Sesuai dengan permintaan Mahendra, Vania berbelanja dan pergi ke salon di temani ibu mertuanya. Ibu mertuanya merubah penampilan Vania yang sedikit norak itu menjadi lebih baik. Setelah itu ibu mertuanya mengajak Vania pergi kesalon langganannya. Melakukan perawatan kulit dan juga rambut.
"Tolong, buat rambutnya lurus." Kata bu Sandi.
"Tapi, ma. Rambut ini kesayangan Vania." Ucapnya.
"Tidak Vania. Kamu tahu kan kalau Mahendra ingin kamu berubah." Kata bu Sandi.
Pegawai salon memotong rambut Vania sebahu dan meluruskan rambutnya yang bergelombang. Vania memang cantik, dengan mata bulat dan kulitnya yang berwarna putih. Rambutnya yang bergelombang membuat kesan polos terhadap dirinya.
Pegawai salon memberikan spa dan juga perawatan seluruh badan. Membuat Vania merasa lebih segar dari sebelumnya. Entah berapa tahun dia tidak pernah melakukan itu lagi.
Dinda yang melihat perubahan mamanya sangat senang.
"Wah, mama terlihat sangat cantik dengan rambut itu ". Kata Dinda.
"Terima kasih, sayang." Kata Vania sambil mengecup kening Dinda.
"Sekarang waktunya makan.." ucap bu Sandi.
Merekapun pergi kesebuah restoran untuk makan siang. Mereka terlihat bahagia hari ini. Apalagi bu Sandi yang sangat senang karena Vania kembali menjadi menantunya walau bukan sebagai istri Adrian, tapi sebagai istri Mahendra. Awalnya bu Sandi tidak menyukai Vania karena dia hanya seorang wanita miskin dan tak punya orang tua. Tetapi ternyata dugaannya salah. Vania adalah gadis yang sangat baik hati. Saat dia dan suaminya sakit, Vania yang merawat mereka. Apalagi dengan kehadiran Dinda yang membuat hidup bu Sandi dan suaminya menjadi lebih berwarna.
Bu Sandi dan suaminya ingin memperbaiki suatu kesalahan yang terjadi lima tahun lalu. Memperbaiki kesalahpahaman antara Vania dan Mahendra yang disebabkan oleh Adrian.
Adrian telah merusak masa depan gadis yang baru berumur sembilan belas tahun waktu itu. Padahal saat itu Vania adalah kekasih dari Mahendra. Adrian iri pada Mahendra karena Mahendra lebih baik dan juga lebih pintar darinya. Jadi Adrian bertekad untuk merebut apa yang menjadi milik Mahendra. Setelah mendengar Mahendra berpacaran dengan Vania. Adrian mencoba mendekati Vania. Namun sayangnya Vania bukan gadis yang mudah dirayu. Hati Vania tetap pada Mahendra.
Dengan segala cara Adrian mencoba meraih Vania. Sampai-sampai dia memberikan obat tidur pada Vania dan memperkosanya. Kejadian itu membuat Vania hamil. Itu awal penderitaan Vania. Bu Sandi yang tidak ingin Mahendra menghentikan impiannya memaksa Vania agar berbohong dan meninggalkan Mahendra. Karena kalau Mahendra tahu kalau Vania dihamili oleh Adrian karena Adrian yang ingin menghancurkan Mahendra, pasti Mahendra mengurungkan niat untuk pergi ke Sidney dan malah akan bertanggung jawab atas perbuatan kakaknya.
"Enggak, ma, pa. Aku gak akan pernah tanggung jawab sama Vania. Aku gak pernah mencintainya. Aku hanya ingin membuat Mahendra sakit hati. " Kata Adrian. Dan Adrian marah.
"Ini perbuatan kamu Adrian. Menikahlah dengan Vania. Bagaimanapun dia mengandung anak kamu. Darah daging Wiraatmaja." Kata Pak Sandi.
"Beri dia uang dan suruh saja gugurkan kandungannya." Kata Adrian.
Bu Sandi marah dan menampar Adrian.
"Kamu memang kurang ajar, Adrian. Apa kamu tidak tahu? Kamu juga dulu anak diluar nikah. Saat itu papa dan mama masih bukan siapa-siapa. Tapi papa kamu bertanggung jawab sama mama. Mama gak setuju kalau kamu menyuruh Vania menggugurkan kandungannya." Kata Bu Sandi.
"Biarlah, ma. Kalau dia tak mau menikahi Vania, Dia harus pergi dan keluar dari rumah ini. Dia juga akan dicoret dari ahli waris keluarga Wiraatmaja." Kata pak Sandi tegas.
Adrian tak mampu berkata apapun.
" Baiklah. Aku mau menikahi Vania. Tapi jangan harap kalau aku akan menganggapnya sebagai istriku." Kata Adrian lalu meninggalkan mereka.
Vania yang mendengar itu hanya menangis ketakutan.
"Vania, masalah Adrian sudah beres. Sekarang kamu harus membuat Mahendra membencimu dan meninggalkanmu." Kata pak Sandi.
" Benar Vania. Besok Mahendra akan berangkat ke Sidney. Kamu harus mengatakannya sebelum dia berangkat." Kata bu Sandi.
Vaniapun menemui Mahendra. Dia terpaksa memutuskan pria yang paling dicintainya itu.
"Sayang, kenapa kamu kesini gak kasih kabar?" Kata Mahendra.
"Aku ingin bicara padamu." Kata Vania.
"Bicara apa? Apa kamu akan sangat merindukanku saat kita jauh nanti?" Kata Mahendra.
"Mahendra, sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini." Kata Vania.
Mahendra yang mendengar itu tekejut dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku mencintai Adrian, kakakmu. Bukan kamu." Kata Vania.
"Jangan bercanda, Vania. Ini tidak serius kan?" Tanya Mahendra.
"Maafkan aku Mahendra. Aku lebih memilih Adrian dari pada kamu. Adrian sudah mapan, dan kamu masih belum. Aku tidak butuh janji. Tapi bukti. Dan Adrian membuktikannya." Ucap Vania.
"Vania, kalau memang kamu butuh bukti, tunggu aku selama setahun. Aku janji aku akan sukses untukmu. Kalau memang itu yang kamu inginkan". Kata Mahendra memohon.
"Tidak Mahendra. Setahun tak akan cukup untuk membuatmu sukses. Aku tidak bisa menunggu." Kata Vania.
"Kenapa kamu berubah secepat ini.?" Kata Mahendra.
"Semua bisa berubah karena uang, Mahendra. Dan aku bukan perempuan munafik. Aku butuh itu." Kata Vania.
"Baik kalau itu mau kamu." Mahendra terdiam dan beranjak pergi.
"Mahendra. Sekarang aku hamil anak Adrian. Kita akan menikah minggu depan." Kata Vania.
Ucapan Vania semakin membulatkan keputusan Mahendra untuk pergi ke Sidney. Mahendra tak pernah menangis. Tapi Vanialah yang pertama kali membuat lelaki itu menangis.
Setelah kepergian Mahendra. Hidup Vania benar-benar hancur. Adrian tidak pernah pulang kerumah. Dia hanya datang untuk menyiksa Vania. Berharap bahwa wanita itu akan segera meninggalkannya. Adrian hanya mabuk-mabukan dan main perempuan saja. Bahkan saat Vania melahirkan, Adrian tidak ada disisinya. Adrian juga tidak pernah menganggap bahwa Dinda adalah putrinya. Itulah mengapa Dinda tidak pernah mengenal sosok Ayahnya. Adrian juga tidak pernah bertemu Vania setelah itu. Sampai Vania bertahan selama tiga tahun dan menggugat cerai Adrian. Itu semua karena pak Sandi dan bu Sandi yang menyuruh Vania agar berpisah dengan Adrian. Disaat itulah pak Sandi dan bu Sandi menyadari bahwa perbuatan mereka salah dan berniat menyatukan Vania dan Mahendra kembali.
Mulai kecil Adrian memang sudah membenci Mahendra. Karena Mahendra lebih pintar dan lebih tampan darinya. Kedua orang tuanya lebih memilih mewariskan perusahaan pada Mahendra daripada dirinya. Itu yang membuat Adrian ingin sekali menghancurkan Mahendra walau bagaimanapun caranya. Tanpa Adrian tahu kalau dia telah merusak kehidupan seorang gadis yatim piatu.