Kembalinya CEO Muda
Blurb
Ketika Mahendra sudah mulai melupakan wanita yang telah menghianatinya, namun Ayahnya memberikan syarat yang begitu berat untuknya.
"Kalau kamu mau menjadi pewaris Wiraatmaja , maka kamu harus menikahi Vania. kalau tidak, aku akan menyumbangkan semua hartaku pada panti asuhan dan masjid." ucap pak Sandi tegas.
Tentu saja itu membuat Mahendra terkejut. karena bagaimanapun, Vania adalah orang yang telah menghianatinya. Masa lalu antara dia dan seorang Vania Anggita Putri membuat hidupnya jadi berantakan. butuh lima tahun untuk Mahendra Wiraatmaja agar bisa melupakan wanita itu. Dan justru sekarang dia harus menikahi wanita itu. Tak pernah Mahendra bayangkan sebelumnya bila harus bersama dengan wanita yang paling dia benci.
.....
Mahendra Wiraatmaja. Seorang CEO muda dari keluarga Kaya raya Wiraatmaja. Siapa yang tidak mengenal keluarga tersohor itu se-Surabaya. Dia menghabiskan waktunya untuk belajar sekaligus bekerja di Sidney, Australia. Lima tahun cukup lama untuk membuatnya menjadi CEO produk kecantikan yang begitu digemari dikalangan wanita saat ini. Mahendra kembali ke Surabaya setelah lima tahun tak pernah menapakkan kakinya ke Indonesia. Dia mempunyai sebuah alasan yang membuatnya enggan untuk kembali ke kota itu.
"Pak Mahendra, ini jadwal pertemuan untuk besok. Dan ini berita utama pagi ini di Surabaya." Ucap Sherly, sekretaris utama Mahendra. Sambil menyerahkan sebuah surat kabar yang menyatakan kalau ayahnya, Sandi Wiraatmaja masuk kerumah sakit karena serangan jantung yang dia alami.
Hal itulah yang membuat Mahendra kembali. Kabar kalau ayahnya jatuh sakit. Walau dia tak ingin kembali, tapi ibunya yang tak berhenti menangis dan bilang kalau Mahendra harus segera pulang. Akhirnya Mahendrapun pulang dengan terpaksa.
"Kita menuju rumah sakit." Kata Mahendra.
Sherly menuruti ucapan bosnya dan menyetir menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Mahendra langsung menemui ayahnya. Melihat Mahendra yang datang, pak Sandi langsung menyuruh Mahendra duduk. Dia memberikan beberapa pertanyaan yang sama sekali tidak penting menurut Mahendra.
Tiba-tiba seorang wanita masuk bersama Ibu dan juga seorang anak kecil yang sangat lucu. Wanita itulah alasan Mahendra enggan kembali ke Surabaya dan menetap di Australia selama lima tahun. Dia Vania Anggita Putri. Mantan kekasihnya dulu. Wanita yang amat dia cintai dan dia sayangi. Bahkan Mahendra sampai berjanji bahwa dia tidak akan menikahi gadis manapun selain dia. Namun tanpa dia sangka, Vania malah mengkhianatinya. Dia berselingkuh dan menjalin hubungan dengan kakaknya sendiri, Adrian Wiraatmaja. Bahkan hubungan itu sampai menghasilkan seorang anak yang saat ini sedang berada didepan Mahendra.
Ibu Mahendra segera memeluk putranya itu.
"Mahendra sayang. Mama sangat rindu padamu. Kenapa kamu gak pernah telepon atau pulang paling tidak setahun sekali?" Tanya mamanya.
Tiba-tiba anak perempuan itu menarik tangan Mahendra.
"Hai Om. Ini Om-nya Dinda ya?" Melihat itu Mahendra segera menangkis tangan Dinda.
Vaniapun segera mengambil Dinda dalam pangkuannya.
"Kakek, Om sudah datang. Bukankah kakek sangat rindu sama Om sampai kakek sakit?" Kata Dinda.
"Dinda, sayang. Jangan ganggu kakek dulu ya? Ayo kita keluar." Vania membawa Dinda keluar.
Mahendra menyadari kalau sekarang Vania sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Wanita itu terlihat kurus dan tidak segar seperti sebelumnya.
"Mahendra, mama mohon jangan kembali lagi. Kamu tinggal disini dan mengurus perusahaan papamu. Kasihan papamu sampai sakit. Dia sudah harus istirahat." Ucap mamanya.
"Maaf, ma. Lusa Mahendra harus segera kembali me Sidney. Banyak urusan yang belum selesai disana." Kata Mahendra.
"Mahendra, ada yang ingin papa bicarakan padamu." Kata Pak Sandy.
"Jangan sekarang, pa. Besok saja. Sekarang Mahendra lelah dan ingin istirahat ."
Mahendra keluar dan pergi dari rumah sakit menuju sebuah hotel. Dia masih tak menyangka kalau harus bertemu Vania hari ini. Sherly menaruh tas Mahendra lalu menghampiri Mahendra yang berdiri sambil menatap kearah jendela.
Tiba-tiba Sherly memeluk Mahendra dari belakang. Menggerayangi tubuh Mahendra dan mulai melepas kancing kemeja Mahendra. Sherly sungguh agresif saat ini. Mahendra memutar tubuhnya dan segera melumat bibir merah Sherly. Wanita itu selalu tahu apa yang bisa meredakan amarah Mahendra. Kini posisi mereka beralih keranjang. Ciuman panas itu masih terus berlanjut. Kini kancing kemeja Sherly yang sudah terlepas. Mahendra beralih menciumi leher milik Sherly. Namun seketika ingatan itu mulai kembali membayanginya.
"Maafkan aku Mahendra. Aku lebih memilih Adrian dari pada kamu. Adrian sudah mapan, dan kamu masih belum. Aku tidak butuh janji. Tapi bukti. Dan Adrian membuktikannya." Ucap Vania.
"Vania, kalau memang kamu butuh bukti, tunggu aku selama setahun. Aku janji aku akan sukses untukmu. Kalau memang itu yang kamu inginkan". Kata Mahendra memohon.
"Tidak Mahendra. Setahun tak akan cukup untuk membuatmu sukses. Aku tidak bisa menunggu." Kata Vania.
"Kenapa kamu berubah secepat ini.?" Kata Mahendra.
"Semua bisa berubah karena uang, Mahendra. Dan aku bukan perempuan munafik. Aku butuh itu." Kata Vania.
"Baik kalau itu mau kamu." Mahendra terdiam dan beranjak pergi.
"Mahendra. Sekarang aku hamil anak Adrian. Kita akan menikah minggu depan." Kata Vania.
Ucapan Vania semakin membulatkan keputusan Mahendra untuk pergi ke Sidney." Mahendra tak pernah menangis. Tapi Vanialah yang pertama kali membuat lelaki itu menangis.
Mahendra menghentikan aktifitasnya.
"Sial." Ucap Mahendra.
"Kenapa berhenti, Mahendra? Biasanya kamu tidak seperti ini." Kata Sherly.
"Maaf, tapi untuk sekarang, bisakah kamu pergi? Aku ingin sendiri.
Mendengar ucapan Mahendra, Sherly segera membenahi pakaiannya dan segera keluar. Sherly kesal karena hasratnya tak terpenuhi saat ini. Mood bos-nya itu memang suka berubah-ubah.
"Kenapa sampai saat ini aku gak bisa melupakan wanita itu? Aku benar-benar benci padanya." Kata Mahendra.
Saat itu Mahendra keluar dari kamar Hotel menuju Lobby utama hotel itu. Dia ingin menemui sahabat lamanya. Namun saat dijalan, dia berpapasan dengan Adrian yang sedang bermesraan dengan seorang wanita. Dan wanita itu bukanlah Vania. Tapi wanita lain. Mahendra sedikit kesal melihat kakaknya yang berbuat seperti itu.
"Tapi, biarkan saja. Mungkin itu karma untum Vania. Dia menghianatiku dan kini suaminya menghianatinya.
"Hai, Rio. Sudah lama menunggu?" Tanya Mahendra.
"Tidak, baru saja. Apa kabar? Lama sekali kita tidak berjumpa." Kata Rio
"Iya, aku baru kembali setelah sekian lama dan lusa aku akan kembali ke Sidney." Kata Mahendra.
"Tidak bisakah kamu menunggu beberapa waktu lagi? Kau meninggalkan Indonesia selama lima tahun dan akan kembali dalam dua hari? Kau benar-benar gila." Kata Rio.
"Aku muak berada disini." Kata Mahendra.
"Jangan bilang karena Vania? Atau kau belum bisa melupakannya?" Tanya Rio sambil tertawa.
"Aku sudah melupakannya dan kini aku sangat membencinya." Kata Mahendra.
"Kau membenci Vania sampai -sampai kau belum menikah saat ini? Kau membencinya atau kau belum move on?" Ejek Rio.
"Kata siapa? Aku sudah melupakannya. Dan aku juga sedang mencari calon istri. Mungkin untuk saat ini belum ada yang cocok untukku." Kata Mahendra.
"Hahaha. Baiklah. Aku percaya padamu." Kata Rio
..
Keesokan harinya, Mahendra pergi kerumah keluarga besarnya. Ternyata ayahnya sudah pulang kerumah. Mata Mahendr menelusuri seluruh isi rumah. Namun dia tak menemukan sosok Vania dan juga putrinya, Dinda.
"Siapa yang kamu cari?" Tanya pak Sandi.
"Tidak ada. Kenapa aku tidak melihat kak Adrian?" Tanya Mahendra.
"Siapa yang peduli pada dia. Dia membuat perusahaanku hampir bangkrut. Untung saja aku bisa mengatasinya. Dia juga suka bermain dengan banyak wanita. Kerjanya hanya mabuk dan berjudi." Kata pak Sandi.
"Mahendra, ada yang ingin papa bicarakan denganmu. Ini penting." Kata pak Sandi.
"Papa ingin bicara apa?" Tanya Mahendra.
"Papa akan segera menentukan ahli waris. Dia yang nantinya akan mewarisi kekayaan Papa dan juga perusahaan." Kata pak Sandi.
Mahendra berpikir kalau ayahnya pasti akan memberikannya pada Adrian.
"Papa ingin kamu mewarisi semuanya. Harta dan juga perusahaan. Tapi dengan satu syarat." Kata pak Sandi
"Kalau kamu mau menjadi pewaris Wiraatmaja , maka kamu harus menikahi Vania. kalau tidak, aku akan menyumbangkan semua hartaku pada panti asuhan dan masjid." ucap pak Sandi tegas.