"Sayang, bangun, Abang mau ke masjid dulu ya. Sebentar lagi adzan subuh." Ammar menepuk pelan pipi Asiyah. Ekor telanjang melirik jam yang melingkari tangan, pukul empat pas. Di luar sudah ramai, hiruk pikuk para santri yang siap menyambut subuh, suara ketipak langkah dari sandal bakiak yang beradu dengan lantai paving, juga terdengar sangat nyaring. Gaung tilawah sudah terdengar sejak jam tiga dinihari tadi. Aisyah menggeliat. Merapatkan selimut yang bergeser ke kaki, menariknya sampai sebatas leher. Hawa di tempat ini memang lebih dingin dari suhu di Surabaya. Semilirnya sampai terasa menusuk pori kulit. Menimbulkan gigil yang melumat tulang. "Ehm, bentaran Abang. Dingin banget," rengek Aisyah masih dengan mata memicing. Tangan Ammar mengacak rambut Aisyah perlahan, kemudian mencubit pi

