Satu-satunya yang Dirugikan!

1506 Words
Jadi tumbal dari keserakahan sepasang mantan suami istri. Siapa yang menginginkannya? Tidak ada! Namun, itulah yang terjadi pada Hana. Setelah melewati penantian panjang, serta berbagai macam cobaan sebelum akhirnya menikah, dirinya dihadapkan dengan sebuah kenyataan baru. Adam, pria yang sejak dahulu sangat ia cintai, ternyata menikahinya hanya karena suatu alasan keji. Yaitu memenuhi syarat yang diajukan oleh mantan istrinya, agar mereka dapat kembali bersama. "Semudah itu Mas Adam mau menceraikan Hana?" tanya wanita itu dengan raut wajah yang tampak sangat pias. Jika menurutkan hati, mungkin Hana sudah menangis sekarang, meraung, bahkan mengamuk. Itu jika menurutkan hati. Masalahnya ..., huh! Dia tak bisa begitu! Lebih tepatnya, tak boleh begitu. Mati-matian Hana berusaha menyadarkan dirinya. "Saya enggak pernah berkata ingin menceraikan kamu, Hana. Justru kamu yang maunya begitu, kan?" Adam yang sedari tadi hanya sibuk diam, tampak mulai membuka suara. "Mas Adam memang enggak bicara begitu, tapi sejak awal niat Mas menikahi Hana untuk itu, kan?" "Setelah berhasil memenuhi syarat yang diajukan Mbak Celine untuk bisa rujuk dengan dia, Mas akan segera menceraikan Hana. Iya, kan?!" tanya Hana berapi-api. "Mas sendiri sudah mengakuinya tadi!" sambungnya kemudian. Wanita yang masih betah berdiri di depan pintu kamar mandi itu, dadanya tampak naik turun. Emosinya telah benar-benar naik hingga ke ubun-ubun. Terlebih setelah mendengar pernyataan Adam yang seolah sama sekali tak merasa bersalah. "Huh!" Bukan jawaban, yang keluar dari mulut Adam justru sebuah helaan napas panjang. "Memang benar, tapi saya enggak pernah berniat menceraikan kamu secepat ini," katanya setelah beberapa saat. Hana yang mendengar hal itu semakin dilanda emosi. Air mata yang sedari tadi sibuk ditahan dengan susah payah, kini kembali turun dengan derasnya. Adam ..., pria itu benar-benar b******k! Untuk ke sekian kalinya Hana membatin. Sungguh! Hana benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa dia mencintai pria sebrengsek ini sedari dulu? "MAS ADAM b******k!!!" Dengan gigi bergemeletuk menahan amarah, Hana memukul d**a Adam dengan cukup keras menggunakan sebelah tangannya. Adam yang mendapat pukulan itu pun, lantas meringis kesakitan. "A-apa-apaan sih kamu, Han? Sakit tahu!" protesnya. "Sakit?" Hana mencemooh. "Sakit yang Mas rasakan itu enggak ada apa-apanya dibanding yang Hana rasakan!" "Sakit, Mas! Hati Hana sakit karena dipermainkan oleh Mas Adam!" tukas Hana penuh penekanan. "Lihat saja! Hana enggak akan tinggal diam! Hana akan adukan semua ini ke keluarga kita!" lanjutnya kemudian. Setelah mengatakan hal itu, tanpa berbasa-basi lagi, Hana meninggalkan Adam yang tampak terdiam bisu di kamar mereka. Dia akan mengadu pada Ibu mertuanya, juga pada ibu dan kakaknya. Lihat saja! Dia akan membuat Adam menyesal sudah melakukan hal ini kepadanya. Tekad Hana sudah bulat. Setidaknya, itu yang Hana rencanakan. Sebelum .... "Mamaaa!!!" Hana yang sudah membulatkan tekad untuk melapor kepada keluarganya langsung berlari menghampiri sang mama ketika sampai di ruang makan. Dia menghambur ke dalam pelukan mamanya sambil terisak. Semua orang yang berada di ruangan itu sontak dibuat panik melihat tangisan Hana. Bagaimana tidak, pasalnya ..., wajah wanita itu juga tampak sangat kacau. Dan lagi, Hana adalah tipe wanita periang yang bisa dibilang sangat jarang menangis. Jadi, melihatnya menangis seperti ini tentu membuat semua orang merasa terheran-heran. "Ada apa, Nak?" tanya Mega, ibu Hana. Di antara semua orang, dia lah yang paling panik melihat tangisan putrinya. Tentu saja, hei! Memangnya ibu mana yang tak akan panik, ketika melihat putri bungsunya menangis sesegukan begini? "Mas Adam, Ma." Hana mulai mengadu. Berpikir bahwa aksinya kali ini akan mendapat pembelaan dari semua orang. Sama, seperti biasanya. "Adam? Kenapa dengan Adam, Nak?" tanya Mega dengan kening mengerut hebat. "Iya, Han, kenapa dengan Adam? Dia cuekin kamu lagi?" Rena - ibu mertua Hana, ikut menimpali. "E-enggak, hiks! Mas Adam, dia ...." Belum sempat Hana menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja sebuah suara telah lebih dulu menginterupsi. Benar, suara tersebut berasal dari Adam, pria yang menjadi alasan di balik tangisan Hana saat ini. "Hana sudah tahu semuanya, Ma," ujarnya sambil berjalan menghampiri semua orang. Mendengar hal itu, semua orang yang berada di ruang makan tampak saling tatap. Baik orang tua Adam, orang tua Hana, bahkan kedua saudara mereka pun, sama. Saling menatap satu sama lain, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hana yang menyadari keanehan tersebut, lantas melepaskan pelukannya dari tubuh sang mama. Bohong kalau dia bilang tak tahu apa yang tengah terjadi sekarang ini. "Kalian sudah tahu?" tanya Hana tiba-tiba. Ada keyakinan yang menghampiri dirinya. Entah datang dari mana. Namun, sebisa mungkin dia tepis. 'Tidak! Jangan sampai!' Hana terus berdoa di dalam hati. Kalau benar apa yang dia pikirkan ini, maka Hana tak bisa membayangkan betapa hancurnya ia. "Jawab Hana, Ma! Kak!" tuntut Hana mulai tak sabar. Mega yang sempat terdiam selama beberapa saat, kini mulai membuka suara. "Begini, Han, biar Mama jelaskan pelan-pelan. Sebenarnya--" "Jahat!!!" Tanpa menunggu Mega menyelesaikan perkataannya, Hana menginterupsi. Kemudian berlari dari ruangan tersebut. Meninggalkan semua orang yang tampak terdiam bisu. Sejujurnya, mereka semua tahu bahwa kelak hal seperti ini akan terjadi. Namun, sungguh! Mereka tak pernah menyangka kalau semuanya akan terjadi secepat ini. Lebih-lebih Mega. Wanita paruh baya itu pikir, dia masih memiliki banyak waktu untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada sang putri secara pelan-pelan. Namun, ternyata. "Bagaimana ini, Mbak?" Mega menatap sang besan yang masih tak bergeming. "Bagaimana kalau nanti Hana melakukan hal yang--" "Mama!" Bukan sang besan, yang menyahuti perkataan Mega adalah putri sulungnya sendiri. "Jangan bicara yang enggak-enggak! Hana enggak mungkin bertindak segegabah itu!" tegasnya dengan nada tak suka. Wanita yang tengah hamil tua itu tampak mengelus perut menggunakan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang pinggul. Berusaha mengusir pegal yang semakin hari semakin dirasa. "Arini, kamu sendiri tahu betul bagaimana cerobohnya adik kamu itu! Kalau--" Lagi. Belum sempat Mega menyelesaikan perkataannya, sang putri telah lebih dulu menyela. "Justru karena Rini tahu, Ma. Makanya Rini bisa bicara begini!" ujarnya dengan penuh percaya diri. "Percaya sama Rini! Hana pasti baik-baik aja," sambungnya kemudian. "Tapi Mama takut, Rin. Bagaimana kalau--" "Saya akan mencari Hana. Mama jangan khawatir. Lagi pula, dia enggak mungkin berani pergi jauh-jauh sendirian," sela Adam tiba-tiba. Kemudian, tanpa berbasa-basi lagi, pria yang tampak santai dengan pakaian kasualnya itu berlari ke arah yang sama dengan Hana. Dia berniat mengejar wanita itu dan menjelaskan semuanya. Selepas kepergian Adam, semua orang yang berada di ruangan itu kembali duduk di tempatnya masing-masing. Terkecuali Mega. Bukannya duduk, wanita paruh baya itu justru menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. "Sudah saya bilang, enggak seharusnya kita melakukan semua ini," katanya frustrasi. "Sekarang, Hana pasti sedih sekali. Dia pasti merasa sangat hancur karena sudah dipermainkan." "Bukan hanya dipermainkan oleh pria yang sangat dicintainya, tapi juga dipermainkan oleh kita semua. Keluarganya! Ya Allah ...." Mega meringis pelan. 'Lebih dari siapa pun, Mega merasa sangat bersalah karena sudah menjerumuskan putrinya ke dalam lubang penderitaan ini. Dia yang seharusnya menjadi batu sandaran terkokoh di kala sang putri merasa lelah, justru menjadi batu usang yang tak berguna sama sekali. Dia bodoh karena tak bisa menolak permintaan dari orang-orang di sekitarnya. Lebih bodoh lagi karena turut andil dalam rencana tersebut.' Batin Mega terus meronta. "Tenang, Mega. Semua pasti akan baik-baik saja. Adam pasti berhasil membujuk Hana. Kamu sendiri tahu kan, betapa menurutnya Hana sama Adam? Dia juga pasti mau mengerti kalau dijelaskan pelan-pelan." "Bagaimana saya bisa tenang, Mbak? Hana itu anak saya! Dia anak terakhir saya! Wanita pula! Adam mungkin akan baik-baik saja setelah rencananya berhasil dan pernikahan ini berakhir. Dia bahkan akan sangat bahagia karena bisa rujuk kembali dengan mantan istrinya. Sementara Hana?" d**a Mega mulai naik turun. Rasa kesal yang telah ditahannya sejak dulu mulai diluapkan di hadapan besan serta anak dan menantunya. "Hana satu-satunya orang yang menderita di sini, Mbak! Setelah semuanya berakhir, dia akan menjadi janda! Syukur-syukur kalau dia enggak hamil. Kalau dia hamil bagaimana? Siapa yang akan bertanggung jawab atas bayinya?!" tanya Mega bertubi-tubi. "Mama tenang dulu. Jangan emosi begini Ma--" "Kamu juga, Arini! Kamu itu kakaknya Hana! Bagaimana bisa kamu setega ini sama adik kamu sendiri?" sambar Mega tiba-tiba. Arini yang mendengar hal itu sontak terdiam. Dia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sang mama yang emosinya mulai tak terkendali. "Apa lagi kamu itu calon ibu! Masa kamu enggak bisa mengerti bagaimana perasaan adik kamu kalau nanti dia--" Sementara keluarganya berdebat di rumah sang ibu mertua, Hana yang tak tahu lagi harus berlari ke mana, memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang terdapat di ujung Komplek perumahan. Hari sudah malam saat itu. Hana yang pada dasarnya merupakan tipe orang penakut, sebenarnya mulai merasa tak nyaman saat menyadari di mana keberadaannya saat ini. Namun, rasa takutnya seketika hilang, tatkala teringat pada apa yang baru saja terjadi. "Bodoh, memangnya ke mana kamu mau kembali?" tanya wanita itu pada dirinya sendiri. "Jahat! Bisa-bisanya mereka semua sejahat ini sama aku! Memangnya aku salah apa?" gerutunya sambil menangis pilu. Ditemani guyuran hujan, serta sambaran petir yang tak menentu, Hana menumpahkan segala keluh kesahnya. Tubuhnya ikut luruh di saat yang bersamaan. Akan lebih bagus kalau dia mati tersambar petir sekarang. Setidaknya dengan begitu dirinya tak perlu bertemu dengan orang-orang jahat itu lagi. Begitu pikir Hana. "Apa ini karma karena sudah mencintai suami orang?" "Tapi kan--" "Hana ...." Jantung Hana mencelos. Kepalanya yang semula sibuk tertunduk, bersembunyi di antara dua lutut, secara tiba-tiba terangkat ketika mendengar panggilan dari seseorang. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD