Karma Itu Nyata!

1297 Words
"Ma, kira-kira gimana kalau Hana jadi istri kedua?" "Huss!!! Bicara apa kamu, Hana?" Wanita paruh baya yang sebelumnya berniat memasukkan makanan ke dalam mulut, seketika meletakkan sendok yang berada di dalam genggaman tangannya ke atas piring. Mendadak nafsu makannya hilang saat mendengar penuturan sang putri. 'Menjadi istri kedua? Yang benar saja!' Batin wanita paruh baya itu menggerutu. "Jangan sembarangan bicara. Mama enggak suka!" ujar wanita paruh baya yang tak lain adalah Mega, ibu Hana. Sesaat setelah mengatakan hal itu, Mega berniat menyudahi makannya. Kemudian pergi dari ruangan tersebut. Namun, belum sempat benar-benar merealisasikan niat, pergerakan wanita paruh baya itu telah lebih dulu terhenti karena .... "Hana serius, Ma. Kalau Hana jadi istri kedua gimana?" tanya Hana lagi. Wanita itu seolah benar-benar serius dengan perkataannya beberapa waktu lalu. Mega yang mendengar hal itu lantas menghela napas panjang. Dia kesal dan sedih di saat yang bersamaan. Entah apa yang ada di dalam pikiran putrinya itu hingga bisa melontarkan pertanyaan tak masuk akal begini. "Hati-hati dengan omonganmu, Hana. Ucapan itu adalah doa. Kalau nanti kamu benar-benar menjadi istri kedua bagaimana? Memangnya kamu mau?" tukas Mega dengan nada tak senang. Wanita itu berusaha memperingatkan putrinya agar berhenti bicara yang tidak-tidak. "Bukan hanya kamu, tapi istri pertama pria yang kamu nikahi juga akan tersakiti, Hana! Kamu mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain? Kamu mau menjadi alasan di balik penderitaan orang lain?" "Tapi, Ma--" "Enggak! Mama enggak mau! Mama enggak rela, Rayhana!!!" tegas Mega penuh penekanan. Setelah itu, tanpa menunggu apa pun lagi, Mega buru-buru meninggalkan putrinya yang tampak diam tak bergeming. *** Ingatan tentang kejadian satu tahun lalu memenuhi kepala Hana. Saat itu, dia yang sedang cinta-cintanya dengan Adam. Bahkan sampai sempat berpikir yang tidak-tidak tentang pria itu. Karena tak mungkin bisa menjadi satu-satunya istri Adam, maka Hana berpikir untuk menjadi istri kedua, saking cintanya kepada pria itu. Namun, tentu saja niatnya tak benar-benar terealisasi, karena selain sang mama menolak mentah-mentah bahkan sebelum mendengar kelanjutan dari perkataannya. Tak lama berselang setelah itu pun, Adam menceraikan Celine, istrinya. "Kamu enggak apa-apa, kan?" Pertanyaan yang menyiratkan kekhawatiran, serta dilontarkan dengan nada yang sangat lembut itu membuat perhatian Hana kembali. Dia yang sempat menunduk setelah menyadari kehadiran seseorang, kini kembali mengangkat kepalanya. Hancur. Satu kata ini bahkan tak cukup untuk mendeskripsikan keadaan hati Hana saat ini. Hatinya sakit, perih, bagai tercabik-cabik, rasanya. "Buat apa Mbak di sini?" tanya Hana lirih. Namun, penuh dengan penekanan. Tak ada sedikit pun, niatnya untuk bersikap sopan kepada wanita yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu. "Mbak khawatir sama kamu, makanya Mbak datang ke sini," balas wanita itu dengan tak kalah lirih. Berbeda dari sebelumnya, kini Hana justru tertawa sumbang setelah mendengar pernyataan Celine, mantan istri Adam. "Khawatir? Saya enggak salah dengar, kah?" tanya Hana sarkas. "Yakin Mbak khawatir sama saya?" sambungnya kemudian. "Mbak benar-benar khawatir sama kamu, Han. Mbak--" "JANGAN MUNAFIK, MBAK!" titah Hana tak terbantahkan. "Bilang saja kalau Mbak datang karena mau menertawakan kebodohan saya. Iya, kan?!" "Hana, kenapa kamu bicara begini? Mbak enggak sepicik itu!" "TAPI PADA KENYATAANNYA MBAK CELINE MEMANG SEPICIK ITU!" sambar Hana berapi-api. Dia yang masih berada dalam posisi duduk bersandar pada pohon, tampak menatap wanita di depannya dengan tatapan sengit. 'Kesabarannya sudah habis. Dia tak sanggup lagi jika harus disuruh menahan diri di tengah rasa sakit ini.' Begitu pikir Hana. "Mas Adam juga!" Hana beralih pada pria yang berada tepat di samping Celine. "Kalian berdua sama piciknya! Kalian jahat! b******k!" "Mbak tahu kalau kamu marah. Mbak juga tahu kalau apa yang sudah kami lakukan menyakiti hati kamu, tapi kamu enggak boleh begini, Han." "Lalu saya harus bagaimana, Mbak? Bersikap 'legowo' setelah dijadikan tumbal oleh kalian berdua?" "Atau saya harus berterima kasih sama Mbak karena sudah memberikan kesempatan untuk saya, supaya bisa menjadi istri Mas Adam? Iya?!" "Hana--" "Cukup, Lin." Bukan Hana, yang menghentikan perkataan Celine kali ini adalah Adam, mantan suami wanita itu. Mungkin juga akan segera menjadi suaminya lagi. "Enggak perlu menjelaskan apa-apa," ujar Adam setelahnya. Lengkap dengan raut wajah dingin yang kerap terpasang di wajahnya. Hana yang melihat hal itu sempat dibuat terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya mulai menyunggingkan sebuah senyum miring. 'Gila!' Hana membatin. 'Kalau dipikir-pikir lagi, dia memang sangat bodoh karena percaya-percaya saja pada Adam saat pria itu berkata ingin menikahinya dan ingin belajar mencintainya.' 'Padahal, sudah menjadi rahasia umum kalau Adam Khalid Permadani, pria yang sedari dulu ia kejar-kejar itu tak pernah sekalipun tertarik kepadanya. Bahkan meski mereka dikurung di satu ruangan yang sama tanpa sehelai benang pun, Adam pasti tak akan pernah berminat untuk menyentuhnya.' "Selamat ya, Mbak, Mas," gumam Hana beberapa saat setelahnya. "Rencana kalian sukses besar!" "Kalian berhasil menghancurkan saya. Kalian juga berhasil membuat saya berhenti berpikir untuk mengejar-ngejar Mas Adam lagi!" "Hana. Mbak enggak pernah bermaksud seperti itu. Mbak minta maaf. Mbak hanya--" "Enggak perlu minta maaf, Mbak! Mbak Celine enggak salah. Satu-satunya yang salah di sini adalah saya. Saya yang terlalu bodoh karena sudah dibutakan oleh cinta sialan ini!" "Enggak, Hana. Kamu enggak salah. Ini semua hanya kesalahpahaman saja. Kita bisa bic--" "Cukup!" Hana menginterupsi perkataan Celine dengan satu kali tarikan napas. "Saya mau pergi!" putusnya kemudian. Setelah mengatakan hal itu, buru-buru Hana bangkit dari posisinya. Kemudian pergi dari tempat tersebut dalam keadaan yang sangat menyedihkan. 'Sudah cukup! Dia tak ingin terlihat lebih menyedihkan dari pada ini lagi di hadapan sepasang mantan suami istri yang telah menjebaknya itu.' 'Lebih dari pada itu, Dia tak ingin mendengar permintaan maaf ataupun penjelasan Celine. Karena hal itu hanya akan membuatnya semakin merasa bodoh.' Mati-matian, Hana mencoba menahan diri agar tak terlihat menyedihkan. "Hana, kamu mau ke mana? Rumah Mama ada di san--" "Jangan pikirkan saya. Lanjutkan saja rencana kalian. Menikah lah segera. Jangan sampai kalian melakukan kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya." Malam itu, di tengah guyuran hujan yang tak kunjung mereda, Hana berjalan menjauh dari komplek perumahan tempat di mana ia, Adam dan keluarga pria itu tinggal. Namun, belum sempat benar-benar menjauh, langkah Hana telah lebih dulu dihentikan oleh .... "Tunggu, Hana!" Celine memegang sebelah pergelangan tangan Hana. Dia menatap wanita yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu dengan tatapan nanar. "Maafkan Mbak," ujarnya lirih. "Sudah saya bilang enggak perlu minta maaf, Mbak. Mbak enggak salah, kok." "Lagi pula, saya percaya kalau karma itu nyata. Jika bukan kalian, maka kelak anak ataupun keturunan kalian pasti akan mengalami hal yang sama seperti saya. Jadi, enggak perlu merasa bersalah." "Karena saya pun, enggak akan merasa bersalah setelah mengharapkan sesuatu yang buruk untuk kalian!" "Hana--" "Jauhkan tangan Mbak dari saya!" *** Setelah kejadian malam itu, Hana tak pernah kembali ke kediaman keluarga Adam. Jangan kan, kembali, bahkan untuk sekedar bertemu dengan salah satu dari orang-orang itu pun, dia tak pernah berniat. Tak peduli meski sudah didatangi berkali-kali. Tak peduli meski sudah ditelepon beribu-ribu kali, Hana tetap tak menghiraukannya. Bukan hanya Adam, wanita itu juga turut memutus komunikasi dengan keluarganya. 'Tidak, Hana bukannya ingin bersikap kurang ajar, hanya saja hatinya sudah terlalu sakit. Keluarga yang sangat ia sayangi, ternyata tega berbuat sekejam itu kepadanya.' "Hana! Buka pintunya, Nak!" Lagi. Sebuah panggilan disertai ketukan menyapa indera pendengaran Hana. Dia yang masih betah bergelung di balik selimut tebal, hanya menatap sekilas ke arah pintu kamar tanpa berniat membukanya. Meski memutus kontak dengan keluarganya, tapi Hana masih tinggal di rumah sang mama. "Hana! Buka pintunya, Nak! Mama mau bicara!" "Hana sayang ..., tolong jangan seperti ini, Nak. Buka pintunya!" Hingga panggilan ke sekian yang dilayangkan kepadanya, Hana tetap tak menyahut. Alih-alih menyahut, wanita itu justru menarik selimut hingga menutupi kepala. 'Persetan dengan semua orang.' Begitu pikirnya. Rasa sakit akibat dimanfaatkan dan ditipu habis-habisan oleh orang-orang terdekatnya membuat Hana seakan mati rasa. Dia yang biasanya selalu ceria dan penuh dengan kasih sayang, kini menjadi pribadi yang acuh dan pendendam. "Hana." Mata Hana yang sudah akan terpejam, seketika terbuka saat mendengar panggilan tersebut. 'Ini suara ....' -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD