Darrel masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di rubah menjadi kamar pengantin, dan mendapati Naomi tengah tertidur dengan setelan baju tidurnya.
Pria itu mendengus kesal, bagaimana tidak?
Di malam pengantinnya, Naomi justru sedang datang bulan.
Alhasil, hasrat yang sedari seminggu kemarin di tahannya ia harus luapkan sendiri.
Darrel bermain solo di kamar mandi dengan membayangkan wajah Naomi dan terus mendesahkan nama gadis itu.
Sudah lewat dini hari dan pria itu baru menyelesaikan ritual mandi double nya.
Darrel menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan Naomi yang memunggunginya.
Ia tak ingin menyentuh tubuh gadis yang berada di sampingnya itu, kalau tidak ia harus ekstra menidurkan juniornya yang terus saja on bila berdekatan dengan Naomi.
Darrel harus segera tidur.
***
Sinar matahari masuk lewat sela sela jendela kamar hotel yang di tempati Darrel dan Naomi.
Gadis itu telah mandi dan wangi, bersiap menyambut Darrel bangun, hari ini adalah hari pertamanya sebagai seorang istri.
Ia bahkan sudah memesan sarapan yang sebentar lagi di kirim dari dapur hotel.
"Kak..." bisik nya tepat di telinga Darrel.
Pria itu menggeliat, meregangkan otot ototnya yang kaku karena aktivitasnya seharian kemarin yang melelahkan.
"Hmmmm.."
"Selamat pagi suami.." Naomi tersenyum memandang wajah Darrel.
Pria itu terlihat manis dan jauh lebih muda dari usianya saat baru bangun tidur.
Ekspresi matanya yang hangat dengan rambutnya yang masih acak acakkan, begitu imut di mata Naomi.
"Kamu sudah bangun?"
Darrel bangun dari posisi tidurnya dan mengerjabkan matanya.
"Aku sudah wangi. Coba cium?" Naomi mendekatkan lehernya pada wajah Darrel dan membuat pria itu mengulum senyum.
Masih pagi dan istrinya itu sudah berani menggodanya, kalau saja Naomi tidak sedang datang bulan, sudah di pastikan Darrel akan menerkamnya berkali kali hingga gadis itu tak bisa bangkit dari atas ranjang.
"Selamat pagi sayang.."
Darrel memeluk tubuh Naomi dan menghirup aroma gadis itu lewat ceruk lehernya.
Naomi menggelinjang kegelian, bibir Darrel menghisap ceruk lehernya dan mengigitnya kecil.
"Jangan seperti ini kak..." bisiknya sambil menahan desahan yang hampir keluar dari bibirnya.
Darrel melepaskan pelukannya pada tubuh Naomi, ia sudah salah dengan menyentuh tubuh gadis itu, membuat juniornya langsung on dan ini sungguh menyiksanya.
"Saya mandi dulu.." dengan wajah memerah Darrel bergegas turun dari atas ranjangnya, meninggalkan Naomi yang terkekeh mengerti apa yang terjadi pada suaminya itu.
"Jangan terlalu keras ka...nanti lecet.." teriaknya di sertai tawa.
***
Darrel keluar dari kamar mandi dengan balutan bath rob di tubuhnya.
Naomi tengah duduk menunggunya dengan berbagai makanan yang terhidang di meja yang di kirim oleh pihak dapur hotel.
Mereka menikmati sarapan pagi mereka untuk yang pertama kalinya sebagai suami istri.
Naomi tak hentinya mengulum senyum menatap ke arah Darrel yang terus saja menampakan ekspresi datarnya semenjak keluar dari kamar mandi.
"Kita pulang ke mansion setelah ini." dengus nya kesal setelah meneguk segelas air putih dan menghabiskan sarapan mereka.
Naomi menautkan kedua alisnya, dirinya ingat kalau Darrel memintanya untuk menginap di hotel seminggu setelah hari pernikahan mereka.
"Untuk apa kita berbulan madu sementara saya tidak bisa menyentuh mu? Sungguh menyiksa."
Naomi terkekeh, ia faham betul kenapa suami nya itu marah marah.
"Kak...."
"Apa?"
"Hanya beberapa hari..."
"Berapa hari?"
"Ehm....entahlah. Mungkin empat atau lima hari lagi."
Naomi suka sekali melihat ekspresi kesal Darrel seperti ini, ia begitu puas menggoda pria di hadapannya itu.
"Itu sama saja Naomi. Lama..."
"Apa kau akan mencari wanita lain kak?" Naomi memasang wajah memelasnya menatap Darrel yang sepertinya sebentar lagi akan meledak.
"Mana mungkin? Kamu tahu sendiri, milik saya tidak akan bangun secantik apapun wanita yang menggodanya."
"Benarkah?"
"Sudah pernah saya coba tapi tidak bisa."
Naomi mengulum senyum, ternyata yang di ceritakan Anthony waktu itu memang benar, Darrel memang aneh, atau lebih tepatnya ia pantas menyebut pria itu spesial.
Naomi patut bersyukur mendapatkan seorang Darrel, setidaknya ia tidak perlu khawatir suaminya akan berselingkuh.
***
Siangnya mereka kembali ke mansion milik Darrel, tidak ada yang berubah baik sebelum atau sesudah Naomi menikah dengan Darrel karena memang mereka sudah tinggal bersama sejak sebulan sebelum pernikahan mereka.
Darrel bergegas mengganti pakaian yang dikenakannya dengan yang lebih formal, dan itu tak luput dari pandangan mata Naomi.
"Mau kemana kak?"
"Ke kantor."
"Langsung?"
"Banyak urusan yang harus saya selesaikan Naomi." pria itu menyisir rambutnya dan memakai parfum mahalnya.
Perfect.
Air liur Naomi hampir menetes melihat setiap adegan yang di lakukan Darrel di hadapannya.
Kenapa semakin lama pria matang di hadapannya itu begitu terlihat menggoda?
"Apa kau harus setampan itu untuk datang ke kantor kak?"
Naomi mendekati Darrel dan memeluk pinggang pria itu dari belakang, menghirup aroma parfum maskulin Darrel yang telah menjadi candunya.
"Jangan menggoda saya Naomi...Saya tidak bisa melampiaskannya..."
Naomi terkekeh dan melepaskan pelukannya, memutari tubuh Darrel dan berhadapan dengannya.
"Maafkan aku kak..."
Darrel menyentil ujung hidung Naomi sembari tersenyum, mana mungkin ia akan tega memaksa istrinya yang sedang datang bulan untuk melayaninya?
"Kamu akan menerima hukumannya minggu depan. Bersiaplah."
Naomi mengecup sebelah pipi Darrel dan punggung tangan kanan pria itu.
"Selamat bekerja suami ku...Dapatkan uang yang banyak untuk bisa ku habiskan nantinya..."
Darrel tersenyum, mengusap ujung rambut Naomi.
"Kamu bahkan belum pernah memakai uang yang saya berikan padamu. Gold card yang pernah saya titipkan pada Anthony kenapa belum juga di pakai?"
Naomi terkekeh, ia memang tidak suka berbelanja atau datang ke kafe untuk sekedar nongkrong, jadi untuk apa ia mengeluarkan uang yang di berikan Darrel padanya.
"Aku bingung, akan ku gunakan untuk apa uang darimu."
"Belilah sesuatu. Berbelanja atau sekedar makan di restoran. Bersama dengan siapa itu sahabatmu yang sering kemari dulu?"
"Citra?"
"Iya, Citra."
"Juga David?"
Rahang Darrel mengeras, walaupun David keponakannya, namun anak manja itu penyebab dirinya merusak masa depan Naomi, walaupun Darrel sama sekali tidak menyesal karena akhirnya bisa bersama dengan gadis itu.
Hanya saja ia masih tidak suka dengan sifat manja dan kekanakan keponakannya itu, terlebih hal terakhir yang di pergoki Darrel saat David berusaha memperkosa Naomi.
Sampai detik ini pun Darrel masih belum bisa memaafkan pria itu.
"Jangan dekati dia lagi."
"Kenapa kak?"
"Saya tidak suka."
"Kak Darrel.."
"Tidak ada bantahan."
"Dia keponakanmu kak."
"Kamu tidak ingat apa yang dia lakukan kepadamu?"
"Aku tidak menyesalinya kak. Itu yang membuatku akhirnya mendapatkan mu kan? Apa jangan jangan kau menyesal?" Naomi mengelus d**a Darrel dan berucap manja pada pria itu.
"Saya tidak menyesalinya sayang...Hanya saja..."
"Kak...aku sudah memaafkan David, kemarin aku sudah bicara padanya. Hubungan kami akan baik baik saja kedepannya."
"Apa kamu yakin?"
"Aku akan berusaha agar dia bisa bersama dengan gadis yang juga mencintainya kak... Kami hanya berteman."
Darrel menautkan alisnya, menatap tajam ke arah Naomi, meminta gadis itu agar lebih meyakinkan nya.
"Aku janji." Naomi mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya di hadapan Darrel, mencoba meyakinkan pria di hadapannya.
Darrel tersenyum, dia percaya kalau Naomi begitu mencintainya sekalipun gadis itu tak pernah menyatakannya.
"Baiklah, saya percaya. Jangan pergi terlalu jauh. Sering seringlah hubungi saya."
Naomi mengangguk.
Darrel mengecup kening istrinya setelah itu ia berlalu meninggalkan Naomi sendiri di kamar mansion nya yang begitu luas.
Hati Naomi tiba tiba berubah, kehampaan yang ia rasakan.
Ia kini berada di dalam mansion yang begitu mewah dengan segala fasilitas, namun mengapa hatinya sepi?
Sementara Darrel memberikan harta yang berlimpah padanya?
Apa kabar kak Adrian?
Dari kemarin semenjak ia meninggalkan pesta pernikahannya, ia belum mengetahui kabar Adrian.
Dan Naomi merindukannya, merindukan kakak tirinya itu.
***
Naomi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke dapur.
Hari ini ia berniat akan mendatangi tuan Abraham ke kediamannya.
"Ada yang bisa saya bantu nona?"
"Siapa namu mu?"
"Saya Runi, nona."
"Baiklah Runi, tolong bantu aku. Hari ini aku ingin memasak."
"Biar saya saja yang memasak, nona. Anda cukup katakan ingin makanan apa."
Naomi menggelengkan kepalanya, ia ingin melakukannya sendiri.
Naomi ingin membuatkan makan spesial untuk papa mertuanya yang telah menerimanya dengan baik sebagai menantu keluarga Abraham.
***
"Kau datang ke kantor ,Darrel? bukankah hari ini harusnya kau berbulan madu dengan Naomi?"
Tawa Mario memenuhi ruangan, melihat Darrel yang tengah duduk di kursi kekuasaannya dan malah tenggelam di depan tumpukan map.
"Diam kamu Mario. Saya sedang tidak ingin bercanda." dengan wajah datarnya Darrel sibuk membuka satu persatu map yang ada di hadapannya.
"Nona Naomi sedang datang bulan pak Mario." bisik Anthony sembari mengulum senyum, tawa Mario semakin menggema memenuhi ruangan.
Wajah Darrel semakin merah padam mendengar tawa Mario dan Anthony yang sukses meledeknya.
"Kalian..." geram Darrel kemudian melempar sebuah map namun tidak sampai mengenai tubuh Mario ataupun Anthony.
"Sabar bro...sabar..." Mario berjalan mendekati Darrel yang tengah menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, wajahnya terlihat begitu frustasi.
Darrel mengusap wajahnya sembari mendengus kesal.
"Padahal saya sudah menahannya selama seminggu, karena dia yang meminta kami harus pisah kamar dulu. Kalau tahu begini, saya gempur dia setiap hari sebelum menjelang pernikahan."
Darrel menutup matanya dengan sebelah tangannya.
Mario masih tak hentinya mengulum senyum, pria lajang itu seperti lalat yang sedang menari di atas luka sahabatnya.
"Bagaimana kalau sore ini kita ke klub? Banyak wanita cantik di sana, kau bisa memilihnya."
"Bos Darrel tidak berselera dengan wanita lain selain dengan nona Naomi pak Mario." jelas Anthony.
Tak kuasa menahan tawanya, Mario kembali terbahak mendengar jawaban Anthony yang menurutnya lucu dan tidak masuk akal.
"Sepertinya kau harus bersabar bro. Seminggu itu ...hanya sebentar."
"Aaaaahhhhh..." teriak Darrel frustasi yang di balas gelak tawa oleh kedua sahabatnya.
***