Part 6

2346 Words
Kevin memarkirkan motor ninja merahnya di parkiran Rumah makan yang sudah satu tahun tarakhir ini ia kelolah. Gyoki Restaurant, adalah rumah makan tulang-nya yang menyanyikan beraneka ragam masakan tradisional, sangat Nusantara sekali. Bermacam-macam minuman dengan olahan buah pun ada, mau yang manis, asam, tersedia. Waktu luangnya selalu ia habiskan dengan mengembangkan Rumah makan itu--terlepas dari kuliah dan mengantar jemput Sasa, dimulai dengan mencari resep yang cocok, koky yang handal kemudian memilih dekorasi yang sesuai dengan ruangan-ruangan yang ada di rumah makan itu. Sebelum dalam pengawasan Kevin, Gyoki Restaurant tidak selaris sekarang. Banyak perubahan-perubahan yang keluar dari otak briliannya itu hingga membuat Gyiki Restaurant dikenal banyak orang. Selain memiliki menu-menu andalan yang kelezatannya tidak perlu diragukan lagi, Kevin juga mampu memberi pelayanan yang baik bagi semua pelanggannya. Setiap pelayan yang bekerja dengannya dipastikan berpenampilan sopan, supel dan ramah. Kevin tidak mentolerir wajah cuek pelayannya saat menyambut tamu. Dia pun tidak mengijinkan para pelayannya berpakaian sexy. Rumah makan yang bagus bukan dilihat dari seberapa sexy weitres-nya, melainkan seberapa lezat hidangan dan sebaik apa penyambutan terhadap pelanggannya. Diusianya yang masih 21 tahun, Kevin sudah terbilang berhasil meng-handle semua yang Gyoki Restaurant butuhkan. Kevin pun terkenal dengan sikapnya yang tegas namun bersahabat dengan semua pekerjanya, tak ada yang tidak memuji keluwesan laki-laki itu. Kevin punya impian menjadikan rumah makan itu menjadi miliknya, tentunya menjadi milik Sasa juga setelah mereka menikah. Ia meringis saat mengingat lamarannya yang tidak pernah ditanggapi serius oleh kekasihnya itu, kadang ia berpikir apakah Sasa tidak serius dengan hubungan mereka ini? Berulang kali dia menyuarakan keinginannya untuk bertemu dengan orang tua Sasa yang kemudian ditentang kekasignya itu dengan berbagai alasan. Kevin tidak tahu apa yang disembunyikan pacarnya tersebut, namun ia tak bisa melakukan apa pun kalau Sasa sudah berbicara. Di depan wanita itu, Kevin bagai kerbau yang dicocok hidungnya, selalu menurut. "Pagi kak," sapa seorang gadis, dia Wulan, salah satu orang yang bertugas bersih-bersih di rumah makan itu. Dan satu lagi, Kevin tidak mau di panggil dengan embel-embek 'pak' di depan depannya. Ia lebih suka di panggil kak atau Mas, rasanya jadi lebih dekat kan? Kalau dipanggil pak, kesannya dia sudah tua. "Pagi," Kevin membalas seraya tersenyum. Kevin itu murah senyum, karena itulah semua orang menyukainya. Di kampus pun ia selalu ramah pada semua orang, senyum pada semua perempuan yang menyapanya--kalau yang satu ini banyak sekali yang modus padanya, tanpa maksud apa-apa. Karena hal itulah banyak yang salah paham dengan senyumannya, mereka tidak tahu kalau hatinya sepenuhnya sudah milik Sasa. Kevin melangkahkan kakinya memasuki restoran, tadi seusai mengantar pacarnya Kevin langsung ke sini. Sekarang masih pagi dan sudah tampak kesibukan di dalam restoran. Beberapa kursi sudah tampak berisi dengan orang-orang yang sedang sarapan. "Tolong suruh Reny menemui saya, Rud," gumamnya pada Rudy, salah satu office boy. Rudy mengangguk kemudian melakukan seperti yang diperintahkan bosnya. -------------------- "Penjulan kita bagus, Vin," Reny bersuara dari kursinya yang berada di depan Kevin, perempuan 20 tahun itu menunjukkan grafik hasil keuntungan gyoki Restoran selama sebulan ini, "Menu terakhir yang kamu usulkan juga lumayan peminatnya." Reny adalah wakilnya, kalau ia sedang tidak berada di restoran, perempuan itu yang menangani semuanya sekaligus menjadi orang yang mengurus pembukuannya. Reny masih kuliah, namun ia mengambil kelas malam agar waktu kuliahnya tidak bentrok dengan jam kerjanya di Restoran. Kevin dengan serius memperhatikan catatan angka-angka yang ada di depannya. Setelah beberapa saat kemudian dia menutup buku itu lalu mengangguk. Dia tersenyum melirik Reny yang sedang menatapnya, Kevin cukup puas dengan hasil penjualan mereka bulan ini, lebih baik dari bulan lalu yang sebetulnya sudah bagus juga. Reny memang ahlinya dibidang ini, tidak salah kevin mempercayakannya pada pariban-nya itu. "Malam ini malam minggu," mulai Reny setelah sempat terdiam, "kamu tidak mau bernyanyi beberapa lagu nanti malam?" tanyanya. Kevin memang sudah jarang bernyanyi dikarenakan kesibukannnya bersama Sasa. Setiap malam minggu pasangan itu selalu menghabiskan waktu berdua, dan Reny merasa kurang suka, mengingat dia yang memang menaruh hati pada laki-laki itu. Sudah lumayan lama, tepatnya enam bulan yang lalu Reny sudah memendam rasa pada laki-laki di depannya saat ini. Pertama kali bertemu, Reny langsung terpesona pada ketampanan Kevin. Belum lagi senyumnya yang ramah, semakin membuat Reny mabuk kepayang. Hatinya bertambah suka saat mendengar Kevin bernyanyi, malam itu adalah malam minggu pertamanya bekerja di Gyoki Restorant dan kebetulan Kevin bernyanyi saat itu, Sasa sedang tugas malam dan laki-laki itu memutuskan menghabiskan malam minggunya di restoran. Agak mirip dengan Sasa yang juga jatuh hati padanya saat pandangan pertama. Namu keesokan harinya, Reny harus menerima kenyataan pahit bahwa Kevin sudah punya kekasih dan Tya, salah satu pelayan di sana mengatakan kalau Kevin sudah menjalin hubungan dengan pacarnya selama hampir empat tahun. Tentu saja hal itu membuatnya patah hati, pacaran selama itu pasti mereka sudah saling menyayangi, batinnya waktu itu. Dan harapannya untuk bisa dekat dengan Kevin pun terhempas entah kemana. Namun, meski begitu sampai sekarang pun rasa itu masih ada. Reny ingin membuangnya, tapi tak berhasil. Setiap melihat Kevin, jantungnya selalu berdetak cepat. Setengah mati ia menutupi perasaannya dan sepertinya berhasil. "Aku tidak tahu apakah aku bisa," Kevin nenyingkirkan buku jurnal itu ke samping meja, "kalau bisa aku pasti nyanyi." Reny tersenyum mendengar hal itu, masih ada kemungkinan Kevin berada di sini nanti malam. Meski kecil, tapi kemungkinan itu ada. Beberapa saat kemudian, Kevin dan Reny keluar dari ruangan itu. Dari pagi hingga soreh, Kevin habiskan untuk memantau aktifitas Restoran sebelum kemudian pergi menjemput kekasihnya. ----------------- Sebelum pulang, Kevin dan Sasa mencari makanan untuk makan malam. "Makan bakso aja yuk, Vin!" Sasa memberi usul dari balik punggungnya. Mereka melaju lambat, sengaja karena sedang mencari tempat makan yang cocok. "Kamu yakin, yang?" "Hhmm," Sasa mengangguk, "aku lagi pengen." Kevin memarkirkan motornya tepat didepan tenda tukang jual bakso, mereka duduk bersebelahan dengan kursi plastik seadanya. Abang tukang bakso datang menanyakan pesanan mereka, Sasa menyebutkan apa yang ingin dipesannya dan Kevin menyamakan dengan pesanan Sasa. Makan di tempat seperti ini bukan kali pertama bagi mereka, sesekali Sasa pasti mengajak pacarnya itu makan di warung tenda seperti sekarang ini. Kalau malam minggu, hampir semua tempat makan pasti ramai dengan orang yang pacaran. Tidak peduli di warung bakso sekali pun. Lihatlah di sudut sana, sepasang anak muda, mungkin masih SMA, sedang asyik dengan dunianya sendiri. Ibarat kata, dunia ini milik berdua yang lain cuma ngontrak. "Habis ini mau kemana?" Kevin membantu Sasa mengambil air minum yang letaknya diujung meja, tanpa disuruh ia langsung mengisinya ke dalam gelas kemudian memberikannya pada pacarnya itu. "Pulang aja, Vin," ucap Sasa setelah menghabiskan isi air yang ada di dalam gelasnya, "aku capek banget." "Nggak ingin kemana gitu?" Kevin masih berharap. Sasa menggeleng seraya menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu. Ia benar-benar lelah hari ini, tidak hentinya-hentinya ia berada di ruang operasi karena ia harus menggantikan temannya yang cuti menikah. Kevin mengusap kepala Sasa, diciumnya puncak kepala pacarnya itu dengan sayang. "Kamu ngantuk ya?" Dilihatnya perempuan itu memejamkan matanya. "Hhhmm," gumam Sasa. "Makan dulu, Sayang! Nanti nyampe rumah baru tidur." Kadang-kadang Sasa sangat manja, namun Kevin tetap suka. Perempuan itu mengangkat kepalanya dari bahu Kevin, dia menguap kecil hingga Kevin terkekeh dibuatnya. "Kamu ngantuk banget, Ya?" "Hoo." Kevin mengelus rambut Sasa yang lembut dengan pelan. Sasa sangat senang dengan semua perhatian Kevin padanya, dan cara laki-laki itu memperlakukannya membuatnya merasa penting dan disayangi. Kevin tidak berpura-pura peduli padanya, seperti kebanyakan laki-laki di luar sana. Yang bisa mengucapkan kata-kata sayang namun makna dari perkataannya pun dia tidak tahu. Sasa bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan laki-laki seperti Kevin, yang tidak hanya melihat kelebihannya tapi mau menerima semua kekurangannya. Kevin masih muda tapi kesabarannya dalam menghadapi mood Sasa yang sudah seperti rollercoaster perlu diacungkan jempol. Mereka hampir tak pernah bertengkar. Bukan karena tak ada sedikit pun masalah yang menghampiri hubungan mereka, namun karena Kevin selalu menjadi sosok yang mau mengalah. Saat Sasa marah, Kevin hanya diam. Ketika Kekasihnya itu memukulinya dengan membabi buta, dia tidak melawan meski seluruh tubuhnya terasa sakit. Hingga akhirnya Sasa tenang, barulah ia berbicara. Sasa selalu menjadi orang yang menyesal ketika mereka kembali berbaikan, namun Kevin tak pernah memperpanjangnya lagi. Dia malah memeluk pacarnya itu erat, merangkulnya dalam pelukannya kemudian mengucapkan betapa ia sangat menyayangi Sasa. Apa pun yang dilakukan Sasa, apa pun yang dikatakan Sasa, Kevin tidak mau menyakitinya. Satu hal yang bisa dijanjikan Kevin pada Sasa, bahwa dia tidak akan pernah menyakiti kekasihnya itu dengan sengaja. "Terimakasi," gumam Kevin setelah pesanan mereka datang. Kevin meracik baksonya begitu pun dengan bakso Sasa. "Mau aku suapin?" Kevin melihat Sasa yang tampaknya sangat lelah. "Nggak usah, biar aku makan sendiri aja." Sasa menggeser mangkok baksonya lebih dekat lalu mulai memakan baksonya. Kevin menatap pacarnya yang sedang memasukkan mie baksonya ke dalam mulut dengan pandangan lembut serta senyuman yang terlukis di bibirnya, jarinya melap sisa kuah yang ada di sudut bibir kekasihnya itu, "kamu makannya belepotan," gumamnya memberitahu. Sasa berhenti mengunyah, ia melirik ke arah Kevin, "kamu nggak makan," tanyanya sambil menengok mangkok bakso Kevin yang belun tersentuh sedikit pun. Bukannya menjawab, Kevin malah mengeluarkan sapu tangan dari sakunya kemudian melap kening Sasa yang basah, "kamu keringatan, Sayang. Pedas, ya." Sasa mengikuti gerakan tangan Kevin dikeningnya, "iya, kamu masukin cabenya banyak ya?" Kevin merasakan bakso punya Sasa sedikit dan dia tidak merasa pedas. "Nggak pedas, Sayang." "Pedas, Kevin." Sasa membuka-tutup mulutnya karena kepadasan. Ok. Mungkin Sasa bukan penyuka cabe. Selama ini memang Sasa yang meracik baksonya sendiri, jadi Kevin tidak tahu seberapa banyak takaran cabe yang mampu Sasa makan tanpa kepedasan. "Yaudah, nggak usah dimakan lagi," kevin menarik mangkok bakso itu menjauh, dia memberikan jus jeruknya sendiri karena jus jeruk Sasa sudah dihabiskan perempuan itu tadi karena kepedasan. "Tapi aku masih lapar," rengeknya manja. "Nanti kita cari martabak aja." Kevin membayar makanan mereka kemudian pergi untuk mencari martabak. Sepanjang jalan, mereka banyak melewati pasangan-pasangan seperti mereka. Pasangan yang memilih naik motor untuk menghabiskan malam minggunya. Sesekali Kevin akan mengajak Sasa bicara, dia takut kekasihnya itu ketiduran dan terjatuh. Meski pelukan Sasa di pinggangnya tetap erat, tetap saja Kevin takut pacarnya itu terluka. "Kamu mau rasa apa, Sa?" Kevin bertanya ketika mereka sudah tiba di toko kue yang menyediakan martabak dengan berbagai rasa. Gadis penjaga toko melihat ke arah Kevin dengan sorot mata tertarik, senyuman yang diberikannya pun penuh arti. Sasa menyebutnya senyum murahan. Kevin tidak menyadari senyuman gadis itu karena fokusnya hanya pada Sasa. Namun Sasa Tahu dan ia tidak suka melihat gadis penjaga toko itu tersenyum pada pacarnya, kegatalan, batinnya kesal. Emang dia ngggak liat ada pacar Kevin disini? Sasa mendengus jengkel. Kevin menarik bahu Sasa untuk menyadarkan pacarnya itu, "kamu mau yang rasa apa?" Ulangnya lagi, "kacang kayanya enak," ia membantu Sasa menentukan pilihannya. "Nggak ada yang enak! Kita pulang aja," Sasa pergi meninggalkan toko dengan langkah cepat. "Loh, kok nggak jadi sayang?" Kevin menghampiri Sasa yang sudah berada di samping motornya. "Tiba-tiba aku nggak pengen martabak. Kita pulang aja!" Kevin mengangkat alisnya mendengar nada suara Sasa yang ketus. Ada yang aneh pada cewe-nya namun dia tidak tahu apa. Karena tak kunjung menemukan penyebab Sasa yang tiba-tiba murung, akhirnya Kevin menaiki motornya. "Vin, aku kok jadi pengen makan jagung bakar ya?" Tiba-tiba Sasa bergumam, tapi kemudian di menggelengkan kepala. "Tapi nggak usah deh, kamu pasti uda capek kan! Yaudah kita pulang aja." Sasa ikut naik dengan berpegangan pada bahu kekasihnya itu, "iss, asal aku mau naik selalu aja repot kaya gini," cibir Sasa dibelakangnya yang kesusahan untuk naik ke atas motornya yang tinggi, "besok-besok naik motor matic aja, Vin! Biar gampang aku naiknya." "Nggak bisa nungging-nungging lagi dong, Sayang," ujar Kevin dengan nada menggoda, dia terkekeh saat Sasa mencubit pinggangnya. "Otak mesum." Dengus Sasa. ----------------- Ketika mereka sampai di depan rumah Sasa, pintu gerbang rumah itu terbuka dan terdapat mobil asing terparkir di halaman rumahnya. Sasa turun dan membuka helmya, "siapa?" tanya Kevin sambil menunjuk ke arah mobil asing itu dengan gaunya saat helm Sasa sudah berpindah ke tangannya. Sasa mengangkat bahu sebagai jawaban karena dia memang tidak tahu. "Paling juga teman Papa," jawabnya kemudian. Kevin bergumam kemudian mengangguk, "yaudah aku pulang." Cup. Sasa mencium pipi Kevin cepat, "hati-hati!" Bisiknya pelan. Kemudian Kevin pergi meninggalkan rumah itu. Sasa berjalan memasuki halaman rumahnya. Baru saja beberapa langkah ia berjalan, seseorang yang ia kenal keluar dari rumahnya. ''Farhan," gumamnya menyebut nama pria itu. Farhan adalah polisi yang bersamanya di rumah sakit tempo hari, juga merupakan salah satu kandidat Mama yang akan dijodohkan padanya. Hanya sajq tidak seperti pria-pria lain pilihan mamanya, Farhan laki-laki yang asik diajak mengobrol. Karena itulah dia mau berteman dengan pria itu. Catat! Hanya berteman. Saat pertama kali bertemu pun, Sasa sudah dengan jelas mengatakan kalau dia telah memiliki pacar dan tak menerima perjodohan jenis apa pun. Beruntung Farhan langsung mengerti dan tidak berusaha merubah keputusannya itu. "Baru pulang?" "Iya, kamu ngapain ke sini?" Sasa telah sampai di teras rumahnya lalu menatap Farhan. "Ada urusan sama om." Sasa menegang saat merasakan tangan Farhan di bahunya, dia menatap tajam pria di sampingnya itu. "Kita teman," gumam Farhan datar, ''hanya sampai dalam saja, Sa." Sasa menghembuskan napas kemudian membiarkan bahunya dituntun Farhan masuk ke dalam rumah. Yang tidak mereka sadari ada sepasang mata yang menatap nanar, tangannya mengepal meremas bungkusan ditangannya. Laki-laki itu adalah Kevin. Dia kembali untuk memberikan jagung bakar pada Sasa. Setelah beberapa menit berkendara, dia melihat ada yang menjual jagung bakar. Kemudian tiba-tiba Kevin teringat dengan kekasihnya yang ingin memakan jagung bakar hingga ia memebelinya. Kevin sudah sangat bersemangat membayangkan senyum Sasa melihatnya membawa jagung bakar untukknya. Namun tak disangkanya kalau ia akan melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hatinya, gadisnya sedang dirangkul oleh seorang pria memasuki rumah yang sangat ingin ia masuki sejak empat tahun yang lalu. Meski dua orang itu telah hilang di dalam rumah, tapi pandangan Kevin masih disana. Empat tahun dia berharap memasuki pintu itu dan bertemu dengan orang tua gadisnya yang ternyata tak pernah terwujud, bahkan Sasa terlihat tak setuju ketika ia mengatakan kalau dirinya ingin mampir. Tapi sekarang, seorang laki-laki asing dengan mudahnya memasuki pintu itu, bersama perempuan yang sangat dicintainya. Kevin tahu siapa pria itu, dia adalah yang tertawa bersama Sasa di lorong rumah sakit beberapa hari yang lalu. Kevin tertawa getir, tentu saja Sasa membiarkan pria itu bertemu orang tuanya. Laki-laki itu terlihat lebih dewasa darinya, dia polisi sedangkan Kevin hanya seorang mahasiswa. Apakah aku segitu buruknya di mata kamu Sa, hingga tidak pantàs bertemu mama dan papamu? batinnya sedih. Pantas saja Sasa selalu berdalih saat aku melamarnya, batinnya lagi. dia pasti menganggapku tidak pantas menjadi pendampingnya. Tapi kenapa dia tega menyakitiku seperti ini? Seharusnya dia mengatakan dimana kekuranganku, dimana kesalahanku!! Dengan kasar Kevin menghapus air matanya, "sial," makinya. Kevin memang cengeng kalau sudah berkaitan dengan Sasa. Bungkusan yang dia pegang erat itu berakhir ditempat sampah, Kevin membuangnya. Saat ini hatinya sangat panas, seolah terbakar api. Dengan keras dia menghidupkan motornya kemudian melaju dengan kencang, membawa emosinya ke jalanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD