Bertemu

966 Words
Vania benar-benar merubah penampilannya. Mengubah gaya pakaiannya , rambutnya dan juga sikapnya. Semua itu keinginan Mahendra. Vania berharap kalau Mahendra tidak akan membencinya lagi. "Ayolah, sayang. Kamu harus memberi kejutan pada suamimu itu. Antarkan makanan ke kantornya. Buat dia terkejut dengan perubahanmu. Dan ingat satu lagi yang telah mama suruh." Kata Bu Sandi. Karena permintaan ibu mertuanya, Vania terpaksa mengikutinya. Vania menuju ke kantor Mahendra. Memakai atasan kaos putih dengan bawahan rok denim ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya. Baru kali ini ada seorang wanita yang sangat cantik masuk kedalam kantor. Membuat semua yang melihatnya terkagum-kagum. "Adrian, bukankah itu Vania? Mantan istrimu? Dia sangat cantik setelah bercerai denganmu." Kata Dino, teman Adrian. Adrian menoleh dan tertegun melihat perubahan Vania. Dia sangat cantik. Bahkan wanita itu memakai lipstik dibibirnya. Membuat Adrian ingin melumat bibir itu. Adrian merasa menyesal karena dulu tidak pernah menyentuh wanita itu. "Sial.. Ayo pergi. Jangan pikir tentang wanita sialan itu." Kata Adrian. "Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang ambil." Kekeh Dino. Vania terus berjalan menuju ruangan dimana Mahendra bekerja. "Maaf nona. Ada perlu apa kesini?" Tanya seorang staff. "Saya mau menemui, Mahendra" jawab Vania "Pak Mahendra dilantai atas. Lurus saja." Ucap staff. Akhirnya Vania berhasil menemukan ruangan kerja Mahendra. Saat membuka pintu, Mata Vania terbelalak. Melihat pemandangan didepan matanya. Seorang wanita tengah memeluk Mahendra erat. Vania ingin sekali menangis saat itu. Namun dia ingat perkataan ibu mertuanya. Dia tidak boleh menunjukkan kalau dirinya lemah dihadapan Mahendra ataupun Adrian. Vania menerobos masuk dang langsung duduk didepan Mahendra. Sherly yang sedari tadi memeluk Mahendra langsung melepaskan pelukannya. "Kalau kau sudah selesai. Biarkan kami berdua." Ucap Vania ketus. Mendengar itu, Sherly langsung keluar. "Kenapa kau datang kesini?" Tanya Mahendra dingin. "Kau pikir aku suka datang kesini." Jawab Vania lalu meletakkan sekotak makanan dimeja Mahendra. "Mama menyuruhku kesini. Katanya dia khawatir kau sibuk dan tak bisa makan siang." Kata Vania. Vania berjalan keluar namun Mahendra segera menarik tangannya. Mahendra mendekatkan wajah Vania pada wajahnya. Menelusuri setiap inci dari wajah wanita itu. Bau wanginya membangkitkan kejantanan Mahendra. Membuat Mahendra ingin segera melumat bibir Vania. "Lepaskan aku. Aku tidak suka kau menyentuhku setelah kau menyentuh wanita lain." Ucap Vania hendak pergi. "Dan satu lagi. Tipemu begitu sangat norak dan murahan sekali." Tambah Vania lalu pergi dari ruangan itu. "Vania .." terika Mahendra Frustasi. Wanita itu berhasil membangkitkan gairahnya, namun setelah itu dia pergi. Mahendra berusaha mengejar Vania. "Hei kau. Kau istri Mahendra kan? Asal kau tahu, Mahendra hanya mencintaiku. Mungkin kau berstatus sebagai istrinya sekarang. Tapi kau harus tahu, di Sidney, aku dan dia menghabiskan waktu bersama." Ancam Sherly. "Kau, diamlah. Bukankah kau hanya sekretarisnya. Berani sekali kau berkata seperti itu. Ingat. Aku ini adalah nyonya Mahendra. Aku nyonya di keluarga Wiraatmaja. Aku bisa saja membuatmu pergi dari perusahaan ini sekarang juga. Tapi, aku pikir kalau kau bukan tandinganku. Lagi pula, aku istri Syahnya. Dan kau bukan siapa-siapa. Lagipula, Mahendra tidak pernah mencintaimu. Kalau dia mencintaimu, dia pasti menikahimu dari dulu. Aku juga berfikir kalau sepertinya Mahendra tidak bisa melupakanku, sampai hidup denganmu selama lima tahun tanpa sebuah status." Kata Vania meninggalkan Sherly yang mematung. Sherly tak bisa berkata apapun lagi sekarang. Dia merasa muak dengan ucapan Vania yang memang benar adanya. Ternyata Mahendra mendengar semuanya. Mahendra tersenyum mendengar percakapan kedua wanita itu. Dia pikir Vania adalah gadis lemah. Ternyata dia salah. Wanita itu telah menjadi wanita yang sangat kuat. Adrian masih terbayang-bayang akan kenadian saat dia melihat Vania. "Andai saja dari dulu dia seperti itu,mungkin aku akan berfikir dua kali untuk meninggalkannya. Dan sekarang dia sudah berubah saat bersama Mahendra. .. Vania merapikan kamarnya. Tiba-tiba Vania menangis saat itu juga. Sebenarnya dia rapuh saat itu. Wanita mana yang sudi melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Vania menghapus air matanya. Dia mulai tersenyum. Terlintas sebuah ide dipikirannya. Mahendra memasuki kamar. Namun, tidak seperti biasanya. Tidak ada pakaian yang disiapkan Vania untuknya. Tidak ada pula air hangat. Mahendra terpaksa melakukannya sendiri. Sementara itu Vania masih saja sibuk merias diri. Memakai sebuah Lingerie yang sangat seksi. Padahal Mahendra sudah melarangnya memakai pakaian seperti itu. Vania mulai membuka cardigan yang dipakainya. Memperlihatkan lingeri transparan itu. Vania mulai mengoles lotion diseluruh tubuhnya. Membuat Mahendra meneguk air liurnya. Mahendra mulai merasa panas. "Vania, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu lagi." Tanya Mahendra. Namun Vania hanya diam tak menjawab. Dia masih sibuk dengan lotion di tangannya. "Jawab aku. Aku sedang bertanya padamu" kata Mahendra. Vaniapun menghampiri Mahendra yang duduk disofa. Mendekatinya dan mulai duduk diatas Mahendra. "Kenapa kau tidak suka? Apakah karena kau tergoda padaku? Bukankah kau bilang kau membenciku? Lalu kenapa kau peduli dengan apa yang aku pakai?" Bisik Vania ditelinga Mahendra lalu berjalan menuju ranjang. "Sial, dia membuatku hampir tak bisa menahan diri." Gumam Mahendra lirih. Mahendra masih menatap Vania yang tertidur lelap. Tanpa dia tahu kalau dia tersiksa karena ulah Vania. Mahendra tidak bisa tidur malam ini. "Mahendra. Aku mencintaimu." Kata Vania. "Aku juga mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Mahendra. ,.... "Jangan Adrian. Aku mohon jangan lakukan itu. Jangan. Jangan sakiti aku." Vania mengigau dalam tidurnya. Mendengar itu Mahendra menghampiri Vania dan ternyata saat itu Vania demam. "Kau mimpi buruk." Ujar Mahendra Lirih. Mahendra mengambil Handuk lalu mengompres kepala Vania. "Jangan tinggalkan aku, Mahendra. Maafkan aku." Vania mengigau dan memegang tangan Mahendra. Mahendra terlelap disamping Vania malam itu sampai pagi. Ketika bangun, posisi Vania memeluk Mahendra dengan sangat erat. "Aaaaah...Apa yang kau lakukan disampingku Mahendra." Teriak Vania sambil memukuli lengan Mahendra. "Kau ini. Bukannya berterima kasih. Kau demam semalaman dan aku yang mengompresmu. Kau juga yang memelukku. Lalu kenapa kau yang marah?" Tanya Mahendra. "Tidak mungkin aku memelukmu Mahendra." Kata Vania. "Haha... Kau juga mengigau. 'Berkata jangan tinggalkan aku Mahendra, Maafkan aku Mahendra' dan sekarang kau memukulku. "Baiklah. Lupakan apa yang terjadi semalam dan hari ini. Aku hanya mengigau. Tidak lebih." Kata Vania lalu pergi menuju kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD