Tak Mau Dimadu!

1414 Words
"Jangan gila, Lin! Enggak! Aku enggak mau!" "Tapi hanya ini satu-satunya cara supaya kita bisa kembali bersama, Mas." "Jangan mengada-ada, Celine! Tanpa aku menikahi wanita lain pun, kita tetap bisa menikah!" "Lagi pula, memangnya kamu rela melihat aku menikah dengan wanita lain, ha?" "Aku enggak rela, tapi aku juga enggak mau berhutang sama kamu, Mas. Walau bagaimanapun juga, aku sudah pernah melakukan kesalahan dan aku enggak mau menanggung rasa bersalah ini lebih lama lagi. Jadi tolong ...." "Tolong menikah lah, juga. Supaya kita impas dan kita bisa menjalani hubungan ini tanpa ada rasa bersalah di antara satu sama lain." Malam itu, di bawah terang-benderangnya lampu, Adam yang wajahnya tampak sangat kusut, terlihat tengah berdiri di depan sebuah pintu. Dia melamun. 'Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sejak saat itu kekacauan yang terjadi dalam hidup mereka bermula. Lebih tepatnya, saat Celine memintanya untuk menikah lagi. Sama seperti wanita itu yang telah lebih dulu menikah dengan lelaki lain agar dapat kembali bersama dengannya.' 'Ide gila yang sudah sempat dirinya tolak mentah-mentah itu, mau tak mau harus direalisasikan karena Celine terus memaksa.' 'Dirinya sempat dilema. Dia tak tahu harus ke mana mencari wanita yang sudi dinikahi hanya dalam kurun waktu singkat. Namun, rasa dilema serta kebingungan itu seketika hilang, berkat kehadiran seseorang. Seseorang yang konon sangat mencintainya. Bahkan sempat berpikir untuk menjadi istri keduanya. Dahulu.' "Apa benar-benar enggak ada jalan lain? Kami mau melihat kamu bahagia, tapi kami juga enggak mau mengorbankan Hana. Hana itu sudah menjadi bagian dari keluarga kita, Adam!" Begitu kata Rena - ibu Adam, ketika mendengar idenya dahulu. Namun, meskipun terkesan menolak, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya sang mama, beserta keluarga besarnya. Bahkan keluarga besar Hana, sepakat untuk menikahkan mereka. Tentu dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Seperti .... "Kamu sudah berjanji Adam! Pokoknya, sebelum mendapat maaf dari Hana, Mama enggak akan merestui hubungan kamu dengan Celine!" Berkat titah sang ratu, akhirnya Adam berakhir di sini. Di depan sebuah pintu jati yang selalu ia hadapi setiap kali disuruh membujuk Hana ketika merajuk. "Hana." Adam kembali melayangkan panggilan untuk wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu. Yah, setidaknya untuk saat ini. "Hana, buka pintunya! Ini saya," kata Adam beberapa saat setelahnya. Tak kunjung mendapatkan respons dari dalam membuat Adam menghela napas pelan. Andai tak memikirkan ancaman sang mama, mungkin pria itu sudah pergi dari sini. "Hana." Sekali lagi Adam memanggil. "Kamu enggak mau bertemu dengan suami kamu?" tanya pria itu kemudian. "Buat apa lagi Mas Adam ke sini?" Tak berselang lama setelah menyebut dirinya sebagai suami, pintu jati di depan Adam terbuka. Menampilkan sesosok wanita dengan keadaan yang bisa dibilang cukup kacau. 'Bohong kalau Adam bilang dia tak merasa bersalah ketika melihat keadaan Hana saat ini. Nyatanya, melihat perubahan besar yang terjadi pada wanita itu membuat sesuatu di dalam dirinya meringis. Merasa ....' 'Ah, entah lah! Adam sendiri tak tahu harus bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini.' "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Adam setelah sempat terdiam cukup lama. 'Hana tak mengiyakan. Namun, juga tak menolak. Kalau menurutkan hati, sebenarnya dia tak ingin lagi mendengar apa pun, dari mulut Adam setelah apa yang terjadi. Namun ....' "Kita masuk dulu, ya?" tanya Adam lembut. Sangat lembut, hingga mampu menggetarkan sesuatu di dalam diri Hana. 'Gila!' Hana merutuki dirinya yang masih saja berharap lebih pada Adam. Padahal sudah jelas kalau dia hanya dimanfaatkan dan dijebak oleh pria itu. "Enggak!" tolak Hana akhirnya. "Hana ...." "Bicara saja di sini." "Kamu yakin mau membicarakan masalah rumah tangga kita di sini? Kamu enggak takut ada yang dengar?" "Rumah tangga?" Hana tersenyum sinis. "Hana enggak salah dengar, kah? Sejak kapan Mas menganggap kita berumah tangga?" tanyanya kemudian. "Hana ..., ayolah. Jangan bersikap kekanakan begini," ujar Adam sembari menghela napas panjang. Pria itu tampak mulai jengah, jika dilihat dari raut wajahnya. "Bukan Hana, harusnya Mas Adam mengatakan hal itu pada diri Mas sendiri!" tukas Hana penuh penekanan. "Sekekanak-kanakannya Hana, Hana enggak akan melakukan hal sekeji itu kepada orang lain! Hana enggak akan memanfaatkan orang lain dan menghancurkan hidup mereka hanya demi kepentingan Hana pribadi!" Hana menatap nyalang ke arah Adam dengan gigi bergemeletuk menahan amarah. 'Lagi-lagi, ingatan-ingatan menyakitkan yang sudah coba Hana kubur dalam-dalam kembali mencuat ke permukaan. Ingatan-ingatan yang membuat hatinya serasa dicabik-cabik menggunakan pedang yang sangat tajam.' 'Adam jahat! b******k! Begitu pun, dengan semua orang yang sudah terlibat dalam rencana keji itu. Ibu mertuanya, orang tuanya, kakak iparnya, bahkan kakak kandung yang sangat disayanginya. Mereka semua jahat!' Batin Hana menggerutu. "Saya tahu kamu marah. Saya juga tahu kalau kamu merasa dirugikan, Hana. Maka dari itu, ayo kita bicara. Ayo cari solusi dan selesaikan masalah yang ada, supaya kita bisa sama-sama enak. Jangan terus-terusan menghindar, mengurung diri dan membuat semua orang khawatir begini." "Lagi pula, memangnya kamu enggak kasihan sama mama dan kakak kamu? Mereka khawatir dengan keadaan kamu. Bukan hanya mereka, tapi mama saya juga," jelas Adam panjang lebar. "Percaya enggak percaya, mama sampai mengancam enggak akan merestui hubungan saya dan Celine sebelum mendapat maaf dari kamu," sambungnya kemudian. Entah sengaja atau tidak Adam mengatakan hal itu, Hana pun, tak tahu. Namun, yang jelas perkataan itu menyakiti hatinya. Sangat! Bagaimana tidak, pasalnya pria itu berbicara seolah-olah dia lah, yang menjadi alasan di balik hancurnya hubungan mereka. 'Menyebalkan!' gerutu Hana dalam hati. "Itu urusan Mas, bukan urusan Hana!" tegas Hana sebelum memutar badan. Bersiap menutup pintu dan kembali mengurung dirinya di dalam kamar. Setidaknya begitu, sebelum .... "Tunggu!" Adam menahan sebelah pergelangan tangan Hana. Membuat wanita yang perasaannya sudah sangat kacau itu, jadi semakin kacau karenanya. "Jangan pegang--" "Maafkan saya," sela Adam cepat. Sangat cepat. Bahkan sebelum Hana sempat menyelesaikan perkataannya. "Maaf kalau apa yang saya lakukan menyakiti kamu," kata Adam dengan raut wajah yang serat akan penyesalan. "Saya bukannya enggak menyesal sama sekali sudah melakukan hal ini. Menikahi kamu karena tujuan tertentu, mengambil keperawananmu dan menghancurkan hati kamu. Saya juga menyesal, Hana. Tapi meskipun begitu, ada satu hal yang harus kamu tahu." "Saya memiliki alasan lain, terlepas dari tujuan awal saya. Dan saya enggak pernah berniat menceraikan kamu. Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi istri saya. Bahkan, meski saya dan Celine telah kembali bersama." "Saya akan bersikap adil dan tetap menepati janji saya dulu. Memperlakukan kamu dengan baik dan belajar mencintai kamu." Adam pikir, apa yang ia katakan saat ini mampu meredamkan amarah Hana. Dia bahkan berpikir kalau Hana akan sangat senang dan berterima kasih setelah mendengarnya. Namun, ternyata .... "b******k!!!" Bukan terima kasih, yang Adam dapat dari Hana justru sebuah amarah. Percaya tak percaya, wanita yang dahulu selalu bertingkah manja itu, kini menampar pipi Adam dengan keras. Sangat keras, hingga mampu membuat perhatian semua orang yang berada di lantai dua teralihkan kepada mereka. "Mas pikir Hana ini apa, ha?!" tanya Hana murka. "Sampai mati pun, Hana enggak mau dimadu! Apa lagi menjadi madu bagi wanita lain!" "Kalau memang mau kembali dengan mantan istri Mas yang sudah hamil di luar nikah itu, maka kembali saja! Jangan membawa-bawa Hana ke dalam rumitnya hubungan kalian!" "Kamu!!!" Adam memegang pipinya yang terasa berdenyut. Ada rasa kesal dan tak terima yang mulai menguasai dirinya saat ini. Apa lagi setelah mendengar kata-kata pedas dari mulut Hana. "Mulut kamu benar-benar lancang, Hana!" "Kenapa? Marah? Memang kenyataannya begitu, kan? Mas dulu menalak tiga mantan istri mas itu karena dia hamil anak dari pria lain--" "HANA!!!" "APA?!" "KAMU--" "Cukup, Hana! Adam!" Perhatian kedua insan yang tengah diliputi dengan perasaan marah itu seketika teralihkan saat mendapat interupsi dari seseorang. Seseorang yang membuat keduanya tak bisa berkutik sama sekali. "Mau sampai kapan kalian seperti itu?" "N-nenek." Hana menundukkan kepalanya dalam. Dia malu karena sisinya yang seperti ini dilihat langsung oleh orang yang sangat ia hormati. "Nenek kapan datang?" Berbeda dari Hana yang tampak menunduk dalam, Adam justru menghampiri wanita paruh baya yang tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. "Enggak perlu basa-basi. Sekarang lebih baik kalian ikut Nenek ke rumah sakit." Tubuh Hana menegang seketika. Kepalanya yang semula sibuk menunduk, mendadak terangkat saat mendengar kalimat tersebut. Ke rumah sakit? Untuk apa? Batinnya dibuat bertanya-tanya. "Siapa yang sakit, Nek?" tanya Adam dengan d**a bergemuruh hebat. Sama seperti Hana, dia pun, dilanda rasa penasaran. "Kalian terlalu sibuk dengan ego kalian, sampai-sampai enggak sadar dengan keadaan di sekitar. Kalau terus begini, suatu saat kalian pasti akan menyesal." "Maksud Nenek apa, Nek? Tolong bicara yang jelas--" "Kakak kalian sedang kritis di rumah sakit. Mereka kecelakaan." "A-APA?!" "E-enggak. E-enggak m-mungkin ...." Hana menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Lututnya lemas bukan main saat ini. Andai tak berpegang pada pintu, mungkin dirinya sudah jatuh terduduk akibat tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri. "Tunggu apa lagi? Ayo cepat!!!" -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD