Setelah kejadian tadi pagi, Vania memeriksakan dirinya ke dokter langganannya.
"Apa mimpi itu terjadi lagi, Vania?" Tanya dokter Irfan
"Iya dokter. Hanya saja tidak separah yang kemarin." Jawab Vania.
Vania memiliki trauma karena Adrian. Sampai dia sering bermimpi kalau Adrian datang dan memukulinya seperti dulu. Setiap kali mimpi itu terjadi, Vania pasti akan mengalami demam.
"Aku akan meresepkan obat demam untukmu. Dan satu lagi. Sepertinya suamimu harus diberitahu soal ini." Ucap Dokter.
"Jangan, dokter. Aku butuh waktu untuk mengatakannya. Bukan sekarang." Jawab Vania.
"Baiklah kalau itu maumu." Jawab Dokter Irfan.
Dokter Irfan adalah salah satu sahabat Mahendra. Dialah yang mengetahui penyebab hubungan Mahendra dan Vania bisa seperti sekarang. Vania juga sudah menganggap dokter Irfan sebagai kakaknya.
"Vania, kalau terjadi sesuatu padamu. Jangan segan-segan untuk menghubungiku." Kata dokter Irfan.
Dokter Irfan sebenarnya menaruh hati pada Vania. Namun Vania tidak pernah mencintai lelaki manapun selain Mahendra. Jadi, dokter Irfan tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Vania. Apalagi setelah mengetahui kalau Vania sudah menjadi istri Mahendra.
"Baiklah, dokter." Ucap Vania sambil tersenyum.
Vania pun kembali pulang setelah menebus obatnya.
Di depan rumah sakit, Vania melihat sosok yang tidak ingin dia temui. Adrian berada didepan matanya. Pria itu sedang menatapnya dengan tajam. Menelusuri dirinya dari atas sampai bawah. Vania tidak tahu kenapa lelaki itu bisa berada didepan matanya. Kebetulan atau memang dia sengaja mengikuti Vania.
"Hai, Vania. Apa Kabar?" Tanya Adrian dengan senyum iblisnya.
Tubuh Vania bergetar. Tangannya dingin dan wajahnya semakin pucat. Vania sangat takut saat ini. Dia mulai mengepalkan tangannya. Namun Adrian semakin mendekati Vania.
"Oh iya, aku cuma mau bilang. Kamu makin cantik aja. Andaikan kamu dulu seperti ini, mungkin aku gak akan ninggalin kamu." Kata Adrian. Tangannya hendak menyentuh rambut Vania
Sebenarnya Vania ketakutan. Namun, dia berusaha terlihat tenang agar Adrian tidak menganggapnya lemah.
"Adrian, jangan ganggu aku lagi. Kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi. Aku mohon pergi dan jangan pernah menemuiku lagi." Ucap Vania tegas.
"Ingatlah, Vania. Ada penghubung diantara kita. Putri kita." Kata Adrian.
"Kau bilang dia putrimu? Setelah empat tahun kamu tidak pernah datang menemuinya. Bahkan dia tidak pernah tahu kalau kamu Ayahnya." Ucap Vania.
"Tunggu saja. Dia akan segera tahu kalau aku Ayahnya." Kata Adrian sembari pergi meninggalkan Vania sendirian dengan perasaan ketakutan.
Tubuh Vania mulai tegang. Pandangannya kabur sampai matanya berkunang-kunang. Seketika itu dia kehilangan keseimbangan dan ambruk saat itu juga. Namun, Vania merasakan ada seorang yang merengkuhnya sebelum dia tidak mengingat apapun lagi.
Vania mulai membuka matanya. Melihat disampingnya ada sosok Mahendra di ruangan serba putih itu. Ada juga dokter Irfan yang segera mengambil stetoskop saat tahu Vania sadar.
"Vania, tadi kamu pingsan. Untung saja ada Mahendra yang menolongmu." Ucap dokter Irfan.
Mahendra hanya diam tanpa kata. Vania memegangi kepalanya yang terasa sakit. Mahendra tahu betul kalau tadi Vania pingsan setelah berbicara dengan Adrian. Walau tidak tahu tentang apa yang dibicarakan, tapi Mahendra mengira kalau kakaknya lah yang membuat Vania jatuh pingsan.
"Jangan bergerak dulu. Kamu perlu istirahat." Ucap Mahendra.
"Tubuh kamu masih lemah. Nanti sore kamu baru boleh pulang." Ucap Dokter Irfan.
"Sebenarnya tadi.. " ucap Vania terbata-bata
"Udah, gak usah ngomong dulu. Yang terpenting sekarang kesehatan kamu." Ucap Dokter Irfan.
Dokter Irfan sangat perhatian pada Vania sampai membuat Mahendra cemburu.
"Fan, kayaknya kamu sibuk. Biarkan aku saja yang menemani Vania. Lagipula dia itu tanggung jawabku." Kata Mahendra.
Dokter Irfan sangat paham dengan apa yang dimaksud Mahendra. Diapun bergegas keluar dan meninggalkan Vania dan Mahendra.
"Mereka saling mencintai, tapi mereka gengsi untuk mengungkapkannya." Gumam Dokter Irfan sambil menutup pintu.
"Apa kamu dan Irfan sedekat itu?" Tanya Mahendra.
"Tidak. Kita hanya berteman. Lagipula, apa urusanmu?" Jawab Vania ketus
"Hei, kau. Aku ini suamimu. Mungkin hubungan kita hanya sekedar diatas kertas. Tapi, aku tidak suka kalau kau dekat dengan lelaki lain. Walaupun itu sahabatku sendiri." Ucap Mahendra.
"Apa kau cemburu?" Tanya Vania.
"Hahaha.. aku cemburu padamu? Tentu saja tidak. Aku hanya tidak suka kalau istri Mahendra Wiraatmaja berselingkuh. Kau boleh berhubungan dengan lelaki manapun, tapi setelah bercerai denganku." Kata Mahendra
Mendengar ucapan Mahendra, Vania menjadi sedih. Sejenak dia berpikir kalau Mahendra baik padanya. Tetapi, pikirannya musnah karena Vania pikir cepat atau lambat Mahendra akan segera menceraikannya.
Vania merogoh tas miliknya. Berniat ingin mengambil Handpone dan menghubungi putri dan mertuanya. Namun, tiba-tiba tasnya terjatuh dan mengeluarkan semua isi didalam tas itu. Mahendra tak sengaja melihat sebuah gantungan kunci yang Mahendra ingat adalah hadiah darinya dulu untuk Vania.
Vania kaget dan segera memasukkan kembali gantungan kunci itu dengan terburu-buru.
"Kenapa kau masih menyimpan itu? Untuk apa?" Tanya Mahendra
"Tidak ada. Aku masih menyimpannya karena aku pikir itu bagus dan barang itu mahal." Jawab Vania lalu segera menekan tombol untuk menelpon Dinda.
"Iya, Sayang. Mama minta maaf. Dinda jangan khawatir. Mama akan segera pulang." Kata Vania.
Mahendra hanya diam menatap Vania yang tersenyum sumringah saat menelepon Dinda. Membuat Vania semakin cantik. Tanpa Mahendra sadari, Vania beranjak bangun dan hampir saja terjatuh. Tetapi Mahendra segera menangkapnya. Membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain. Lama kelamaan Mahendra mulai menyamakan bibirnya. Sebuah lumatan kecil terjadi. Vania hanya diam tanpa berkata. Dia sangat syok dan gugup. Kenapa Mahendra bisa melakukan itu . Vania justru diam dan malah menikmati ciuman yang semakin dalam itu. Posisi Mahendra sekarang ada diatas tubuh Vania. Mahendra mulai hilang kendali dan membuka kancing baju Vania. Tiba-tiba sebuah pintu terbuka. Membuat aktifitas mereka terhenti. Mahendra berdecak kesal.
"Sial." Gumam Mahendra.
Ternyata yang datang adalah Sherly. Dia datang untuk menjemput Bos-nya itu. Melihat kehadiran Sherly, Vania memasang kembali kancing bajunya. Vania senang melihat raut wajah Sherly yang terlihat kesal dan marah.
"Bos. Ayo pergi. Meeting-nya tiga puluh menit lagi." Kata Sherly sambil melirik kearah Vania yang tersenyum menang kepadanya.
"Aku lupa. Kalau begitu ayo kita pergi." Ucap Mahendra.
"Oh iya, setelah meeting aku akan kembali kesini. Kau akan pulang bersamaku nanti." Tambahnya.
Vania hanya menganggukkan kepalanya. Dia terpaksa setuju karena ada Sherly didepannya. Vania sungguh senang membuat perempuan itu kesal terhadapnya.
Mahendra pun pergi dan segera menuju ketempat meeting diadakan. Walau bagaimanapun, tubuh Mahendra sudah dibangunkan oleh Vania. Mahendra merasa gelisah disepanjang perjalanan. Rasanya dia ingin menuntaskan apa yang terjadi barusan. Andai saja Sherly tidak data ng, Mungkin dia sudah berbuat yang jauh terhadap Vania