16. Pertarungan Sengit

1109 Words
Nico kepergok salah satu dari komplotan itu. Nico berusaha berlari menuruni tangga ke lantai dua, karena tadi dirinya masuk ke dalam gedung kosong itu dari lantai dua. Namun belum sempat Nico menapakkan kaki di tangga menuju lantai dua, mereka menari mantel Nico. Mau tidak mau, siap tidak siap, Nico harus membela diri, mempertahankan keselamatannya dengan melawan mereka satu persatu berbekal belati miliknya. Nico menangkis pukulan yang bertubi-tubi yang mengarah padanya. Berbekal ilmu bela diri yang sudah ia kuasai, dengan mudah Nico mematahkan serangan lawan. Beberapa dari mereka sudah berhasil dilumpuhkan. Tendangan serta pukulan yang diarahkan pada mereka, berhasil mengenai titik lemah mereka. Melihat beberapa orang yang menjegalnya tumbang, Nico kembali berlari ke arah tangga menuju lantai dua, kali ini anggota komplotan yang mengejar Nico semakin banyak, bahkan Nico kembali bertarung di tangga menuju lantai dua. Dengan lihai, Nico menghajar mereka. Tidak tanggung-tanggung sekali serang, Nico menghajar tiga orang sekaligus. Namun ketika Nico mendengar suara pistol yang mengarah padanya, Nico melompati tangga hingga sampai pada tikungan tangga berikutnya. Nico berusaha menghindari serangan dengan senjata api. Nico bersembunyi di balik pilar-pilar yang ada di lantai dua. Nico belum bisa berlari ke arah jendela yang berlubang tadi. Karena dua orang yang tadi berada di lantai satu, sudah menaiki tangga dan sampai di lantai dua. Peluh bercucuran, jantung berdebar tidak karuan. Kali ini Nico berkelahi bukan di atas ring, melainkan berhadapan dengan komplotan organisasi terlarang. Nico belum melihat Hansen di dalam gedung itu. Namun banyak hal yang Nico temukan di sana termasuk kegiatan ilegal dan terlarang. Nico berusaha menghubungi Thomas dengan mengirim pesan dan dia pun meminta bantuan Thomas. Karena saat ini Nico merasa dalam bahaya. Mereka memiliki senjata api, sedangkan Nico hanya memiliki belati. Nico berusaha menenangkan dirinya agar suara degup jantungnya tidak sampai di dengar oleh mereka. Nico yang terengah-engah karna tenaganya terkuras melawan mereka, mencoba bersembunyi di balik pilar sambil memikirkan cara untuk pergi dari sana. Tak lama kemudian, Thomas membalas pesan Nico. Pergilah dari sana secepatnya! Sebelum polisi datang menggerebek gedung itu! Aku akan segera datang menyusul. ‘Sial! Apa-apaan ini? Aku harus bertarung dengan mereka? Harus berpacu dengan waktu agar bisa pergi secepatnya? Kalau bukan karena kesempatan untuk bisa bebas dari tuduhan itu, mungkin aku akan lebih mempertimbangkannya melakukan aksi berbahaya seperti ini, Astaga!' gerutu Nico dalam hatinya. ‘Baiklah! Akan aku tunjukkan kemampuanku yang sebenarnya!’ ujar Nico dalam hati sembari menyeringai. Nico menjegal salah satu dari mereka yang sedang melintas untuk mencari Nico. Tidak butuh waktu lama melumpuhkan mereka dan membuatnya pingsan. Nico bergerak cepat bagai bayangan. Ia kembali bergerak cepat berpindah tempat, tetapi saat perpindahan itu, kilat menyambar, bayangan Nico terlihat jelas. Sehingga mereka langsung mengejar Nico. Pertarungan tidak dapat dihindari. Suara letusan pistol beberapa kali diarahkan padanya. Namun Nico masih bisa menghindar dan menggunakan orang yang dihajar sebagai tameng. Nico masih diserang. Ia tetap melawan dengan gerakan yang sangat cepat. Ketika salah satu dari mereka mengeluarkan senjata api, Nico menjegalnya dengan cepat dan berhasil merebut pistol itu. Untuk ke sekian kalinya Nico diserang menggunakan senjata api, saat Nico menghajar salah satu dari oknum penyerang. Nico berguling di atas punggung orang yang sedang Nico hajar. Ia sangat lihai dalam bela diri. Gerakannya yang cepat membuat lawan kewalahan. Beberapa kali Nico memberondong mereka menggunakan dua pistol hasil rampasannya. Dengan cepat Nico berlari menuju jendela tempat ia masuk ke gedung itu. Nico harus berpacu dengan waktu agar saat polisi datang, dia sudah pergi jauh. Hal ini dilakukan agar Nico tidak dikaitkan dengan kejahatan mereka, walau Thomas menjaminnya. Namun Thomas tidak mau kalau wajah Nico terekspos media. Karena saat ini Nico tengah menjadi mata-mata yang diberikan kesempatan untuk mengumpulkan bukti bahwa dirinya tidak bersalah, sekaligus menjadi agen rahasia untuk dapat menyusup ke dalam suatu kelompok organisasi Mafia Bonzoi, yang dikabarkan mengklaim diri mereka sebagai pemberontak negeri Endora. Nico menerobos jendela itu dan berlari di tepian balkon. Nico dituntut berpikir cepat untuk mengambil keputusan. Kebetulan di bawah tempat Nico berdiri saat ini, terlihat mobil Box tertutup yang tengah parkir. Tampaknya mobil berwarna hitam itu akan digunakan sebagai pengangkut paket berisi obat-obatan terlarang alias pendistribusian paket terlarang. Nico tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia nekat melompat ke atas mobil yang terparkir di bawahnya. Bug! Nico jatuh di atas mobil itu dan langsung berlari menuju jalan yang masih beberapa meter di hadapannya. Suara letusan pistol kembali terdengar. Beberapa timah panas diarahkan padanya dari dalam gedung itu. Mereka berusaha mengejar Nico yang sedari tadi menghindar berlari menuju jalan raya. Bukan tidak berani melawan, melainkan berpacu dengan waktu agar tidak kepergok oleh polisi yang sebentar lagi akan menggerebek gedung itu. Nico terus berlari menuju jalur utama jalan Amber. Beberapa kali suara pistol mengarah padanya. Nico hanya bisa menghindar dan terus berlari walau napasnya mulai tercekat di tenggorokan. Wajahnya pucat dan peluh membanjiri bersama dengan gerimis yang masih menemani. Cipratan air yang menggenang di trotoar jalan yang tidak merata, memercik terinjak langkah Nico yang begitu cepat. Jarak yang Nico tempuh, kurang lebih masih sekitar seratus meter di depannya, menuju jalur utama jalan Amber. Beberapa oknum dari komplotan itu terus mengejar Nico. Napas yang semakin tercekat seakan menyesak di d**a Nico. Ia tidak peduli, dia harus berlari menuju jalur utama agar mereka tidak lagi berani mengejar Nico. Lelah mulai terasa di sekujur tubuh Nico. Napasnya kembali menyeruak ketika Nico sampai di trotoar jalan utama. Nico berhenti sejenak dan bersembunyi di belakang tembok di salah satu sisi bangunan toko yang gelap. Nico menghirup napas perlahan. Namun terlalu lama dia berlari, membuat paru-parunya harus menahan napasnya. Nico sampai terbatuk-batuk ketika kembali menormalkan napasnya. Tak lama kemudian beberapa mobil dengan sirene yang tidak dibunyikan, melintas melewati tikungan menuju gedung kosong itu. Suara letusan pistol kembali terdengar. Nico yang penasaran mengintip dari balik tembok pada bangunan paling ujung dekat dengan tikungan itu. Baku tembak terjadi di sana. Di depan gedung kosong itu. Penggerebekan terjadi dengan sangat sengit. Namun Nico teringat perintah Thomas, agar dirinya menyingkir dari sana dan kembali ke rumah sewaan. Akhirnya Nico berjalan dengan tenang, dua pistol hasil rampasan pada dua oknum komplotan itu tetap ia bawa untuk dirinya. Ia berencana mencari bukti kalau komplotan itu memang ada kaitannya dengan pembunuh Profesor Nazer. *** Malam telah berganti pagi. Semburat kemerahan menyelusup di antara kabut tipis dan aroma Petrikor yang menguar bersama embusan udara pagi. Nicolaas Hans belum memejamkan matanya sejak semalam. Ia menunggu berita penangkapan terhadap komplotan bersenjata yang menjalankan bisnis pabrik obat bius dan obat-obatan terlarang lainnya, jelas tanpa izin karena ini termasuk kegiatan ilegal juga kegiatan melanggar hukum yang segera mendapat tindakan. Di temani secangkir kopi, Nico masih menunggu kabar terbaru dari Thomas, yang jelas sekarang dia orang yang sangat sibuk untuk mencari tahu keterkaitan kasus yang satu dengan yang lain. Nico masih menunggu Thomas memberikan perintah selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD