Sasa Pov
Pagi ini hari minggu, kami sarapan di meja makan seperti biasanya, tak terkecuali ditemani ocehan Mama tentang Farhan yang sangat cocok sekali denganku, serasi katanya.
Papa dengan bijak hanya sebagai pendengar yang baik, begitu pun dengan adekku tersayang Julio. Kalau yang satu itu sangat merestui hubunganku dengan Kevin. Malahan, dia yang selalu wanti-wanti kalau aku menyakiti sahabatnya itu. Jadi, saat Mama mulai menyodor-nyodorkan kandidat terbaiknya, Julio hanya membisu. Ingin membelaku, takut kena semburan Mama. Jika sependapat dengan Mama, mana tega dia lihat Kevin patah hati. Dia tahu kalau best friend-nya itu cinta mati sama aku, haha.
"Ma, Sasa nggak suka sama Farhan, atau siapa pun itu yang ingin Mama jodohin sama aku." Aku mulai jengah dengan semua rentetan kalimatnya yang tiada akhir. Kalau hanya sesekali Mama membahasnya, aku masih bisa pura-pura nggak dengar. Sedangkan Mama berbicara tentang pria lain itu setiap saat, setiap ada aku di dekatnya, lama-lama aku kan sakit kepala. Aku tidak tahu harus dengan cara apa lagi, dengan bahasa apa lagi aku mengatakannya. Tampaknya, topik tentang hal ini nggak akan pernah berakhir, lihat saja Mama yang masih tetap getol dengan pendiriannya itu. Mama melirik papa yang asik dengan sarapan di depannya, kelihatannya nggak tertarik sama sekali.
"Farhan itu kurang apa sih, Sa," tanya Mama setelah tidak mendapat bantuan Papa.
"Kurang mampu buat aku jatuh hati kaya Kevin," batinku bersemangat.
Aku diam tak menanggapi, mudah-mudahan Mama bosan kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Nak Vino pun kamu cuekin, kemarin dia datang ngasih oleh-oleh buat Mama." Oh, Tuhan. Tampaknya doaku tidak terkabul. "Dia juga baik, kalau sama dia Mama juga setuju."
Pernah dengar kalau membantah orang tua itu dosa?
Tapi kalau begini caranya, bisa-bisa aku jadi anak paling berdosa di dunia ini.
Setelah Farhan sekarang Vino. Jelas-jelas Vino itu b******n, b******n kelas kakap malah. Tukang cari muka, muka tembok, playboy. Dari dulu, tepatnya dari masa SMA, Vino sudah mengejar-ngejar aku. Dia itu mantan paling menjijikan dari segala mantan yang pernah ada. Untung Kevin segera memberi perhitungan padanya, hingga akhirnya Vino sedikit menjauhiku. Nah sekarang, si badak nyosor itu malah mulai mencari muka sama Mama.
Oke, akan lebih baik aku diam saja. Suka-suka Mama lah mau bilang apa, daripada nanti aku jadi salah bicara.
"Bang Farhan tadi malam mau ngapain, Ma?" Bagus Julio! Itu juga yang ingin aku tanyakan. Soalnya tadi malam aku langsung tidur, aku memang sangat capek sehabis pulang kerja. Tak kupedulikan Mama yang ngotot menyuruhku menemani Farhan tadi malam, wong dia bukan tamu aku juga.
"Mau bicarain keamanan buat pernikahan Vera! Sekalian dia mau ketemu sama Sasa, eh anaknya langsung nyungsep masuk kamar."
"Ma!" Papa mulai bersuara, kelihatannya dia juga sudah mulai jengah sama kaya aku yang udah jengah dari tadi.
"Mama kan cuma mau ngenalin laki-laki yang baik buat putri kita, Pa," ujar Mama membela diri.
"Kapan nikahannya kak Vera, Ma?" Julio kembali bertanya.
"Dua minggu lagi," gumam Mama sambil melirikku, "Mama sudah bilang sama Tante kamu kalau nasi kotak dan semua makanan yang dibutuhkan nanti dari restorannya Kevin, bilang sama Kevin jangan mahal-mahal. Buat dia berguna jadi pacar kamu," kalimat Mama diakhiri dengan dengusan sambil menatapku tajam.
Aku menghela napas dan tiba-tiba jadi nggak selera makan. Sebenarnya mau Mama aku ini apa, sih?
Mama itu benci sama Kevin, dia nggak suka aku pacaran sama Kevin. Tiap Kevin mau datang dia selalu ngelarang, selalu menghindar kalau aku berbicara mengenai hubunganku dengan Kevin. Terus kenapa Mama malah minta yang beginian, sebenarnya dia punya hati nggak sih??
Aku mendelik menatap Mama, aku tahu ada sesuatu yang direncanakannya. Mama pasti sengaja mau cari masalah sama Kevin, supaya bisa bebas menjelek-jelekkan pacarku itu. Dan apa tadi Mama bilang? Jangan mahal-mahal? Aku yakin itu bahasa lain dari 'gratisan'. Ya ampun.
''Nggak bisa gitu dong, Ma," ujar Papa seraya melap mulutnya dengan tisu yang ada di tengah meja. "Kevin bisa rugi kalau nurutin maunya Mama."
"Kalau Kevin memang cinta sama Sasa, hal sepele kaya gitu nggak jadi masalah," dengan keras kepalanya Mama terus bersuara, "buktikan kalau dia memang laki-laki yang pantas buat Sasa."
Apa hubungannya coba??
Setelah mengatakan itu, Mama memanggil pelayan untuk merapikan meja kemudian berdiri dari kursinya. Dengan wajah cemberut dia naik ke lantai atas.
"Jangan dengarkan apa kata Mamamu," papa pun ikut berdiri dari kursinya. Karena hari ini adalah hari minggu, Papa libur dan dia ada janji dengan temannya untuk bermain golf. Olahraga itu sudah digelutinya hampir lima tahun terakhir, kalau orang-orang bilang sih olahraganya para orang kaya. "Papa suka sama Kevin! Kayanya dia anak yang baik."
"Baik banget malah, Pa." Itu suara Julio, "Kevin anaknya Mandiri, pekerja keras juga, nggak suka bergantung sama orang tuanya." Dengan semangatnya dia berorasi tentang kebaikan sahabatnya itu.
Papa tersenyum ke arahku, ''Papa yakin kamu tahu mana yang terbaik buat kamu."
"Makasih Pa." Gumamku tulus. Bagaimana pun, aku senang ada satu orang lagi yang mendukungku. Tentu jalanku bersama dengan Kevin akan lebih mudah.
"Tapi, Pa," julio bergumam saat Papa akan meninggalkan meja makan, ''yang dibilang Mama tadi apa serius? Soal makan---"
Papa mengangguk, "tapi nggak usah paksa Kevin buat murah kalau memang nggak bisa," ujarnya bijak, "jangan campur adukkan masalah pribadi dengan kerjaan. Mamamu cuma mau pamer saja, tidak usah diturutin."
----------------------
Udah dari tadi malam Kevin tidak menghubungkiku, pesan yang aku kirim pun nggak dibalas-balas juga. Biasanya sebelum tidur dia selalu meneleponku, walau hanya mengucapkan selamat malam, selamat tidur atau kalimat-kalimat sayang yang singkat.
Saat tadi malam dia tidak menghubungiku, aku berpikir mungkin di kecapekan hingga lupa. Tapi sekarang pun dia masih tidak meneleponku, bahkan semua panggilanku tidak satu pun yang diangkatnya.
Sekali lagi, aku menghubunginya dan kembali tidak ada jawaban darinya, teleponnya nggak diangkat.
Pagi ini aku tidak ada piket, nanti siang baru aku berangkat ke rumah sakit karena itulah semalam aku bilang padanya nggak usah jemput aku pagi.
Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur sambil membalik-balik ponsel di tanganku, berharapa kekasihku itu meneleponku pagi ini. Tapi hingga pukul sebelas aku menunggu, hasilnya masih sama. Nihil.
Me:
Hai, Vin! Kamu kok nggak balas pesan aku? Hhmm, siang ini kamu ngantar aku, nggak?
Pesan itu kukirim setelah menunggu beberapa saat. Sedikit kurang yakin sih tapi aku nggak biasa pergi ke rumah sakit tanpa diantar sama Kevin. Walau pun tugas malam Kevin selalu mengantarku, karena itulah meski sudah mulai kesal padanya aku tetap memberitahunya.
Kevinku sayang:
Gk.
What the f**k??
Apa-apaan?
Gk? Just it??
Berulang kali aku membaca dua huruf itu, masih sama dan nggak berarti lain selain 'G.K'.
Ok. Aku yakin ada yang salah di sini, sampai tiba-tiba dia jadi aneh kaya gini.
Perasaan tadi malam kita baik-baik saja, dia jemput aku dari rumah sakit terus ngantar aku pulang. Nggak ada yang salah, tapi kenapa Kevin jadi seperti ini?
Aku mendial nomornya di ponselku kemudian meneleponnya. Aku nggak akan membiarkan pikiran-pikiran aneh merayap di kepalaku sebelum memastikannya sendiri.
"Halo?"
Sial!! Itu suara cewe.
"Kevin mana?" Tembakku langsung tanpa tedeng aling-aling. Kalau mau dibilang cemburuan, terserah!! Aku memang nggak senang mendengar suara perempuan dalam ponsel Kevin ini.
"Lagi ke kamar mandi! Kalau boleh tau, ini siapa? nanti aku bilang sama Kevin."
Lo nggak liat name contact yang ada di situ? Makiku berang.
Tarik napas! Keluarkan! Tarik napas! Keluarkan!
Rileks Sasa, Kevin cuma ke kamar mandi! Nggak macam-macam.
"Baiklah," aku menghela napas, "bilang aja kalau aku nelpon!"
Tut.
Aku langsung mematikan sambungan lalu melempar ponselku. Kevin kenapa sih?
Aku nggak ngerasa buat salah sama dia, sekarang dia udah berani main di belakang aku??
Awas saja kalau dia berani macam-macam!!
-----------------
Setelah membayar ongkos taxi, aku berjalan cepat menuju apartemen Kevin. Hari sudah sore saat aku tiba di gedung apartemen Kevin.
Yah, pacar berondongku itu benar-benar nggak datang buat mengantar atau pun menjemputku. Aku telpon masih juga nggak diangkat, hingga membuatku cemas bukan main. Pasalnya Belum pernah Kevin bertingkah seperti ini, apalagi tanpa sebab yang kumengerti. Barulah setelah bertanya pada Julio aku tidak khawatir lagi, tapi sekarang malah menjadi kesal.
Julio bilang, pagi tadi dia bertemu Kevin dan laki-laki itu baik-baik saja. Sehat tanpa kurang satu apa pun, Kevin bersama perempuan sedang lunch berdua. Bagaimana aku nggak marah, apalagi seharian ini dia mengabaikanku.
Satu hari ini aku tidak fokus dalam pekerjaan, aku selalu bertanya-tanya apa penyebab tingkah aneh Kevin. Untung ada Putri yang mau menggantikan jadwal piketku, kalau nggak aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa-bisa aku membunuh lagi bayi yang kutolong karena hilang fokus. Oh, Tuhan!!
Hufftt, kevin sialan.
Aku menekan bel setelah sampai di depan apartemennya sambil menunggu dengan tidak sabar sang empunya membukanya. Aku berharap Kevin di dalam, kalau tidak aku nggak tau mau cari dia kemana.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Kok lama banget, sih??
Tak lama kemudian pintu di depanku terbuka. Tampaklah kekasihku yang tampan, dia berdiri dengan bertelanjang d**a, hanya boxer hitam yang menggantung sexi di pinggulnya yang ramping.
Omg!! Kita udah pacaran selama empat tahun dan aku masih tetap terpesona pada ketampanannya yang nggak pernah pudar secuil pun.
Kevin menatapku dengan pandangan dingin, pandangan itu hampir tak pernah diperlihatkannya kalau tidak benar-benar sedang marah. Tatapan itu sudah sangat lama sekali, terakhir kali ia menatapku seperti itu adalah saat dia menemuiku setelah aku meminta putus darinya.
Tapi, sekarang aku kan nggak minta putus! Terus kenapa dia natap aku kaya es gitu sih?
Lama kami saling menatap dalam kebisuan hingga akhirnya kudengar ia menghela napas kemudian mempersilahkanku masuk---yang mana tidak pernah terjadi sebelumnya, biasanya aku tinggal nyelonong tanpa dia mempersilahkanku terlebih dulu.
"Kamu nggak datang nggantar atau pun jemput aku," itu sebuah pernyataan. Aku meletakkan tas serta jaketku di atas meja kecil dengan sofa di sampingnya tempatku duduk sekarang. Mataku mengikuti langkahnya yang menuju lemari, Kevin mengambil kaos hitam serta memakainya kemudian. Dia mengacuhkanku.
"Kenapa?" Barulah aku bertanya setelah ia duduk di atas ranjangnya yang berukuran sedang, dua hari setelah kepindahannya kami membeli ranjang itu diikuti dengan perabot-perabotnya yang lain, sofa yang sedang kududuki ini salah satunya.
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah bermain dengan ipad-nya. Tanpa melirik ke arahku, Kevin terus bergelut dengan benda pipih itu.
Serius??
"Sangat dewasa," cibirku mengejek.
''Siapa perempuan itu?" tanyaku saat dia masih betah dengan ipad sialannya. Aku sungguh tidak ada waktu dengan hal konyol kaya gini, diam-diaman kaya anak bayi.
"Nggak penting." Suaranya datar layaknya papan cucian.
Aku menatapnya tak percaya. Aku bukan dukun yang bisa tau isi hatinya, bisa tahu apa masalahnya, kalau dia tidak memberitahuku apa yang bisa kulakukan.
"Aku menunggu," putusku berikutnya. Tampaknya usia tertua berlaku di sini, aku akan menjadi orang yang dewasa. Kevin lagi dalam mode ngambek. Nggak tau dia ngambek karena apa.
Aku sudah hampir melempar pot bunga yang ada di depanku saat Kevin menghembuskan napasnya gusar, dia meletakkan ipadnya di samping lalu menatapku, "untuk pernikahan Vera, semua keperluan makanan dariku gratis. Kasih tau aja berapa banyak yang dibutuhkan!" Masih dengan datar, dia bergumam sambil menatapku.
Julio pasti uda cerita sama dia!
"Bukan itu yang aku bicarakan! Yang aku tanya siapa perempuan yang sama kamu tadi pagi? Kamu nggak jemput aku, tapi malah sama cewe lain. Kamu pikir aku butuh gratisan dari kamu? Kalau cuma mau uang, banyak laki-laki yang mau ngasih aku uang." Tiba-tiba aku menjadi marah! Dia menjawab yang bukan pertanyaanku, dia pikir aku peduli dengan gratisan sialannya itu.
Dia menatapku tajam, aku bisa melihat rahangnya yang mengeras, tapi aku tidak takut. Di sini siapa yang bayi? Tanpa sebab dia mengacuhkanku.
"Aku tahu," dia mengangguk, "aku nggak ada apa-apanya dibandingkan dia. Aku nggak punya uang banyak, jadi nggak pantas buat jadi suami kamu."
"Kamu bicara apa?"
"Kamu melarang aku buat bertemu dengan kedua orangtuamu bukan karena mereka keluar kota, bukan karena mereka sakit," napasnya sudah terengah-engah karena emosi, matanya pun memerah, "tapi karena kamu malu kan?"
"Kevin," aku mencoba bersuara, sungguh masalah ini sekarang bertambah rumit. Kenapa tiba-tiba dia jadi mengatakan hal seperti itu.
"Aku melihat dia, Sa."
"Dia siapa?"
Kevin membuang muka seraya mendengus kesal, "pria yang bersamamu di lorong rumah sakit! Semalam aku melihat kalian masuk ke rumahmu, aku ingin sekali mematahkan tangannya yang berani menyentuhmu. Tapi kemudian aku tahu kalau kau tidak benar-benar menginginkanku, kau pura-pura menyayangiku, kan?" tiba-tiba tatapannya berubah sedih, hingga amarah yang sempat kurasakan menguap entah kemana. Aku ingin sekali memeluknya, menjelaskan kalau dia sudah salah paham. Aku menginginkannya! Aku menyayanginya! Aku mencintainya!
"Dia Farhan! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia."
Kevin menatapku tak percaya.
"Lalu kenapa kau membiarkan tangannya memelukmu?"
"Dia tidak---''
"AKU MELIHATNYA SIALAN!!!"
Aku menghela napas, kelihatannya sekaranglah waktunya aku harus jujur padanya. "Mama jodohin aku sama dia. Sebenarnya bukan sama Farhan saja, udah banyak laki-laki yang Mama kenalin sama aku. Vino juga kembali dekatin aku, Mama suka sama Vino. Mama nggak setuju aku pacaran sama kamu, karena itulah selama ini aku nggak ijinin kamu bertemu mereka."
Sudahkan? Aku udah buka kartu di depannya, aku pun tidak ingin punya sesuatu yang kututup-tutupi darinya.
Reaksi yang ditunjukkanya sangat berbeda dari yang kubayangkan. awalnya kupikir Kevin akan ngamuk-ngamuk dan memaki, tapi ini sebaliknya. Dia terdiam menatapku, dilingkaran matanya terdapat kantung yang daritadi tidak kuperhatikan.
"Aku udah jelasin semuanya sekarang kamu jawab siapa perempuan tadi?"
"AKU SUDAH BILANG NGGAK PENTING SIALAN!!" dia membentakku.
Mataku mulai memanas. Nggak! Aku nggak boleh nangis di depannya!
"Well, aku tanya sekali lagi! Siapa cewe yang uda buat kamu nggak datang nemuin aku?"
PPRRAAAKKK
Kevin melempar ipad-nya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Aku menatap sedih ke arah ipad itu, Sehancur benda pipih itulah perasaanku saat ini.
Apa yang salah dengan pertanyaanku?
Apa aku nggak boleh cemburu dengan pacarku sendiri?
Aku sudah menjelaskan kenapa aku tidak pernah memperbolehkannya mampir, saat aku bertanya hal yang membuatku tidak tenang dia malah membentakku.
Bukan hubungan seperti ini yang aku inginkan. Bukan.
"Kayanya kita perlu break dulu," gumamku serak menahan tangis, "aku----"
"Nggak usah mengasihaniku! Aku yang bodoh mencintai setengah mati, walau tidak pernah kau pedulikan! Dari dulu aku yang seperti pengemis mengejar-ngajar cintamu! kalau si Farhan b******k itu bisa membuatmu bahagia, pergilah! Dia punya pekerjaan, punya banyak uang, pasti hubungan kalian akan direstui."
Apa pun usahaku untuk menahan air mataku jatuh kini sia-sia, akhirnya air itu membasahi pipiku. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kata-katanya barusan, rasanya seolah dia menarik keluar jantungku lalu menginjaknya.
"Untuk terakhir kalinya," ujarku terisak, "siapa perempuan itu?" Aku pun tidak tahu kenapa aku sangat ingin mengetahui siapa perempuan yang mengangkat teleponnya pagi tadi, padahal saat ini hatiku terasa seperti diremas-remas.
Kevin tak kunjung menjawab pertanyaanku, dia malah membalikkan badan memunggungiku. Sehingga aku mengambil kesimpulan kalau dia bertingkah seperti ini bukan sepenuhnya karena kesalahanku yang tidak jujur padanya. Dia mempunyai perempuan lain dibelakangku.
"Baiklah! Kalau memang ini yang kau inginkan, kita putus."
Dalam sekejab tiba-tiba dia membalik badan dan menatapku tajam, "kau senangkan? Iya kan? Kau bisa bersama si b******n
Itu----".
"Setidaknya dia nggak kaya Bayi besar sepertimu," gumamku menjadi marah, ''kelihatannya lamarannya lebih patut dipertimbangkan daripada lamaran laki-laki sepertimu, dia bukan anak-anak."
Aku bisa melihat tatapan terluka di matanya. Dia tidak tahu aku pun terluka dengan kata-katanya.
kevin mengangguk lemah dengan kedua mata berkaca-kaca, "aku tahu," ujarnya dengan nada lemah.
"Nggak usah datang lagi buat ngantar sama jemput aku," gumamku tersiksa, kemudian meninggalkannya yang sedang tertunduk lesu.
Sedikit lagi aku mencapai pintu keluar, terdengar suara barang-barang dilemparkan hingga kaca yang pecah. Suara keributan itu berasal dari tempat Kevin berada, dia semakin emosi.
Aku menutup pintu di belakangku, memberinya waktu adalah tindakan terbaik. Aku menghapus sisa-sisa airmataku seraya berjalan meninggalkan pintu apartemennya.