CHAPTER 37

1740 Words
Hari ini Darrel menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, ia harus pergi dengan Naomi menemui dokter kandungan. Ya, sesuai rencana Darrel, Naomi harus mengikuti program hamil terlebih dahulu sebelum mereka menikah. Ia menginginkan banyak anak dari gadis kecilnya itu. Naomi tidak ingin berdebat dengan Darrel soal ini, persiapan pernikahan yang begitu melelahkan baginya itu sudah menguras tenaga serta pikirannya. Ia cukup mengikuti semua permintaan Darrel, apapun itu. Saat tiba di tempat praktik dokter kandungan Naomi langsung di periksa keadaan rahimnya, tak luput juga Darrel. Mereka berdua duduk berhadapan dengan dokter dan di berikan penjelasan soal makanan yang di konsumsi, di beri vitamin juga, olah raga, serta cara b******a termasuk di dalamnya. Wajah Naomi memerah bila membahas soal itu, ia tetap merasa malu walaupun sudah melakukannya berkali kali. Setelah hampir dua jam berada di rumah sakit, mereka pun pulang ke mansion milik Darrel. "Jangan lupa minum vitaminnya sayang..." ucap Darrel, Naomi mengangguk kemudian berlalu menuju kamarnya sementara Darrel langsung menuju ruang kerjanya melanjutkan tugas yang masih belum diselesaikannya di kantor. Naomi berada di kamar mandi dan langsung membuka bungkus vitamin yang diresepkan dokter padanya. Menukar isinya dengan obat yang berada di dalam tas ranselnya yang sudah berbulan bulan ini ia konsumsi. Ia tak ingin ada hal di luar rencananya terjadi. Cukup sudah semuanya membuat kepalanya pusing. *** Pernikahan Darrel dan Naomi di gelar begitu meriah di ballroom Rain Abraham Hotel bintang lima milik keluarga Darrel. Semua tamu undangan mayoritas adalah rekan bisnis Darrel dan tuan Abraham serta beberapa teman sekolah Naomi dan Darrel. Adrian dan juga bu Wulan Asri pun datang sebagai pihak keluarga dari Naomi. Gadis itu tak membawa keluarga dari pihak ayah maupun ibunya yang memang sedari dulu tidak dekat dengannya. Naomi melirik ke arah Citra yang berdiri tak jauh dari tempatnya bersanding dengan Darrel, memberi kode pada sahabatnya itu dan Citra pun mengangguk, tak lama gadis itu datang dengan dua botol kecil air mineral yang di berikan pada Naomi. "Terimakasih Ci..." Citra tersenyum, memandang bahagia sahabatnya yang bersanding dengan uncle dari teman sekolahnya itu. #FLASBACK ON# "Aku akan menikah, datang ya..." Naomi mendatangi rumah Citra namun sebelumnya sahabatnya itu sudah terlebih dahulu menghubunginya meminta penjelasan soal lamaran dadakan Darrel dan juga pernyataan Marissa Aurora yang menyatakan Naomi sebagai perusak hubungan orang. Citra membulatkan matanya, memandang sehelai kertas bertuliskan namanya dan juga berhiaskan foto pra wedding Darrel dan Naomi yang berbalut pakaian adat jawa. "Kau serius Naomi? Oh God...selamat ya sayang..." Citra memeluk tubuh Naomi erat, air matanya tak terasa menetes karena terharu. "Terimakasih." "Eh tunggu dulu..." Citra mengurai pelukannya dan menggenggam kedua lengan sahabatnya itu." "Hmmm?" "Apa kau...jangan jangan kalian married by accident ya?" "Enak aja!" Naomi memukul kecil lengan Citra yang di balas kekehan oleh gadis itu. "Jadi pria yang kau ceritakan waktu itu uncle Darrel?" Naomi mengangguk. "Pria dingin dan kaku itu?" Naomi mencubit pinggang Citra pelan. "Dia tidak dingin dan kaku seperti yang terlihat Ci.." "Jadi uncle Darrel pria yang hangat? Hangat di ranjang?" Citra terkekeh menggoda Naomi yang sudah memerah wajahnya. "Apaan sih..." "Jadi kalian sudah..." "Citraa......" "Hahaha...." tawa Citra menggelegar memenuhi ruang kamarnya, Naomi tersipu dengan ledekan sahabatnya itu. Perbincangan berlanjut tentang bagaimana mulanya seorang Darrel yang dingin itu bisa dekat dengan Naomi. "Andai David bisa bersikap seperti uncle Darrel...." gumam Citra, wajahnya cemberut teringat kejadian malam itu. Naomi mengusap punggung sahabatnya, ia merasa bersalah telah mengatakan yang sebenarnya pada Citra. "Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari pria b******k itu Ci..." "Tapi aku sangat mencintai David..." "Bersabarlah, seiring berjalannya waktu, ku harap kalian bisa bersama seperti ku dan kak Darrel." Citra mengangguk, mengamini ucapan Naomi. "Lalu bagaimana dengan kuliah mu?" "Kak Darrel mengijinkan ku melanjutkannya, namun tidak bila kami memiliki momongan." "Apa kau akan langsung memiliki anak?" Naomi terdiam, ia tak bisa membeberkan semua rencana nya sekalipun itu pada sahabatnya. #FLASHBACK OFF# "Naomi terlihat bahagia dengan suaminya..." bu Wulan Asri yang berdiri berdampingan dengan Adrian tak hentinya memandang Naomi sembari tersenyum, namun tidak dengan wajah Adrian yang terus saja terlihat dingin dan datar itu. Hatinya begitu panas membara melihat adiknya bersanding dengan pria yang menurutnya tidak pantas menyandang status sebagi suami. "Itu orang tuanya Darrel, apakah akan menerima Naomi dengan baik di keluarga mereka?" "Ibu tidak perlu khawatir, Naomi gadis yang cerdas, dia bisa menempatkan diri." Bu Wulan Asri mengangguk, memang benar kata Adrian, bahkan dirinya pun teramat menyayangi Naomi walaupun gadis itu bukan putri kandungnya. Pesta pernikahan Darrel dan Naomi berlanjut hingga tengah malam, artis artis papan atas pun turut memeriahkan. "Selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng." "Semoga segera di beri momongan." "Pengantin wanitanya muda sekali tuan Darrel, pasti segera di beri banyak momongan..' "Terimakasih.." Tubuh Naomi sudah tidak kuat untuk berdiri lama lagi, namun sepertinya pesta belum akan berakhir. "Kak..." "Hmmmm..." "Apa masih lama lagi?" "Apa kamu sudah tidak sabar untuk memulai malam pertama kita?" goda Darrel. Naomi memutar pandangannya, ia sedang tidak mood untuk bercanda. "Aku sedang datang bulan kak." Ekspresi wajah Darrel berubah masam. Apa apaan ini? Haruskah malam pertama ia lewati dengan hanya memandang Naomi tertidur di sampingnya? Juniornya bahkan seketika ikut tertidur bersamaan dengan moodnya yang berubah. Mereka berdua terdiam sembari menikmati alunan lagu yang di suguhkan penyanyi di panggung. *** David berdiri di depan kamar hotel tempat Darrel akan menghabiskan malam pertamanya dengan Naomi. Wajahnya yang kusut tak terurus memandang tajam pintu kamar hotel itu. Berharap mendapati wajah Naomi dan membawanya lari. Tapi mungkinkah? Pria itu begitu putus asa, ini harapan terakhirnya, membawa Naomi kabur dari uncle Darrel. Hampir setengah jam lamanya David menunggu dan akhirnya sosok gadis yang di rindukannya beberapa bulan terakhir ini akhirnya muncul juga. Naomi berjalan lunglai menuju kamar hotel tempat dirinya dan Darrel akan menginap malam ini. David mengembangkan senyumnya, matanya berbinar, Naomi sepertinya tidak menyadari kehadiran dirinya yang tengah berdiri di depan pintu menunggunya. "Naomi..." Langkah Naomi terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya dalam jarak yang begitu dekat, gadis itu mengangkat wajahnya memandang pria yang tengah berdiri tepat di hadapannya. "David? Sedang apa kau..." mata gadis itu membola saat David dengan tiba tiba merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. "Naomi...aku mohon...pergilah denganku..." Dengan sekuat tenaga Naomi mendorong tubuh David namun tubuhnya yang memang sudah lelah tak memiliki tenaga tak mampu melepaskan pelukan David yang begitu erat. "Dave....jangan seperti ini..." David memperdalam pelukannya, meletakan kepalanya di ceruk leher Naomi membuat gadis itu semakin panik dibuatnya. "Naomi, kau tau aku sangat mencintaimu. Aku mohon pergilah denganku. .." "Tidak bisa Dave...aku sudah resmi menjadi istri uncle mu. Jadi mulai hari ini kau juga keponakanku." "Aku tidak mau Naomi." "Tapi itu sudah terjadi Dave...Aku juga sudah tidur dengan uncle mu." David mengurai pelukannya, menggenggam erat kedua lengan gadis itu dan menatap tajam manik matanya. "Walaupun kau sudah b******a dengan uncle Darrel, aku tidak masalah. Yang penting kau menjadi milikku Naomi. Kau milikku." "David dengar!!" hardik Naomi, membuat David terdiam. Gadis itu menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan kata katanya. "David dengarkan aku. Walaupun aku sudah menikah dengan uncle mu...kita masih bisa berteman. Kapanpun kau butuh bantuan ku, aku akan selalu ada untuk mu. Sama seperti dulu. Kalau kau tidak ingin pindah keluar negeri dengan tuan Marchello, aku akan berbicara dengan beliau agar tidak membawa mu pergi. Oke? Jadi...kita tidak akan berpisah..." Naomi berbicara lemah lembut pada David. Gadis itu faham betul sifat David yang manja dan tidak bisa di kasari sama sekali, hanya ini jalan satu satunya agar pria tampan di hadapannya itu selalu mau menuruti perkataannya. Air mata David seketika mengalir, hatinya remuk, sekali lagi ia menadapat penolakan dari gadis yang sangat dicintainya. Naomi mengusap air mata yang mengalir di pipi David sembari tersenyum. "Kau tidak akan kehilanganku Dave...aku selalu ada untukmu. Hanya saja, sekarang status ku berubah karena aku menikahi uncle mu. Kita masih bisa ke kampus bersama, mengerjakan tugas bersama, atau pergi keluar bersama. Kau bisa menginap di mansion kak Darrel seperti biasa." David mengangguk, setidaknya ia bisa bersama dengan Naomi sekalipun tidak bisa memiliki nya. "Apa uncle Darrel akan marah bila aku bersama mu?" "Akan aku minta dia menahan amarahnya, asalkan kau bersikap baik dan menuruti perkataan ku." David mengangguk, sepertinya ia harus menyerah pada perasaannya. Setidaknya ia masih bisa bersama Naomi, sosok ibu yang ia rindukan dan ia dapati dalam gadis itu. "Naomi..." "Hmmm..?" "Aku ada satu permintaan." "Katakan..." "Mau kah kau menciumku? Untuk yang terakhir..." Naomi terdiam, otaknya berfikir. Bolehkah? Tiba tiba gadis itu terkekeh sendiri dengan pikirannya. "Kenapa Naomi?" "Mencium mu? disini?" Naomi menunjuk pipi sebelah kanan David dengan wajah polosnya. Pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku mau kita berciuman Naomi." Naomi kembali terdiam, wajahnya tersipu mendengar permintaan aneh aneh David. Tanpa aba aba ia mengalungkan kedua tangannya ke leher David kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir David. Mengecupnya sesaat kemudian melumat bibir David. Pria itu memejamkan matanya, di peluknya pinggang Naomi erat, memangkas jarak diantara mereka dan sebelah tangannya memegang tengkuk leher gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka. David dengan lihai memainkan bibir dan lidahnya pada bibir Naomi, hingga gadis itu pun ikut larut dalam ciuman panas terlarang mereka. Bahkan saat di rasa pasokan udara di antara mereka habis pun, mereka enggan untuk melepaskan satu sama lain. David justru memiringkan wajahnya , memberi akses untuk Naomi mengambil oksigen tanpa melepaskan ciuman mereka. Naomi merasa ada yang mengganjal pada perutnya, benda keras panjang milik David yang pastinya sudah on karena aksi panas mereka ini, ia hanya tertawa dalam hati tanpa berniat melepaskan tautannya dengan David. Ini yang terakhir, batinnya, tidak masalah apapun yang terjadi nantinya. Suara deheman dari belakang menghentikan aksi mereka. David dan Naomi melepaskan tautan masing masing namun David masih memeluk tubuh Naomi dengan erat, begitupun gadis itu. David menyeringai, menatap wajah Naomi yang tersipu dengan bibirnya yang bengkak serta bekas lipstiknya yang belepotan ke mana mana. Di usapnya bibir Naomi dengan lembut. "Terimakasih Naomi, aku mencintaimu. Selalu mencintaimu." ucap David lirih. "Pulanglah. Kau harus menuntaskan apa yang sudah kita mulai tadi." bisik Naomi sambil mencubit kecil perut bagian bawah David. Pria itu mengerti. "Sampai jumpa." "Ya.." Sebelum pergi David mengecup sesaat puncak kepala gadis itu, kemudian berlalu meninggalkan Naomi di depan pintu kamar hotel. Anthony keluar dari balik tembok setelah kepergian David. "Sepertinya anda puas melakukannya nona. Sudah hampir satu jam anda berciuman dengan tuan David." Naomi membuang pandangannya dan tertawa sumbang. "Anda terlalu mengawasi saya pak." "Sebentar lagi bos akan kemari, saya tidak tahu apa yang akan terjadi diantara kalian bertiga bila beliau melihat semua ini." "Katakan saja semua yang kau lihat pak Anthony, aku baik baik saja." Naomi membuka pintu kamar hotel dan membantingnya dengan keras. Anthony menghela nafas kasar, ia harus segera mengambil sikap. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD