CHAPTER 39

1569 Words
Tuan Abraham menyambut kedatangan Naomi dengan tangan terbuka, namun tidak dengan nyonya Diana. Wanita paruh baya itu masih saja belum menerima Naomi untuk masuk ke dalam keluarganya sekalipun suami dan menantunya telah meyakinkannya berkali kali kalau Naomi adalah gadis yang tepat untuk mendampingi Darrel. "Selamat siang papa, mama..." senyum Naomi mengembang kala bertemu dengan kedua orang mertuanya. "Kau sudah datang nak? Mana Darrel?" "Kak Darrel ke kantor pa. Naomi datang sendiri." Nyonya Diana tersenyum sinis, seorang wanita yang ditinggalkan sehari setelah pernikahannya sungguh miris, batinnya. "Ke marilah nak, papa dan mama senang kau datang." "Aku tidak." ucap nyonya Diana, masih menatap tajam ke arah Naomi. Tuan Abraham menyenggol siku istrinya, berharap wanita paruh baya di sampingnya itu mau menjaga sikap di depan menantu barunya. "Naomi membawakan makanan untuk papa dan mama, semoga kalian suka." "Apa kau menaruh racun di dalamnya?" "Tidak ma...Naomi membuatnya dengan cinta..." Naomi mencoba terus tersenyum, sekalipun hatinya begitu sakit karena nyonya Diana terlihat memandang remeh padanya. Tuan Abraham memanggil seorang asisten rumah tangga nya untuk menyajikan makanan yang di bawa Naomi ke atas meja makan. Pria paruh baya itu begitu antusias, karena menurut Marchello menantunya, Naomi gadis yang pintar memasak. Saat David sakit dan Naomi berada di rumahnya, gadis itulah yang mengurus cucunya yang manja itu. "Naomi dengar dari kak Darrel, papa dan mama suka dengan olahan daging. Silakan di coba masakan buatan Naomi." Tuan Abraham mengambil piring dan menaruh lauk yang di bawakan Naomi. Pada kunyahan pertama, tuan Abraham begitu meresapi bumbu yang ada pada daging yang Naomi masak. Matanya berbinar, merasakan sesuatu yang begitu di rindukannya. "Ini...ini seperti masakan ibu, ma.." bisik tuan Abraham pada istrinya. Nyonya Diana membulatkan matanya, sebegitu enak kah masakan Naomi hingga suaminya mengatakan kalau ini seperti masakan ibu. Tuan Abraham memanggil mertuanya dengan sebutan ibu, itu berarti masakan yang di buat Naomi sama seperti masakan yang di buat oleh ibu nyonya Diana. Dengan sedikit ragu nyonya Diana mengambil sendok dan menyuapkan sepotong daging ke mulutnya. Naomi meremas ujung rok nya, ia harap harap cemas melihat ekspresi mama mertuanya yang tak kunjung berkomentar. "Iya..." ucap nyonya Diana ketus kemudian meletakan sendoknya di atas piring tempat tuan Abraham makan. Sepertinya wanita paruh baya itu mengakui kalau masakan Naomi memang enak namun gengsi untuk mengungkapkannya. "Sering seringlah berkunjung kemari nak. Sepertinya papa dan mama akan bertambah berat badannya karena makan masakan mu yang enak. Iya kan ma?" "Hmmmm..." nyonya Diana membuang muka, ia tak ingin mengakui pendapat suami nya yang benar. "Iya pa...ma...pasti." Naomi sedikit lega, ternyata jurusnya ini memang sedikit ampuh, ia harus lebih berusaha lagi, terlebih pada mama mertuanya. Namun ia yakin pasti, kalau wanita paruh baya itu telah sedikit membuka hatinya untuk Naomi. Tinggal selangkah lagi. *** Sepulang dari kediaman Abraham, Naomi meminta supir yang membawanya untuk mengantarnya ke rumah Adrian. Namun sebelum ia datang, Naomi terlebih Dahulu berbelanja untuk membawakan ibunya oleh oleh. Bukan sekedar oleh oleh biasa, Naomi bahkan menghabiskan uang Darrel ratusan juta rupiah hanya untuk membelikan ibunya sebuah tas kecil. Menurutnya Darrel tidak akan keberatan untuk hal itu. "Bu..." Naomi memeluk bu Wulan, hari ini wanita itu harus kembali ke rumahnya, ia tak bisa berlama lama di ibu kota karena suami barunya tak mengijinkannya. "Maafkan ibu Naomi, ibu tidak bisa menemani mu disini terlalu lama." "Tidak apa apa bu, Naomi mengerti. Ini untuk ibu." "Ini..." mata bu Wulan membola melihat label harga yang tertera di tas kecil yang di berikan Naomi padanya. "Untuk ibu, maaf Naomi tidak bisa memberikan yang lebih." "Ini terlalu mahal nak, ibu tidak bisa menerimanya." "Naomi mohon bu, anggap ini sebagai hadiah pernikahan dari Naomi." "Kamu yang menikah malah kamu yang memberikan hadiah untuk ibu. Ibu tidak bisa menerimanya Naomi. Bagaimana kalau suami kamu marah?" "Suaminya tidak akan marah, bukankah Naomi mendapatkan pria kaya?" suara Mona dari arah pintu mengagetkan mereka. Mona datang bersama dengan Adrian. Naomi melempar senyum pada kakaknya yang beberapa hari ini ia rindukan, karena kemarin saat pesta pernikahannya, Naomi tidak sempat untuk melepas rindu dengan Adrian. "Kamu datang sendiri Naomi? Mana Darrel?" tanya Adrian yang langsung duduk di samping Naomi tanpa mempedulikan kekasihnya yang tersungut kesal. "Kak Darrel langsung ke kantor kak, ada hal yang harus dia kerjakan." "Kau di tinggal di hari bulan madu kalian? Sungguh miris." ledek Mona. Naomi hanya tersenyum, ia tak pernah ambil pusing dengan kata k********r yang sering di lontarkan kekasih kakaknya itu. "Kami menunda bulan madu kami." ucapnya. "Berbaktilah pada suami mu Naomi, dia pria yang baik." "Ibu baru bertemu dengannya dua kali bagaimana bisa mengatakan kalau Darrel pria yang baik?" sungut Adrian, yang mengetahui kebusukan Darrel. "Hati seorang ibu tidak bisa di bohongi, Yan.." ucap bu Wulan dengan tenang. "Naomi mendapatkan pria kaya dan baik, jadi Adrian sayang...bagaimana kalau kau kembali ke posisimu? Pulang bersama dengan ku dan ibu? Lagian Naomi sudah ada yang menjaga." rayu Mona. Naomi meremas genggaman tangannya pada Adrian, kepalanya menggeleng samar, ia tak ingin Adrian meninggalkannya sendirian. Lebih tepatnya Naomi tak ingin berpisah dengan Adrian. "Aku akan tetap disini menjaga Naomi, kau pulanglah dengan ibu." ucap Adrian menatap lurus pada Mona yang terlihat kesal duduk di samping bu Wulan. Naomi mengulum senyum, ia menatap tangannya yang tengah di genggam oleh Adrian. "Kamu udah makan Naomi? Ibu masak makanan kesukaan kamu. Bebek betutu." "Maksud ibu masakan kesukaan ayah?" Bu Wulan mengangguk, ayah Naomi adalah suami dan ayah terbaik yang pernah ia kenal selain ayah kandung Adrian. Wanita paruh baya itu tak akan mampu melupakan suaminya sekalipun pria itu telah meninggal. Mona yang kesal tak di dengarkan, menghentakkan kakinya dan pergi dari rumah Adrian, namun pria itu justru tak mengejarnya. Ia lebih memilih menemani Naomi dari pada mengejar kekasih manjanya itu yang terus saja memaksanya untuk kembali merebut perusahaan milik ayah Naomi yang telah di kuasai suami baru ibunya itu. Itulah alasan Mona begitu membenci Naomi. Karena Adrian begitu melindungi Naomi, pria itu justru ikut pergi dari rumah dan memilih bekerja sebagai bartender dari pada meneruskan bisnis keluarga ayah Naomi. "Kak..." Naomi memeluk erat tubuh Adrian, sosok pria satu satunya yang selalu ia rindukan dan ia cintai tentunya. Adrian membalas pelukan Naomi, membelai rambutnya panjang gadis itu dengan sayang. Sementara bu Wulan tengah sibuk menyiapkan masakan untuk mereka di dapur. "Kita pergi saja Naomi, kalau kau memang tidak kuat. kakak tidak ingin kau ikut hancur dalam permainan ini. Kau cukup tahu saja seperti apa Darrel." bisik Adrian. "Aku baik baik saja. Yang penting ada kak Adrian bersama ku." "Kakak tidak akan meninggalkan mu Naomi. Sampai kapanpun." "Itu sudah cukup kak..." Bu wulan melewati kamar Adrian dan melihat kedua anaknya sedang saling berpelukan, sebenarnya pernah terbersit dalam pikirannya hubungan Naomi dan putra nya bukan sekedar hubungan saudara. Tatapan di antara mereka sungguh tersirat penuh cinta, dan terkadang wanita itu takut untuk menerka nerka. Terlebih sifat Adrian yang terlalu melindungi pada Naomi, bahkan putra nya itu rela meninggalkan kekasihnya bila sampai menyakiti hati Naomi. Namun wanita itu bisa bernafas lega sekarang, setidaknya ketakutannya hanya perasaannya saja. Adrian dan Naomi hanya saling menyayangi, sebagai saudara. Nyatanya anak tirinya itu telah memiliki suami sekarang dan Adrian melepaskan adiknya begitu saja walaupun terlihat jelas kalau Adrian tidak menyukai Darrel. *** Naomi menunggu Darrel di kamarnya sampai tengah malam, namun pria itu tak kunjung pulang. Bahkan telepon genggamnya pun tidak aktif. Begitu juga dengan Mario dan Anthony, entah apa yang mereka bertiga lakukan bersama. Hati Naomi sebenarnya baik baik saja, ia tak begitu mempedulikan Darrel yang tidak pulang ke rumah. Hanya saja sebagai seorang istri sepertinya pantas baginya untuk mengetahui dimana keberadaan Darrel. Hingga pagi menjelang pun suaminya itu tak memberi kabar apapun, hingga siangnya ia memilih untuk mendatangi kantor pria itu. Benar saja, mereka bertiga ternyata memilih menginap di kantor tanpa memberi kabar pada orang rumah. "Jadi seperti ini cara mu kak?" bentaknya begitu memasuki ruangan Darrel dan mendapati Mario serta Anthony yang tengah sibuk berdiskusi. "Naomi?" "Kau di kantor sejak kemarin tanpa memberi kabar? Apa kau pikir status mu sama seperti mereka berdua yang lajang? Kau punya istri di rumah kak?" Naomi dengan nada dinginnya menghardik Darrel. Sementara Mario dan Anthony hanya diam, mereka tahu posisi mereka salah. "Kami keluar dulu, selesaikan baik baik Naomi." Mario menepuk pundak Naomi sebelum berlalu meninggalkan ruangan Darrel bersama Anthony. Naomi mengatur nafasnya, terlihat sekali di wajah Darrel tak ada penyesalan sama sekali dari pria itu. "Maaf ." ucapnya, namun pandangannya kembali beralih pada laptop yang berada di hadapannya . "Apa laptop di hadapanmu lebih menarik di banding istri mu?" "Istri yang pergi ke tempat pria lain tanpa minta ijin pada suami?" Naomi terdiam, ia mengerti arah pembicaraan Darrel. "Kak Adrian maksudmu? Atau papa?" Naomi berjalan mendekati Darrel dan berdiri tepat di samping pria itu, ia memutar kursi yang duduki Darrel hingga berhadapan dengannya. Darrel mengalihkan pandangannya, menatap Naomi lekat, wajahnya masih datar tanpa ekspresi seperti biasa. "Jangan bilang kau cemburu pada kak Adrian dan juga papa kak." "Saya tidak cemburu pada kakakmu." Darrel mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah. "Dia kakak ku kak.." "Kalian hanya saudara tiri." Naomi terkekeh, ia memang bersalah karena tidak memberi tahu Darrel kalau dirinya pergi menemui ibunya dan juga Adrian. Naomi duduk di pangkuan Darrel dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. "Maaf kan aku kak..." "Jangan seperti ini Naomi, kamu bisa membangunkan singa yang sedang tidur. Dia sangat sulit di kendalikan." Darrel mencoba menyingkirkan Naomi namun gadis itu bersikukuh untuk duduk di pangkuan Darrel. "Kenapa? Aku hanya ingin bermanja dengan suami ku..." "Naomi..." Darrel menggeram, sesuatu di sana sudah mengeras. Pria itu semakin kesal digoda istrinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD