"Bagaimana kalau kita menikah saja?"
Kata itu terus terngiang di telinga Naomi.
Darrel mengajaknya menikah dengan mudahnya seperti akan mengajaknya berbelanja di supermarket.
Apakah pria itu tidak bisa memikirkan hal yang spesial yang biasa di lakukan seorang pria untuk melamar wanita?
Naomi menghela nafas kesal, ia berdiri di depan walk in closet untuk memilih pakaian yang akan di kenakannya untuk berangkat kuliah siang ini.
Ya, karena pergulatannya dengan Darrel semalaman dan kembali terulang pagi ini, gadis itu terlambat berangkat ke kampus dan hanya bisa mengikuti pelajaran di siang hari.
Sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya, membuyarkan lamunannya.
"Kenapa lama sekali memilih pakaiannya? Apa kamu perlu pergi ke kampus siang ini? Bagaimana kalau kita sama sama libur saja dan menghabiskan hari kita di kamar saja?" suara bisikan parau di telinganya serta hangat nafas beraroma mint membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Darrel kembali menggodanya, Naomi memutar tubuhnya dan merangkulkan kedua tangannya di leher pria itu.
"Kau akan menyesali nya kak..." ucapnya sambil menyeringai.
"Apapun yang kak Darrel minta, aku akan memberikannya."
"Kamu yakin?" Darrel membelai wajah Naomi dengan ekspresi menggodanya.
"Sangat yakin."
"Baiklah, as you wish baby...".
***
Anthony terus saja mengulum senyum melihat pemandangan yang tak biasa di hadapannya.
Semenjak berangkat dari mansion menuju kantor, Darrel terus saja bersenandung.
Seperti bukan Darrel.
Terlebih bos nya itu menyapa setiap karyawan yang bertemu dengannya.
Naomi memang spesial.
Gadis itu membawa angin segar di hidup Darrel dan tentunya berdampak positif pada pria itu.
"Bawakan saya kopi."
"Baik pak." jawab sekretaris Darrel.
Darrel menangkap wajah Anthony yang tak hentinya tersenyum sejak mereka bertemu siang tadi.
"Kenapa dari tadi kamu tersenyum seperti itu? Apa ada kabar bahagia?"
"Bukan saya bos, tapi anda."
"Saya? Memang saya kenapa?"
"Wajah anda bersinar secerah mentari hari ini bos. Semua berkat nona Naomi."
Darrel manahan senyum, wajahnya memerah karena malu.
"Apa hubungannya dengan Naomi?" Darrel mencoba mengalihkan pandangannya, ia tak ingin tertangkap Anthony sedang tersenyum bahagia.
Harinya memang indah karena di awali dengan percintaannya dengan Naomi sejak semalam tentunya.
Dan benar kata Anthony kemarin, hasratnya yang memuncak dan tak terlampiaskan benar benar sangat mengganggu hari nya.
Berbeda dengan hari ini.
Berkali kali ia menyalurkannya sesak di dadanya serta berat di kepalanya seketika menghilang.
Terlebih suasana hatinya seperti banyak bunga sakura yang bertaburan.
"Anda sudah menghajarnya berapa kali bos?"
"Apa maksud mu?" Darrel salah tingkah dengan pertanyaan Anthony.
"Sepertinya nona Naomi benar benar lihai menaklukan anda bos."
"Saya tidak mengerti dengan ucapan kamu." Darrel mencoba fokus dengan tumpukan berkas yang berada di hadapannya.
"Kita harus cepat menyelesaikan agenda hari ini bos supaya anda bisa cepat menenggelamkan diri anda pada nona Naomi kembali bos."
Darrel menutup berkas yang tengah di bukanya, di tatapnya tajam wajah Anthony namun pria itu hanya tersenyum.
"Percepat segala urusan saya hari ini."
Anthony terkekeh kemudian menganggukkan kepalanya pamit permisi.
"Baik bos."
Seperginya Anthony, Darrel menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya.
Pikirannya kembali tertuju pada seseorang, Naomi.
Tok tok tok, sekretarisnya masuk dengan membawakan secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja.
"Ini kopi anda bos."
Darrel mengangkat wajahnya, sekretarisnya terlihat ketakutan dengan tatapan dingin bosnya.
"Bawa semua berkas itu, saya sudah menandatangani semuanya."
Sekretaris nya itu langsung mengambil berkas berkas dari atas meja kerja Darrel lalu membawanya dan pamit pergi.
"Hari ini bos tampak bahagia, tidak seperti kemarin kemarin. Apa ada hal yang menyenangkan?" wanita itu keluar dari ruangan Darrel sembari bergumam.
Memang Darrel hari ini tidak seperti seminggu belakangan, yang penuh emosi serta terus menampakan wajah dinginnya.
Hari ini ia ingin lekas menyelesaikan semua urusan nya agar cepat pulang ke mansionnya dan bertemu dengan Naomi.
***
Naomi berpapasan dengan David di kampus, namun pria itu menghindarinya.
Entah karena malu, risih atau justru marah karena kejadian terakhir dirinya bertemu dengan David di hotel.
Naomi tidak mempermasalahkan, baginya David bukanlah siapa siapa.
Jadi dirinya tidak begitu memikirkan sikap David yang akhirnya memilih menjauhinya.
"Naomi..."Citra tiba tiba duduk di sebelah gadis itu dan melempar senyumnya.
Setelah sekian lama hubungan mereka renggang, gadis itu tiba tiba mendekati Naomi kembali, .
Naomi sempat merasa bingung, namun perasaan itu segera di tepisnya.
"Ya..." Naomi membalas senyum manis Citra.
"Maaf..." Citra menundukkan kepalanya, terlihat wajah penyesalan di gadis itu.
"Untuk?" Naomi bingung.
"Aku telah menjauhi mu, menghindari mu sebulan terakhir ini. Aku benar benar minta maaf..."
Naomi memeluk Citra, ia tak ingin sahabatnya yang telah di kenalnya cukup lama itu bersedih.
"Aku tidak apa apa. Pasti ada alasannya kau melakukannya."
"Apa kau tidak ingin menanyakan kenapa Naomi?"
"Kalau kau memang siap untuk menceritakannya padaku, aku siap mendengarkan nya."
"Boleh aku tanyakan sesuatu padamu?"
Naomi mengernyitkan dahi, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa hubungan mu dengan David sedang renggang? Apa kalian sudah putus?"
Naomi tidak bisa menahan tawanya, ia terbahak mendengar pertanyaan Citra.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?"
"Tidak tidak...tapi kenapa kau menanyakan seperti itu?"
"Ku lihat kalian berpapasan tadi tapi tidak saling bertegur sapa. Seperti tidak biasanya."
"Ehm..kami ..kami memang sedang ada masalah, tapi bukan berarti kami putus hubungan."
Citra menghela nafas, seperti seseorang yang putus asa.
"Kenapa Ci? Apa David menceritakan sesuatu padamu? Apa dia bilang kami putus hubungan?"
"Dia tidak mengatakan apapun, kami bahkan tidak saling menyapa sudah sejak lama."
"Loh? Kenapa ? Kalian juga putus hubungan?"
Citra menatap lekat kedua manik mata Naomi, ia bingung untuk mengungkapkan kata katanya pada sahabatnya itu.
"Aku pikir kau dan David..."
"Pacaran maksudmu? Ha haha ha ha ..." Naomi kembali tertawa lepas, membuat Citra semakin bingung.
"Jadi..."
"Kami hanya berteman Citraaaaa....."
Wajah Citra berbinar mendengar jawaban Naomi.
"Kalian terlihat sangat intim untuk ukuran hanya teman."
"David memang seperti itu. Dia begitu manja, mungkin dia menganggap ku sebagai kakak perempuannya."
"Jadi kalian benar benar tidak..."
Naomi mengulum senyum sembari mengangguk.
"Oh Tuhan...syukurlah..." Citra kembali memeluk tubuh Naomi sesaat.
"Aku sempat bingung untuk mengatakannya padamu...Aku takut kau marah dan membenciku." sambungnya lagi.
"Kenapa aku harus marah sampai membenci mu?"
"Aku...aku...karena aku mengkhianati mu Naomi..."
Naomi bingung dengan ucapan Citra yang menggantung.
"Aku tidur dengan David, kami b******a Naomi. Oleh sebab itu aku takut dan malu untuk bertemu denganmu karena ku pikir aku telah mengkhianati sahabatku sendiri."
Mata Naomi membola mendengar pernyataan tak terduga dari bibir Citra.
Bibirnya menganga tak percaya hingga ditutupnya dengan kedua telapak tangannya.
"Oh God...Citra...kamu..."
Citra tidak bisa menahan air matanya untuk menetes, mengingat kejadian itu membuat hatinya teriris, gadis itu seolah sudah tidak punya harga diri lagi.
Naomi langsung memeluk tubuh Citra, di belainya lembut punggung gadis itu yang tak hentinya sesenggukan.
"Lepaskan semua Ci, biar kamu lega. Aku ada disini untuk kamu."
"Aku nggak tahu bagaimana kami bisa berakhir berdua di kamar. Aku dan david, saat kita sama sama berpesta di mansion milik uncle Darrel. Aku yakin aku mabuk, tapi aku tidak menyangka David akan menyerang ku seperti itu."
Naomi terdiam, mencermati cerita sahabatnya itu.
Malam itu, malam petaka juga baginya.
Ia harus melepaskan kesuciannya pada Darrel karena ulah si b******k David juga.
"Kamu tidak apa apa Ci? Apa kamu...perut mu..." Naomi tidak tega meneruskan kata katanya.
"Untungnya aku tidak hamil, begitu berhubungan aku langsung minum obat, karena David...dia...dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab. Dia bilang dia hanya mau menikah dengan mu. Denganku hanyalah sebuah kesalahan."
"b******k" gumam Naomi marah.
Para pria seenaknya mengajak tidur wanita namun urusan pertanggungjawaban mereka menolak, terlebih bila sang gadis tidak hamil.
Mereka semakin bebas seolah tidak terikat apapun.
Naman, ada seorang pria yang tidak seperti itu, pria sejati, yang dengan jantannya mau mengakui kesalahannya dan mempertanggungjawabkan kesalahannya.
Dialah Darrel.
Mengingat itu membuat Naomi tersenyum sendiri.
"Citra..."
Tangis Citra semakin deras, sesak di dadanya setelah berminggu minggu di tahannya akhirnya tumpah sudah.
"Apa kau mencintai David?"
"Aku sangat mencintainya Naomi...Aku sangat mencintai David sejak pertama kami masuk SMA Bersama sama." ungkap Citra, Naomi tersenyum mendengar pengakuan lugu sahabatnya itu.
"Jadi,,,kau mencintainya dan memendamnya dalam hati?"
Citra mengangguk sambil sesenggukan.
"Jadi selama setahun terakhir inipun kau begitu membenciku karena aku dekat dengan David?"
Wajah Citra berubah tidak enak, ia merasa risih dengan pertanyaan Naomi.
"Bukan begitu Naomi..."
Naomi kembali tertawa, ia menggoda Citra.
"Walau seperti itu aku tidak apa apa Citra, kau tidak marah?"
"Apa kau membenciku?"
"Tidak, sekalipun kau memanfaatkanku agar bisa dekat dengan David..." goda Naomi.
"Ku mohon jangan berkata seperti itu Naomi, aku merasa tidak enak."
"Aku baik baik saja Citraaa...."
Mereka pun tertawa bersama, Naomi menghapus air mata di pipi Citra.
"Boleh kutanya sekali lagi Naomi?"
"Tanya ratusan kali lagi pun tidak apa apa."
"Apa kau mencintai David?"
"Ha ha ha...apa di dahiku tertulis kalau aku mencintai David? Sampai kau harus ragu dengan bibirku Ci?"
"Aku hanya ragu dengan keyakinan ku sendiri Naomi."
"Citra, aku sama sekali tidak mencintai David, kami hanya teman. Kalau dia mencintaiku, itu urusannya dengan perasaannya sendiri."
"Benarkah?"
"Ya. Apa lagi?"
"Tidak ada."
"Dengar Ci, kau akan tahu siapa pria yang akan bersanding denganku."
"Kau punya pacar? Kenapa tidak menceritakannya padaku?"
"Dia bukan pacarku, tapi kami menjalin hubungan."
"Aku bingung."
"Terlebih aku, jadi...jangan ragukan perasaanmu. Majulah, aku menyemangatimu dari belakang."
***