CHAPTER 36

1532 Words
Hari sudah sore saat Darrel dan Naomi tiba di toko perhiasan. Kali ini sebelum datang, dalam perjalanan menuju toko perhiasan Naomi sudah terlebih dahulu melihat lihat katalog perhiasan lewat online. Ia tak ingin berlama lama berada dalam toko perhiasan seperti saat dirinya memilih gaun pengantin tadi. Terlebih tatapan tajam para pramuniaga yang terpukau melihat ketampanan Darrel serta tak ingin mendengar mereka membandingkannya dengan Marissa. Apakah Naomi sekarang memiliki rasa cemburu? Entahlah, dirinya sendiri sulit mengartikan sikapnya. "Aku mau yang ini kak." Naomi menunjuk sebuah cincin couple yang ternyata bisa di satukan bila di dekatkan. "Apa ini tidak terlalu sederhana?" "Aku tidak suka sesuatu yang terlihat rumit kak." Darrel mengangguk, ia tak akan menolak apapun permintaan Naomi. Tak lama kemudian mereka telah tiba di toko perhiasan. Anthony berjaga di depan pintu, ia tak membiarkan seorang pelanggan pun masuk agar bosnya dan Naomi memiliki banyak waktu tak terganggu dengan orang orang yang ingin ikut campur dalam kehidupan mereka. "Bisa minta di ukirkan nama kami di dalamnya?" "Kalau tulisannya di buat timbul saja bagaimana kak?" "Apa kamu ingin yang seperti itu?" "Kalau di ukir itu sudah biasa, di buat timbul dengan inisial saja kak." "Baiklah. Sesuai dengan yang calon istri saya inginkan." Pramuniaga yang melayani Naomi dan Darrel pun mengangguk kemudian berlalu dari hadapan mereka. Naomi berdiri mengikuti Darrel yang tengah sibuk melihat lihat isi toko perhiasan. "Bawakan saya satu set perhiasan yang itu juga." tunjuk Darrel pada sekotak perhiasan berisikan gelang, kalung serta sepasang anting emas putih yang semuanya bertahtakan berlian. "Beli banyak sekali untuk apa kak?" "Tentunya untuk mu sayang." Naomi membulatkan matanya, perhiasan yang di pajang terpisah dengan berlian besar besar itu tentunya memiliki nominal yang besar pula. "Jangan berlebihan kak...aku tidak memintanya." "Saya memberikannya Naomi. Tolong jangan menolaknya." Naomi terdiam, gadis mana yang tidak tertarik pada benda berkilauan di hadapannya ini. Bentuk yang indah disertai harga yang pastinya fantastis itu, siapapun tidak akan menolaknya tak terkecuali dirinya, haruskah ia sok jual mahal? Naomi tersenyum, dirangkulnya lengan Darrel mesra, wajahnya didekatkannya ke telinga pria itu. "Kak.." "Hmmmm..." "Orang bisa mengira kalau aku menikahi mu karena mengincar hartamu." Darrel terkekeh. Dia begitu yakin kalau Naomi mencintainya dengan tulus, oleh sebab itulah gadis itu pantas mendapatkan semua milik Darrel. "Saya tidak mempedulikan apa kata orang. Saya percaya kepada kamu sepenuhnya." 'Semoga kau tidak menyesal kak..." batin Naomi sembari menyeringai. *** Hari ini begitu melelahkan, hingga hari sudah petang pun Darrel dan Naomi belum tiba di mansion milik Darrel. "Aku lelah sekali..." Naomi menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi penumpang, Darrel menarik pundak gadis itu agar bersandar pada tubuhnya. "Tidurlah, sesampainya di rumah akan saya bangunkan." Naomi mendongakan wajahnya melumat bibir Darrel sesaat sebelum menenggelamkan wajahnya di d**a bidang pria tampan di sampingnya. Darrel tak hentinya mengulum senyum, baginya hanya ini yang bisa ia berikan untuk Naomi padahal gadis itu pantas untuk mendapatkan lebih. Di peluknya tubuh mungil Naomi dalam dekapan, Naomi memejamkan matanya, tubuhnya yang begitu letih membuat otaknya malas berfikir, ia ingin istirahat. 'Apa anda mendapatkan apa yang anda inginkan nona?' Anthony yang sedari tadi sibuk menyetir namun fokusnya teralihkan melihat tingkah Naomi dari spion mobil hanya mampu bergumam dalam hati. Ia begitu tidak tega untuk mengungkapkan kecurigaannya pada Darrel. Ia hanya ingin mengumpulkan bukti dulu, bila dirasa cukup, ia akan melaporkannya. Tak peduli apapun yang akan terjadi, karena ini semua demi kebaikan Darrel. *** Naomi terjaga dari tidur panjangnya, dan terbangun dengan tubuh berselimut berada dalam kamar Darrel. "Kamu sudah bangun?" Naomi mengedarkan pandangannya, merasa sedikit bingung namun otaknya langsung kembali terkoneksi dengan keadaan, gadis itu tersenyum sembari mengangguk. Naomi beringsut turun dari atas ranjang dan berjalan ke kamar mandi. "Mau saya mandi kan?" goda Darrel. Naomi mencibirkan bibirnya tanpa terlihat Darrel, mood nya belum stabil karena baru bangun tidur, ia sedang tak ingin bergurau. "Tidak." jawabnya sebelum tubuhnya menghilang di telan daun pintu kamar mandi. Naomi menghempaskan tubuhnya dalam bath tub berisi air hangat. Ia benar benar merasa lelah hari ini, hari yang begitu panjang baginya. 'Sudah benarkah apa yang aku lakukan sekarang? Apa aku tidak keterlaluan?' batin Naomi. Ia memejamkan matanya sesaat, menikmati aroma terapi yang berasal dari sabun mandi yang ia tuangkan ke dalam bathtub. Sungguh menenangkan. Hampir satu jam Naomi berendam, suara di perutnya memintanya menyelesaikan ritual mandinya. Ia harus segera turun untuk memberi makan cacing cacing di perutnya. Darrel tengah menunggunya di ruang makan. "Setelah makan kita harus menemui seseorang." Naomi melirik sesaat pada pria tampan yang duduk di hadapannya. Masih adakah agenda hari ini? Oh tidak, tubuh Naomi sudah merasa tidak karuan. Ia hanya ingin tidur setelah ini. "Kemana?" tanya nya dingin sambil terus menikmati makanan yang ada di hadapannya. "Tidak kemana mana. Dia yang akan datang kemari." Darrel mengulum senyum sambil menatap ke arah Naomi yang tengah sibuk dengan makanannya. Entah kenapa Darrel merasa hanya dirinya yang antusias terhadap pernikahan mereka, sementara Naomi terlihat biasa saja. Apa gadis itu menginginkan pernikahan ini? Atau hanya dirinya? Darrel bingung mengartikan sikap Naomi yang berubah ubah. Setelah makan malam mereka yang di penuhi dengan keheningan, Darrel membawa Naomi ke ruang kerjanya. Seseorang telah menunggu mereka. Seorang pria bersetelan jas dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya, tersenyum melihat ke arah Darrel dan Naomi yang berjalan mendekatinya. "Kenalkan, dia tuan Krist Ardan Wibisono." Pria itu mengulurkan tangannya kearah Naomi dan di sambut dengan ekspresi bingung oleh gadis itu. "Cukup panggil Krist saja." "Ini calon istriku Naomi." "Naomi." Setelah saling berjabat tangan sesaat, mereka pun duduk bertiga di sofa ruang kerja Darrel. Naomi melirik sesaat ke arah Darrel, menunggu pria itu menjelaskan. "Tuan Krist ini adalah pengacara pribadi saya." "Jangan beri embel embel tuan, sepertinya aku terlalu tua disini." kekeh Krist yang di sambut Darrel. "Baiklah baiklah." Memang sepertinya usia Krist tak berbeda jauh dengan Darrel, atau mungkin mereka juga teman kuliah? Pandangan Naomi beralih pada Krist yang terus tersenyum. "Apa ada masalah sampai kita harus memanggil pengacara kak?" "Ada, dan ini sangat penting. Tunjukan pada calon istriku ini Krist." "Baiklah Darrel. nona Naomi..." "Naomi saja tuan." "Aku tidak enak, tapi baiklah. Naomi, tuan Darrel calon suami anda memintaku untuk mengurus surat perjanjian pra nikah kalian." Krist mengeluarkan beberapa map dari dalam tas kerjanya, meletakan nya di meja dan menatap ke arah Naomi. "Perjanjian pra nikah?" Naomi melirik Darrel sesaat yang tak hentinya mengulum senyum. "Iya sayang, ini adalah jaminan saya untuk bersama dengan kamu. Seperti yang dulu saya janjikan saat kamu bersedia menjadi istri saya." Darrel menggenggam kedua tangan Naomi dan menatap lekat kedua manik mata gadis itu yang terlihat masih bingung. "Jaminan? Maksudnya?" "Bukankah saya pernah mengatakan pada kamu dulu saat kamu sering menolak saya? Saya akan memberikan semua yang saya miliki untuk kamu kalau kamu bersedia menjadi istri saya Naomi." jelas Darrel. Mata Naomi membola, ia tak menyangka dengan semua penjelasan Darrel. Pria di hadapannya sudah di pastikan sepenuhnya gila. Telapak tangan Naomi terasa dingin, jantungnya berdebar begitu kencang. Entah ini perasaan takut ataukah senang? Ia sendiri tak mengerti, namun yang jelas Naomi pastikan Darrel memang sudah kehilangan akal sehatnya. Padahal dia hanya main main saat mengatakan semua itu dulu. Naomi melepaskan genggaman tangan Darrel, ia duduk menjauhi Darrel. Pikirannya bingung melayang entah kemana. "Tidak...tidak.."gumam Naomi. "Kenapa Naomi?" Darrel memandang Naomi yang duduk menjauhinya. "Ada salah faham tuan Krist. Sepertinya kak Darrel salah." ucap Naomi pada pengacara Darrel. "Naomi, salah faham bagaimana?" Darrel menggenggam lengan Naomi. "Kak, hal sepenting ini kenapa tidak kau bicarakan padaku dulu?" "Kita sudah pernah membicarakannya Naomi." "Selalu seperti ini. Kau tidak pernah menanyakan pendapatku bila menyangkut hal penting. Apa diriku ini milikmu kak? Apa aku tidak berhak atas keputusan untuk diriku sendiri?" Krist hanya bisa memandang dua orang yang tengah berdebat di hadapannya, ia tak bisa ikut campur, disini ia hanya diminta menyiapkan berkas yang harus Naomi tanda tangani saja. "Naomi...." Darrel merendahkan nada bicaranya, ia tak ingin berdebat dengan gadis keras kepala di sampingnya. "Tolong sebutkan isi perjanjiannya tuan Krist." Naomi bertanya pada Krist yang langsung membuka map di hadapannya. "Sebenarnya ini lebih condong pada pemberian hak waris untuk anda nona Naomi. Disini tertulis kalau tuan Alexander Abraham akan memberikan mansion, semua perusahaan serta seluruh aset yang dimilikinya atas nama anda, nona Naomi Khanaya." jelas Krist. "Yang lain?" "Tidak ada nona." Naomi terdiam, ia tidak salah dengar kan? Darrel memberikan semua miliknya seperti yang pria itu janjikan pada nya dulu. "Naomi, inilah jaminan atas saya yang berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu." Naomi masih terdiam, harusnya ia senang mendengar semua ini. Bahkan kemarin calon ayah mertuanya pun memberikan separo dari hartanya untuk nya sebagai hadiah pernikahannya dengan Darrel. Bukankah sekarang ia akan menjadi orang kaya baru? Dengan kekayaan triliyunan rupiah. Namun bukan ini tujuannya, bukan ini yang ia inginkan. "Kak..." "Hmmm..." "Kan sudah berkali kali aku katakan padamu, aku tidak ingin di cap matre karena menikahi pria kaya sepertimu. Dan mendapatkan semua ini. Sungguh kak." cicit Naomi. Krist terkekeh, mungkin Naomi terlihat biasa di hadapannya, memang gadis itu tak memiliki kelebihan fisik apapun, namun kini Krist mengerti kenapa Darrel begitu menginginkan gadis kecil di hadapannya itu menjadi istrinya. "Ini sudah menjadi hak kamu sebagai istriku sayang. Dan saya tidak peduli dengan omongan orang, bagi saya yang penting kamu dan saya bahagia." Naomi terdiam, otak cerdasnya berfikir. 'Ikuti saja arus permainannya Naomi, nanti juga kau akan tahu dimana sela nya.' batinnya menimpali. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD