20. Menyelidiki Diam-diam

1080 Words
“Nick!” Nico yang baru saja mematikan sambungan telepon dari Alex dan mengaktifkan kembali ponsel pemberian Thomas, terkejut dengan suara lembut yang memanggil namanya. Nico menoleh ke arah sumber suara. Senyuman hangat menyambut Nico di sana. Jane sudah lepas shift. Sekarang dia bebas tugas dan sudah berjanji akan menemani Nico malam ini. “Hai, Jane! Duduklah! Apa kau ingin minuman dingin?” Nico merasa senang dengan kehadiran Jane. “Rasanya aku lapar.” Jane tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya yang sensual. “Oh ... apa kau ingin makan?” Nico masih menatapnya dengan tatapan hangat. Jane mengangguk. Nico melihat penampilan Jane yang sudah berganti pakaian yang berbeda dari pakaian pelayan seperti yang biasa dia pakai. Memakai celana Jaeans hitam dengan sepatu berhak tinggi, memakai kemeja putih yang pas di badan, dibalut jaket berwarna merah. “Atau? Kita makan di luar dan ... hmmm ... kita kencan? Mungkin itu bisa menghiburmu?” Nico menawarkan sesuatu hal yang sangat diidamkan Jane. Dengan spontan Jane mengangguk dan mereka langsung meninggalkan ruangan itu. Mereka jalan berdua. Jane memiliki perasaan lebih terhadap Nico. Namun Nico menganggap Jane adalah teman dekatnya tidak lebih. Karena memang tujuan utama Nico ke kota Namos adalah untuk menjalankan misi. Bukan mencari cinta sejati. Perasaan Jane pun tidak salah. Semua lumrah, perasaan seorang wanita terhadap pria. Apa lagi Nico pria yang sopan dan ramah terhadap Jane. Walau mereka baru saja saling mengenal belum lama ini. Namun Jane merasa nyaman berada di dekat Nico. Hanya saja, Nico tidak menyadari akan keberadaan perasaan Jane yang menganggapnya spesial. *** Mereka saling tersenyum, bercerita, dan merasakan kehangatan suasana di salah satu sudut ruangan sebuah Cafe. Dua piring steak dengan saus Barbeque tersaji di depan mereka. Dua orange juice dan dessert tertata rapi di atas meja. Rasanya sangat istimewa, bukan hanya karena rasa hidangan yang tersaji. Melainkan suasana hangat yang mereka ciptakan membuat hati merasa sangat nyaman. “Jane? Apa kau senang bisa makan malam bersamaku?” Nico yang sedang mengunyah rakus, menatap Jane yang sedang berusaha memotong Steak di atas piringnya. “Aku sangat senang, Nick! Sudah lama sekali aku tidak makan berdua, baik dengan Kakakku atau temanku ... jadi malam ini sangat spesial buatku!” Jane mengatakan hal yang sejujurnya. Nico melihat celah untuk menggali informasi mengenai Hansen kepada Jane. “Apa sudah sangat lama? Kau tidak makan berdua dengan Kakakmu?” Nico memang sangat lihai dalam bermain kata-kata dan berusaha tidak gugup saat mencari sebuah informasi. “Hansen bekerja di luar kota sejak sekitar dua bulan atau tiga bulan lalu, ya selama itu kami tidak pernah makan berdua ... padahal aku selalu memasak makanan untuknya ... tapi, ya itu ... mungkin karena Kakak diPHK, jadi enggan pulang ke rumah walau sekadar makan dan istirahat.” Jane menatap Nico dengan tatapan polos. ‘Sekitar dua bulan lalu ... saat aku masih terbaring koma, aku harus tahu di mana dia bekerja,' ujar Nico dalam hatinya. “Memangnya Kakakmu kerja di mana, Jane?” Nico mulai menjalankan aksinya mencari informasi. “Di sebuah kota kecil ujung sebelah timur negeri ini, kota Athan.” Lagi-lagi Jane berkata apa adanya. “Ya pernah mendengarnya, tapi kelihatannya itu cukup jauh?” Nico mencoba mengingatnya. “Ya memang sangat jauh dari sini, hanya saja sepertinya Kakakku diPHK jadi ... dia kehabisan uang mungkin, lalu meminjamnya pada Marco.” Jane menduga alurnya seperti itu. “Kapan terakhir Kau bertemu dengannya?” Nico masih basa-basi. “Sekitar satu minggu yang lalu, ya aku pikir dia kurang tidur sampai kelopak matanya turun ... entahlah, atau mungkin berkelahi, biasa kelakuan pria yang masih berjiwa muda dan membara, tapi ... ya, sudah matang juga sih! Usia Kakakku 35 tahun, kesepian dan enggan menikah!” ujar Jane pada Nico, sembari tersenyum. “Tapi dia menyayangimu, itu pasti!” Nico bisa merasakan betapa kakak beradik itu saling menyayangi. “Itu pasti, Nick! Buktinya dia rela kerja apa saja demi aku, tapi setelah aku bekerja di klub itu, Kakak merasa kalau aku sudah mandiri, walau memang Kakak yang mencari uang untuk melunasi pembayaran rumah yang kami tempati.” Jane merasa sangat merindukan momen indah bersama kakaknya. ‘Ini semakin menarik, aku merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Hansen, aku yakin kalau Jane mengatakan yang sebenarnya.’ Nico terus berbicara dalam hatinya sembari menganalisis informasi yang baru dia dapatkan. “Apa Kau sudah menjenguknya, Jane?” Nico penasaran. “Sudah, Nick!” Jane terlihat menundukkan wajahnya. “Jane? Apa kau baik-baik saja?” Nico merasa iba. “Mencoba untuk baik-baik saja, Nick! Mungkin itu lebih tepatnya.” Jane menghela napas. “Aku memahamimu, Jane ... tapi apa yang sebenarnya terjadi?” Nico mulai menelisik dengan penuh konsentrasi. “Kakakku dijebak, Nick! Ada seseorang yang mengancamnya, dia mengagakan kalau Kakakku tidak mau menuruti perintahnya, Dia akan mencelakaiku, Kakak melakukan semua perintahnya ... termasuk masuk ke dalam gedung kosong itu, semua seperti skenario ... tapi, tidak ada bukti yang menguatkan itu semua ... Kakakku juga diberondong berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi tentang pekerjaannya yang dulu menjadi kurir di kota Athan ... entah apa yang sebenarnya terjadi ... yang pasti aku mempercayai Kakakku!” Jane menatap Nick dengan sorot mata yang seakan ingin melampiaskan kemarahannya. “Jane!” Nico menggenggam tangan kiri Jane. Ia menatap dalam sorot mata Jane yang penuh dendam. “Jangan menyimpan dendam itu, Jane! Tidak akan berguna tanpa mencari bukti dan kebenarannya!” Nico menyadarkan Jane akan hal itu. Jane menangis sejadinya. Dia bertekad akan menemukan pelaku kejahatan yang sudah menjebak Hansen. ‘Jane! Maafkan aku ... bukan hanya Kakakmu saja yang mengalami hal semacam itu, seandainya kamu tahu, aku pun merasa sedang berada dalam skenario seseorang ... seandainya kau tahu kalau aku yang melaporkan keberadaan Hansen di dalam gedung itu, apakah kau akan memaafkanku? Karena bukan aku yang mengancam Kakakmu! Aku hanya menjalankan misi, lebih tepatnya di bawah perintah Thomas, dan dia ... berada di bawah perintah Presiden Vromme ... aku akan menguak semua kebenaran itu, Jane! Jangan pernah takut kalau Hansen memang berada dipihak yang benar.’ Nico merasa bagai boneka atas konspirasi mereka yang ingin menguasai dunia. Nico memberikan senyuman hangat kepada Jane untuk memberikan semangat, bangkit dari keterpurukan. “Nick! Walau aku baru mengenalmu, rasanya seperti aku sudah mengenalmu sejak lama ... terima kasih sudah memberikan aku semangat di saat aku terpuruk.” Jane mencoba tersenyum di antara tangisnya. Makan malam mereka menjadi momen manis sebelum akhirnya Thomas memberikan tugas untuk menjalankan misi kedua yang harus Nico jalani. Akankah Nico bertemu kembali dengan Jane? Atau Nico pergi ke suatu tempat yang sangat jauh?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD