David melihat pemandangan yang tak biasa dari kejauhan.
Naomi keluar dari dalam mobil milik pamannya, membanting keras pintu mobil dan berjalan dengan setengah berlari dengan wajah yang begitu kesal.
'Ada apa dengannya?" batin David.
Terlebih aneh lagi Darrel keluar dari mobilnya dan hampir mengejar gadis itu namun di batalkannya karena ia mendapat panggilan telephone dari seseorang.
David pun mengejar Naomi.
"Naomi." Naomi menoleh kebelakang, dilihatnya David sedang berlari ke arahnya.
Naomi mengembangkan senyumnya, ekspresinya berubah karena tak lagi melihat Darrel.
"Kamu baru berangkat Dave? Ayo cepat kita sudah terlambat."
"Owh ? Ehm...iya."
David merangkul pundak Naomi dan berjalan menuju kelas.
"Tadi ku lihat kamu turun dari mobil uncle Darrel."
Wajah Naomi menegang, bodohnya kamu Naomi. Kenapa bisa kamu turun di depan kampus?
Orang bisa tahu kalau kau berhubungan dengan Darrel Abraham.
"Ehm...itu...tadi kami tidak sengaja bertemu di depan dan uncle Darrel menawarkan tumpangan padaku." jawab Naomi gugup agak terbata.
David mengangguk.
Itu tidak seperti pamannya?
Darrel orang yang dingin, ia tak akan mengajak bicara apalagi menawari tumpangan pada orang asing.
Selain itu, arah kantor Darrel dan kampus Naomi berlainan arah, untu apa uncle nya itu berada di daerah sekitar kampusnya?
Ada yang aneh, atau hanya perasaannya saja?
Naomi melihat ekspresi David yang sepertinya memikirkan ucapannya.
"Jangan di pikirkan. Ayo masuk." Naomi mengalihkan pembicaraan, tak ingin David mengetahui rahasianya dengan Darrel.
***
"Nona Naomi tidak jadi ikut bos?"
Darrel hanya diam, ia benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita.
Atau dia yang memang tidak memahami bagaimana cara menangani wanita?
"Bodoh bodoh bodoh.." Darrel menggebrag meja kantornya, membuat Anthony melonjak dari posisi berdirinya.
"Siapa bos? Saya bos?"
"Bukan kamu, tapi saya."
Anthony menahan tawanya, ia tak mengerti apa yang terjadi pada atasannya itu.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?"
"Tidak ada bos. Maaf."
Darrel kembali terdiam, pandangan matanya tertuju pada berkas di atas meja namun pikirannya masih teringat wajah Naomi yang kesal sebelum mereka berpisah tadi.
"Saya siap memberikan jawaban bos, kalau anda ingin bertanya atau bercerita." Darrel menatap wajah Anthony yang tersenyum manis memandangnya.
"Anthony..."
"Iya bos."
"Menurutmu apa saya salah mengajak seorang gadis menikah?"
"Sama sekali tidak bos."
"Lalu kenapa wanita itu tidak mau saya nikahi?"
"Siapa bos? Nona Naomi?"
Darrel mendengus kesal, ia menunggu jawaban malah Anthony membalasnya dengan berputar putar.
"Apa anda mencintai nona Naomi bos?"
"Apa kamu perlu mengetahuinya?"
"Itu juga mempengaruhi jawaban saya bos."
"Saya tidak tahu."
"Anda tidak tahu perasaan anda sendiri bos? Bagaimana dengan nona Naomi? Apakah dia mencintai anda bos?"
"Saya belum menanyakan padanya."
Anthony menggeleng gelengkan kepalanya, tidak mengerti jalan pikiran atasannya itu.
"Kalian harus saling mencintai untuk bisa maju kejenjang pernikahan Darrel." tiba tiba saja Mario masuk ke dalam ruangan Darrel dan ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Kamu sudah datang? Ayo kita berangkat."
Anthony dan Mario saling pandang kemudian tertawa bersama.
"Ada apa dengan kalian?" Darrel menatap tajam ke arah dua sahabatnya itu.
"Kalau aku lihat, Naomi sepertinya tidak menganggapmu sebagai kekasih. Apa kamu yakin kalian berpacaran?"
Darrel bingung menjawab ucapan Mario.
Dirinya dengan Naomi telah b******a berkali kali, bukankah itu bisa dikatakan mereka memiliki hubungan?
Lalu harus hubungan yang seperti apalagi?
***
Darrel dan Mario terbang ke New York tanpa Anthony.
Pria itu memiliki tugas untuk mengawasi Naomi dan memastikan gadis itu bersedia pindah ke mansionnya setelah Darrel pulang dari perjalanan bisnisnya.
"Berikan pada Naomi, katakan saya akan memecat kamu kalau dia menolaknya lagi." Darrel menyodorkan Gold Card unlimited pada Anthony untuk di serahkan pada Naomi.
Mario mengulum senyum melihat tingkah sahabatnya itu, sepertinya Darrel memang tidak berpengalaman sama sekali soal wanita.
Anthony menunggu Naomi di depan kampus gadis itu.
Hampir setengah hari pria itu habiskan di dalam mobil.
"Nona Naomi." akhirnya yang di tunggu muncul juga.
Gadis itu berjalan dengan wajah kusut menghampiri Anthony.
Ia merasa ada sesuatu yang tidak baik yang akan datang padanya lewat pria itu.
"Ada apa pak Anthony?"
"Saya di suruh bos untuk memberikan ini pada anda. Dan memastikan anda menerimanya, dan juga memakainya."
Anthony menyodorkan gold card yang di berikan Darrel pada gadis itu.
Naomi terdiam sesaat kemudian menerimanya.
"Apa bos mu juga mengancam kalau aku tidak menerimanya dia akan memecatmu?"
Anthony mengulum senyum.
"Anda sudah hafal bahkan di luar kepala dengan sifat bos saya nona."
"Apa tidak bisa anda saja yang memakainya pak? Saya merasa tidak pantas menerimanya."
"Ini sudah menjadi hak anda nona."
Naomi kembali terdiam.
Hak apa yang di maksud pria ini?
Apa dia sudah menganggap bahwa aku juga milik bos nya? Begitu?
"Baiklah, sampaikan pada bos anda bahwa aku sudah menerimanya. Oke?"
Anthony tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Saya permisi pulang pak."
"Tunggu nona."
"Ada apa lagi pak?"
"Saya juga di perintahkan bos saya untuk membawa anda ke mansionnya."
Naomi membulatkan matanya, Darrel begitu keras kepala memaksa kehendaknya.
"Kalau yang satu itu saya tidak mau pak."
"Saya mohon nona, kalau tidak..."
"Kalau tidak bos anda akan memecat anda? begitu?"
"Begitu lah nona."
Naomi menghela nafas kasar, di ambilnya telephone genggamnya dari dalam tas nya.
Ia menghubungi Darrel, sudah muak dengan sikap memaksa pria itu.
Namun bukan nya tersambung justru operatorlah yang menjawab.
"Bos sedang dalam pesawat perjalanan menuju New York nona, hand phone nya sedang tidak di aktifkan sekarang. Mungkin nona bisa menghubunginya lagi tengah malam atau besok pagi sekalian."
Naomi mendengus kesal, ia benar benar marah pada Darrel.
"Saya tidak bisa ikut anda pak, untuk yang ini saya minta maaf."
Naomi berjalan meninggalkan Anthony, pria itu hanya bisa terdiam.
Bagaimanapun ia sedang berhadapan dengan gadis yang tak kalah keras nya dengan sang bos.
***
"Maaf bos, nona Naomi menolak untuk ikut saya ke mansion anda."
Ekspresi Darrel dalam panggilan video dengan Anthony begitu terlihat kesal.
"Nanti biar aku hubungi sendiri, kamu pantau saja terus Naomi."
"Baik bos."
Panggilan video berakhir.
Darrel menghubungi Naomi namun di abaikan gadis itu.
Puluhan bahkan ratusan chat Darrel kirimkan dan tak ada satupun yang di balas.
"Sial!!!" umpatnya sembari melempar telephone genggamnya ke atas ranjang di kamar hotelnya.
Mario yang sedari tadi sedang menyesap kopi sarapan paginya hanya tersenyum melihat Darrel yang di buat kesal oleh anak kecil.
"Jangan salah kan handphone nya bro."
"Gadis itu, saya benar benar harus ekstra sabar menghadapinya." Darrel menghampiri Mario dan duduk di sampingnya , menikmati kopi bersama sebelum bertemu kembali dengan klien.
"Aku sebenarnya punya ide sedikit gila, mungkin kau bisa menggunakannya."
"Apa?"
Mario menyeringai dan membisikkan sesuatu di telinga Darrel.
Pria itu membulatkan matanya, tidak yakin dengan ide yang di berikan Mario.
"Apa itu tidak terlalu kejam?"
"Kau belum mencobanya."
"Baiklah."
***
Naomi pulang ke rumahnya, seharian ia merasa sangat lelah karena aktifitas padatnya di kampus sebagai murid baru.
Perutnya yang sedari pagi tak terisi akhirnya bisa kemasukan sesuatu.
Ada jatah makan sore yang bisa ia nikmati serta ekstra snack yang bisa ia bawa pulang.
Dan saat gadis itu akan masuk ke dalam rumah, pemilik rumah tengah menunggunya di teras.
"Nona Naomi."
"Iya bu. Ada apa ibu kemari? Tumben?" Naomi tersenyum pada ibu Siswoyo sang pemilik rumah yang ia sewa.
"Ibu mau bicara padamu."
"Ya, ibu mau bicara apa?"
Naomi terdiam mendengar penjelasan ibu Siswoyo.
Rumah yang di tempati Naomi dan beberapa rumah di sampingnya yang merupakan komplek rumah kontrakan milik ibu Siswoyo rupanya telah laku terjual.
Wanita itu membutuhkan banyak uang untuk biaya operasi sang suami yang beberapa bulan terakhir koma di rumah sakit.
Dan sang pemilik rumah yang baru meminta untuk langsung mengosongkon seluruh rumah kontrakan malam ini juga.
"Lalu, bagaimana dengan saya bu? Dimana saya akan tinggal nantinya?"
"Ibu benar benar minta maaf Naomi. Ibu akan mengembalikan uang sewa rumah kamu utuh. Kamu bisa cari kontrakan lagi atau tinggal dengan saudara kamu."
Air mata Naomi mengalir seketika.
"Ibu tahu sendiri saya tidak memiliki saudara. Dan dengan uang hanya segitu, bagaimana saya bisa mendapatkan rumah layak huni seperti milik ibu?"
Ibu Siswoyo menggenggam kedua tangan Naomi, tubuh wanita paruh baya itu bergetar tak tega melihat gadis kecil itu menangis.
Namun ia tak memiliki pilihan lain, ia membutuhkan uang itu.
"Maafkan ibu sekali lagi Naomi. Ibu tidak bisa membantu apapun."
Naomi menganggukan kepalanya mengerti.
Untunglah pemilik kontrakan bersedia mengembalikan uang sewa nya utuh walau ia telah tinggal berbulan bulan di tempat itu.
Naomi membereskan barang barangnya, gadis itu melangkah keluar kontrakan tanpa tahu harus kemana.
Telephone genggamnya terus saja berbunyi, memberikan ratusan notifikasi chat dari Darrel dan salah satu matanya mendapati sebuah pesan yang membuat hatinya sedikit merasa ada harapan.
'Kamu sedang apa Naomi?' sebuah chat dari Adrian kakaknya.
Naomi tersenyum, dengan semangat ia membalas chat dari Adrian.
'Kak Adrian, aku bisa minta tolong?'
'Apapun itu adikku.'
'Bolehkah aku menginap di rumah mu malam ini?'
Agak lama Naomi menunggu balasan dari Adrian, apakah pria itu menolaknya?
'Datanglah. Kakak belum pulang dari tempat kerja, apa kau tidak apa apa sendirian?'
'Aku tidak apa apa kak, terimakasih.'
'Iya adikku sayang.'
Naomi berlari menuju halte bis, ia tak ingin tertinggal karena hari sudah mulai malam dan angkutan umum sebentar lagi akan berhenti beroperasi.
Rumah yang di sewa Adrian tidak besar namun tak sesempit dengan yang di tinggali Naomi tadi.
Hanya ada satu kamar tidur, kamar mandi, serta sebuah sofa yang bersebalahan dengan dapur.
Cukup untuk di tinggali seorang bujangan seperti Adrian.
Gadis itu bergegas membersihkan dirinya, sudah cukup lelah seharian dengan aktifitasnya.
Setelah mandi, Naomi tertidur di atas sofa di depan televisi.
"Hei bangun!! Sedang apa kamu disini? Bangun!!! Enak sekali kau tidur di tempat ini!!! Dasar gadis tidak tahu diri!!!" teriakan seorang wanita membuat Naomi tersadar dari tidurnya.
Matanya mengerjab beberapa kali untuk melihat siapa yang berteriak padanya.
"Kak Mona..." ucap Naomi lirih.
"Ngapain kamu tidur di rumah Adrian? Dasar gadis tidak tahu diri!! Pergi kamu dari sini!!!"
Teriak Mona, kekasih Adrian pada Naomi.