Nico masih duduk di ruang itu sambil melihat berita di televisi. Ia pun menyalakan laptopnya dan sesekali matanya masih menatap layar monitor. Nico menunggu informasi lebih lanjut dari Thomas.
Nico memijat bahunya sendiri. Sembari memutar kepalanya. Rasa pegal mulai terasa menjalar di sekujur tubuhnya akibat pertarungan semalam. Rasa kantuk mulai membelai kelopak mata Nico. Hingga tanpa ia sadari tubuhnya bersandar pada kursi. Relaks dan nyaman yang dia rasakan saat ini. Sesekali Nico menghidu napas panjang. Angin yang bertiup sepoi-sepoi dari pantai membelai wajah Nico. Ia Benar-benar merasa sangat nyaman dan relaks.
***
Mata Nico terbelalak, tubuhnya sedikit lemas, dia terkejut, dan terbangun dari tidurnya setelah mendengar dering ponsel yang ada di meja. Nico yang terkejut langsung menyambar ponsel itu dan menerima panggilan dari Thomas.
“Halo, selamat siang, Pak!” Nico mencoba untuk memulihkan kesadarannya setelah tertidur pulas.
“Bagaimana keadaanmu, Nick?” tanya Thomas dengan nada tegas.
“Baik, Pak! Apa lagi yang harus saya kerjakan?” Nico mencoba mencari tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
“Sementara menunggu Hansen diinterogasi guna memperoleh informasi, Kau tetap tinggal di sana! Jangan kembali ke Nerve, tetaplah tinggal di Namos! Secepatnya aku akan menghubungimu, untuk melanjutkan misi, setelah memperoleh informasi dari Hansen,” jelas Thomas pada Nico.
“Baik, Pak! Saya tunggu informasi selanjutnya!” Nico merasa lega karena tidak terjadi masalah lanjutan.
“Sekali lagi, terima kasih! Kau sangat membantu kinerja kami! Kumpulkan bukti-bukti yang dapat menguatkan posisimu sebagai saksi dan bukan tersangka! Kami akan membantumu!” Thomas kembali meminta Nico untuk mengumpulkan bukti bahwa dia tidak bersalah.
“Terima kasih, Pak!”
Thomas memutus sambungan teleponnya setelah Nico berterima kasih.
***
Nico merasa lega karena setelah kurang lebih satu minggu di Namos, akhirnya dia berhasil menemukan Hansen, dengan segala petualangannya menjadi seorang Nick si bad boy. Nico susah berjanji kalau dirinya berhasil menemukan Hansen hingga tertangkap, dia akan mengajak Jane untuk berkencan dan mentraktirnya sebagai ucapan terima kasih. Selama Nico menyamar menjadi Nick, hanya Jane yang berteman dekat dengan Nick. Jane gadis yang jujur, baik, walau terkesan liar dan sensual. Lantaran tuntutan pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah klub malam.
“Malam ini aku akan mengajak Jane berkencan! Aku akan menraktirnya, sebagai tanda terima kasihku padanya.” Nico sangat bersemangat untuk mengajak gadis itu kencan dan menraktirnya.
Senja yang mulai terbenam menemani Nico yang sedang termenung di tepi pantai. Ia duduk di atas hamparan pasir putih yang bersih. Kedua lengannya mendekap kaki yang ia tekuk. Punggungnya dibiarkan relaks dan sedikit membungkuk. Sorot matanya mengedar menikmati keindahan senja yang menenteramkan jiwa. Nico merindukan keluarganya. Merindukan kehidupan yang normal seperti sedia kala.
Deburan ombak yang silih berganti seakan menggulung asa dalam benak Nico. Asa yang memiliki sejuta harapan, untuk dapat membuktikan bahwa dirinya bukan pelaku penembakan terhadap Profesor Nazer. Hidup yang menyamar menjadi pribadi yang lain, sesungguhnya bukan pilihan dia. Namun situasi yang mendesak, membuat Nico mau menjalankan misi berbahaya yang Thomas perintahkan. Bagaimana tidak? Saat ini memang tawaran Thomaslah yang terbaik. Nico bertekad untuk membersihkan nama baik keluarganya. Demi sang Ayah yang sebentar lagi akan mengikuti pemilihan calon Presiden di Negeri Endora.
‘Aku berjanji akan menemukan pelaku penembakan yang sebenarnya!’ ujar Nico bertekad dalam hatinya.
***
Malam ini Nico mampir ke toko bunga, sebelum pergi ke klub. Ia membelikan bunga mawar merah segar untuk Jane. Nico berharap bahwa temannya itu akan merasa senang dengan hadiah yang Nico berikan padanya. Tak butuh menunggu waktu yang lama, Nico mendatangi klub sekitar pukul sepuluh malam.
Pakaian yang digunakan Nico cukup formal. Dia mengenakan kemeja putih dan jas seperti yang pertama kali ia kenakan untuk pergi ke klub itu, sebelum Jane menumpahkan red wine ke kemeja putih miliknya. Dengan membawa satu buket kecil bunga mawar merah, Nico melenggang memasuki klub itu.
Nico sudah masuk ke sana. Gemerlap cahaya lampu beriringan dengan degup suara musik dari DJ membuat Nico mengingat pertama kali ia menyamar sebagai Nick. Karena sebelumnya Nico tidak pernah menjelajah ke tempat hiburan malam, tetapi saat menjalankan misi, dia terpaksa menyelami kehidupan malam dan bertemu dengan Jane.
Nico berjalan menuju bar. Ia bertanya pada salah satu Bar tender yang sedang melayani pengunjung sembari berbincang dengan mereka.
“Hai! Apa Kau melihat Jane?” Nico mengeraskan suaranya di antara degup suara disko.
“Malam ini Jane tidak masuk kerja! Kelihatannya dia sedang cuti!” ujar Bar tender itu.
“Oh? Apa dia sakit?” Nico penasaran.
“Dia sedang berduka! Datanglah saja ke rumahnya!”
“Ba—baiklah! Terima kasih.”
Nico merasa ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada gadis periang itu. Nico masih menggenggam buket bunga yang sudah ia beli untuk Jane. Dengan segera, Nico berjalan meninggalkan klub dan memasuki mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju Distrik lima.
Nico mengendarai mobilnya dengan cepat, membelah jalanan malam yang kian pekat. Nico mengkhawatirkan keadaan Jane yang sudah berbaik hati pada Nico.
‘Jane? Apa yang terjadi denganmu? Semoga Kau baik-baik saja!’ ujar Nico dalam hatinya yang resah memikirkan Jane.
***
Nico sudah masuk ke dalam rumah susun itu. Nico berlari menuju lift yang ada di sebelah kiri lobi utama rumah susun itu. Namun semua lift penuh. Hingga Nico berinisiatif untuk berlari menaiki anak tangga, demi menuju tempat tinggal Jane.
Langkah demi langkah Nico tapaki menuju lantai tujuh. Langkah Nico gontai ketika sampai di lantai tujuh. Bagi Nico berlari malam hari menaiki tangga adalah sesuatu yang sangat tidak biasa. Namun demi mengetahui keadaan Jane, Nico rela berpacu dengan anak tangga yang cukup banyak hingga lantai tujuh.
‘Beginilah balasannya bagi orang yang tidak sabaran sepertiku! Tapi aku memang khawatir pada Jane.’ Nico berbicara dalam hatinya sambil membenarkan pakaiannya yang sudah tidak rapi akibat berlari di tangga.
‘Baiklah, Nico! Kau pasti akan tetap terlihat tampan!’ ujarnya lagi dalam hati untuk menghibur dirinya sendiri.
Nico terus berjalan melintasi koridor rumah susun itu. Dirinya mencari nomor rumah Jane. Lantai tujuh nomor lima belas B. Tidak lama kemudian Nico menghentikan langkahnya. Ia menatap pintu rumah nomor lima belas B. Langkah Nico mendadak melambat. Saat ini Nico benar-benar berada di depan rumah Jane.
Nico mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu rumah Jane. Setelah tiga kali Nico mengetuk pintu, akhirnya pemilik rumah membukakannya setelah melihat seseorang yang wajahnya ditutupi oleh buket bunga mawar. Nico sengaja menutup wajahnya dengan buket bunga mawar yang dia beli untuk Jane. Tindakan Nico membuat Jane penasaran dan mau membukakan pintu.
“Maaf! Anda mencari siapa?” Jane menatap seseorang di hadapannya yang tidak lain adalah Nico.
“Mencarimu!” Nico menurunkan buket bunga yang menutupi wajahnya.
“Astaga? Nick? Apa ini sungguhan?” Jane tersenyum lebar.
“Tentu saja, Jane! Ini untukmu! Spesial mawar merah yang cantik, sepertimu.” Nico berusaha menghibur Jane.
“Terima kasih, Nick!”
Jane menerima buket bunga itu, lalu mencium aroma bunga mawar merah yang semerbak. Jane tertegun hatinya mulai teriris teringat akan permasalahan yang sedang menimpanya. Kemudian Jane menatap Nico yang sedang tersenyum menatapnya. Ekspresi wajah Nico seketika berubah melihat ekspresi wajah Jane yang mendung.
“Jane? Apa aku salah?” Nico terpaku melihat air mata Jane menetes di pipinya. Belum sempat Nico menghapus air mata Jane, gadis itu langsung memeluk Nico dengan erat.
“Jane? Kau kenapa?” Nico merasa sangat bingung. Satu hal yang bisa Nico lakukan adalah menenangkannya. Menepuk punggungnya dengan lembut dan mendekap Jane dengan hangat.
“Aku sedang menghadapi masalah yang cukup berat, Nick!”
“Oh ... maaf! Aku terbawa suasana! Ayo silakan masuk ke rumah yang sederhana ini.” Jane melepas pelukannya dan langsung mengusap air matanya. Ia mempersilakan Nico untuk duduk di sana.
Di sebuah ruang tamu yang sederhana, Nico menemani Jane dan berusaha menjadi pendengar yang baik, saat Jane bercerita.
“Jane? Apa yang sebenarnya terjadi? Atau kau sakit?” Nico memulai perbincangan.
“Bukan itu, Nick! Tapi aku kehilangan Kakakku.” Jane menceritakan dengan penuh kepedihan.
“Lalu?” Nico menatap Jane.
“Kakakku ditangkap polisi atas tuduhan yang sangat tidak masuk akal!” Jane merasa sangat kesal.
“Ma—maksudnya?” Nico masih terpaku.
“Nick! Aku hanya tinggal bersama Kakakku, setelah kedua orang tuaku pergi. Kami tidak memiliki sanak saudara di sini! Kami sudah lama tinggal di kota Namos. Bagiku Kakak adalah sosok terbaik, walau kadang menyebalkan. Satu hal yang pasti! Kakakku bukan pengedar. Bukan pula gembong narkotika! Dia hanya dijebak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.” Jane sangat menggebu dengan apa yang ia ceritakan.
“Aku ... turut prihatin, Jane.” bahkan seorang Nicolaas Hans saja merasa iba melihat Jane menangis. Nico sangat penasaran dengan hal apa yang sebenarnya menimpa kakaknya Jane.
“Baiklah, Nick! Aku ambilkan minum untukmu!” Jane melangkah pergi.
“Terima kasih, Jane!” Nico tersenyum hangat.
Jane berjalan ke arah dapur untuk membuatkan kopi hangat untuk Nico. Di ruang tamu itu Nico berjalan-jalan melihat pernak-pernik yang menjadi pajangan. Tidak sengaja Nico melihat foto berukuran kecil dengan pigura minimalis berwarna putih yang diletakkan di atas meja bersama pajangan lainnya.
Dalam foto tersebut terlihat Jane sedang bersama seorang pria. Mereka tersenyum dan saling merangkul. Tulisan yang terdapat dalam foto itu "always be happy” Nico tersenyum melihatnya. Namun setelah Nico melihat secara saksama, raut wajah Nico berubah. Foto pria yang bersama Jane tidak lain adalah Hansen sebelum dia mengubah bentuk kelopak matanya.
‘Astaga? Dia ...? Apakah mungkin? Hansen yang selama ini aku cari? I—ini mustahil!' Nico terperangah melihat kenyataan dalam foto itu. Ia masih memegang foto itu sampai Jane datang kembali membawa secangkir kopi panas.
“Hai, Nick! Sedang apa, Kau? Mematung di sana?” Jane sama sekali tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Nico yang terkejut langsung menoleh ke arah Jane. Sorot mata Nico mulai berkaca-kaca, ketika dia mulai mempertanyakan pria yang ada dalam foto itu.
“Itu Kakakku, Nick! Seorang Kakak yang selalu menjaga dan menyayangi adiknya, saat ini harus meringkuk dalam sel tahanan. Memang dua bulan belakangan ini, Kakakku jarang pulang karena bekerja di luar kota ... lalu belum lama ini dia pulang. Seperti biasanya dia selalu jarang tidur di rumah ... ya ... seringnya menginap di rumah temannya ... makanya aku sangat bingung saat Marco menagih sejumlah uang padaku ... aku pun belum bertemu Kakak sejak saat itu ... aku khawatir dia dimanfaatkan oleh seseorang, sampai-sampai dia masuk ke gedung kosong yang berada beberapa blok dari sini.” Jane duduk termenung sembari menceritakan kejadian yang dia alami.
‘Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Hansen adalah buronan negara yang menggelapkan sejumlah uang ... tapi? Bagaimana mungkin Hansen tidak memiliki uang dan harus meminjam sejumlah uang yang cukup besar pada Marco? Lalu ... kalau memang Hansen bekerja pada kelompok organisasi tertentu? Organisasi yang mana? Siapa? Mafia? Ini semua membuatku bingung, tidak menemukan benang merahnya! Atau Hansen berbohong pada Jane? Tapi apa raja jalanan sekelas Marco juga berbohong? Kelihatannya tidak! Aku yakin Marco dan komplotannya tidak berbohong ... mereka sampai rela kehilangan mobil kesayangan Marco, karena menerima tantanganku untuk bertanding! Aku harus menunggu informasi dari Thomas ... apa yang sebenarnya terjadi?’ Lamunan Nico membuat Jane merasa aneh. Jane menepuk bahu Nico yang sedari tadi terdiam.
“Nick?”
“Oh ... aku hanya sedang berdoa untukmu dan Kakakmu!” Nico tersenyum lalu meletakkan kembali foto berpigura itu.
Baru saja Nico duduk dan meneguk kopi yang sudah menghangat itu, Ponselnya berdering tanda panggilan dari Thomas.
“Jane! Aku harus pamit! Maaf kalau kedatanganku malam ini mengejutkanmu! Terima kasih atas kopi hangat ini dan semoga Kakakmu mendapat keadilan,” ucap Nico pada Jane yang juga masih loyo dan tidak bersemangat, pasca kakaknya ditangkap.”
“Baiklah, Nick! Hati-hati!” Jane tersenyum mengantar Nico sampai di depan pintu rumahnya.
Nico berjalan tergesa-gesa untuk segera pergi dari rumah susun itu. Nico memasang Bluetooth Headset untuk menerima panggilan dari Thomas, sembari melangkahkan kaki menuju mobil Nico yang terparkir di tepi jalan.
“Halo, Pak!” Nico menjawab telepon Thomas.
“Aku ingin memberikan informasi terkait keterangan yang diperoleh tim penyidik setelah menginterogasi Hansen ... ada satu jaringan kelompok organisasi terlarang yang berada di balik layar ... Hansen adalah tangan kanan seorang tawanan yang sedang mendekam dalam penjara Armage! Kunci dari semua carut-marut yang terjadi yaitu menemukan di mana markas mereka! Hansen bersikeras tidak mau memberi tahu keberadaan markas itu,” jelas Thomas.
“Lalu? Apa yang harus aku lakukan?” Nico mempertanyakan misi selanjutnya.
“Kami akan menyusun rencana! Tunggu perintah dariku! Apa saja yang harus kau kerjakan! Apa kau mengerti?” tanya Thomas dengan tegas.
“Siap! Mengerti!”
Thomas mematikan sambungan telepon itu. Menyisakan Nico yang masih terbungkam dengan apa yang terjadi. Nico pun menunggu perintah selanjutnya.