15. Pengintaian Di Gedung Kosong

1699 Words
Malam ini awan mendung menyelimuti hampir di seluruh kota Namos. Mengingat misinya yang hanya tinggal beberapa langkah lagi, Nico tetap melakukan pengintaian malam ini. Gerimis mulai turun sekitar pukul sebelas malam. Nico bersiap untuk beraksi malam ini. Melakukan pengintaian di tempat yang sama untuk mengikuti ke mana pun Hansen pergi, jika malam ini dia kembali menampakkan diri. Nico menggunakan mantel agar dinginnya hujan tidak bisa menembus tubuhnya. Mantel berbahan tebal dengan bahan di bagian dalam terbuat dari bulu domba, dan terdapat penutup kepala, membuat Nico terlindungi dari rintik hujan malam ini. Seperti biasa, Nico memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Dia sengaja datang lebih awal agar kendaraannya tidak mencurigakan bagi siapa pun yang melihat. Nico mengamati jalan Amber di Distrik lima itu. Punggungnya bersandar pada jok mobil yang ia naiki. Ponselnya sudah siap di dalam jaketnya. Namun sayang, Nico tidak dipersenjatai oleh Thomas, karena memang tugasnya hanya untuk mengintai keberadaan Hansen. Jika dia sudah melihatnya, Thomas memerintahkan Nico untuk segera menghubunginya. Dengan begitu Thomas bisa menghubungi kantor kepolisian terdekat untuk menangkap Hansen, sembari menunggu Thomas sampai ke lokasi penangkapan. Sesekali Nico melihat ke arah rumah susun tempat tinggal Jane. Sudah beberapa hari ini, Nico tidak mampir menemui Jane di klub malam itu. Nico berencana menemui Jane saat misi pertamanya sudah berhasil. Nico berencana mengajak Jane kencan dan mentraktirnya makan. Lantaran sudah sangat membantu Nico dalam menyelesaikan misi pertamanya. Namun pada kenyataannya, Nico masih menunggu kemunculan Hansen di antara rintik hujan malam ini. Selama dalam masa pengintaian, Nico pun sebetulnya dibantu oleh Alex dalam menyinkronisasikan beberapa foto lama Hansen yang didapatkan dari Thomas, dengan video terbaru yang didapat oleh Nico beberapa waktu lalu. Alex mengukur skala dalam video dengan skala foto lama Hansen. Terdapat kesamaan taksiran tinggi badan, berat badan, ciri fisik, dan wajah. Sehingga diskusi mereka merujuk pada satu benang merah yang menyimpulkan bahwa Hansen sudah melakukan perubahan pada bentuk kelopak matanya. Sehingga Nico kembali mengkaji kesimpulan itu. Setelah mantap, barulah Nico berusaha mencari informasi lebih lanjut. Sekarang, semua informasi sudah lengkap, Nico hanya tinggal menunggu kemunculan Hansen dan mengintainya sampai ke lokasi yang sebenarnya ia tuju dari semenjak kemarin. Malam yang kian larut, menunjukkan pukul satu malam. Hujan yang deras sebelumnya, kini mulai mereda, menyisakan gerimis yang kadang menyembur karena tertiup angin. Kabut tipis menghiasi jalanan di Distrik lima itu. Mata Nico masih terjaga. Tanpa mengenal lelah, dia menunggu kehadiran Hansen yang memang sudah dinantikannya. Sorot mata elang Nico tertuju pada suatu pemandangan yang sedari tadi ia tunggu. Seseorang yang sedari tadi ditunggu akhirnya menunjukkan keberadaannya. Kali ini Hansen menggunakan mantel kulit panjang yang menutupi kepala dan tubuhnya. Dengan sedikit pincang, ia kembali berjalan menyusuri trotoar jalanan. Kilatan lampu jalan yang terpantul pada genangan air pasca hujan membuat suasana semakin terasa magis dan misterius. Nico yakin bahwa Hansen bekerja untuk orang lain. Hanya saja, statusnya yang menjadi buronan, membuatnya hanya bisa keluar saat malam dini hari. Agar tidak disadari oleh orang lain. Didukung oleh kota Namos yang kecil dan tidak seramai kota-kota lainnya. Seperti malam kemarin, Nico berhasil membuntuti Hansen yang gerak-geriknya sangat mencurigakan. Ternyata benar, Hansen berjalan memasuki gang menuju sebuah gedung kosong. Nico curiga kalau Hansen akan bertransaksi barang haram dengan orang yang berada dalam mobil SUV kemarin. Sehingga malam ini Nico tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti ke mana Hansen pergi. *** Di antara rintik gerimis yang masih menyapu Distrik lima di kota Namos, Nico mengendap-endap mengikuti ke mana Hansen berjalan. Beberapa kali Hansen menoleh ke belakang untuk memastikan semuanya aman tanpa ada seorang pun yang mengetahui aktivitasnya malam itu. Sedangkan Nico sangat lihai dalam mengintai seseorang. Tanpa Hansen sadari Nico berjalan tidak begitu jauh darinya. Hal yang sangat Nico perhatikan adalah ketika dirinya melihat target berbelok ke sebuah jalan, maka dengan sangat teliti dan berhati-hati ia mengendap tanpa harus kehilangan jejak. Karena ditakutkan target mengetahui bahwa dirinya tengah diintai dan dibuntuti, lalu target berbalik menyerang Nico sesaat setelah melewati tikungan jalan itu. Untuk mengantisipasi permasalahan yang seperti itu, maka Nico mengendap-endap dengan posisi rendah atau berjongkok sembari bersembunyi di balik tembok bangunan terakhir yang terdapat di tikungan itu, untuk mengintai target. Karena biasnya mereka yang diintai hanya terfokus pada arah yang sejajar dengan tinggi badan si target. Tanpa peduli keadaan sekitarnya. Nico mengendap rendah setengah jongkok di balik tembok sebuah gedung di tikungan jalan. Ia mendapati bahwa Hansen masih berjalan tanpa ada jeda untuk berhenti. Ketika semua di rasa aman, Nico kembali berjalan menyusuri setiap jengkal trotoar yang basah oleh air hujan. Cukup jauh perjalanan yang ditempuh sampai ke gedung kosong itu. Lagi-lagi Hansen berhenti di sana. Kali ini Nico mengintai dari balik semak-semak yang tumbuh subur di halaman gedung kosong itu. Sedangkan, Hansen berada di salah satu sisi gedung, di dekat pintu masuk lobi utama. Namun Hansen masih berdiri di sana seperti menunggu sesuatu. Hal yang tidak pernah Nico duga sebelumnya, Hansen kembali berjalan menuju sisi lain gedung. Dia berjalan ke arah belakang gedung. Tanpa ragu, Nico membuntutinya kembali. Ternyata Hansen memasuki gedung kosong itu. Gedung yang sudah tidak dihuni cukup lama karena dahulu sempat runtuh di beberapa sisi bagian dalamnya karena bencana gempa. Perusahaan pemilik gedung pun gulung tikar, akhirnya gedung itu dijual dengan harga murah. Namun rumor keangkeran gedung membuat beberapa pembeli mengurungkan niat untuk membelinya. Sehingga gedung itu dibiarkan kosong tidak berpenghuni, sedangkan pemiliknya meninggalkan begitu saja ke luar negeri, setelah ada seseorang yang berani menyewanya, bukan membelinya. Rasa penasaran yang semakin membuncah membuat Nico melangkahkan kaki untuk mengikuti Hansen. Pintu yang dilewati Hansen kembali dikunci olehnya. Tidak kehabisan akal, Nico berjalan menyusuri gedung itu untuk melihat aktivitas Hansen di sana. Nico mencari celah agar bis masuk ke dalam gedung itu. Nico mengendap-endap berjalan menyisir segala sisi gedung. Lalu ia melihat sebuah jendela yang berlubang di lantai dua. Nico terus menyisir celah yang bisa dia lewati atau benda yang bisa digunakan untuk mendukungnya meraih jendela di lantai dua. Sedangkan gedung itu hanya sendiri di sana. Jarak antara area gedung kosong dengan gedung lain di sebelahnya lumayan jauh. Tidak mungkin Nico melompat dari gedung yang ada di sebelahnya. Hanya saja, gedung kosong di sebelah area gedung yang menjadi sasaran Nico sedang direnovasi. Nico melihat ada tangga di sana. Di antara rintik gerimis yang lumayan kerap, Nico berpacu dengan waktu untuk membawa tangga yang ada di lobi depan gedung sebelah. Bersusah payah Nico membawanya, melihat situasi dan kondisi, akhirnya Nico bisa memanjat ke lantai dua gedung kosong tempat keberadaan Hansen. Nico kembali mengendap-endap untuk masuk ke dalam gedung itu. Di sana sangat gelap tanpa pencahayaan sedikit pun dan hujan yang semakin deras menemani pengintaian Nico malam ini. Kilatan petir yang menyambar-nyambar menjadi satu-satunya cahaya penerangan ketika Nico memasuki ruangan yang ada di dalam gedung. ‘Lantai dua ini tampaknya sangat sepi, tidak ada aktivitas apa pun. Tapi aku harus tetap waspada!’ Nico bergumam dalam hatinya. Ia melihat tangga ke lantai tiga, melihat pula tangga ke lantai dasar. Nico memilih untuk melihat situasi di lantai dasar. Ia mulai menuruni tangga secara perlahan, agar suara jejak langkah Nico tidak didengar oleng siapa pun yang ada di dalam sana. Setelah sampai di lantai dasar, Nico langsung bergerak cepat menyusuri setiap sudut ruangan. Semua nihil tanpa ada aktivitas atau siapa pun di sana. Nico semakin penasaran dengan keberadaan Hansen di dalam gedung kosong itu. ‘Sial! Rupanya dia tidak ada di lantai satu!’ Nico bergegas kembali ke lantai dua dan berjalan menuju tangga ke lantai tiga. Namun sebelum dirinya menginjakkan kaki di tangga yang menuju ke lantai tiga, terdengar percakapan dua orang yang kurang begitu jelas. Mereka sedang berjalan menuruni anak tangga. Sehingga Nico bersembunyi di balik pilar di salah satu sudut lantai dua itu sembari mendengar percakapan mereka. ‘Apa semua paket sudah siap?’ ‘Tentu saja! Produksi semakin meningkat!’ ‘’Bagus! Apa mereka sudah datang?’ ‘Sepertinya sebentar lagi.’ Percakapan dua orang itu membuat Nico semakin curiga kalau di dalam gedung itu memang sedang terjadi transaksi. Hanya saja, Nico belum mengetahui transaksi apa? siapa yang terlibat? Tapi satu hal yang pasti, Hansen ada di sana. ‘Astaga! Apa ini? Aku harus naik ke lantai tiga!’ ujar Nico dalam hatinya. Setelah dua orang yang tidak dikenali itu turun ke lantai satu, Nico bergegas untuk memanjat ke lantai tiga. Sebelum dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri apa saja yang ada di sana, ia belum berani memberikan informasi apa pun pada Thomas. Nico mulai naik ke lantai tiga melalui tangga itu. Peluh bercucuran karena menahan perasaan yang menguji adrenalin Nico. Langkah demi langkah ia tapaki. Satu-persatu anak tangga itu ia lalui. Petir masih menyambar, kilatnya kembali membantu Nico melihat bagaimana keadaan di sana. Nico mengendap-endap di balik sebuah tembok. Ia melihat ada cahaya yang terpancar di lantai empat yang tangganya berada di dalam sebuah ruangan tertutup seperti lobi. Nico mulai mencium kecurigaan, karena dibanding semua ruangan di dalam gedung itu, ruang lobi yang menuju tangga ke lantai empat lebih bersih dan rapi. ‘Sepertinya sudah sering dibersihkan?’ ujar Nico dalam hati, perlahan ia membuka pintu kaca itu. Terlihat ada pantulan cahaya di lantai empat. Rasa penasaran yang semakin membuncah membuat Nico dengan cepat menaiki tangga dan sesuatu yang sangat mengejutkan. Nico melihat sebuah ruangan tertutup dengan jendela kaca yang sangat tebal dan lampu yang sangat terang. Nico mengintip di balik jendela itu. Sungguh luar biasa, di sana menjadi gudang sesuatu barang yang belum Nico ketahui. Ia nekat masuk dan mengambil sebuah paket yang sudah disiapkan oleh seseorang yang suaranya terdengar hingga pintu di dekat tangga itu. Nico membawa salah satu paket yang sudah dipacking dengan rapi ke belakang pilar di lantai tiga. Dengan cepat Nico mengeluarkan belati miliknya untuk membuka isi paket yang diceritakan dua orang yang sudah berjalan ke lantai satu tadi. Nico kembali terkejut melihat isi di dalam paket itu. Benda terlarang yang diproduksi secara ilegal. Ternyata gedung kosong itu dimanfaatkan untuk dijadikan pabrik obat bius serta obat-obatan terlarang yang siap untuk diedarkan secara ilegal. Ini jelas melanggar hukum. Sehingga Nico segera memberikan informasi dan share location kepada Thomas. Namun, hilangnya salah satu paket yang sudah disiapkan membuat mereka curiga bahwa ada penyusup yang masuk. Nico terkejut ketika seseorang dari mereka menyadari keberadaan Nico. “Berhenti, Kau! Siapa kau? Polisi? Mata-mata? Kami tidak peduli! Seraaang!” perintah salah seorang yang tidak terlalu jelas itu. Pertarungan tidak dapat dihindari lagi. Mau tidak mau, Nico harus melawan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD