49. MaFii Qolbi Ghoirullah

1091 Words

Malam ini. Angin berembus pelan, semilirnya menyerbak ke dalam rongga paru-paru, menimbulkan rasa lega dan nyaman. Tujuh petala langit turut mengukir ronah indah, menampakkan kerlip gemintang serta pantulan sinar rembulan. Ah. Rasanya Ammar dan Aisyah ingin ikut menangis karena haru merasai pembicaraan yang tersuguh di depan mata kini. Menjadi saksi kesayangan lelaki yang menyenangkan di wanitanya. Bukan tentang cinta saja, tapi sebuah keseriusan. Bukan tentang kebersamaan yang akan terjalin, tetapi tentang perjalanan yang akan mereka lalui. "Abbah, apa ini serius?" Rania dengan bercucuran airmata bertanya pada abbahnya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Aksa juga terlihat berkaca-kaca. Lelaki itu menegakkan tubuh, usai adegan sujud syukur karena akhirnya Kyai Bisri merestui niatnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD