Nico masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya di sandarkan pada setir mobilnya. Sorot mata Nico fokus menatap satu titik di depannya. Pikirannya berjalan menganalisis rentetan kejadian yang melibatkan dirinya. Mulai dari dituduh menjadi pelaku penembakan, mendapat penangguhan penahanan dengan syarat menjalankan misi menjadi agen mata-mata negara untuk menemukan buronan kelas kakap yang tidak lain adalah kakak dari perempuan yang dia kenal di dalam klub malam. Nico benar-benar merasa seperti masuk dalam suatu permainan tanpa dia tahu apa motifnya? Siapa dalangnya? Apa keuntungannya? Semua berkecamuk dalam pikiran Nico.
‘Apa maksud dari semua rentetan masalah ini? Aku merasa benar-benar terjebak dalam suatu skenario yang didalangi oleh seseorang. Tapi siapa? Apa alasannya? Sedangkan aku hanya seorang mahasiswa biasa!’ Nico merasa sangat frustrasi dengan kejadian ini.
‘Aku merasa sangat bodoh! Bagai buih terombang-ambing di atas samudera! Aku tidak mengerti rangkaian kasus yang terjadi di negeri ini selama aku koma! Harapanku saat terbangun dari koma, semua akan membaik ... hubunganku dengan Ayah, skripsiku yang diterima oleh Profesor Nazer, aku lulus dan melamar masuk ke akademi intelegensi negara, tapi ... justru pahit sekali yang harus aku perjuangkan ini! Apa aku harus menemui Alex? Tapi ... kota Nerve dan Namos cukup jauh! Aku pun tidak boleh pergi ke sana! Atau aku harus meminta Alex datang ke sini? Aku memiliki sedikit uang untuk aku berikan padanya sebagai uang pengganti ongkosnya, ya! Sebaiknya kami bertemu di bukit Cinamon!' Malam ini Nico merasa sangat dilema. Dia tetap menyelidiki apa yang terjadi. Nico juga yakin kalau surat elektronik yang dia kirimkan pada Alex pasti dapat dilacak oleh Thomas atau pun komplotan mafia yang memang sedang mengincarnya. Kali ini, Nico memutar otak agar Thomas dan organisasi yang mengintai Nico tidak dapat melacak surelnya kepada Alex, maka Nico memutuskan untuk mengirim surat biasa kepada Alex melalui kurir, alamat yang digunakan meminjam alamat rumah Tuan Niel.
Setelah rencana Nico matang, dia lantas menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas demi melajukan kendaraannya sampai ke rumah sewaan. Nico merencanakan hal ini, karena dirinya semakin menyadari dirinya berada dalam konspirasi antara komplotan Mafia pemberontak dengan Pemerintah Vromme.
Nico merasa bahwa hal ini ada hubungannya dengan rencana pencalonan Edward Hans sebagai calon presiden periode berikutnya. Namun, Nico merasa dia dan Thomas benar-benar dihadapkan pada pilihan sulit. Mau tidak mau harus menjalankan misi berbahaya ini. Sembari menguak kebenaran tentang komplotan mafia pemberontak itu.
Nico berusaha menjalankan misinya dengan baik agar dia bisa membuktikan pada dunia bahwa dia bukan pelaku pembunuhan. Namun Nico tetap pada pihak netral, karena dia dan Alex akan menyelidiki fakta yang sebenarnya terjadi antara pemerintah dengan komplotan mafia pemberontak itu.
Tidak memungkiri kalau Nico lebih mempercayai pemerintah, lantaran apa yang Nico lihat di dalam gedung kosong itu, benar-benar pabrik ilegal yang memproduksi serta mengedarkan barang-barang terlarang. Hal ini berarti keberadaan mafia-mafia berbahaya ini benar adanya. Pemerintah sedang berusaha menumpasnya. Namun di sisi lain, Nico merasa ada yang janggal dengan latar belakang Hansen. Orang yang menjadi buronan negara karena penggelapan uang, nyatanya dia hanya pria sederhana yang hidup berdua dengan adiknya di sebuah rumah susun sederhana. Bahkan Hansen berhutang pada raja jalanan seperti Marco. Semua masih samar dalam benak Nico. Saat ini orang yang bisa dipercaya menurut Nico adalah Alex sahabatnya. Nico merasa ada sebuah konspirasi antara pemerintahan Vromme dengan para komplotan mafia ini.
***
Nico sudah sampai di rumah sewaan itu. Dia menyadari kalau EIA bisa melacak keberadaan Nico ke mana pun Nico pergi. Karena saat Nico di bebaskan pergi untuk menjalankan misi, status Nico masih menjadi saksi dan diduga pelaku penembakan, sebelum pengadilan memutuskan bersalah atau tidak. Seharusnya Nico mendekam dalam penjara selama menunggu proses persidangan, tetapi Vromme memerintahkan Thomas mengirim seorang pemuda biasa yang tidak dikenal banyak orang sebagai mata-mata negara, tujuan utama dari misi yang Thomas perintahkan kepada Nico adalah menyusup ke sarang pemberontak. EIA sudah mengendus keterlibatan suatu komplotan mafia dalam kasus pembunuhan terhadap Profesor Nazer. Sehingga pemerintah memanfaatkan Nico untuk melakukan misi berbahaya ini. Lantaran mereka mengerti bahwa kecil kemungkinan Nico akan menolaknya.
Benar saja, Nico yang sedang kalut, buntu, dan bingung, tanpa berpikir panjang langsung menerima tawaran itu. Chips yang dipasang di belakang lehernya bertujuan untuk melacak keberadaan Nico agar tidak kabur begitu saja. Itu sebabnya Nico harus berhati-hati karena Nico berencana mengadakan penyelidikan terhadap pemerintahan Vromme dan komplotan mafia-mafia pemberontak itu. Nico akan meminta kepada Alex untuk membantunya mencari titik terang dan benang merah atas rangkaian kejadian yang sedang Nico jalani.
Di penghujung malam, Nico masih terjaga. Dia berusaha menulis surat untuk Alex, butuh waktu sehari agar surat itu sampai kepada Alex.
Dear sahabatku, Alex
Hai Megalodon! Mungkin kau akan terkejut setelah surat ini sampai di tanganmu. Aku Nico! Kau pasti tidak percaya, kan? Tapi ini benar adanya! Hanya aku yang sering memanggilmu dengan sebutan Megalodon! Aku tidak bisa bercerita panjang lebar! Satu hal yang pasti! Aku meminta tolong padamu! Kalau kamu ingin membantuku, datanglah ke bukit Cinamon, Distrik tiga kota Namos. Hari Minggu, jam empat sore. Telusuri saja jalanan itu, temukan bendera merah yang aku ikat pada sebuah kayu yang aku tancapkan di tikungan puncak bukit Cinamon. Bawakanlah ponsel untukku yang aman dari penyadapan! Letakan ponsel itu di sana! Ambil sejumlah uang untukmu, yang sudah aku simpan di bawah batu di sebelah bendera merah! Rahasiakan keberadaanku pada siapa pun termasuk keluargaku dan keluargamu! Ini hanya urusan kita! Aku percaya padamu, Megalodon! Terima kasih.
By Dark Tiger
Nico melipat surat itu dengan rapat. Lalu memasukkannya ke dalam amplop. Nico menggunakan alamat Tuan Niel sebagai alamat pengiriman. Besok pagi Nico akan mengunjungi Tuan Niel dan meminta bantuannya untuk mengirimkan surat rahasia itu. Lantaran Nico tidak ingin kalau sampai surat itu terlacak, hanya gara-gara Nico pergi ke kantor ekspedisi.
Sebelumnya Nico mengirimkan beberapa foto Hansen dan rekaman Videonya ke alamat surat elektronik Alex karena memang untuk kepentingan penelusuran. Sehingga jika pemerintah melacak surel itu pun bagi Nico tidak masalah. Berbeda dengan rencana penyelidikan yang akan dia lakukan terhadap pemerintah dan komplotan mafia. Nico akan mengumpulkan bukti-bukti yang sebenarnya, hanya dibantu oleh Alex.
Malam ini Nico menyusun strategi untuk memulai langkah awal. Nico berpikir kalau lusa dia bertemu dengan Alex di bukit Cinamon pun pasti akan terlacak. Sehingga Nico memutuskan untuk datang ke sana hanya saat mengambil barang-barang yang sudah Alex antarkan padanya. Dengan begitu siapa pun tidak dapat mengetahui apa yang sedang Nico lakukan.
***
Pagi yang masih temaram, mulai menyapa seluruh asa yang akan memulai perjuangan hari ini. Bersama deburan ombak yang seakan memberikan motivasi, menyambut Nico yang sudah terbangun dari tidurnya. Antara nyenyak dan tidak, tapi bagi Nico dirasa sudah cukup untuk beristirahat. Setelah selesai membuat sarapan pagi, ia bergegas menemui Tuan Niel, sebelum Beliau pergi bekerja.
Nico sudah sampai di depan rumah Tuan Niel. Ia mulai mengetuk pintu rumah Tuan Niel. Tak butuh menunggu lama, Pak Niel sendiri yang membukakan pintu untuk Nico.
“Selamat, pagi!” Nico tersenyum pada Tuan Niel.
“Selamat, pagi! Anak muda? Apa ada sesuatu yang sangat penting? Sampai membawamu datang ke sini sangat pagi?” Tuan Niel merasa ada sesuatu yang sangat penting.
“Maaf, Pak! Kalau kedatangan saya pagi ini mengganggu, Bapak. Apa saya boleh duduk?” Nico tersenyum.
“Ah! Sampai lupa! Ayo, Nak! Silakan duduk!” Pak Niel dengan ramah menyambut Nico.
Saat ini, Tuan Niel dan Nico sudah duduk di ruang tamu. Mereka duduk saling berhadapan.
“Maaf sebelumnya, Pak! Sebenarnya saya juga tidak enak mau membicarakan ini dengan Bapak. Tapi saya benar-benar butuh pertolongan bapak untuk mengantarkan surat ini ke kantor ekspedisi, tapi ... saya menggunakan alamat rumah Bapak untuk alamat pengirimannya. Sekali lagi saya minta maaf.” Nico berdiri dan menundukkan kepala serta bahunya.
“Sudah, Nak! Tidak perlu sungkan! Lagian kantor ekspedisi kan sejalur dengan kantor tempat saya bekerja, iya kan?” Pak Niel tersenyum pada Nico.
“Jadi? Bapak bersedia membantu saya?” Mata Nico berbinar.
“Iya, Nak!” Tuan Niel tersenyum sembari mengangguk.
“Ini suratnya untuk sahabat saya, lalu ini biaya administrasinya.” Nico memberikan dua amplop. Pertama amplop cokelat berisi surat dan amplop kedua berwarna putih lebih kecil dan berisi uang.
“Baik, Nak! saya terima.” Tuan niel tersenyum hangat.
“Sekali lagi terima kasih banyak dan maaf jika merepotkan.” Nico tersenyum dan kembali berdiri untuk menundukkan bahu dan kepalanya.
“Tidak perlu sungkan!” Tuan Niel kembali tersenyum ramah.
Tidak lama kemudian, Nico berpamitan untuk pulang. Di rumah sewaan itu, Nico memikirkan masa depan, teka-teki mengenai kecurigaan masalah konspirasi, serta memikirkan Jane yang sedang patah hati, lantaran kakaknya ditangkap oleh pihak berwajib. Memikirkan tentang misi selanjutnya yang akan diberikan Thomas padanya. Semua berkecamuk menjadi satu dalam benak seorang Nicolaas Hans.
***
Satu hari berlalu. Sinar mentari pagi mulai menghangatkan aktivitas hari itu. Seperti biasa Ibunda dari Alex sedang sibuk di dapurnya. Meli sedang memotong-motong sayuran sebelum ia masak untuk putra tercintanya. Tak lama berselang, Meli mendengar bunyi bel yang ada di depan rumahnya. Sekarang zaman sudah di era digital dan teknologi berkembang pesat, seiring dengan perkembangan sistem belanja Online atau pengiriman barang secara Online melalui kurir pengantar paket atau surat. Memudahkan masyarakat yang memang tidak sempat bepergian.
Meli berjalan ke arah pintu depan. Dia membuka pintu dan menemui kurir yang mengantarkan surat untuk Alex.
“Selamat pagi, Bu!” Kurir tersenyum menyapa sang pemilik rumah.
“Pagi, Pak! Ada apa ya?” Meli menatap bingung kurir pengantar barang dan surat itu. Lantaran dirinya merasa sedang tidak membeli barang secara Online.
“Saya mau mengantar surat untuk Alex, alamatnya di sini, apa benar?” Kurir memperlihatkan alamat tujuan.
Meli pun ikut melihat alamat yang ditujukan benar adanya. Hanya saja Meli merasa bingung karena tidak memiliki sanak saudara di kota Namos. Namun Meli berpikir positif kalau yang mengirim surat adalah teman Alex yang memang bertempat tinggal di sana.
“Mungkin ini dari teman Alex, baiklah akan aku tandatangani surat penerimaan ini.” Meli menandatangani surat penerimaan itu.
Meli kembali memasuki rumahnya setelah kurir berpamitan pergi. Meli memanggil-manggil Alex yang masih bersiap di kamarnya sebelum pergi ke kampus.
“Alex! Lex!” panggil Meli di depan kamar Alex sambil terus mengetuk pintu.
“Alex!”
“Iya, Ma! Ada apa? Alex sedang berpakaian!” Alex merasa Ibunya selalu memanggil-manggil namanya. Walau baru saja bertemu dengan sang Mama.
“Ini ada surat untukmu! Mungkin dari temanmu?” Meli menyerahkan surat itu.
“Mungkin, Ma! Terima kasih.” Alex berterima kasih dan membawa surat itu ke dalam kamarnya, setelah Meli kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya.
***
Alex duduk di atas ranjangnya. Ia mengernyitkan dahinya ketika membaca alamat surat yang memang sama sekali tidak ia kenali. Perlahan Alex membuka surat itu. Ia mulai membacanya. Matanya terbelalak, mulutnya menganga setelah ia membaca surat itu.
“Astaga? Ini sungguh tidak mungkin! Monita mengatakan kalau Nico sedang dalam pengasingan sambil menunggu persidangan! Lalu? Ada apa ini?” gerutu Alex saat membaca surat itu.
“Baiklah! Kalau memang dia benar-benar Nico, aku harus membantunya! Hari minggu jam empat sore aku sudah tiba di sana!” Alex memiliki waktu sehari sebelum dia mengantar pesanan Nico.
Nico hanya membutuhkan ponsel pintar yang tidak dapat disadap atau tidak dapat dilacak di siapa pun. Demi mencari bukti dan menyelusuri siapa saja yang terlibat dalam kasus penembakan terhadap Profesor Nazer dan konspirasi yang terjadi dalam negeri Endora.
***
Setelah seharian Alex menyiapkan apa saja yang Nico butuhkan, tibalah hari Minggu di mana ia harus bergegas menuju kota Namos, demi memberikan apa yang dibutuhkan oleh Nico.
Pukul tiga sore, Alex sudah sampai di kota Namos. Ia melanjutkan perjalanan menuju bukit Cinamon seperti perintah Nico. Sebentar lagi, waktu menunjukkan pukul empat sore. Alex yang mengendarai motor sudah sampai di sana. Di tempat yang dituju. Benar saja, Alex melihat ada bendera berwarna merah berukuran tidak terlalu kecil diikat pada dahan kering yang ditancapkan di tanah dekat dengan pagar pembatas. Lantaran di balik pagar itu terdapat jurang.
Alex meletakan ponsel pintar pesanan Nico lengkap dengan kartunya. Alex juga mengambil amplop yang ada di bawah tumpukan batu seperti perintah Nico. Lalu Alex melajukan motornya dan memarkirkan motornya tidak begitu jauh dari sana. Benar saja, Nico datang mengenakan hoody hitam dan menolehkan wajahnya ke arah Alex. Saat itulah baru Alex percaya kalau yang mengirim surat padanya benar-benar Nico. Mereka hanya saling tersenyum sesaat sebelum Nico kembali pergi.