Ketika Mahendra sudah mulai melupakan wanita yang telah menghianatinya, namun Ayahnya memberikan syarat yang begitu berat untuknya.
"Kalau kamu mau menjadi pewaris Wiraatmaja , maka kamu harus menikahi Vania. kalau tidak, aku akan menyumbangkan semua hartaku pada panti asuhan dan masjid." ucap pak Sandi tegas.
Tentu saja itu membuat Mahendra terkejut. karena bagaimanapun, Vania adalah orang yang telah menghianatinya. Masa lalu antara dia dan seorang Vania Anggita Putri membuat hidupnya jadi berantakan. butuh lima tahun untuk Mahendra Wiraatmaja agar bisa melupakan wanita itu. Dan justru sekarang dia harus menikahi wanita itu. Tak pernah Mahendra bayangkan sebelumnya bila harus bersama dengan wanita yang paling dia benci.
"Apa papa sudah gila? Bagaimana bisa aku menikahi kakak iparku sendiri?" Kata Mahendra.
"Vania dan Adrian sudah bercerai dua tahun lalu. Kamu terlalu sibuk sampai tidak tahu mengenai perceraian itu." Kata pak Sandi.
"Tidak,pa. Aku tidak bisa menikahi Vania. Aku tahu wanita seperti apa dia. Aku tidak mau." Kata Mahendra menolak.
"Baiklah, kalau kamu menolaknya. Tapi mulai besok, saham kamu di Sidney akan papa tarik. Kamu bisa seperti sekarang karena Saham dari papa. Dan kamu tahu sendiri seperti apa perusahaanmu tanpa saham dari papa." Ancam pak Mahendra.
"Papa gak bisa begitu. Hanya karena aku tidak mau menikahi Vania, bukan berati papa bisa menarik Saham begitu saja." Kata Mahendra.
Pak Sandi segera menelepon sekretarisnya.
"Wibowo, tarik kembali saham yang ada di Sidney." Kata Pak Sandi.
Mahendra pikir itu hanya sebuah gertakan semata. Tetapi tak sampai satu jam, Sherly meneleponnya.
"Bos, ada apa ini? Sahamnya ditarik. Dan para Investor lain juga menarik saham mereka karena investor utama menarik sahamnya. Kalau begini, dalam sepekan Perusahaan akan segera bangkrut." Ucap Sherly lewat telepon.
Mahendra membanting teleponnya.
"Papa sudah keterlaluan." Bentak Mahendra.
"Terserah kamu. Kalau kamu mau kembali seperti semula. Kamu harus menikahi Vania." Kata pak Sandi.
Mahendra segera mencari tahu alamat Vania dan segera menemuinya. Wanita itu tinggal disebuah apartement kecil. Bahkan sangat kecil untuk sebuah apartement seorang janda Adrian Wiraatmaja.
Mahendra memencet bel. Setelah beberapa kali, Vania membukakan pintu. Tanpa banyak bertanya, Mahendra masuk tanpa izin sambil menarik tangan Vania.
"Apa maumu? Kamu itu benar-benar murahan sampai kamu bisa merayu papa agar aku bisa menikahimu? Apa sekarang kamu kesepian sampai kamu berniat agar bisa menikah denganku?" Ucap Mahendra kasar.
Mahendra mendorong tubuh Vania keatas ranjang lalu menindihnya. Melumat bibir wanita itu dengan kasar. Merobek pakaiannya dan tidak membiarkan wanita itu bicara sepatah katapun.
Vania menangis. Mencoba menolak, tapi kekeuatannya tak ada bandingannya dari pada kekuatan seoarang Mahendra.
"Kenapa kamu menangis? Bukankah ini yang kamu inginka? Kamu kesepian selama dua tahun ini dan butuh pelukan seorang pria kan?"
Mahendra mulai menciumi leher dan d**a Vania.
Tangan Vania berusaha menutupi dadanya yang kini terlihat polos itu. Vania menangis sejadi-jadinya dan memohon pada Mahendra.
"Lepaskan... Aku mohon lepaskan. Jangan seperti ini." Kata Vania sambil terisak.
Melihat Vania menangis seperti itu membuat Manendra sedikit iba. Mahendra melepaskan Vania.
"Baik, sekarang kamu bisa lepas. Tapi aku mau kamu bicara dengan papa dan bilang, kalau kamu tidak mau menikah denganku." Kata Mahendra.
Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Mama dan Juga Dinda yang masuk. Sontak mama Mahendra menutup mata Dinda agar tak melihat pemandangan didepan itu.
"Vania. Pakai pakaian kamu. Kamu juga Mahendra. Setelah ini kalian datang kerumah dan temui papa." Kata bu Sandi.
Semua ini menambah kekacauan yang terjadi. Vania semakin menangis. Vania memukul d**a Mahendra.
"Kamu membuat ini menjadi semakin kacau, Hendra. Mama pasti salah paham." Kata Vania.
Mahendra mengacak rambutnya kesal. Kini dia berada dalam satu mobil bersama Vania menuju rumahnya. Mahendra bingung harus menjelaskan apa pada papa dan juga mamanya.
Mahendra dan Vania duduk didepan pak Sandi. Vania tertunduk malu. Tiba-tiba Dinda datang dan duduk dipangkuan Vania.
"Dinda sayang, ikut sama oma dulu ya.. mama mau ngomong sesuatu yang penting." Kata Vania.
Dinda yang penurut itupun beranjak menuju oma-nya.
"Mahendra, apa yang kamu katakan tidak sesuai dengan apa yang kamu perbuat. Kalau begini, papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu dan Vania akan menikah secepatnya. Kalau bisa minggu ini." Kata pak Sandi.
"Tapi, pa. Ini cuma salah paham. Vania bisa jelaskan semuanya. Vania gak bisa nikah sama Hendra." Kata Vania.
"Baiklah, kalau kamu menolak untuk menikah dengan Mahendra, berarti secara otomatis kamu akan kehilangan hak asuh Dinda. Walau bagaimanapun, jika saya berkehendak. Kamu akan jauh dari Dinda." Kata pak Sandi mengancam.
"Jangan, pa. Vania gak bisa hidup tanpa Dinda." Kata Vania.
"Kenapa tidak? Dinda justru akan terjamin hidup disini. Dan kamu tahu? Dari segi apapun, saya bisa memenangkan hak asuh Dinda." Kata pak Sandi.
Mahendra benar-benar mengutuk dirinya. Dia terbuai sesaat waktu itu. Dia lepas kendali dan tak bisa mengontrol dirinya. Kini dia terjebak dengan wanita itu. Apalagi saat ini Vania tengah menangis dan begitu terluka.
"Ok, aku mau nikahin Vania. Papa jangan pernah pisahkan Vania dengan putrinya." Kata Mahendra.
Sontak, Vania menatap kearah Mahendra. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Hahaha. Bagus. Dengan begitu kita jadi impas kan? Vania tetap bisa tinggal disini bersama Dinda, dan saya akan mengembalikan saham pada perusahaan Mahendra." Pak Sandi tertawa puas karena apa yang dia inginkan terjadi.
Mau tak mau Vania harus menurut dan mengikuti kemauan mantan papa mertuanya. Vania tak pernah menyangka kalau dia harus menikah dengan adik iparnya sendiri. Maksudnya mantan adik iparnya.
..
Vania menuju ke sebuah bar. Menemui sahabatnya Della. Menceritakan apa yang dialaminya tadi. Itu membuat Vania menjadi frustasi.
"Jadi kamu mau nikah sama adik ipar kamu sendiri?" Tanya Della.
Vania meneguk segelas minumannya dan mengangguk.
"Iya, kamu tahu kan? Ini lucu. Adik iparku, Calon Suamiku. Aku juga gak mau ini terjadi. Tapi keluarga itu memanglah keluarga pemaksa." Vania mulai mabuk sambil menangis.
"Apa mereka pikir segalanya bisa lebih mudah karena mereka kaya? Apa karena aku hanya wanita miskin?" Ucap Vania sesenggukan.
"Van, kayaknya kamu mulai mabuk, deh." Kata Della.
"Mereka egois, Del. Bukan cuma kali ini. Tapi ini sepertj dejavu. Dulu mereka juga pernah memaksaku seperti ini." Kata Vania.
Mahendra dan Sherly juga berada di bar yang sama. Sherly mengajak bos-nya itu untuk menghilangkan stres-nya. Namun, mata Mahendra tertuju pada seorang wanita dengan dress panjang yang sedikit terbuka. Memperlihatkan punggung mulusnya. Mahendra menyadari kalau dia adalah Vania.
"Oh, jadi seperti ini kelakuannya? Dasar wanita murahan." Kata Mahendra lalu menghampiri Vania yang sedang berbicara dengan temannya.
Sherly yang melihat itu hanya diam sambil mengikuti bos-nya itu.
"Kenapa kamu ada disini? Ayo pulang." Ajak Mahendra sambil menarik tangan Vania
"Terserah aku, dimana saja. Bukan urusanmu." Kata Vania.
"Ini menjadi urusanku sejak tadi. Sejak papa mengatakan kalau kita akan menikah." Kata Mahendra.
"Kau pikir aku ini apa? Kamu pikir aku mau menikah denganmu? Ini hanya karena Dinda. Hanya dia satu-satunya yang aku miliki." Vania mulai meracau.
"Kamu mabuk. Ayo kita pulang." Kata Mahendra.
"Lepaskan. Aku masih mau disini." Kata Vania.
Karena sudah tidak tahan lagi, Mahendra menggendong paksa Vania agar dia mau pulang.
"Sherly, kau bisa pulang sendiri, kan?" Kata Mahendra.
Sherly hanya bisa mengangguk. Sedangkan Della hanya diam mematung menyaksikan Vania dan Mahendra.
"Mahendra Wiraatmaja. Lepaskan aku. Apa hakmu memperlakukanku seperti ini? Dasar bodoh." Kata Vania. Tiba-tiba Vania muntah dan membuat kemeja Mahendra kotor.
Mahendra membawa Vania ke apartement miliknya. Mahendra segera mandi dan mengganti kemejanya.
"Bagus sekali, setelah melakukan semua ini kau tertidur lelap?" Ucap Mahendra.
Mahendra menatap lekat tubuh Vania. Wanita itu terlihat kurus. Bahkan lima tahun yang lalu dia tidak sekurus itu.
"Apakah kamu sangat menderita karena perceraianmu?" Kata Mahendra.
..
Vania bangun pagi ini. Dia membuka matanya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Mahendra tidur disebelahnya.
"Aaaaa... Kenapa kau ada disini?" Kata Vania menjerit kaget.
"Kau pikir ini dimana? Kau ada ditempatku." Kata Mahendra.
Vania melirik disekitar dan ternyata memang dia sedang ada ditempat Mahendra.
"Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Vania.
"Oh, jadi kau lupa sekarang? Kau lupa dengan apa yang terjadi semalam?"
Vania mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Terakhir kali dia curhat pada Della dan setelah itu dia mabuk dan tidak mengingat apapun lagi.
"Aku harus pulang. Dinda pasti mencariku." Kata Vania lalu turun dari tempat tidur.
"Dinda ada dirumah mama. Aku sudah memberi tahu mama kalau kau ada ditempatku." Kata Mahendra.
"Tetap saja. Aku mau pulang." Kata Vania.
"Kau boleh pulang, tapi tidak dengan pakaian itu."
Vania melihat pakaiannya dan ternyata dia memakai pakaian yang sedikit terbuka.
"Mandi dan pakai ini. Setelah itu aku antar pulang." Ucap Mahendra sambil melemparkan kemejanya