CHAPTER 15

1403 Words
Naomi terdiam, ia faham betul kekasih kakaknya itu begitu cemburu serta membencinya karena Adrian yang terlalu sayang pada Naomi. "Mona!! Jangan berteriak seperti itu pada Naomi!" tiba tiba Adrian pulang. Naomi yang baru tersadar dari tidurnya merasa kaget, hatinya sakit di usir sekasar itu oleh kekasih kakaknya. "Kenapa? Kamu mau belain gadis sialan ini terus?" "Tutup mulut kamu Mona! Dia adikku." "Adik? Dia cuma saudara tiri kamu! Mau sampai kapan kamu membela gadis itu terus Adrian?" "Cukup kak, kak Mona benar. Tidak seharusnya aku disini." "Baguslah kalau kau sadar diri." Mona membuang mukanya tak ingin melihat wajah Naomi yang menurutnya menyebalkan itu. "Tapi Naomi, kamu mau kemana malam malam begini?" "Untuk apa kamu peduli Adrian? Dia sudah dewasa." "Dia tetap adik kecil ku Mona." Mona mendengus kesal, sudah bertahun tahun ia memendam kesabaran karena Adrian terlalu menyayangi Naomi. Bahkan pria itu sampai ikut Naomi pindah ke ibu kota demi menjaga gadis itu walau dari jauh. Naomi kembali membereskan barang barangnya, ia tak tahu lagi mesti kemana. Hari bahkan sudah hampir pagi, ia hanya bisa duduk di pinggir jalan tanpa tahu harus menghubungi siapa. Ia ingin menghubungi Citra, namun sahabatnya itu sedang renggang hubungannya dengannya. Bagaimana dengan David? David tetap lah seorang pria, tidak mungkin baginya untuk meminta bantuan menginap di tempat pria itu sampai dirinya mendapatkan tempat kontrakan yang baru. Tapi, bukankah Darrel juga seorang pria? Ia bahkan beberapa kali menginap bersama pria itu. Aaaahhhh... David dan Darrel adalah masalah yang berbeda. Menginap dengan Darrel tentulah suatu kesalahan yang di sengaja dan tak di sengaja. Naomi menghela nafas, bingung. Ia teringat pada salah seorang temannya yang sama sama bekerja di restoran dengannya. "Hello Mita.." "Naomi..ada apa jam segini menghubungi ku?" "Maaf menganggu mu di jam segini. Apa aku bisa ke tempatmu sekarang?" Tak ada jawaban dari Mita, Naomi menghela nafas putus asa. Harus kemana lagi? Tidak mungkin aku menginap di hotel, bisa habis seluruh uangku dalam hitungan hari. "Datanglah." Terdengar jawaban yang langsung membuat hati Naomi bahagia, gadis itu menyunggingkan senyum. Mita tinggal di gudang restoran tempat gadis itu bekerja. Itu juga salah satu fasilitas yang di berikan pihak pengurus restoran pada karyawan tetap mereka. "Terimakasih Mit, maaf merepotkan mu di jam segini. Aku akan langsung segera pindah begitu mendapatkan kontrakan baru." Mita tersenyum, baginya tak masalah ia harus berbagi ruangan pada Naomi, ia gadis yang baik. *** "Nona Naomi sudah pindah bos, tapi sekarang berada di tempat teman sekolah nya dulu saat SMA. Tadi bahkan ia sempat di usir oleh kekasih kakaknya karena wanita itu tidak menyukai nona Naomi." lapor Anthony lewat panggilan video pada Darrel. "Temui dia lagi dan bawa ke mansion saya." "Secara paksa bos? Kalau nona Naomi menolak bagaimana?" Darrel terdiam, berfikir, tiba tiba Mario muncul dari belakang Darrel dan ikut dalam pembicaraan mereka. "Biar aku yang bicara pada manager restoran tempat Naomi bekerja. Akan ku pastikan gadis itu tidak mendapat tempat berlindung." timpal Mario. "Apa itu tidak terlalu kejam?" Anthony menatap aneh pada Mario yang menyeringai, itu tidak seperti sikap Mario yang selalu ramah dan baik hati, pria itu tiba tiba berubah licik. "Itu semua demi bos mu Anthony." Darrel hanya memperhatikan percakapan Mario dengan Anthony, ia mengiyakan ide gila yang di berikan sahabatnya itu. *** Pagi itu Naomi bangun, ia bergegas membersihkan dirinya. Hari ini tak ada jadwal kuliah pagi, hanya nanti sore ia harus mengumpulkan tugas ke dosen dan harus datang ke kampus. Dan pagi ini akan ia manfaatkan untuk mencari kontrakan yang murah untuk segera ia tempati. Tak mungkin ia harus terus berada bersama dengan Mita terus menerus sementara dirinya hanya pekerja paruh waktu di restorant itu. Sudah lima tempat ia datangi, namun selain harganya yang tidak cocok, lokasinya pun begitu jauh dari kampus serta tempatnya bekerja. Itu akan menambah biaya hidupnya kedepannya. Seorang pria tinggi mendatanginya, Anthony, asisten Darrel menghampirinya. Membawakannya kotak berisi makanan, karena selama beberapa jam pria itu terus mengikuti Naomi, gadis itu tak menyuapkan apapun ke mulutnya. "Saya membawakan ini untukmu nona Naomi." "Apa bos mu yang menyuruhmu pak Anthony?" "Bukan, ini dari saya." Mereka duduk di tepi jalan, dan Naomi menerima kotak makanan pemberian Anthony lalu memakannya dengan lahap. Sejak bangun memang ia belum makan apapun, ia harus berhemat. Selain gajinya yang memang belum keluar, sekarang ia juga memiliki banyak hutang pada Darrel karena pria itu telah membayar lunas segala biaya lain lain kuliahnya. Anthony terus memperhatikan Naomi, ada rasa bersalah di hatinya. Ini semua karena ulah bos nya yang menginginkan gadis itu tinggal bersamanya dan gadis itu menolak, maka seperti inilah Naomi sekarang. "Nona Naomi.." "Iya pak.." dengan mulut penuh, Naomi menatap Anthony yang ada di sampingnya. "Kenapa anda repot repot mencari tempat tinggal? Kenapa anda tidak tinggal dengan bos saya saja?" Naomi seketika tersedak, Anthony menyodorkan sebotol air mineral dan langsung di teguk Naomi hampir setengah isinya. "Pelan pelan nona." "Pak Anthony.." "Iya." "Menurut anda, apa hak saya tinggal di tempat mewah seperti itu?" "Karena anda kekasih bos saya. Anda berhak berada di sana." Naomi terkekeh, Anthony melihat Naomi dengan pandangan bingung. "Apa ada yang aneh dengan jawaban saya nona?" "Iya pak...siapa bilang saya kekasih kak Darrel" "Tapi bukankah kalian..." Anthony tak meneruskan kata katanya, itu bukan kapasitasnya untuk berbicara. "Maksud anda karena kami bersama jadi saya adalah kekasih bos anda? Atau kak Darrel yang mengklaim saya adalah kekasihnya atau bahkan calon istrinya? Begitu maksud anda?" Naomi dengan setengah tertawa bicara panjang lebar pada Anthony. "Apa ada yang salah nona?" "Tentu pak. Dalam prosesnya itu banyak kesalahan." "Proses?" "Iya, proses." "Saya tidak mengerti maksud anda nona." "Apa anda tidak pernah punya pacar pak?" Anthony terdiam, pria itu berfikir, pertanyaan Naomi ambigu baginya. Pacar apa yang gadis itu maksud? Wanita yang sering bersama nya? Wanita yang ia cintai? Atau wanita yang menghabiskan malam bersamanya? Mana yang menurut Naomi bisa di katakan sebagai pacar? "Sepertinya anda tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya pak." Anthony mengulum senyum, ia merasa sedikit malu di permainkan oleh kata kata gadis di sampingnya itu. "Bisa anda jelaskan dengan mudah nona, agar saya mudah mengerti?" "Oke, begini pak." Naomi menghela nafas sesaat menjeda kata katanya. "Kak Darrel bukanlah kekasih saya, dia bahkan tidak pernah mengatakan kalau dia menyukai saya atau mengajak saya berkencan. Saya bahkan tidak tahu perasaannya pada saya bagaimana. Lalu tiba tiba pria tua itu mengajak saya menikah, apa itu tidak lucu namanya? Dia melewatkan proses panjang yang harusnya pria dan wanita lakukan sebelum melangkah ke jenjang yang lebih jauh." Anthony mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Naomi. "Jadi anda meminta beliau untuk menyatakan cintanya pada anda begitu nona?" Naomi terkekeh. "Ya tidak seperti itu juga pak." "Owh iya, bos juga baru berumur 25 tahun, kenapa anda selalu saja menyebutnya pria tua?" "Bagaimanapun usia kami terpaut jauh jadi tidak salah saya menyebutnya tua kan pak?" Anthony kembali terkekeh, memang menyenangkan berdebat dengan gadis bos nya itu. "Iya iya..iya..." Naomi menganggukkan kepalanya mengikuti Anthony yang mengiyakan argumennya. "Jadi apa anda menyukai bos saya nona?" Naomi tersedak ludahnya sendiri, Anthony bertanya to the point padanya tanpa basa basi. "Apa anda pikir saya memiliki rasa pada bos anda pak Anthony?" "Yang saya lihat begitu." "Ha ha ha..." Naomi tertawa terbahak namun sepertinya di paksakan. "Jadi apakah saya salah?" "Saya rasa anda perlu menanyakan sendiri pada bos anda apakah saya menyukainya ataukah tidak." Suasana seketika hening. Naomi telah menghabiskan makanannya, perutnya terasa kenyang. "Saya permisi dulu pak Anthony, terimakasih makanannya." Anthony mengangguk, melihat Naomi berlalu dari hadapannya. 'Sepertinya Darrel menemukan lawan yang pas' gumam Anthony. *** "Naomi." manager restoran memanggilnya. "Iya pak." "Apa kau benar benar tinggal di gudang belakang bersama Mita?" Naomi terdiam, ia tak berani menjawab ataupun membantahnya. Bagaimanapun dirinya lancang. "Kau kan tahu kalau itu hanya untuk karyawan, sedangkan kau disini hanya pegawai paruh waktu." "Iya pak, untuk itu saya minta maaf." "Jangan membuat iri pegawai paruh waktu lainnya, segeralah pindah." Dada Naomi terasa sesak, ia kembali terusir. Betapa nasibnya buruk sekali. "Bisa saya minta waktu tiga hari pak, saya sedang mencari tempat tinggal yang baru." Manager restoran terdiam sesaat, kemudian mengangguk. "Baiklah." Hampir tiga hari lamanya Naomi masih tak menemukan tempat yang pas untuk bisa ia tinggali, ia benar benar lelah. Dan tentunya hari ini adalah hari terakhir ia bisa menempati gudang belakang untuk di tinggali. 'Harus kemana lagi aku ya Tuhan?' Telephone genggamnya berbunyi, notifikasi dari David. 'Naomi, kau dimana? Bisa datang kemari? Aku sakit.' "Dasar anak manja ini..." gumam Naomi. Semenjak mengenal Naomi, pria itu memang begitu manja pada gadis itu. Ia menemukan sosok seorang ibu di gadis yang bahkan masih seusianya. 'Iya.' ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD