Aku terbangun karena mendengar suara-suara ribut di bawah, aku menyibak selimut dari tubuhku kemudian melirik weker burung kakak tua yang ada di atas nakas, sudah jam enam soreh. Gila, lama banget aku tidurnya.
Setelah kepergian Julio dan kevin, aku memutuskan nggak keluar rumah. Ajakan Putri ke mall pun kutolak, aku pengen di rumah saat Kevin dan Julio pulang. Akhirnya aku memutuskan menonton saja buat membunuh kebosanan, hingga siang pun mereka nggak juga pulang, jadilah aku memilih golek-golek di atas tempat tidur dan alhasil aku ketiduran.
Aku menguap karena kantuk yang masih tersisa, kemudian turun dari tempat tidur. Mereka pasti uda pulang, suara-suara dibawah pasti suara mereka. Tiba-tiba hatiku deg-degan, Kevin pasti uda tau kalo aku kakaknya Julio. Lalu bagaimana reaksinya?
Suara-suara itu makin kedengaran saat aku tiba di tangga paling bawah, kayanya berasal dari belakang, di taman.
Masih sambil menguap beberapa kali lagi, aku melangkah menuju sumber suara itu. Petikan-petikan gitar serta suara seseorang bernyanyi terdengar semakin jelas.
Aku sampai di taman belakang dan melihat ada sekitar sepuluh orang di sini, hanya tiga yang kukenal. Rafa, laki-laki yang kulihat tempo hari di kafe, yang berbicara dengan si Putri. Julio, adekku sendiri dan yang terakhir Kevin. Mereka semua pasti teman si cunguk adekku.
Aku menatap mereka satu persatu, hampir semua memiliki wajah yang tampan. Mereka duduk berdekatan sambil bernyanyi, aku nggak tau lagu apa yang mereka nyanyikan saat ini, tapi kedengaran enak.
Saat mataku menatap mereka satu-persatu, irisku jatuh pada seseorang yang seharian ini memenuhi pikiranku. Bahkan di dalam mimpi pun, dia menghantuiku. Kevin duduk sambil memetik gitar seraya bernyanyi dengan suaranya yang merdu abis.
Bagaimana aku nggak semakin tenggelam dalam pesonanya!!
Dia tampan, pandai bermain gitar, suaranya bagus dan saat bebicara pun mampu membuat gadis-gadis melumer. Oh, Kevin!! Aku padamu.
Aku terpaku di tempatku berdiri, terpesona dengan alunan gitar serta suaranya. Tiba-tiba aku merasa melayang, seolah lagu cinta yang saat ini dia nyanyikan itu untukku. Aku gila nggak ya kalo berpikir ingin jadi satu-satunya gadis yang akan dia nyanyikan kelak?
Beberapa pasang mata uda melihat ke arahku, mereka menatapku tanpa menoleh. Resiko orang cantik ya kaya gini, selalu jadi perhatian. Tapi tatapan mereka tak kuhiraukan. Sorot mataku sepenuhnya hanya pada cowo berjaket kulit yang saat ini sedang memetik gitar, dia tampak menghayati lagunya sampai-sampai tak menyadari kehadiranku.
Waktu SMP, aku juga punya pacar yang pandai main gitar, namanya Fery. Tapi Fery nggak kaya Kevin. Suara Fery memang enak, tapi dia kaya nyanyi hanya pake mulut--i know orang nyanyi memang pake mulut. Tapi Kevin beda, dia itu nyanyi bukan hanya pake mulut!! Tapi pake hati.
Aseek. Aku bener-bener jatuh hati untuk yang kesekian kalinya. Untuk aku masih punyak stock hati, walau uda terjatuh berulang kali masih ada sisanya. Hehe.
Aku tersadar dari lamunanku saat tak terdengar lagi lantunan gitar di taman ini, Kevin melihat ke arahku sambil memeluk gitarnya. Tatapannya tak kumengerti artinya, hanya saja cara dia melihatku membuatku bergidik.
Ok, aku sukses salah tingkah sekarang.
"Siapa Jul?" Kudengar seseorang bertanya. Aku nggak kenal namanya, rambutnya agak gondrong, kulitnya sedikit lebih coklat dari kulitnya Kevin. Kalo aku lihat dari mukanya, kayanya dia orangnya baik. "Kenalan, dong!" Tanpa aba-aba dia uda ada di depanku dengan tangan terulur serta bibir yang menyunggingkan senyuman. "Sammy," ucapnya.
"Sasa," balasku, memperkenalkan diriku padanya.
"Lembut banget bro tangannya," candanya yang mengundang siulan dari kawan-kawannya yang lain.
Penasaran, aku melihat ke arah Kevin. Semua temannya sibuk berceloteh tentang aku, tapi dia diam aja. Tampaknya gitar yang ada di dalam pelukannya itu lebih menarik dariku, dia nggak liat aku.
Setelah satu orang berkenalan, yang lain pun ikut-ikutan. Akhirnya aku bersalaman dengan mereka semua kecuali Kevin dan julio. Karena dengan Rafa aku belum sempat kenalan, malam ini kami resmi berteman.
"Sasa kakak gue," Julio bergumam untuk menjawab pertanyaan temannya tadi, "jaga tangan sama mata kalian!! Nanti ada yang ngamuk, hahaha." Julio melirik Kevin yang masih sibuk dengan gitarnya.
"Gilak! Kakak lo cantik banget Jul, nggak kaya kakak lo malah keliatan kaya adek lo!"
"Maksud lo muka gue muka tua? Kampret lo!" Ujar Kevin kesal.
"Hahaha, nggak gitu juga."
"Memang Sasa aja yang imut banget, sama gue aja kaya adek gue. Hahaha!"
"Sa, kamu uda punya cowo?"
Elah, ni orang nggak tau tempat banget sih! Aku mana mau sama dia, soalnya uda ada yang membuatku klepek-klepek. Memang mereka ganteng-ganteng, aku tinggal pilih mereka pasti mau apalagi status usiaku yang lebih tua dari mereka tak jadi masalah. Tapi Kevin nggak ada duanya, hanya dia yang aku inginkan. Nggak ada yang lain.
Tak henti-hentinya mereka menggodaku, ada yang terang-terangan bilang suka. Aku hanya tersenyum menanggapi hal itu. Sebenarnya aku bukan gadis yang tertarik dengan laki-laki yang lebih muda. Tapi entah kenapa Kevin menjadi pengecualian sekarang ini. Aku tahu dia lebih muda dariku tapi aku masih suka padanya, justru aku yang takut kalo dia nggak menaruh hati sama aku. Kalo biasanya aku nggak pernah takut bakalan di tolak sama laki-laki, kali ini pengecualian lagi. Aku takut Kevin menganggap aku kakaknya dan bukannya seorang gadis yang pantas dia sukai. Pokoknya kalo bicara soal Kevin, semua penuh dengan pengecualian.
"Eh Vin, lo nggak mau kenalan sama Sasa?," celetuk Roby, laki-laki berambut pirang serta bermata coklat itu menatap temannya yang kelihatan nggak tertarik. ''Nyesel lo nanti!"
"Gue uda kenal," gumamnya datar, Kevin menyetel tali gitarnya sambil menunduk, "dia cewe gue."
"Hah?"
"What?"
"Apa?"
Beragam pertanyaan terlontar begitu saja saat Kevin mengatakan kalimat terakhirnya. Bukan hanya teman-temannya yang melongo, aku sendiri pun terkesiap. Hanya si curut yang ketawa terbahak-bahak, "apa gue bilang," gumamnya sambil tertawa.
"Gilak! Kapan lo pacarannya?"
"Kalian kenal dimana?"
"Ah sial, gue kedeluanan sama si Kevin."
"Yah, telat dah gue!!"
Aku menatap Kevin, berharap dia mendongak dari gitarnya kemudian melihat padaku. Aku masih gamang, nggak ngerti dengan apa yang uda aku dengar sebelum yang bersangkutan menjelaskan padaku. Apa pun yang ada di dalam pikiran Kevin ketika mengucapkan kalimat itu, yang pasti dia uda gila. Sama kaya aku! Kami sama-sama gila.
Setelah lama menunggu, akhirnya dia mendongak juga. Dia menatapku dalam dan lama, tak satu pun kata yang terucap dari bibir kami berdua. Dan dia sukses membuatku bingung dengan tingkahnya.
------------------------
Aku berjalan setengah meter di belakang Kevin. Saat ini aku sedang mengantarnya ke depan. Dia pulang duluan karena tadi namborunya menelepon, Kevin disuruh pulang karena ada urusan penting. Dan setelah dia mematikan teleponnya, tiba-tiba laki-laki itu meminta aku mengantarnya ke depan.
Sontak saja aku terkejut, tapi aku turuti juga maunya dia. Dia berpamitan sama kawan-kawannya yang lain, meminta maaf karena harus pulang lebih dulu. Kemudian dia berjalan meninggalkan taman, Hingga sekarang kami uda berada di depan rumahku. "Maaf, buat yang tadi," gumamnya saat uda berada di atas motor hitamnya yang besar.
Aku menatapnya, aku bingung mau bilang apa. Apakah aku harus marah-marah sama dia karena uda mempermainkan aku. Nnggak bohong, untuk waktu yang singkat aku sempat merasa senang karena ucapannya tadi. Karena memang aku pun suka sama dia, tapi sekarang dia malah minta maaf. Yah, apa yang bisa aku lakukan. Mungkin tadi dia hanya salah bicara.
"nggak papa, aku ngerti kok!" Tampaknya aku nggak akan bisa pergi ke pesta bareng dia, aku harus terima kalo di sini hanya aku yang berharap. laki-laki dari teman sekolah kayanya bukan pilihan buruk daripada aku pergi sendirian. Ya sudahlah.
''Aku masuk ke dalam, kamu hati-hati di jalan!" Ok, semua berakhir. Tapi, dari awal kan memang nggak ada apa-apa antara aku sama Kevin, jadi apa yang berakhir? Ck, kok aku jadi sedih gini sih!
"Tunggu!," tangannku dicekal sama dia, dia menarikku semakin dekat padanya. Dari tempatnya duduk di atas motornya, Kevin menatapku, ''aku mau memperbaiki kalimatku yang di dalam tadi," gumamnya serius.
"Maksud kamu?"
"Aku suka sama kamu, Sa. Kamu mau jadi pacar aku?" Tembaknya langsung.
"Kamu...kamu..suk," bodoh, kok aku jadi tergagap gini sih?"
"Aku suka sama kamu." Ulangnya lagi.
"Tapi aku lebih tu-- hhhmmm," kalimatku terputus karena ciumannya. Oh my God, apa aku nggak salah dengan yang terjadi saat ini. Dia menciumku!! Kevin menciumku.
"Jadi Cewe aku, Sa," bisiknya serak.
Seharusnya aku menamparnya, seharusnya aku memukulnya, seharusnya aku memakinya karena uda berani menciumku, Ciuman pertamaku. Tapi yang ada aku hanya berdiri mematung, masih terasa ciumannya di bibirku. Dan yang membuatku mengutuki diri sindiri adalah karena aku menginginkan ciumannya lagi, kan gilak.
"Kamu mau?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk sambil memegang bibirku yang dia cium tadi, aku masih belum lepas dari gelutan syokku. Aku nggak mungkin nolak dia, aku masih waras. Nggak ada satu pun di dalam dirinya yang pantas untuk ditolak.
"Mau apa, Sa," dia terkekeh, mungkin aku yang berubah menjadi bodoh membuatnya terhibur.
Aku pengen bilang 'aku mau apa aja yang kamu mau, mau jadi istri dan ibu dari anak-anakmu', tapi otakku masih menyisahkan sedikit kewarasaannya sebelum aku menjadi gila, "aku mau jadi pacar kamu," tuturku di depannya.
Kevin menundukkan kepalanya semakin turun padaku, hingga wajah kami bener-bener dekat. Aku tau apa yang hendak dilakukannya, tapi aku nggak menghindar. Aku menutup mata, menanti daging kenyal itu kembali menyentuh permukaan bibirku.
Dan, akhirnya Kevin menciumku. Kali ini lebih lama dari yang pertama. Lebih lembut dari yang pertama. Lebih intens dari yang pertama. Lebih. Lebih. Pokoknya lebih segalanya.
Hingga napas kami terengah-engah, barulah Kevin menghentikan ciumamnya.
Julio bisa bilang kalo temannya ini polos, tapi aku nggak percaya. Buktinya dia uda pinter banget berciuman. Caranya melumat bibirku membuat tubuhku melayang, caranya menghisap lidahku membuat tubuhku bergetar seolah dialiri listrik. Ada getaran-getaran aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
"Masuk ke dalam, langsung tidur." Caranya berbicara sangat dewasa. Kevin lebih muda dariku tapi dia mampu mengendalikanku.
''Ok! Abis pamit sama yang lain aku langsung masuk kamar." Sekarang uda jam tengah sembilan, uda waktunya juga aku istrirahat. Jadi nggak sepenuhnya karena dia menyuruhku tidur. Aku nggak suka diatur.
"Langsung masuk kamar aja, nggak usah temui mereka lagi! Nanti aku telepon."
Aku hendak membantah tapi kuurungkan, nggak enak juga baru jadian langsung berantem. Kevin menarik resleting jaketnya kemudian memakai helm. Setelah menghidupkan motornya dia mengklakson sebelum akhirnya keluar dari pekarangan rumahku.
"Yeeaayy," aku bergumam bahagia. Akhirnya aku jadian sama Kevin, cowo keren, tampan, pande nyanyi sama main gitar, kurang apalagi coba. Almost perfect.
---------------------
"Apa? Lo uda jadian sama si Kevin?" Putri, dari sebrang sana penasaran banget dengan cerita aku yang jadian sama Kevin. Emang tu anak ratunya kepo.
Begitu nyampe kamar, orang pertama yang kuberitahu kabar bahagiaku adalah Putri. Sahabat tercintaku yang telah menjadi perantara antara aku dan Kevin.
"Iya," aku mengangguk, "tadi dia nembak aku, Put! Aduh, gue seneng banget pokoknya."
"Terus-terus?"
"Ya nggak pake terus," aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur kemudian menatap langit-langit kamar, "Kevin bilang suka sama gue, dia minta gue jadi cewenya dia, yah gue terima deh. Selesai, sekarang dia cowo gue, Put."
"Elah, lo seneng banget kayanya."
"Ya jelas dong," aku membalik badan jadi telungkup, "secara dia itu uda buat gue klepek-klepek dari awal. Kevin ganteng banget tau nggak sih lo?"
"Iye gue tahu, nyet. Tapi emang dia nggak masalah sama umur lo yang lebih tua dari dia?"
"Nggak tuh, dia malah suka kayanya. Lebih tua lebih hot, hahaha."
"Sarap lo."
"Hahaha, pokoknya besok gue mau pamer pacar baru gue yang ganteng. Bibirnya kissable banget, rasa pengen terus ciuman sama dia." Pikirinku mengawang, mengingat rasa ciumannya yang nikmat.
"Eh, setan! Lo uda dicipok sama si Kevin."
"Uda, dua kali malah."
"Bener-bener gilak lo!"
"Enak tau, gue aja kepengen lagi."
"Keren ya si Kevin, masih baru jadian uda main sosor aja."
"Uda ah gue ngantuk, besok gua ceritain yang lebih detailnya."
"Ok, besok lo harus ceritain semuanya! Jangan ada yang ketinggalan."
"Yupi, aku tutup ya!"
Aku memutus sambungan telepon kemudian meletakkannya di atas meja samping tempat tidurku. Sekarang aku uda nggak jomlo lagi, mudah-mudahan si Vino nggak akan ganggu aku lagi kalo dia tahu aku uda punya pacar.
Aku beranjak dari tempat tidur kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah aku mencuci muka kemudian menggosok gigi. Ketika aku kembali ke atas ranjang, ponselku berbunyi.
Kevin.
"Halo," aku menyapanya. Serius, jantungku rasanya mau meledak sangkin kuatnya berdetak. Efek suara Kevin sangat luar biasa pada kerja jantungku.
"Habis nelpon siapa? Kok tadi aku telpon sibuk?" Aku seneng nada suaranya nggak kedengaran menghakimi. Kan enggak iya banget baru jadian uda sok-sokan posesif gitu. Everything need process, right?
"Putri, yang kemarin minta nomor hp kamu."
"Oh, kamu lagi apa?" Pertanyaan kaya gitu kalo diucapkan sama laki-laki uda basi banget, tapi karena yang lagi nanya sekarang adalah Kevin jadi agak gimana gitu, yang jelas nggak basi.
"Nggak lagi ngapain, tadi mau tidur," jawabku jujur.
"Aku ganggu ya?"
"Nggak kok," malah aku seneng banget kamu telpon aku, sambungku dalam hati.
Kemudian dia diam, aku pikir telponnya uda mati tapi ternyata nggak. "Vin?" Akhirnya aku yang bersuara duluan, kayanya dia masih bingung mau obrolin apaan.
"Iya, Sa?" OMG, perasaan kalo Kevin yang manggil nama aku kok terasa lain ya, terasa gimana gitu. Kaya ada getaran-getarannya gitu. Ok, aku uda ngaco sekarang.
"Hhmm, besok sekolah aku ngadain valentine's Party, kamu mau nggak memenin aku datang ke acara itu?"
"Ok!'' Kevin menjawab setelah beberapa saat tak bersuara.
Ok? Hanya ok? Yah, setidaknya dia nggak menolak.
"Ok," aku membeo ucapannya, "acaranya dimulai pukul tujuh malam, kamu datang tengah enam aja."
"Baiklah! Sekarang kamu tidur, uda malam. Besok kan harus sekolah."
Elah, kok aku berasa ngomong sama mama. "Iya, Vin! Kamu juga.
"Good night."
"Night."
---------------------
Besok paginya aku uda rapi dengan seragam sekolahku saat terdengar suara motor berhenti di depan rumahku.
''Siapa, mbok?" Aku bertanya saat tak melihat orang masuk padahal si mbok uda bukain pintu.
"Temennya den Julio, non," jawabnya kemudian berlalu kembali ke dapur.
Aku bergumam kemudian melangkah keluar rumah. Aku udah siap mau berangkat sekolah dengan tas di tangan. Namun langkahku terhenti saat melihat orang yang ada di depanku.
"Kevin, kamu ngapain? Ada janji sama Julio?" Aku seneng banget sumpah pagi-pagi uda di samperin sama pujaan hati, pagi hariku terasa semakin berbunga-bunga bak taman cinta. Elah, bahasa aku uda kaya penyanyi dangdut aja.
"Mau jemput kamu."
Hah? Aku nggak salah denger kan ya? Kevin datang pagi-pagi ke rumah aku buat jemput aku?
Pagi ini Kevin keren banget, kaya biasa aku liat dia. Jaket kulitnya masih melekat di tubuhnya yang tegap, dengan helm yang menutupi kepalanya.
"Aku---"
"Uda, lo bareng Kevin aja kak! Biar gue naik mobil lo, hehe," tiba-tiba Julio uda ada di sampingku dengan mulut resek-nya.
Aku menatapnya tidak suka, emang dia paling bisa cari kesempatan dalam kesempitan. Tapi nggak papalah, yang penting aku bisa pergi sama Kevin.
Kunci mobil yang ada ditanganku kulempar pada Julio yang kemudian dengan mudah di tangkapnya. Tentu saja bibirnya nyengir-nyengir. "Thanks bro," dia mengangkat kunci yang aku lempar tadi, ''sering-sering jemput kakak gue ya! Biar gue bisa naik mobil terus. Hahaha."
Kevin hanya tersenyum kemudian menyerahkan helm yang lebih kecil dari yang dia pake padaku, dengan sabar dia membantuku memakai helm itu.
"Suit...suit...ada yang uda jadian niye," Julio bergumam menggoda sebelum kemudian dia masuk ke dalam mobilku.
''Pelan-pelan, Sa," ucap Kevin saat aku mau naik ke atas motornya. Gilak, tinggi banget. Ini aku yang terlalu pendek atau motornya yang kelewat tinggi. Aku harus berpegangan pada bahunya baru bisa naik dengan benar. Saat tanganku menyentuh bahunya, tiba-tiba kulit tanganku seakan teraliri listrik.
"Aahh," aku menghela napas saat uda berhasil naik dan duduk di boncengannya.
Kevin terkekeh seraya menghidupkan motornya, ''kamu pendek banget, Sa."
Aku memukul bahunya sambil bergumam kesal, bukannya kesakitan dia malah makin ketawa. Iss, resek banget sih.
"Uda, Sayang?"
Eh, barusan dia manggil aku sayang?
"Hhhmm," aku hanya bergumam datar.
"Marah karena aku bilang kamu pendek?"
Aku memeluk pinggangnya dengan berani, hingga kurasakan tubuhnya menegang. Mampus lo, masih kecil uda bilang sayang-sayang ke aku. Baru aku peluk aja uda tegang kamu.
Perlahan, tubuhnya uda mulai rileks. Malah tangannya berani banget memegang tanganku supaya memeluknya lebih erat, "jadi nggak marah?" tanyanya geli.
"Ngapain aku marah," gumamku sambil memeluk pinggangnya kuat, "aku pendek tapi dapat pacar tinggi, nah kamu? Tinggi tapi pacarnya pendek!"
Kevin semakin tergelak kemudian mulai menjalankan motornya keluar dari pekarangan rumahku.
Beberapa saat kemudian kami sampai di depan gerbang sekolahku. Aku turun lalu melepas helmku kemudian menyerahkan padanya.
"Makasih ya," aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
Kevin mengangguk kemudian ikut merapikan rambutku, "nanti kalau uda pulang telpon aku ya, Sa!''
"Buat apa?"
"Biar aku jemput kamu."
Oh! Aku tersenyum padanya kemudian mengangguk.
"Aku pergi ya!"
"Iya," ya ampun, sejak kapan aku berubah jadi perempuan penurut begini. Elah, jatuh cinta kayanya uda bikin aku jadi gila.
"Buset," Putri datang dari belakangku sambil menenteng buku di tangannya, "baru jadian semalam uda pake acara jemput-jemput, cepet amat cara kerja si Kevin."
Aku nyengir sambil melihat punggung Kevin yang menjauh, "iya dong," jawabku belagu.
"Jadilah ya lo pergi bareng si Kevin nanti malam?"
"Pastinya kali, mana mau dia aku dateng bareng laki-laki lain. Bisa gila dia!" Aku tersenyum mengingat bagaimana tadi malam dia melarangku buat nemuin teman-temannya setelah dia pulang. Mimik wajahnya itu loh, bikin aku nggak mampu mendebatnya.
"Asal jangan lo mainin aja tu berondong, kasian Nyet."
''Nggak lah! Aku suka sama dia, Put. Dia tu beda, pokoknya gue nggak akan lepasin dia."
"Jadi," putri mengikuti langkahku menuju kelas kami, ''sekarang lo uda nggak jomlo lagi dong ya?"
"Yupi."
BERSAMBUNG....