Kevin pov
Pagi ini aku terbangun dengan sakit kepala karena terlalu banyak minum tadi malam. Aku seperti orang yang kehilangan jiwa ketika Sasa berpaling dan meninggalkanku, dia berhasil membuatku menderita.
Pertanyaannya tadi malam tidak kujawab karena menang tidak penting. Itu Reny. Dia sedang berada di ruanganku saat itu, kebetulan aku sedang ke kamar mandi. Dia sudah memberitahu kalau Sasa meneleponku namun kuabaikan. Aku masih kesal padanya. Dan sekarang hubungan kami tidak tertolong lagi.
Sasa pasti merasa senang melihatku yang tidak sanggup tanpanya, dia menjadikan hal itu sebagai olok-olokan.
"Kenapa Vin? Kamu sakit?" Reny meletakkan kopi di atas meja kerjaku kemudian mengambil tempatnya duduk. Aku menggeleng kepala, mungkin sakit kepalaku bisa sedikit berkurang kalau minum kopi.
"Bagaimana keadaan resto, Ren?" Gumamku setelah meminum sedikit kopi buatannya, rasanya tidak buruk.
Reny kemudian memberitahu segala perkembangan resto beberapa hari terakhir dengan rinci, tak ketinggalan saran-saran yang menurutku patut dipertimbangkan darinya. Meski masih muda, aku mengakui kalau Reny adalah perempuan yang pintar. Dia sama sepertiku, berasal sari Medan dan dia pun jauh dari orang tuanya. Reny perempuan yang mandiri.
"Nggak salah aku memperkerjakan kamu," gumamku memuji, "kamu bisa buat resto ini semakin sukses nantinya."
"Aku juga banyak belajar dari kamu, Vin! Kalau dibandingkan sama kamu, aku nggak ada apa-apanya."
Satu hal lagi yang membuatku suka pada pribadinya, Reny tidak pernah meninggi dalam berbicara. Meski sudah melakukan sesuatu yang luar biasa, dia tidak pernah sombong.
"Kita partner yang cocok. Makan siang, siang ini?'' Tawarku padanya.
Dia tersenyum salah tingkah di kursinya sambil tersenyum ke arahku. Alisku terangkat melihat mukanya yang memerah, aku hanya mengajaknya makan siang sebagai rasa terimakasihku padanya yang sudah sepenuh hati membantuku mengelola resto ini, tidak ada maksud lain.
Kuharap dia tidak salah mengartikan ajakanku ini. Bagaimana pun aku masih mencintai Sasa, mungkin juga sampai mati akan terus mencintai perempuan itu. Perasaanku kembali terasa gusar saat mengingat hubungan kami yang berakhir.
Apa yang telah dilakukan Sasa padaku?
Meski sudah menyakitiku namun aku masih menyanyanginya bahkan sekarang pun aku sudah merindukannya. Sial.
"Kamu nggak ada janji, kan?" Kelihatannya aku harus mencari pengalihan agar pikiran-pikiranku yang selalu teringat dengan senyumannya bisa menghilang, aku yakin bayangannya perlahan pasti memudar.
"Aku nggak ada janji kok," ujarnya kemudian, dan dia masih tersenyum padaku.
Persetan!! Kalau Sasa bisa berpelukan dengan laki-laki lain aku pun bisa!!
-------------------
Aku yakin Sasa itu pasti seorang dukun. Dukun wanita cantik yang sexy yang kini telah membuatku gila.
Aku sudah makan siang dengan Reny, aku mencoba membuka diri karena baru kusadari Reny tertarik padaku. Namun, bayangan Sasa selalu memenuhi isi kepalaku, dia membuatku frustasi.
Aku sampai memberi Reny harapan yang kemudian kuhempaskan kembali. Aku hanya bisa berharap semoga Reny tidak menjadikan hal ini menjadi penyebab kecanggungan diantara kami. Reny sebenarnya perempuan baik, dia sopan dan wajahnya lumayan cantik, tapi aku tidak bisa berpaling dari Sasa.
Kenyataan bahwa Reny lebih muda dari Sasa tidak memberi pengaruh apa pun. Kenyataanya adalah, Sasa yang lebih tua dua tahun dariku lah yang berhasil membuatku jatuh cinta.
Tak cukup sampai di situ perjuanganku melupakannya. Clara, teman sekampusku yang memang kutahu menyukaiku mulai kudekati. Kami makan malam bersama, sedikit mengobrol serta saling bertukar senyuman.
Hingga kemudian aku mengantarnya pulang, nasibku masih sama. Aku masih tidak bisa menghilangkan dirinya dari pikiranku. Sasa membuatku gila.
Kalau seperti ini, apa lagi yang bisa kulakukan? Tidak mungkin aku mendatanginya dan kembali menjadi pengemis cinta, aku belum siap mendengar tawa mengejek yang kuyakin akan keluar dari bibir manisnya jika aku melakukan hal itu.
Ingat Kevin, kalian sudah putus.
Oh, Tuhan. Satu hari bahkan belum berakhir dan aku sudah merindukannya setenga mati.
-----------------
Pukul sepuluh malam aku berakhir di depan gedung salah satu club malam yang paling terkenal di kota ini. Rafa dan beberapa temanku yang lain sudah berada di dalam.
Aku memarkirkan motorku kemudian berjalan memasuki club tersebut. Baru sampai pintu, bunyi musik terdengar bergelegar. Sudah sangat lama aku tidak memasuki tempat seperti ini, Sasa selalu marah-marah jika tahu aku pergi ke club malam. Karena tidak mau membuatnya kesal, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke tempat seperti ini.
Hah, betapa penurutnya aku sama dia.
Di lantai dansa sudah banyak orang yang berjoget dengan gila-gilaan, Mataku mencari keberadaan Rafa.
Ternyata hanya Gio dan Rafa yang datang, aku tidak melihat Julio bersama mereka. Padahal aku sedikit berharap bisa menyakan tentang Sasa padanya, apakah kakaknya itu mengalami seperti yang kualami saat ini.
"Haha, gue kira Rafa boong bilang lo bakalan datang," Gio menepuk bahuku seraya nyengir, dia menarikkan kursi untukku kemudian langsung memesankan minuman seperti yang ada di depannya.
Aku hanya tersenyum, satu-satunya cara melupakannya adalah dengan mabuk, jadi mungkin malam ini aku akan teler.
"Pasti masalah cewe, kan?" Rafa bersuara di sampungku, tampangnya yang mabuk mulai terlihat, botol setengah kosong ditangannya menjadi bukti, ''Sasa kenapa lagi? Eh?"
Rafa tahu tidak ada perempuan lain yang bisa membuat pikiranku kacau selain Sasa, dia sangat tahu tentang itu.
Aku tidak menjawabnya, gelas yang bartender sodorkan berisi cairan bening langsung kuteguk sampai kandas, mabuk itu nikmat. Yah, sedikit menderita di pagi hari.
"Tumben lo mau datang," ejek Gio, "nggak takut sama pacar lo itu?"
"Gue udah putus," aku memberi lirikan pada si bartender supaya mengisi gelasku lagi. Aku kembali meringis mengingat pertengkaranku dengan Sasa.
"Pantasan." Mereka berdua berbicara bersamaan.
"Taik itu cinta," Rafa bergumam keras, seolah dia lah yang saat ini patah hati.
"Betul!!" Sambung Gio bersamangat. Rafa mengangkat botolnya yang hampir kosong, Gio pun mengangkat gelasnya kemudian mereka tos dengan keras lalu meneguk minumannya masing-masing. "Hidup jomblo sejati."
"Hai Vin!" Terdengar suara perempuan saat aku meneguk gelas ketigaku, ''gue pikir lo nggak doyan ketempat beginian."
Dia Vivi, perempuan Sexy dengan b****g besar, d**a montok yang sangat di gilai dikampus. Semua laki-laki menginginkannya, ingin tidur dengannya, kecuali aku. Bukan karena dia kurang menggairahkan, tapi aku lebih menyukai yang alami bukan palsu.
Lebih dari satu kali dia melempar kode ingin bercinta padaku, namun aku masih waras. Aku masih ingat Sasa yang akan menggila kalau aku dekat-dekat dengannya, lagi pula Sasa sudah cukup untukku.
Tapi sekarang Sasa tak lagi bersamaku, kurasa tidak salah sedikit bermain dengan perempuan ini. Aku ingin melihat sejauh mana dia mampu mempengaruhiku.
"lagi suntuk," gumamku sambil memutar-mutar gelasku di atas meja bar.
Vivi semakin mendekatkan tubuhnya padaku, dadanya yang membusung sudah menyentuh punggungku, Rafa dan Gio menatap tubuh Vivi dengan tampang kelaparan.
Ck, dasar laki-laki buaya.
"Gue tahu obat suntuk," bisiknya serak. Kurasakan jarinya bergerak menelusuri punggungku.
Kalau laki-laki lain yang dibisikinnya seperti itu mungkin mereka akan mengambil umpan itu. Tapi aku tidak merasa ingin bersamanya, bahkan tubuh setengah telanjangnya tidak membuatku tertarik.
Aku memang tidak bisa bermain dengan perempuan mana pun. Bahkan saat jauh darinya, sasa masih mengikatku tetap padanya.
"Gue lagi nggak pengen."
"Enak loh," desahnya tak mau menyerah, "nikmat Kevin."
"Udalah Vi, nyerah aja ngajak di tidur bareng," Gio nyengir kuda, ''mending bobo ama abang."
"Kita threesome juga boleh." Itu suara si Rafa t***l yang bicara. Aku menghela napas, punya teman kok kaya mereka, buat malu.
Vivi tampaknya sudah terbiasa mendengar orang berbicara seperti itu padanya, dia malah mengabaikan Rafa dan Gio. Vivi semakin mendempet padaku, hingga aku bergidik jijik. Baru saja aku hendak menghindarinya saat kudengar Vivi berteriak kesakitan.
"MENJAUH DARI PACARKU SIALAN!! KAU JALANG KURANG AJAR!"
"Aaaaa....sakitttt."
Beberapa detik mematung barulah aku sadar apa yang sedang terjadi di sini.
Sasa dengan membabi buta menjambaki rambut Vivi, dia memaki dengan bahasa yang tidak lulus sensor.
Detik berikutnya aku langsung memeluk pinggang Sasa dan menariknya menjauh dari Vivi yang memerah mukanya. Di dalam rangkulanku, Sasa terus menjerit sambil menendang-nendangkan kakinya ke udara.
"DASAR JALANG KAU!! TIDAK TAU MALU, SINI KAU!!! KUHABISI KAU.'' Aku tidak membiarkan Sasa lepas dari pelukanku. Kelihatannya dia mabuk, dan ya Tuhan apa yang saat ini sedang dia kenakan? Gaunnya bahkan tidak lebih baik dari punya Vivi.
"Siapa Vin?" gumam Gio sambil mencoba menenangkan Vivi yang masih ketakutan karena mendapat serangan tiba-tiba tadi, rambutnya berantakan karena ulah gadisku ini.
"Cewe gue," aku menghela napas Saat Sasa kembali memaki. Malam ini dia sangat bukan dirinya. ''Sory, Vi." Gumamku merasa bersalah.
"Aww," Sasa memukul kepalaku dengan kuat, dengan sangar dia memelototiku.
"KAMU BELAIN DIA??"
Aku mengabaikan pelototannya. Sial, kenapa malam ini Sasa sexy sekali??
"Gilak, cakep bener cewe lo, Vin!" Gio menatap tubuh Sasa dari atas sampai bawah dengan pandangan liarnya.
Kalau tidak sedang memeluk Sasa aku sudah memukul kepala sialannya itu, berani-beraninya dia memandangi Sasa seperti itu.
"Raf, gue pinjam mobil lo!" Aku nggak mungkin bawa pulang Sasa naik motor, kalau nunggu dia kasih tahu letak parkir mobilnya itu tidak mungkin kalau melihat keadaannya saat ini, dia mabuk berat.
Rafa mengambil kuncinya dari saku kemudian melemparnya padaku.
"Sekali lagi maaf ya, Vi." Aku masih tidak enak padanya. Walau dia memang dekat-dekat denganku, tidak sepantasnya dia mendapat amukan gadisku yang gila ini.
"Lo kok mau sih sama cewe kaya dia?" Vivi menatap sinis ke arah Sasa yang mulai meronta lagi, ''barbar."
"EH!! JAGA TU MULUT YA!! DASAR TUKANG REBUT PACAR ORANG, JAL-----"
"SASA!!!" aku membentaknya yang terus berteriak. Orang-orang di sekeliling kami sudah menghentikan gerakan mereka dan beralih menikmati keributan kami. Aku bersyukur tidak sampai ada keamanan yang datang.
"Gue duluan ya, thanks mobil lo Raf." Lebih baik aku segera membawa Sasa keluar dari sini sebelum dia kemali mengamuk.
Aku menggendong tubuh Sasa yang meronta, sepanjang perjalan keluar dari club, setiap mata pria-pria menatap tubuh Sasa yang hampir tak tertutupi ini. Apa yang ada di dalam otaknya hingga datang ke tempat seperti ini dengan gaun super terbuka, bokongnya hampir terlihat hingga membuatku harus menahan tinju agar tidak memukul semua orang yang memelototi tubuhnya.
"Turunkan aku!!"
"Nggak."
"Aku mau turun, Kevin."
"Jangan bergerak! Nanti kau jatuh."
"AKU MAU TURUN!!"
Aku menurunkannya ketika sampai di depan mobil Rafa, "masuk ke mobil!!''
''Apa yang ingin kau lakukan," tanyaku berang, aku hampir habis kesabaran, dia malah ingin masuk ke dalam lagi.
"AKU MAU PATAHIN TANGAN JALANG SIALAN ITU, DIA UDAH BERANI NYENTUH PACAR AKU. DIA-----"
"Kita sudah putus, kalau kamu lupa."
Sasa langsung diam dan matanya menatapku sendu. Melihat kesedihan dimatanya membuatku ingin menarik kata-kataku tadi, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini. Ada lingkaran panda di kedua matanya yang indah, kini aku tahu dia pun merasakan sakit yang kurasakan.
"Belum ada sehari kita putus kamu udah cari cewe lain?" Nada suaranya serak.
"Masuk!!" Bertengkar di tempat parkir bukan hal bagus apalagi dia sedang mabuk sekarang.
''Pulanglah," Sasa mengibaskan tangannya ke udara, "aku mau kembali ke dalam."
Aku menangkap lengannya yang hendak pergi, "masuk sebelum aku sendiri yang memasukkanmu," gumamku keras.
------------
Sasa sedang tidur sekarang. Aku terpaksa menggendongnya masuk ke dalam mobil karena dia berkeras ingin masuk ke club lagi. Mana mungkin aku mambiarkannya jadi santapan pria-p****************g di dalam sana.
Sebelum tertidur tadi, Sasa masih sempat-sempatnya memaki-makiku. Dia mengatakan aku playboy, dan aku hampir terkekeh mendengar hal itu.
Itu adalah fitnah yang paling tidak manusiawi.
Di sela-sela fokus menyetir, aku melirik dia yang menejamkan mata di sampingku. Rambut panjangnya tergerai, wajahnya pucat namun masih cantik dan bibirnya sedikit terbuka karena bernapas.
Aku memarkir mobil Rafa setelah kami sampai di apartemenku. Yah, aku membawanya ke tempat tinggalku dan bukannya mengantarnya pulang. Aku tidak tahu akan mengatakan apa jika orang tuanya melihat keadaan Sasa yang sekarang, bisa-bisa mereka semakin membenciku.
"Da..sar..ja..lang..." Sasa bergumam dalam tidurnya, aku yakin jalang yang dia maksud itu adalah Vivi. Sebenci itukah dia pada perempuan yang berani menyentuhku??
Dengan lembut aku menghapus air matanya yang menetes, aku mengusap rambutnya dengan sayang.
Aku menatap gaunnya yang sangat pendek dan tanpa lengan, dadanya bahkan hampir tak tertutupi. Belum pernah aku melihat Sasa berpakaian seperti ini sebelumnya, kenapa sekarang dia memakai pakaian kurang bahan ini?
"Kevin?" Bisiknya pelan.
"Apa sayang," gumamku lembut sambil mengusap rambutnya.
"Aku nggak mau put...us."
Kupikir dia sudah bangun tapi ternyata Sasa berbicara di dalam mimpi. Tapi aku bahagia, paling tidak aku tahu kalau dia tidak menginginkan hubungan kami berakhir.
"Aku sayang kamu, Sa," bibirku mengecup bibirnya lembut kemudian keluar dari mobil.
Setelah berada di pintu penumbang aku membuka pintu dan membawa Sasa dalam gendonganku.
Sasa sedikit bergerak semakin mendekatkan dirinya, "kamu pendek tapi berat," gumamku seraya membawanya memasuki apartemenku.