Sesaat setelah Alex meletakkan barang berupa ponsel pesanan Nico dan mengambil amplop yang ada di sebelah bendera merah itu, Alex melajukan motornya kembali dan berhenti tidak jauh dari tempat itu. Alex penasaran dengan seseorang yang mengaku sebagai Nico si Dark Tiger. Setelah menunggu beberapa saat, ada seseorang yang mengenakan hoody berwarna hitam menaiki sebuah motor, kemudian berhenti di lokasi yang terdapat bendera merah itu.
Mata Alex dibuka lebar-lebar. Ia melihat pria itu membuka helm sebelum mengambil pesanan Nico. Lalu Alex menganga, terkejut, lantaran pria ber-hoody hitam itu adalah Nico sahabatnya. Mereka hanya saling melambaikan tangan dan tersenyum. Tidak lama kemudian Nico kembali mengenakan helm dan langsung pergi dari sana, setelah mengambil ponsel pemberian Alex. Alex lega karena orang yang mengirimi surat padanya benar-benar Nico sahabatnya. Setidaknya Alex merasa tenang karena melihat sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja. Walau Alex masih sangat bingung dan terkejut.
‘Bagaimana mungkin? Nico berada di sini? Kabarnya sedang berada di pengasingan?’ pertanyaan muncul dalam benak Alex.
Alex melajukan motornya setelah Nico pergi, untuk kembali ke kota Nerve. Alex meninggalkan nomor ponselnya di dalam buku telepon yang ada dalam ponsel yang dia berikan pada Nico. Alex berharap Nico akan segera menghubunginya.
Mereka sudah lama bersahabat. Sudah sangat memahami apa yang harus dilakukan ketika salah satu dari mereka membutuhkan bantuan. Seperti sekarang ini. Alex sangat memahami situasinya. Dia yakin kalau Nico memiliki alasan terkait kejadian ini.
***
Setelah mendapatkan ponsel pintar dari Alex, Nico mengembalikan motor yang ia pinjam pada Tuan Niel. Nico berencana menceritakan semua pada Alex. Namun seperti biasanya, Nico tidak mungkin menelepon Alex di kediamannya, sehingga malam ini, Nico memutuskan untuk mengunjungi klub malam tempat di mana Jane bekerja. Nico berharap malam itu Jane sudah bekerja.
Nico berharap dengan menceritakan pada Alex, dia akan mengerti maksud dari Nico dan mau berkolaborasi demi mengungkap suatu kebenaran. Walau semua misi yang dia jalani amat berbahaya. Nico merasa semua yang terjadi seperti sebuah alur yang memang direncanakan oleh seseorang untuk mencoreng nama baik keluarganya. Hanya saja, Nico merasa kalau semua yang terjadi begitu cepat dan mendadak. Hal ini terlalu kebetulan untuk sebuah rencana. Pemikirannya ini membuat Nico semakin penasaran dengan dalang pembunuhan Profesor Nazer. Karena yang Nico ingat hanya sebuah tato bergambar burung hantu dengan logo B pada sayap sebelah kirinya.
‘Jika memang inisial B pada tato bergambar burung hantu itu adalah Bonzoi ... maka, aku harus bisa menyusup masuk ke dalamnya,’ ujar Nico dalam hatinya. Dia masih termenung sembari mematung di balik jendela yang langsung menghadap ke pantai itu.
Nico berusaha mencari benang merah dari rangkaian peristiwa yang dia alami. Seiring berjalannya waktu, Nico merasa tidak mempercayai siapa pun kecuali Alex. Namun Nico masih memiliki sedikit rasa percaya pada Thomas. Karena dia pun ditugaskan bekerja untuk menuntaskan kasus-kasus besar di dalam negeri Endora.
***
Malam kian larut bersama dengan udara dingin yang berembus menusuk tulang. Namun semua itu tidak menghalangi Nico untuk terus menjalankan semua yang sudah ia rencanakan. Mobil yang dia kendarai melaju dengan cepat membelah jalanan yang sepi. Nico sudah tidak sabar lagi ingin menceritakan semua yang dia alami pada Alex, agar mereka bisa mencari solusi dan melanjutkan penyelidikan terhadap banyak hal yang janggal. Satu hal yang pasti, di dalam klub malam itu hanya ada satu orang yang Nico percayai, yakni Jane. Gadis sexy yang selalu menjadi teman bicara selama Nico berada di kota Namos.
Nico telah sampai di sana. Ia turun dari mobilnya dan berjalan menuju klub malam itu. Dengan langkah penuh percaya diri, ditambah lagi senyuman dingin yang memikat membuat Nico semakin terlihat memesona. Pakaian yang formal menjadi satu daya tarik tersendiri. Nico terlihat matang, berwibawa, dan dingin, membuat hati wanita meronta-ronta.
Nico mulai memasuki klub malam itu. Nico terkejut karena malam ini terlihat sangat ramai sekali pengunjung di sana. Bahkan, saat pertama kali Nico memasuki ruangan gemerlap itu, banyak mata liar wanita-wanita yang seakan mengincarnya. Nico hanya menatap dengan tatapan dingin seperti biasanya. Hal itu justru membuat mereka semakin penasaran.
‘Astaga! Aku lupa kalau hari ini adalah weekend. Sesak sekali di sini? Bagaimana aku mencari Jane?’ ujar Nico dalam hatinya. Batinnya lelah karena harus terus menyamar menjadi Nick si bad boy. Namun tak masalah untuk Nico, asalkan segala yang dia inginkan untuk membersihkan nama baik keluarganya tercapai.
Nico melihat ada satu bangku kosong di bar. Dia melangkah ke sana. Belum sempat dia duduk, dua gadis bergaya sensual menghampirinya. Tubuh mereka berisi, dengan mini dress berwarna cerah, sesuai dengan warna bibir mereka. Rambutnya dibiarkan tergerai, mereka meminta berkenalan dengan Nico. Bau alkohol menguar bersama embusan napas dua gadis itu. Nico yang pada dasarnya adalah anak rumahan, seakan mual dengan peristiwa ini.
“Hai tampan! Mau kita temani?” salah satu gadis yang sedang mabuk itu meracau.
“Kita temani saja! Biar happy-happy.” gadis yang satunya juga ikut menggoda Nico.
‘Astaga! Apa-apaan ini? Aku benar-benar muak melihatnya! Sepertinya aku terlihat bagai pria murahan? Haaiisshhh! Di mana Jane? Aku membutuhkannya untuk menolongku dari jerat gadis-gadis ini!’ Nico masih tetap berlagak cuek dan dingin. Walau rasanya ingin sekali pergi dari sana.
“Maaf, Nona-nona cantik! Aku ke sini karena sudah membuat janji dengan pacarku! Aku tidak mau ada keributan, kalau tiba-tiba pacarku melihat kelakuan kalian! Lebih baik kalian bersenang-senang saja! Biarkan aku menunggu pacarku di sana!” Nico berlagak memiliki pacar, padahal dirinya hanya ingin melarikan diri dari dua gadis penggoda itu.
“Kita bersenang-senang dulu saja! Sebelum pacarmu datang! Ha ha ha ....” racau salah satu dari mereka. Nico sudah menggaruk kepalanya karena bingung harus bagaimana membuat dua gadis itu menyingkir darinya.
Tiba-tiba datanglah seseorang yang langsung menggandeng lengan Nico. Gadis sensual yang Nico kenal. Dialah Jane datang untuk menyelamatkan Nico sari godaan dua gadis pengunjung klub itu.
“Hai, Sayang! Maaf menungguku lama!” Jane masih menggandeng lengan Nico. Jane mengedipkan mata seolah memberikan kode bahwa Nico harus meneruskan peran mereka agar terbebas dari dua gadis liar itu.
“Aku sudah merindukanmu! Mari kita bersenang-senang, gadisku!”
“Mmuuuach!” Nico mengecup kepala Jane dengan hangat.
‘Astaga! Ini semua hanya pura-pura tapi kenapa jantungku berdegup sangat cepat! Seandainya ini sungguhan pun rasanya aku tidak menolaknya! Jane ... Jane! Stop! Ini akting! Bukan sungguhan!’ Jane merasa hatinya berkecamuk karena akting Nico.
“Menyebalkan!” Dua gadis penggoda langsung pergi dan marah melihat kehadiran Jane. Tanpa disadari Nico masih memeluk pinggang Jane, setelah dua gadis penggoda itu pergi.
“Nick! Aku merasa sesak!” Jane mengingatkan Nico kalau perlakuannya membuat Jane sulit bernapas.
“Oh! Maaf, Jane! Kalau dekapanku malah membuatmu sesak! Hmmm ... Aku ingin menyewa satu ruang VIP! Apa kau bisa membantuku?” Nico akan segera memulai aksinya.
“Tentu saja! Ikutlah denganku!” Jane tersenyum pada Nico, sembari berjalan untuk mengantar Nico ke ruang VIP.
‘Biar saja aku menggunakan kartu kredit pemberian Thomas ini! Kalau dia bertanya tentang tagihan, aku bilang saja semua demi misi! Kalau untuk yang hari ini mungkin aku akan jujur aku bersenang-senang. Karena ini satu-satunya jalan agar aku bisa menghubungi Alex dan menceritakan semuanya!’ Nico kembali berbicara dalam hatinya. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk menghubungi sahabatnya dan menceritakan semua petualangan berbahaya yang sudah ia lewati.
Jane sudah mengantar Nico ke ruang VIP itu. Untung saja masih ada yang tersisa. Namun, Jane tidak bisa lama-lama menemani, karena memang klub sedang ramai pengunjung.
“Nick! Aku akan menemanimu nanti setelah aku berganti shift! Okay! Bye, Nick!” Jane langsung bergegas kembali ke lantai bawah untuk bekerja.
“Bye, Jane!” Nico melambaikan tangan, hingga Jane menutup kembali pintu ruangan itu.
Nico bergegas mengambil ponsel pemberian Alex. Sebelumnya, Nico mematikan ponsel pemberian Thomas. Nico memeriksa seluruh ruangan di sana. Sekiranya dirasa aman, Nico bergegas menghubungi Alex.
“Halo! Megalodon!” Nico menyapa Alex yang sudah mengangkat teleponnya.
“Dark Tiger! Aku bingung harus bertanya dari mana dan apa yang akan aku tanyakan? Karena semua bercampur dalam pikiranku!” Alex yang sangat terkejut benar-benar sampai kehabisan kata-kata.
“Baiklah! Tarik napas dan aku akan memulai cerita satu kali saja! Kau mengerti?” Nico menegaskan pada sahabatnya.
“Baiklah! Kau masih sama seperti dahulu!” Alex menggelengkan kepalanya.
“Kau tahu keadaanku tiga bulan sebelumnya? Aku kecelakaan saat pertandingan semi final MMA! Aku koma, saat aku bangun semua syaraf tubuhku butuh pemulihan, bayangkan saja! Aku seperti dilahirkan kembali! Dan ada sedikit yang berbeda saat aku terbangun, rasanya aku memiliki daya ingatan yang lebih kuat dari sebelumnya!” Nico mencoba menceritakan tentang kronologisnya.
“Lalu, apa? Bagaimana kau bisa terlibat sejauh ini?” Alex semakin penasaran.
“Singkat cerita, hari itu ... pertama aku kembali ke kampus untuk menemui Profesor Nazer, tapi setelah aku menunggu sampai malam, aku sama sekali tidak bertemu dengan Beliau! Lalu aku memutuskan pulang, saat itu aku berjalan kaki, melihat tiga orang bertengkar di lokasi itu! Di dekat taman, ya ... persimpangan taman kota. Aku berusaha melerai, tapi belum sempat aku melerai, pria itu menembakkan dua kali ke arah Profesor Nazer, aku terkejut dan dengan cepat mereka memberikan pistol padaku, lalu pergi begitu saja! Aku ingat tipe dan merek mobilnya! Ayo catat!” Nico meminta Alex mencatatnya.
“Baiklah! Sebentar aku mengambil kertas dan bolpoin!”
“Merek apa?” Alex siap mencatat. Sembari duduk di kamarnya.
“Rolls-Royce Phantom warna hitam! Cari siapa saja yang memiliki mobil jenis dan warna hitam, nanti kita akan mengerucutkannya lagi! Lalu aku melihat sebuah tato berlogo burung hantu berinisial B di sayap sebelah kirinya! Kau harus mencari lambang itu!” Nico kembali memerintah Alex.
“Baiklah aku catat!” Alex mencatat keterangan dari Nico.
“Aku dituduh melakukan tindak kejahatan! Lantas tim pengacara keluargaku sedang memproses semuanya. Hingga datanglah Thomas!”
“Siapa dia?” Alex mengernyitkan dahinya.
“Kepala agen rahasia negara, EIA,” jelas Nico pada sahabatnya.
“Harus aku selidiki juga?” Alex masih mencatat.
“Memangnya kau bisa meretas website negara?” Nico menggelengkan kepala.
“Jangan panggil aku Alex si Megalodon! Akan aku usahakan!” Alex terkekeh mengatakan hal itu.
“Astaga! Kalau berbahaya bagaimana?” Nico justru mengkhawatirkan keselamatan keluarga Alex dan keluarganya.
“Kau sudah menjalani entah apa sejauh ini! Aku akan membantumu, walau itu sangat berbahaya!” Alex memberikan dukungan pada Nico.
“Baiklah! Lalu Kau harus menyelidiki Hansen, Komplotan organisasi mafia Bonzoi, Profesor Nazer, Marco sang raja jalanan di jalanan kota Namos ini, sementara yang masuk dalam daftar penyelidikan, mereka ini, apakah saling terkait satu sama lain?” Nico meminta Alex menyelidiki dan memperoleh informasi, catatan, mengenai mereka.
“Lalu bagaimana kau tidak di penjara? Di pengasingan? Atau bagaimana kau mengenal mereka?” Alex masih sangat penasaran.
“Aku dibebaskan bukan karena aku bebas ... melainkan ada perjanjian dengan pemerintahan Vromme ... EIA curiga kalau aku hanya korban dari konspirasi yang terjadi antar komplotan mafia pemberontak ... mereka sudah mendapat laporan dari pengacara keluargaku, sehingga mereka memberikan kesempatan padaku, untuk mengumpulkan bukti agar menguatkan alibiku di persidangan nanti, tapi mereka tidak cuma-cuma melepasku, mereka menawarkan tiga misi rahasia yang harus aku jalani selama aku mengumpulkan bukti ... dan misi pertama sudah aku jalani di sini, di kota Namos, tapi sejak awal ... pemerintah merahasiakan keberadaanku dari siapa pun, sampai-sampai aku diminta menghubungi keluargaku dan mengatakan kalau aku sedang dalam pengasingan selama menunggu proses persidangan, padahal aku di sini menjalankan misi di bawah perintah Thomas.” Nico menjelaskan detail pada Alex.
“Lalu? Apa misi pertama yang kau jalani? Berhasil?” Alex berulang kali berusaha mencerna semuanya.
“Aku diminta menemukan seorang buronan kelas kakap yang menggelapkan dana puluhan juta dolar, namanya Hansen ... aku pun diberi ciri-cirinya dan beberapa foto yang aku kirim padamu kemarin ini. Dan setelah pengintaian dan pertarungan sengit, Hansen dan komplotannya berhasil ditangkap,” jelas Nico.
“Bagus, dong! Lalu apa masalahnya?” Alex kembali berpikir di mana letak kesalahannya.
“Justru setelah Hansen tertangkap, aku menemukan suatu fakta baru yang membuatku menyadari ada sesuatu yang janggal! Kau bayangkan saja! Buronan kelas kakap, menggelapkan uang sebanyak itu, kenyataannya dia tinggal di rumah susun bersama adiknya! Lalu dia berhutang lima ribu US Dollar pada Sang raja jalanan kemungkinan untuk biaya operasi plastik mengubah bentuk kelopak matanya! Nah ini benar-benar janggal!” Nico masih tidak habis pikir.
“Hah? Kok bisa? Hmmm ... aku mengerti sekarang! Kau ingin aku menyelidiki mereka? Keterkaitan satu sama lain? Dan kita akan mengungkapkan sebuah fakta siapa dalang dari semua ini?” Alex sangat paham apa yang menjadi keinginan Nico.
“Nah! Itu maksudku, Lex! Jadi ... apa kau bersedia membantuku? Megalodon?” sekali lagi Nico menegaskan.
“Tentu saja! Aku akan membantumu! Tetaplah berkomunikasi dengan ponsel yang aku berikan! Segera laksanakan!” Alex sangat senang bisa membantu Nico.
“Baiklah! Terima kasih, Lex! Akan aku beri informasi selanjutnya! Kau memang sahabatku, Megalodon!” Nico merasa sangat beruntung bisa bersahabat dengan Alex.
“Baiklah! Kita akan segera beraksi!” Alex menyeringai.
Akhirnya Nico merasa lega karena Alex sudah mengetahui apa dan bagaimana Nico terseret sejauh itu ke dalam pusaran yang sama sekali belum pernah Nico ketahui. Jangankan menjelajah di dalamnya, bahkan melirik saja tidak pernah. Namun kini Nico mengetahui betapa kerasnya kehidupan di luar zona nyaman.