Sekarang adalah pernikahan Mahendra dan Vania. Pernikahannya diadakan secara sederhana. Hanya mengundang beberapa sanak keluarga terdekat saja. Vania benar-benar merasakan de Javu untuk yang kedua kalinya. Pernikahannya dan juga Adrian juga seperti ini. Vania merasa kehidupannya akan berakhir seperti saat dia bersama Adrian dulu.
"Saya terima nikahnya, Vania Anggita Putri binti Sanjaya dengan Mas Kawin emas 100 gram, dibayar tunai." Ucap Mahendra. Semua berkata Syah.
Kini mereka berdua resmi menjadi sepasang suami istri. Ini terasa sangat gila bagi Vania. Berpisah dengan Adrian selama dua tahun dan kini harus menikah dengan adiknya. Walaupun sebenarnya ada kisah masa lalu antara Vania dan juga Mahendra.
Adrian melangkahkan kaki dan melihat sebuah pernikahan yang tak pernah dia bayangkan. Adrian tertawa sambil menghampiri Mahendra.
"Kau telah mengambil bekasku, Mahendra. Hahaha" kata Adrian tertawa sinis.
Mahendra kesal dan juga marah. Ingin sekali dia memberikan satu pukulann, tapi para tamu menatap kearah mereka.
"Hei, aku bukan mengambil bekasmu kak Adrian. Tapi dari dulu aku berkata. Kalau sesuatu yang pernah menjadi milikku, akan selamanya menjadi milikku. Aku mengambilnya darimu. Dan jangan pernah menyesal karena telah menyia-nyiakannya." Kata Mahendra sambil menepuk bahu Adrian
Adrian geram dan pergi meninggalkan tempat itu sambil mengepalkan kedua tangannya. Matanya memerah saat ini. Menandakan kalau dia memendam amarah.
"Oma, siapa dia? Kenapa om itu terlihat sangat jahat? Dinda takut sekali." Ucap Dinda sambil bersembunyi di belakang oma-nya.
"Ada apa ini? Kenapa Dinda tidak mengenali Ayahnya sendiri? Sebenarnya apa yang terjadi ? Apa Vania dan mama sengaja menjauhkan Dinda dari Ayahnya?" Batin Mahendra.
Mahendra membuka kemejanya. Berniat ingin mandi setelah acara yang sangat membuatnya lelah.
Vania masuk kekamar dan melihat dekorasi kamar yang dipenuhi bunga mawar.
"Tidak akan pernah ada malam pertama." Ucal Vania dalam hati.
Vania mulai melepas aksesoris dan melepas pakaian pengantinnya. Menyisakan Bra dan juga celana dalam saja. Baru saja dia melangkahkan kaki hendak menuju kamar mandi, tapi Mahendra keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan sehelai handuk.
"Aaaaa..." Vania berteriak sambil menutup dadanya dan menarik seprei agar bisa menutupi seluruh tubuhnya.
Vania sungguh tidak tahu kalau Mahendra berada dikamar mandi. Terakhir kali Vania melihat Mahendra masih berbincang-bincang dengan kawan-kawannya.
"Diam. Kamu pikir aku akan tergoda walaupun kamu telanjang bulat didepanku?" Kata Mahendra.
Apa yang dikatakan Mahendra bertolak belakang dengan apa yang tubuhnya rasakan. Tubuhnya sudah menegang karena apa yang telah dia lihat barusan.
Vania segera berlari menuju kamar mandi.
Mahendra memakai piyamanya dan bersiap untuk tidur. Dia merebahkan dirinya di sofa sambil memainkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian Vania keluar dan telah memakai sebuah lingeri yang membuatnya terlihat seksi. Mahendra yang melihat itu menelan ludah. Bisa-bisanya Vania melakukan itu untuk menarik perhatiannya.
"Ini pasti perbuatan mama. Semua baju-baju yang aku bawa dia ganti dengan Lingeri seksi. Mama sengaja melakukannya. Aku jadi terpaksa memakai ini." Batin Vania.
Mahendra menaruh ponselnya dan melihat kearah Vania yang mulai menaiki tempat tidur. Karena tidak tahan lagi dengan kelakuan Vania, Mahendra menghampiri wanita itu.
Mahendra menarik Vania dan menghimpit tubuhnya dari atas.
"Sebenarnya apa yang kamu mau? Apa yang kamu inginkan? Kamu mau semua ini kan?" Ucap Mahendra.
Mahendra lalu menarik lingeri Vania dengan kasar. Dia mulai mencium bibir Vania lalu beralih ke leher dan menuju d**a. Vania tidak bisa melawan. Dia hanya bisa menangis saat itu.
"Mahendra. Ini bukan kemauanku. Aku tidak melakukan ini." Kata Vania.
Mahendra tidak mendengarkan apa yang dikatakan Vania. Tubuhnya sudah tidak bisa terkontrol lagi. Apalagi Mahendra berfikir kalau perbuatannya tidak salah. Vania telah syah menjadi istrinya saat ini. Dia berhak melakukan apapun kepadanya.
Mahendra mulai membuka bra yang dipakai Vania, kemudian membuka paksa c*****************a itu. Vania masih saja terus menangis. Karena melihat Vania yang menangis membuat Mahendra tidak tega. Dia menghentikan aktifitasnya. Memakai kembali pakaiannya dan meninggalkan Vania seorang diri di kamarnya.
..
Adrian menuju sebuah klub malam. Memesan berbotol-botol minuman alkohol. Dia ingin sekali mabuk saat ini. Melupakan apa yang barus saja dia lihat. Tiba-tiba seorang wanita datang dan menuangkan minuman ke gelas Adrian. Wanita ituadalah Sherly. Wanita itu tersenyum kearah Adrian.
"Boleh aku bergabung denganmu?" Kata Sherly.
"Tentu saja boleh, cantik. Kamu siapa?" Kata Adrian.
"Aku Sherly. Aku melihat apa yang terjadi tadi. Aku tahu kamu kesal. Jadi aku akan membuatmu tidak kesal lagi malam ini." Kata Sherly.
Karena mereka berdua sudah mabuk. Mereka berdua menuju ke apartement milik Adrian. Mereka berdua mulai berciuman. Saling membuka pakaian satu sama lain dan kini mereka benar-benar tidak menyisakan sehelai kainpun ditubuh mereka.
Adrian mulai melakukannya. Wanita itu mendesah keenakan. Mereka bahkan sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Adrian melampiaskan amarahnya pada wanita yang baru saja dia kenak. Setelah malam yang panas itu, mereka tertidur lelap.
..
Keesokan paginya, Mahendra memberikan kartu ATM untuk Vania. Dia menyuruh Vania menggunakan kartu itu untuk keperluannya.
"Kamu pakai kartu ATM ini untuk belanja keperluanmu. Dan mulai sekarang. Aku tidak mau melihat penampilanmu lusuh. Pergilah ke salon dan beli pakaian baru. Seorang istri Mahendra Wiraatmaja tidak boleh bepenampilan lusuh dab kampungan. Dan satu lagi, jangan pakai Lingeri seperti tadi malam. Kalau tidak aku tidak akan berjanji kalau aku tidak bisa mengontrol diri. Kamu sendiri yang memintanya." Kata Mahendra.
Mahendra keluar dan menuju meja makan. Melihat Dinda yang lahap memakan sarapannya.
Mamanya terlihat bahagia saat bersama dengan Dinda.
"Papa, ini obat papa. Dan jangan makan ini. Ini pantang buat papa." Ucap Vania.
Melihat Vania yang sok perhatian itu membuat perut Mahendra mual.
"Kakek, cepat minum obat. Kakek kan janji sama Dinda, kalau sembuh mau ajak Dinda liburan." Kata Dinda dengan polos.
Pak Sandipun tertawa mendengar ucapan Dinda.
"Cucu kakek pandai sekali merayu. Kakek janji, setelah sembuh nanti kita sekeluarga akan pergi liburan." Kata pak Sandi.
Sekarang Mahendra mengerti apa alasan orang tuanya menyuruhnya agar menikahi Vania, karena mereka tidak ingin kehilangan Dinda.
"Papa, mama. Aku berangkag dulu." Kata Mahendra pamit.
Tiba-tiba Dinda menghampiri Mahendra.
"Om, kata oma sekarang om jadi papanya Dinda ya?" Tanya Dinda.
Mahendra tidak tahu harus bilang apa. Mahendra tidak ingin berkata kasar pada seorang anak kecil.
"Iya, Dinda boleh panggil om papa." Kata Mahendra
"Asyiik, sekarang Dinda punya papa." Kata Dinda sambil berlari.
Melihat itu Vania tersenyum. Baru pertama kalinya Dinda sangat terlihat bahagia.
Sepanjanh perjalanan menuju kantor, Mahendra bingung. Kenapa Dinda tidak kenal dengan ayahnya sendiri? Dia begitu penasaran mengenai hal itu.
Mahendra tidak kembali ke Sidney dan mengurus perusahaan papanya di Surabaya. Mahendra menelepon Sherly dan menyuruhnya datang ke kantor.
Sherly masuk dan menemui Mahendra. Dia segera memeluk Mahendra. Mencoba mencium bibir lelaki itu.
"Bau apa ini, Sherly? Apa semalam kau mabuk?" Tanya Mahendra.
Sherly diam tanpa mengatakan apapun. Bagaimanapun dia telah tidur dengan kakak Bos-nya.
"Bos, aku tidak bisa melihatmu menikah dengan wanita lain, jadi aku semalam melampiaskannya dengan minum." Kata Sherly .
"Ingat Sherly, kita berdua hanya sebagai atasan dan sekretaris. Lebih dari itu kita hanya sama-sama bermain saja. Tidak lebih. Jadi aku pikir kau harus mencari pria lain. Sekarang aku sudah menikah dan aku bukan tipe pria yang bisa menghianati istri. Walau sebenarnya aku membenci Vania." Kata Mahendra.
"Tapi aku mencintaimu, Mahendra." Kata Sherly.
"Aku tidak pernah mencintaimu. Kamu tahu itu. Mengertilah." Kata Mahendra.
Sherly keluar dari kantor Bos-nya itu dengan kesal. Dia pergi menuju apartement Adrian. Menemui lelaki itu.
"Wah, kau pergi tanpa bilang-bilanv dan kau sekarang datang lalu menerobos masuk?" Ucap Adrian.
"Diam, aku butuh kamu sekarang." Ucap Sherly. Tanpa berkata lagi dia langsung melumat bibir Adrian dengan sangat agresif. Dan itu membuat Adrian b*******h lagi setelah apa yang terjadi semalam.
"Aku suka keagresifanmu, sayang." Kata Adrian.
Mereka kembali menuntaskan birahi mereka pada pagi itu.