Sasa pov
Kevin berhenti di depan gerbang rumahku, nggak terasa ternyata kita uda sampai. Nggak rela rasanya turun dari boncengannya, aku masih pengen memeluk pinggangya sambil menikmati angin yang berhembus menerpa pipiku.
"Langsung tidur ya!" Kevin mengambil helm yang kupegang saat aku uda turun dari motornya, kemudian mengacak rambutku pelan, "aku pulang."
Aku mengangguk sambil merapikan rambutku yang ia berantakin tadi, kebiasaannya yang satu itu tidak bisa ia hentikan. Selalu saja, bila ada waktu dia sering sekali mengacak rambutku.
"Ciuman selamat malam untukku, mana?" Gumamnya saat aku hendak melangkah masuk, dia menunjuk pipi kirinya dengan jari telunjukknya. Aku tersenyum serta berjinjit sedikit kemudian memberi kecupan pada pipi kirinya. Tapi tampaknya Kevin belum puas karena kemudian telunjukknya menunjuk pada pipinya yang lain. Aku pun kembali mencium pipinya, kali ini yang kanan. Aku tau kalau dia akan menunjuk ke arah bibirnya hingga aku mencium bibirnya cepat sebelum ia menyuruhku.
"Kamu memang yang paling tau aku," kekehnya sesudah bibir kami terlepas.
Kevin itu masih muda makanya sifatnya pun belum dewasa. Dirinya selalu menganggap segalanya mudah, apa pun yang dia inginkan hampir semua dapat ia peroleh. Tapi kemudahan-kemudahan itulah yang membuatnya sulit belajar. Tapi aku tetap sayang padanya, aku mencintainya apa adanya. Kevinku yang masih muda, kevinku yang masih perlu pembimbing, Kevinku yang pencemburu, Kevinku yang tampan.
Aku mencintainya.
Aku memilih bertahan dengannya ketika banyak pria-pria dewasa yang menawarkan masa depan mapan untukku. Aku kembali pada pelukannya padahal kedua orang tuaku tidak setuju aku dekat dengannya. Apa yang bisa aku lakukan kalau ternyata aku pun tidak bisa bertahan tanpanya?
Kevin menatap gerbang rumahku yang tertutup. Aku tahu dia sangat ingin mampir dan bertemu dengan kedua orang tuaku, tapi selama ini aku selalu memiliki alasan buat melarangnya. Aku bukannya nggak ingin dia bertemu sama Mama dan Papa, tapi aku takut dia akan mendapat perlakuan yang kurang baik dari orangtuaku. Aku tidak mengatakan padanya kalau Mama tidak suka aku pacaran dengannya, aku masih berharap kami menemukan cara untuk meluluhkan hati Mama.
Karena aku tidak mengatakan yang sebenarnya, Kevin pasti berpikir akulah yang memang tidak menginginkan dia bertemu dengan orangtuaku. Mungkin sepintas, dia pernah berpikir kalau aku tidak serius dengannya. Padahal dia tidak tahu betapa inginnya aku hidup bersama dengannya. Ajakan-ajakannya menikah sengaja kubalas dengan candaan karena belum yakin dengan orang tuaku yang mau menerimanya sebagai menantu. Tidak ada yang salah dengannya, Kevin laki-laki yang baik. Empat tahun kami pacaran dia selalu setia, malahan aku yang pernah hampir tergoda dengan laki-laki lain. Hanya saja, baik tidak cukup bagi kedua orang tuaku, mereka ingin aku menikah dengan pria dewasa yang mapan. Yang lebih tua dariku dan mampu membimbingku. Akhir-akhir ini Mama bahkan mulai menjodohkanku dengan anak temannya. Berulang kali kukatakan kalau aku sudah punya Kevin tapi tampaknya dia tidak peduli. Mama masih saja mencoba mengenalkanku dengan pria-pria yang sesuai dengan kriterianya.
"Kamu yakin nggak ingin aku masuk ke dalam?" Kevin masih menatap ke arah rumahku, sorot matanya terlihat berharap bisa masuk bersamaku.
"Uda malam, Kevin. Lain kali aja." Aku mencoba berdalih.
Kepalanya mengangguk mengerti kemudian dia menghela napas, "kalau gitu aku pulag ya!"
"Hati-hati!"
"Aku sayang kamu, Sa"
"Aku juga."
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Sedih rasanya melihat sorot kecewa di matanya, aku berharap cobaan untuk hubungan kami tidak terlalu berat.
----------------
"Sudah berapa kali Mama bilang jangan dekat sama si Kevin itu, Sa? Kamu kok nggak ngerti-ngerti juga!" Baru saja aku memasuki ruang tamu, aku sudah disuguhkan pertanyaan yang harus kuakui sangat mengesalkan. Mama duduk dengan angkuhnya sambil menatapku tajam.
"Ma, Sasa mohon! Jangan sekarang. Sasa capek." Mama tau dari mana kalau aku diantar pulang sama Kevin? Pagar aja tadi tertutup, masa iya Mama punya ilmu tembus pandang.
"Apa yang kamu dapat kalau sama dia? Mau jadi apa rumah-tangga kalian nanti? Dia itu nggak punya kerjaan---"
"Kevin kerja, Ma! Dia yang mengelola rumah makan Pamannya," ujarku tidak terima. Kevin memang masih muda tapi dia bukan pemalas, "lagian Kevin masih kuliah, jadi butuh waktu."
"Berapa lama? Sampai kamu tua?" Mama berdiri dari duduknya di atas sofa, "semua pria yang Mama tunjukkin itu adalah laki-laki mapan tapi kamu tolak, dan itu karena si Kevin-kevin kamu itu."
Oh, Tuhan.
"Sasa cinta sama Kevin, Ma!''
"Kamu nggak hidup karena cinta."
"Kevin itu nggak miskin, kalau itu yang Mama nggak tau. Orang tuanya juga orang kaya di Medan, kalau Mama takut Sasa nggak bisa makan jika hidup sama dia Mama nggak usah takut. Itu nggak akan terjadi."
"Mama nggak peduli kalau pun orang tuanya banyak uang! Pokoknya Mama nggak setuju kamu pacaran sama dia, dia masih anak-anak."
"Ma-----"
"Besok Bastian mau datang ke rumah, sebaiknya kamu jangan pulang semalam ini! Apa lagi diantar sama laki-laki itu."
Ya ampun!! Siapa lagi Bastian ini? Apakah nggak cukup semua pria yang kutolak itu sebagai bukti kalau aku tidak akan meninggalkan Kevin?
Kadang-kadang aku berfikir, lebih baik Mama sibuk kaya dulu. Sampai nggak ada waktu buat aku dan Julio. Daripada seperti ini, karena nggak ada kerjaan lagi Mama menjadikan mencari calon suamiku sebagai pekerjaannya. Lama-lama aku bisa gila kalau terus-menerus seperti ini. Aku tidak bisa memberitahu hal ini pada Kevin, kecemburuan bisa membuat pacarku itu salah mengambil tindakan.
Aku menghela napas, tampaknya harus aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini.
--------------------
"Pagi Ma, Pa, Jul!" Aku menyapa mereka kemudian mengambil tempat dudukku seperti biasa. Saat sarapan seperti inilah kami bisa berkumpul bersama, sebelum kemudian disibukkan dengan aktifitas masing-masing. Pengecualian untuk Mama, dia hanya dibuk menjodohkanku dengan laki-laki pilihannya.
"Bagaimana pekerjaan kamu, Sa?" Papa bertanya disela mengunyah sarapannya.
"Baik, Pa," jawabku seadanya. Aku mengambil roti dan mengolesinya dengan selai rasa kacang.
"Kamu, Jul?" Giliran Julio yang ditanya papa.
"Kuliah Julio lancar kok, Pa."
"Hhhmm," papa bergumam kemudian melanjutkan sarapannya.
Mataku melirik Mama yang sedang menuangkan air putih untuk papa. Mama nggak di tanya, apakah uda selesai dengan aksi perjodohan gilanya? Aku meringis mengingat pembicaraanku tadi malam dengan Mama.
Sejauh ini Papa tidak terlalu mencampuri hubungan percintaanku, yah meski pun aku belum tau apakah dia setuju atau tidak. Tapi kalau Mama sudah beraksi, Papa pasti langsung nurut dan beralih mendukung Mama sepenuhnya.
Hah!! Kalau cuma Julio yang mendukung, aku pasti kalah total. Julio bukan sekutu yang kuat.
---------------
Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan buah hatinya sungguh luar biasa. Dimulai dari mengandungnya dengan melewati bulan-bulan penuh rintangan, mual, sakit, ngidam yang aneh, semua itu harus dilalui hingga akhirnya proses persalinan. Penderitaan itu belum berakhir, dia pun harus menahan sakit yang luar biasa saat akan melahirkan. Tapi, semua itu terbayar ketika melihat bayinya, mendengar suaranya, rasanya pasti mengagumkan. Namun, bagaimama kalau bayi itu tidak selamat? Aku tahu meski tidak pernah merasakan kehilangan Bayi, pasti menyakitkan bagi seorang ibu.
Seperti yang terjadi beberapa menit yang lalu. Seorang wanita melahirkan dan bayinya meninggal. Aku memang bukan ibunya tapi aku sedih untuk bayi itu.
Bayinya perempuan, lahir premature dengan gangguan di pernapasannya hingga tak bisa di tolong lagi. Bayi itu sangat mungil dan tak berdosa, aku melihat matanya yang terpejam, mungkin Tuhan terlalu sayang padanya hingga tak membiarkan dia merasakan kejamnya dunia ini. Sang ibu bahkan terus menangis, pasalnya bayi itu sudah sangat dinanti-nanti kehadirannya.
Aku menghempaskan bokongku ke kursi yang ada di ruang istirahat bagi bidan yang bekerja di rumah sakit ini, tiba-tiba saja aku menjadi lelah. Baru kali ini aku menyaksikan persalinan yang seperti ini. Sepanjang aku menjadi bidan, baru kali ini aku melihat bayi meninggal dalam persalinan. Saat melihat wanita itu yang bersedih, aku langsung membayangkan bagaimana kalau hal itu terjadi padaku? Apakah aku akan sekuat dia? Membayangkannya saja aku tidak sanggup.
Oh, Tuhan. Bisa tidak aku berharap kalau ini adalah yang terakhir aku membantu persalinan dengan bayi yang meninggal?
Pintu terbuka kemudian Putri masuk dan mendekat padaku, "udalah, Sa! Mungkin Tuhan tidak menakdirkan bayi itu untuk tetap bersama orang tuanya," dia meremas bahuku memberi kekuatan yang memang sangat kubutuhkan saat ini.
"Tapi gue sedih Put, selama ini bayi yang kutolong selalu selamat. Gue belum pernah melihat bayi meninggal," ujarku sedih, "lo nggak liat wajah polos bayi itu, Put!"
"Gue tahu, tapi hal-hal kaya gini nggak bisa kita hindari. Pasti akan ada yang seperti ini lagi, yang penting lo uda melakukan yang terbaik. Kalau pun bayi itu tidak selamat, mungkin itu memang sudah rencana Tuhan. Jadi lo nggak usah nyalahin diri kamu."
"Terimakasih, Put," gumamku kemudian tersenyum. Aku bersyukur punya sahabat seperti dia, selalu tahu bagaimana cara menghiburku di saat aku seperti ini.
Putri juga seorang bidan sama sepertiku. Aku dan dia sama-sama kuliah kebidanan setelah lulus SMA, dan seolah kami memang ditakdirkan untuk selalu bersama, kini kami bekerja di rumah sakit yang sama.
"Bagaimana hubungan lo sama si berondong ganteng?" Putri mengganti topik pembicaraan, dia membaringkan tubuhnya ke atas kasur yang ada di depanku, "eh, minggu kemaren gue liat dia nyanyi di kafe tante gue, Kevin tambah ganteng gilak. Iri gue sama lo, Sa."
Aku terkekeh melihatnya, "ingat suami lo, sarap!"
Yah, Putri uda nikah sama pacarnya zaman SMA dulu empat bulan yang lalu, kini statusnya uda jadi istri orang tapi masih juga matanya lirik-lirik-lirik cowo lain.
"Hehehe, mata boleh lirik cowo laen tapi hati gue ini," dia menyentuh dadanya dengan gaya yang lebay, "milik suami gue sepenuhnya," sambungnya kemudian.
"Mama gue nggak setuju gue pacaran sama Kevin," aku memberitahu kemudian ikut membaringkan tubuhku di sampingnya. Jadwal piketku dua satu jam lagi, jadi biarlah aku istirahat sebentar.
Putri menoleh padaku, "kok bisa?"
Aku mengangkat bahu, "gue juga bingung sekarang, Put. Mama gue pake acara jodohin gue lagi, pusing gue."
"Kevin tau?"
"Nggak gue kasih tau."
"Loh, kok lo nggak kasih tau dia?"
Aku diam, mataku menatap langit-langit ruang istirahat ini kemudian menghela napas. Tanpa kuberitahu pun mungkin sekarang Kevin uda tahu kalau orangtuaku kurang suka dengannya.
"Put, menurut lo apa yang gue harus lakukan kalau Mama terus jodohin gue?" Aku menoleh sebentar padanya kemudian kembali menatap langit-langit lagi.
"Lo cinta kan sama Kevin."
"Cinta banget, Put."
"Yah itu berarti lo harus perjuangin cinta lo! Yang mau menjalin hubungan kan lo bukan emak lo."
"Andai aja Mama tau itu."
-------------------
Aku sudah berdiri di depan rumah sakit saat Kevin datang, dia memberhentikan motornya tepat di depanku.
"Uda lama?" tanyanya setelah menaikkan kaca helm-nya. Melihat senyumannya yang manis membuat mood ku yang seharian ini kacau kembali baik.
"Nggak, masih baru kok," aku mengambil helm yang dia ulurkan kemudian memakainya. "Kamu habis dari mana?" Mataku melirik kemejanya yang rapi. Kalo kuliah biasanya Kevin nggak pernah serapi ini.
"Ada rapat tadi," gumamnya sambil menghidupkan motornya kemudian mulai jalan saat aku sudah berada dibelakangnya. Oh, ternyata usaha rumah makan ada rapat-nya juga?
Aku memeluk perutnya dan menghirup bau tubuhnya yang masih harum meski sudah soreh seperti ini.
''Kevin?"
"Hhhmm?"
"Kalo misalnya hubungan kita ini nggak bisa untuk selamanya, gimana?" Aku menatapnya dari samping, aku sengaja nggak menurunkan kaca helmku biar bisa bicara padanya. Dia pun sama, makanya dia pasti bisa mendengar pertanyaanku tadi.
Dia menoleh sekilas sebelum kemudian tatapannya kembali
Ke depan, "kamu ngomong apa sih?" Gumamnya tidak senang.
Tanganku semakin memeluknya erat, "nggak, aku kan cuma nanya."
"Pertanyaanmu itu aneh." Dari nada suaranya aku tahu dia kesal, garis rahangnya pun mengeras.
Kevin berhenti karena lampu lalu lintas sedang merah, kedua tangannya memegang tanganku yang sedang memeluk pinggangnya, "aku nggak akan pernah lepasin kamu, Sa! Aku nggak akan berkorban sejauh ini hanya untuk berpisah darimu. Kamu punya aku, Sa."
Tanpa dapat kucegah, setetes air mata jatuh membasahi pipiku mendengar apa yang dikatakan olehnya barusan. Aku tahu apa yang telah dia lakukan agar hubungan kami ini bisa sampai sejauh ini. Dia menentang orangtuanya supaya bisa kuliah di Jakarta, padahal sebelumnya ia sudah sempat kuliah di Medan. Hal itu dilakukannya untuk bisa selalu berada didekatku. Selama empat tahun kami pacaran, meski disini aku yang lebih tua tapi dialah yang lebih sering mengalah. Ketika aku marah, ketika aku kesal, ketika aku sedih, Kevin selalu tahu apa yang aku butuhkan. Kevin juga sering menawarkan uangnya waktu aku masih kuliah dulu, namun selalu kutolak. Meski orang tuanya termasuk orang yang berada, tapi dia tidak pernah meminta uang lebih dari keperluan sekolah saja. Sesekali Kevin nyanyi di kafe-kafe, dari situlah dia mendapat uang tambahan. Dari dulu ia sudah mandiri, karena itulah aku nggak suka kalau Mama menjelek-jelekkannya.
Kevin selalu ada untukku, Dia juga rela mengantar dan menjemputku dari rumah sakit, walau pun itu memang keinginannya sendiri sebenarnya.
"Aku sayang kamu, Vin!" Gumamku serak.
''Aku juga sayang sama kamu, Sa. Jangan pernah bicara tentang perpisahan lagi, aku nggak suka," gumamnya sebelum kemudian melajukan motornya karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.