"Kenapa belum sampai juga?" dengus Darrel kesal, perjalanan pulang menuju mansion nya terasa lebih lama dari biasanya.
"Jalannya macet bos, di depan ada kecelakaan, jadi hanya menggunakan satu jalur." lapor Anthony yang melihat bos nya terus gelisah sembari duduk.
Darrel terus menatap layar telephone genggamnya, berharap Naomi mau menghubunginya.
Namun semenjak berpisah siang tadi saat dirinya berangkat ke kantor dan Naomi berangkat kuliah, gadis itu sama sekali tak memberi kabar.
Darrel juga tak menghubungi Naomi, ia tak ingin di katai pria yang posesif bila terus menanyakan keadaan gadis itu.
Padahal hati dan pikiran Darrel terus di penuhi bayangan Naomi.
Bayangan gadis itu yang sejak semalam berada dalam pelukannya.
Sebenarnya hari ini ia malas berangkat ke kantor kalau saja urusannya dengan klien tak harus di selesaikan hari ini juga.
Begitu sampai di mansionnya, Darrel langsung turun dari mobil dan berlari masuk.
"Naomi, Naomi..." teriaknya.
"Nona di atas, tuan."
Darrel langsung naik ke lantai atas dan berlari menuju kamarnya.
"Naomi Naomi..." di dapatinya kondisi kamarnya kosong, kamar mandi pun kosong.
Wajah Darrel memucat, apa Naomi pergi lagi?
Apa gadis itu kabur lagi dari mansionnya?
Oh tidak.
Darrel bisa gila kalau harus kehilangan Naomi lagi.
"Naomi...Naomi..." teriak Darrel keluar kamarnya.
Beberapa pelayan mendatanginya dengan wajah panik , mereka takut kena marah karena Naomi tidak berada di kamarnya.
"Saya akan cari nona Naomi bos." baru saja Anthony membalikkan badannya untuk pergi, Naomi muncul sembari tersenyum ke arah mereka yang tengah berkumpul di depan kamar Darrel.
"Kak Darrel..."
"Naomi.." Darrel berlari ke arah Naomi dan langsung memeluk erat tubuh gadis itu.
"Kakak sudah pulang.." ucap Naomi sembari tersenyum, wajahnya berbenturan pas di d**a Darrel.
"Kamu dari mana saja? Saya panik mencarimu, saya pikir kamu pergi lagi."
Darrel menatap lekat wajah gadis itu sembari menggenggam kedua lengan Naomi.
"Tadi pulang kuliah aku bosan di kamar, aku ke ruang kerjamu kak, mencari buku yang bisa k*****a sembari menunggumu pulang." Naomi menunjukkan buku yang berada di tangan kanannya yang diambilnya di lemari buku di ruang kerja Darrel.
"Saat membacanya aku malah tertidur di sofa, dan ku dengar kau berteriak memanggilku, makanya aku datang." lanjut Naomi.
"Jangan kemana kemana, aku tidak bisa lagi kehilangan mu."
"Aku tidak mungkin kemana mana kak...kau bahkan memasang CCTV di setiap penjuru rumah untuk memantauku."
Darrel mengulum senyum, ternyata ia ketahuan memasang CCTV untuk mengawasi Naomi.
"Jadi kau tau?"
"Aku tahu semua hal tentangmu kak..."
"Semua?" bisik Darrel dengan suara parau menggoda Naomi.
"Ya...semua..." jawab Naomi sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Darrel.
Tak menunggu lama pria itupun meraup bibir Naomi dan melumatnya, Naomi pun membalas ciuman Darrel.
Di rangkulkannya kedua tangan gadis itu di leher Darrel dan memperdalam ciuman mereka.
Dua insan yang sedang di mabuk cinta itu terbuai hingga tidak tahu tempat.
Para pelayan yang berada di sekitar mereka langsung menundukkan wajahnya melihat majikannya sedang b******u hingga tak menyadari banyak orang yang melihat.
Anthony pun ikut membuang pandangannya, ia marasa risih dengan situasi ini.
"Bos, lanjutkan di dalam saja. Masih ada kami disini." ucap Anthony masih membuang pandangannya tak melihat.
Naomi melepas tautan bibirnya, ia merasa malu pada pegawai di mansion Darrel.
"Ayo kak...kita masuk..." Naomi menarik tangan Darrel masuk ke dalam kamar.
Anthony terus memandang kepergian Naomi dan Darrel, pria itu memicingkan matanya.
Naomi berubah, Naomi yang ia kenal bukan lah gadis seperti itu.
Gadis itu begitu keras kepala hingga menolak beberapa kali saat bos nya mengajaknya menikah.
Namun Naomi telah berubah, gadis itu selalu tersenyum memandang Darrel.
Wajahnya selalu menampakan kebahagiaan yang Anthony yakin itu bukan suatu ketulusan.
Apakah mungkin sifat seseorang bisa berubah dalam waktu beberapa minggu.
Ah...mungkin ini hanya perasaan nya saja.
Bagi Anthony asal bos nya bahagia, itu lebih dari cukup.
***
Naomi mengunci pintu kamar begitu mereka masuk ke dalam kamar bersama.
Tak menunggu lama Naomi kembali mencium bibir Darrel yang langsung di balas oleh pria itu.
Darrel begitu merindukan Naomi, walau belum setengah hari mereka berpisah.
Tanpa melepas tautan bibirnya, Naomi melepas dasi di leher Darrel dan satu persatu kancing kemeja yang di kenakan pria itu.
Darrel melepas ciuman Naomi, matanya berkabut menatap wajah gadis di hadapannya.
"Kamu mulai berani ya Naomi?"
"Apa kau tidak menyukainya kak?"
"Saya menyukainya, bahkan sangat menyukainya. Saya menyukai setiap kejutan yang kamu berikan pada saya..."
Kembali di raup nya bibir ranum Naomi, dan di bopongnya tubuh gadis itu menuju ranjang king size miliknya.
"Kita mandi bersama saja bagaimana kak?" pinta Noami sebelum Darrel merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Darrel menurut, ia membopong tubuh Naomi ala bridel style menuju kamar mandi.
Mereka berendam bersama dalam bathtub bertabur bunga.
"Apa kamu mau menjadi milikku Naomi?" ucap Darrel di sela sela kecupan nya di leher gadis itu.
"Aku sudah menjadi milikmu kak..."
"Kamu akan menjadi milikku selamanya Naomi."
"Aku bersedia kak." Darrel mengeratkan pelukannya di perut gadis itu.
***
Anthony bersama dengan Mario di klub malam langganannya.
Tanpa seorang pun gadis yang menemani mereka berdua.
Anthony menyesap gelas whisky nya beberapa kali, dan setelah beberapa gelas habis Mario meraih gelas yang berada di tangan Anthony, menghentikan pria itu.
"Hentikan Anthony, kau bisa sakit kepala berat besok." diletakkannya gelas yang di ambilnya dari tangan Anthony di atas meja.
Pandangan Anthony kosong, sama dengan pikirannya yang melayang.
"Apa yang kau pikirkan?"
Anthony terdiam sesaat kemudian menjawab pertanyaan Mario.
"Naomi."
Mario tersedak, mendengar jawaban dari bibir sahabatnya itu.
"Apa kau gila? Kau memikirkan kekasih dari bos mu sendiri. Dia sahabat kita Anthony." tatap Mario tajam pada pria tampan yang duduk di sampingnya.
"Kau pikir aku sudah gila untuk menyukai kekasih bos ku?" Anthony kembali meraih gelas yang di ambil Mario kemudian meneguknya dalam sekali tegukan.
"Lalu? Untuk apa kau memikirkannya?"
Anthony memutar mutar gelas yang berada di tangannya, menatap es batu yang tak mau mencair yang berada di dalam gelas whisky nya.
"Entah lah, menurutku wanita itu aneh."
"Aneh?"
"Ya, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku."
Mario terkekeh, pria itu mengigit potongan keju di atas piring yang di sediakan untuknya.
"Itu hanya perasaan mu saja Anthony."
"Tidak."
"Lalu?"
"Naomi yang ku kenal adalah gadis yang sangat keras kepala. Dan setiap kali ia bertemu dengan Darrel, sebisa mungkin gadis itu menghindarinya bahkan sering kali mereka bertengkar karena Darrel terus saja memaksanya untuk menikah. Tapi kali ini berbeda, dia gadis yang berbeda."
"Jadi maksudmu, Naomi yang sekarang bukan Naomi yang dulu sering bersama Darrel? Begitu?"
Anthony kemabli menyesap gelas minumannya.
"Mereka wanita yang sama hanya saja...apakah mungkin manusia bisa berubah sifat hanya dalam hitungan hari?"
"Maksud mu?"
"Naomi yang sekarang adalah gadis yang penurut dan selalu tersenyum pada Darrel, dia...berubah.."
"Apa kau sedang cemburu?"
"Tidak mungkin."
"Kau mungkin cemburu pada hubungan indah mereka."
"Aku bukan pria kesepian seperti mu tuan Brandon Mario Wijaya.."
Mario tertawa lepas, niatnya untuk meledek sahabatnya itu justru menjadi boomerang baginya.
"Aku bukannya kesepian, aku hanya belum menemukan yang pas saja..."
"Terserah.."
"Oke oke...apapun itu bukankah Naomi yang sekarang lebih baik? Darrel merubah sikapnya setelah bertemu kembali dengan Naomi."
"Tapi tetap saja, ada yang janggal dengan senyum di bibirnya yang berbanding terbalik dengan sorot matanya yang memendam amarah begitu besar."
"Sepertinya kau harus berganti profesi menjadi detektif pak Anthony." Mario kembali terkekeh, namun tawanya hanya sesaat karena Anthony menatapnya tajam.
"Baik lah baiklah, maaf."
"Kau tau sendiri aku berhutang budi banyak pada Darrel, aku tidak ingin dia terluka. Aku cukup kecolongan dengan tingkah Marissa yang main belakang tanpa ku ketahui. Namun Naomi terlalu cerdas untuk bisa aku selidiki."
"Jadi kau kalah dengan gadis kecil itu?"
"Aku akan mencari tahu."
Seseorang mendatangi mereka dan tersenyum menatap Anthony.
"Hallo bos." sapanya sembari mengangguk.
Anthony membalas dengan senyum pria di hadapannya itu.
"Malam ini hanya berdua? Bos Darrel tidak ikut?" tanyanya kembali.
Mario melirik Anthony, menunggu penjelasan.
"Dia sedang bersama adikmu sekarang. Mereka tidak mau di ganggu."
Pria itu, Adrian, terkekeh mendengar jawaban Anthony yang sepertinya tidak suka dengan pertanyaannya.
"Kakaknya Naomi?" Mario memandang Adrian bingung.
"Kakak tirinya." jawab Anthony datar.
***