Dimanfaatkan Suami Sendiri
“Aku harus apa?”
Di dalam sebuah ruangan yang menjadi saksi dari bersatunya ia dan sang suami, dan di tengah gemuruh angin disertai sambaran petir yang cukup memekakkan telinga. Rayhana azzahra, wanita yang bahkan belum genap berusia dua puluh dua tahun itu tampak menahan cairan bening yang telah menggenang di pelupuk matanya.
Dadanya sesak, sampai tenggorokan pun, ikut tercekat. Sungguh! Rasanya seperti ditusuk menggunakan pedang tak kasat mata. Lalu, dipaksa mati saat ajal bahkan belum sampai.
"Jahat kamu, Mas!" lirih wanita itu penuh penekanan.
Rayhana atau yang kerap disapa Hana, tampak mengusap kedua pipinya dengan kasar menggunakan sebelah tangan. Sementara sebelah tangan lainnya sibuk menggenggam ponsel.
"Bisa-bisanya ...," lirihnya lagi. Kali ini bahkan sembari memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak.
Di tengah kesesakan itu, mata Hana spontan terbuka saat suara ketukan menyapa indera pendengarannya. Sadar bahwa ada seseorang yang akan datang, buru-buru dia meletakkan ponsel yang sejak beberapa menit lalu berada di dalam genggamannya ke atas nakas. Kemudian berlari ke arah toilet.
Hana sendiri tak tahu kenapa ia harus bersembunyi begini.
“Hana? Kamu di dalam kamar mandi?” tanya seseorang yang tak lain adalah Adam, suaminya.
Hana tak menyahut karena terlalu sibuk menahan tangis. Selain itu, ia masih tak tahu harus bagaimana menghadapi Adam, jika menunjukkan keberadaannya sekarang.
“Han?”
Lagi. Hana kembali mendengar namanya dipanggil oleh pria itu. Jika dulu, mungkin dia akan sangat senang mendengar panggilan ini. Namun, sekarang ….
Huh! Yang tersisa hanyalah rasa hambar dan rasa sakit. Hana membuang napas kasar.
“Hana, saya enggak punya waktu untuk bermain petak umpet dengan kamu,” kata pria itu dengan nada yang cukup lembut. Namun, menyiratkan kekesalan.
Hana yang mendengar hal itu hanya dapat menghela napas pelan. 'Apa sampai sekarang dia hanya seorang anak kecil di mata Adam?' Batinnya jadi dibuat bertanya-tanya.
“Kalau kamu dengar panggilan ini, cepatlah keluar! Mama dan keluarga kamu sudah menunggu kita di meja makan.”
Tak berselang lama setelah itu, terdengar suara langkah kaki yang berjalan menjauh. Sadar bahwa mungkin Adam tak lagi berada di kamar mereka, Hana lantas membasuh mukanya di wastafel. Kemudian bergegas keluar dari kamar mandi.
Baru saja ingin menata perasaannya sebelum bertemu dengan banyak orang, tiba-tiba saja sebuah suara kembali terdengar di telinga Hana.
“Kamu kenapa?”
Ini ….
Hana menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar pertanyaan itu. Adam! Pria itu tak benar-benar keluar dari kamar mereka.
Hana …, dia sudah tertipu untuk ke sekian kalinya.
“Ada apa?” Suara yang sama kembali terdengar.
Hana menundukkan kepala dengan cukup dalam. Khawatir jika raut wajahnya yang sangat kacau ini akan terlihat oleh Adam.
“Bisa Mas Adam tinggalkan Hana sendiri dulu?” tanyanya pelan. Sangat pelan, tapi masih mampu didengar oleh Adam.
“Kenapa? Kamu enggak suka dengan keberadaan Saya di sini?” tanya Adam dengan kening berkerut.
Hana menggeleng. “Bukan begitu, Hana cuma--”
“Hana, lihat wajah saya!” perintah Adam.
Hana tak menurut. Hingga beberapa menit berikutnya, wanita itu masih fokus menatap kakinya yang menginjak dinginnya lantai tanpa beralaskan sandal.
“Kamu buka handphone saya?”
Hana spontan mendongak saat itu. Dia menatap Adam dengan perasaan bercampur aduk.
“Heh!” Adam mendengus pelan sebelum memasang raut wajah datar.
“Apa kamu pernah menerima pendidikan moril di rumah? Apa kamu diajarkan tentang betapa pentingnya menghargai privasi orang lain?” tanya Adam bertubi-tubi.
Nada bicaranya sama sekali tak tinggi. Bahkan terbilang cukup rendah untuk ukuran orang yang sedang marah. Namun, sebagai gantinya, pria itu menyerang Hana dengan kata-kata pedas.
Hana tak heran lagi. Ia tahu betul bagaimana perangai Adam. Pria itu bukan tipe orang yang akan melampiaskan kemarahannya secara terang-terangan. Jadi, ia tak begitu terkejut dengan kata-kata berisi penghinaan ini.
“Kenapa diam? Enggak ketemu alasan yang pas untuk membenarkan tindakan kamu?” Lagi. Adam kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya saat tak mendapat jawaban apa pun, dari sang istri.
“Hana, lihat wajah saya!” titah pria itu saat melihat Hana kembali menundukkan kepala.
Sama seperti sebelumnya, Hana tak langsung menurut. Namun, bukan Adam namanya kalau tak bisa membuat gadis itu menuruti perintahnya.
“Apa yang kamu lihat di sana? Pesan WA?”
Seperti yang Adam harapkan, Hana langsung mendongak saat itu juga. Untuk beberapa saat, mata mereka saling beradu pandang dan dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan cepat Adam berpindah posisi. Dari yang semula sedang duduk di atas sofa, jadi menghampiri Hana yang tengah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
“Kamu lihat chat saya sama Celine?” tanya Adam tepat di depan wajah Hana.
Tak kunjung mendapat jawaban membuat Adam menghela napas panjang. 'Entah kenapa ia jadi kesal melihat reaksi Hana yang seperti ini. Maksud Adam, kalau mau marah, harusnya wanita itu marah saja, kan? Bukannya malah bersikap seperti patung yang tak tahu harus melakukan apa selain berdiam diri!' Pria itu membatin.
'Lagi pula ..., ke mana perginya Hana yang ia kenal sedari dulu? Hana yang cerewet dan tak pernah bisa berhenti bicara,' batinnya lagi.
“Begini ….” Adam menjeda kalimatnya sebentar. “Bagaimana kalau kita duduk dulu?” ujarnya memberi usul.
“Kamu pasti mau mendengar--”
“Kenapa?”
“Maksud kamu?” Adam memicingkan mata.
“Kenapa Mas Adam tega sama Hana? Memangnya apa salah Hana sampai harus diperlakukan seperti ini?” tanya Hana lirih. Ada cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. Namun, terlalu enggan untuk dibiarkan turun membasahi pipi.
Tidak, Hana tak ingin terlihat lemah di depan Adam.
Adam yang melihat hal itu hatinya jadi dibuat terenyuh. Ada sedikit rasa bersalah pula yang menghinggapinya saat melihat wajah pias Hana.
“Kamu enggak salah apa-apa. Saya yang salah karena sudah memanfaatkan kamu. Maaf.”
Hana tertegun. 'Semudah itu kah, Adam mengakui kesalahannya dan meminta maaf? Mendapat perlakuan seperti ini, entah kenapa dia jadi merasa tak berharga sama sekali.'
Apakah cinta yang ia miliki selama lebih dari sepuluh tahun layak mendapatkan balasan seperti ini? Lagi-lagi berbagai pertanyaan muncul di dalam benak Hana.
“Sekali lagi saya minta maaf kalau kamu merasa dirugikan, tapi percayalah saya akan bertanggung jawab.”
Heh! Hana tersenyum sinis di tengah isak tangis yang coba ia tahan. “Bagaimana caranya, Mas?”
“Maksud kamu tentang bertanggung jawab? Saya bisa turuti semua permintaan kamu. Kalau kamu mau uang--”
“Apa menurut Mas Adam semuanya bisa diselesaikan dengan uang? Masa muda, rasa malu, dan kehormatan keluarga Hana, apa semua itu bisa diganti dengan uang?” tanya Hana bertubi-tubi.
Jika sebelumnya wanita itu menatap Adam dengan tatapan sayu dan serat akan kesedihan. Maka kini tak lagi.
Hana …, wanita yang sampai beberapa menit lalu masih sangat mencintai pria bernama Adam Khalid Permadani, bahkan rela menukarkan masa mudanya dengan menikahi seorang duda itu, kini menatap Adam dengan tatapan penuh kecewa dan juga penuh dendam.
“Apa mempermainkan hati Hana semembahagiakan itu, Mas? Apa Hana benar-benar seenggak berharga itu sampai Mas tega melakukan ini?”
“Kalau memang masih ingin bersama dengan Mbak Celine, lalu kenapa dulu kalian harus bercerai, Mas? Kenapa harus bercerai dan membuat orang lain menjadi tumbal atas keserakahan kalian?!”
“HARUSNYA MAS TERIMA SAJA DIA DAN BAYI YANG ADA DI KANDUNGNYA ITU!” pekik Hana diiringi isak tangis.
Luruh sudah! Hana tak kuasa lagi menahan amarahnya. Dia benar-benar kesal sampai rasanya ingin memukuli Adam sampai mati.
“Dasar pria b******k!!!”
“Hana, jaga bicara kamu!”
“Kenapa? Kenapa bukan orang lain? Kenapa harus Hana yang kalian jadikan tumbal?! Kenap--”
“CUKUP!”
“Sekarang kamu maunya bagaimana? Kamu mau kita bercerai?”
Hana terdiam bisu.
'Cerai, ya? Jadi, setelah apa yang ia lakukan dan berikan selama ini ..., Adam ingin bercerai darinya?' Batin Hana meringis.
Hana memejamkan matanya sejenak. Mencoba menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar.
"Mas Adam mau menceraikan Hana?"
-Bersambung-