dengan baik, aku pasti akan membantumu!” “Siap, Pak!” Nico menjawab dengan penuh rasa percaya diri. Thomas menutup teleponnya. Lalu Nico kembali duduk di depan monitor untuk kembali mengamati foto Hansen. Malam yang semakin larut seakan mengajak Nico untuk kembali mengintai di daerah distrik lima di sekitar jalan Amber. Nico melajukan mobilnya perlahan. Ia menepikan mobilnya di bawah pohon rindang. Mata elangnya mengintai setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Hingga waktu menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Pria itu muncul dari kegelapan. Pria misterius yang berjalan sedikit agak pincang itu membuat Nico semakin yakin kalau dia adalah Hansen. Nico yang melihat pemandangan langka itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung memakai hoody miliknya. Lalu memastikan situasi dalam keadaan aman. Nico melangkah secara diam-diam untuk mengikuti ke mana pria itu pergi. Dinginnya malam tak membuat Nico mengurungkan niatnya. Justru, Nico sangat bersemangat menerjang badai demi menjalani misi dan menguak misteri Hansen dalam tugas pertamanya. Pria misterius itu terlihat santai melenggang menapaki trotoar jalanan. Ia memiliki tujuan, sehingga muncul ke permukaan. Nico menyelinap di antara bangunan gedung yang ada di kota itu. Setelah jauh melangkah, pria itu berbelok ke kiri menuju sebuah jalan kecil. Dengan sangat hati-hati Nico tetap mengikutinya. Sesekali Si pria misterius itu menoleh untuk memastikan semuanya aman. Nico pun harus waspada jangan sampai ketahuan. Jika Si pria misterius menoleh ke belakang, Nico bersembunyi di balik pohon yang ada di jalan itu atau tembok kokoh gedung yang berjajar di sana. Pengintaian Nico berakhir pada sebuah gedung tua. Pria itu berdiri di sana. Sedangkan Nico mengintai dari balik pohon. Dingin yang semakin menusuk tulang, tak mampu membuat tekad Nico runtuh. Ia selalu waspada. Pria misterius itu masih berdiri di depan gedung kosong di sana. Sesekali pria misterius melihat lengannya. Seakan melihat jam tangan yang melekat pada lengannya. Memang benar, waktu sudah hampir pagi. Ternyata pria misterius itu masuk ke dalam gedung kosong di sana. Nico yang penasaran, hendak memasuki gedung itu. Namun, belum sempat dirinya melangkah, muncullah mobil SUV dari arah berlawanan yang terparkir di depan gedung kosong itu. “Sial! Mana mungkin aku pergi ke sana? Dari pada aku ketahuan dan mereka mengubah rencana, lebih baik aku pergi dari sini!” Nico menggerutu dan mulai berjalan dengan cepat. Kembali menuju tempat keberadaan mobilnya. *** Malam yang sangat melelahkan membuat Nico bangun kesiangan. Untung saja, tugasnya sebagai petugas kebersihan sudah selesai. Siang ini dirinya berusaha mendatangi dua klinik kecantikan. Bermodalkan bualan dan obrolan, akhirnya Nico mendapatkan klinik yang memiliki tenaga spesialis Oculoplastic. Lebih dikenal dengan spesialis bedah wajah dan kelopak mata. Sehingga banyak pelanggan pria atau wanita yang mengubah kelopak matanya di klinik itu. Klinik Aselly Beauty yang beralamat di Distrik satu jalan Lion. Seperti siang itu, Nico yang sedang menjalani perawatan facial, berbincang dengan salah satu karyawati yang sedang melayaninya. “Apa yang spesial di klinik ini?” Pertanyaan Nico membuat karyawati itu tersenyum. “Yang paling populer di antara klinik yang lain adalah bedah kelopak mata. Bisa dibilang di sinilah jagonya. Ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri,” jawab karyawati itu. Mendengar jawaban karyawati yang sedang melayani untuk membersihkan wajah Nico, tak bisa dipungkiri kalau Nico terkejut dan melontarkan pertanyaan selanjutnya. “Oh ... pantas saja! Temanku terlihat lebih tampan setelah mengubah bentuk kelopak matanya di klinik ini.” Nico memancing rasa penasaran si Karyawati. “Oh ya? Siapa nama temanmu? Mungkin aku kenal?” Karyawati itu penasaran. “Namanya Hansen, apa kau kenal?” Nico berharap dengan sangat kalau pria itu benar-benar Hansen sang buronan seperti dugaannya. “Hansen? Kelihatannya aku pernah mengantar Tuan Hansen untuk menemui dokter kami, kalau tidak salah ... dia mengubah kelopak matanya menjadi lebih sipit seperti orang Asia ... alasannya karena ingin mirip seperti artis dalam drama-drama romantis itu ... jalannya sedikit pincang? Apa dia orang yang sama?” Karyawati itu masih ingat karena memang Hansen memiliki ciri khas yang berbeda dari yang lainnya. “Ah, benar sekali ... dia sangat ingin terlihat tampan bagai aktor-aktor tampan di dalam drama-drama itu!” Nico menjawab dengan sangat tenang walau hatinya sudah bergemuruh bergejolak tidak sabar untuk menangkapnya dan melaporkannya pada Thomas. ‘Dugaanku sangat tepat! Pria yang tidak sengaja aku lihat di sana adalah Hansen sang buronan! Baiklah akan aku mulai kembali pengintaianku!’ ujar Nico dalam hatinya yang tengah berbahagia. *** Nico sudah sampai di rumah sewaan itu. Lalu ia menghubungi Thomas, guna melaporkan informasi yang sudah diperolehnya. “Halo, Pak! Maaf jika saya mengganggu!” Nico berharap segera bisa diselesaikan. “Ada apa?” jawab Thomas dengan penasaran. “Saya sudah mengetahui keberadaan Hansen ... memang benar, dia berada di kota Namos. Tetapi saya belum mengetahui tempat tinggalnya. Hanya saya mengetahui di mana dia sering muncul.” Nico menyeringai karena bisa menemukan keberadaan Hansen. “Lanjutkan penelusuranmu! Ingat harus berhati-hati! Segera hubungi kami jika memang Hansen benar-benar terlihat di depan mata kepalamu!” perintah Thomas pada Nico. “Siap, Laksanakan!” Nico menutup sambungan teleponnya. *** Malam ini Nico bersiap untuk kembali mengintai Hansen. Ia penasaran dengan kegiatan Hansen yang selalu muncul dini hari di jalanan kota Namos. Namun di malam yang sama di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, seorang Pria misterius yang dipanggil Don, kembali bersuara. Di sebuah ruangan tertutup dengan jendela raksasa yang langsung menghadap ke luar, menampakkan hiruk pikuk kota Nerve. Lagi-lagi dia menghisap cerutu untuk menenangkan pikirannya. Bagi seorang Don, menikmati sebarang tembakau berkualitas adalah suatu seni yang membuatnya relaks, tenang, dan terlihat maskulin. Dirinya terpaku di balik jendela. Asap yang membumbung dengan aroma nikotin, seakan memenuhi sebagian ruangan karena pendingin ruangan sudah dimatikan. Dahinya mengernyit, memikirkan segala rencana busuk yang sudah di susun secara rapi demi menjadi penguasa Negeri Endora. Seseorang memasuki ruangan itu. Dia berdiri tidak jauh dari pintu, kemudian menyapa pria yang kerap di sapa Don oleh kelompoknya. “Selamat malam, Don!” ujar pria yang baru saja datang ke dalam ruangan itu. “Informasi apa yang kau dapatkan?” Don menanggapi sapaan anak buahnya. Namun tatapannya masih menjangkau keluar jendela untuk memperhatikan hiruk-pikuk kota. Sesekali ia meneguk kopi yang masih tersisa setengah cangkir, yang ia ambil dari meja yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. “Semua rencana sudah berjalan sembilan puluh persen, Don!” laporan seorang anak buah pria misterius itu membuat seorang Don tersenyum menyeringai, seakan merasa menang seperti yang sudah direncanakan. “Ha ha ha ... good job! Eksekusi malam ini! Jalankan semulus mungkin! Aku tidak suka kegagalan! Jebak mereka! Jadikan mereka aktor terbaik!” titah Don pada anak buahnya. “Siap, Don! Laksanakan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD